Chapter Thirty Five
Rencana yang Kusembunyikan
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Rektor Aldric, Lucrezia
Ada satu halaman di buku catatanku yang tidak pernah kutunjukkan pada siapa pun.
Dia ditulis tiga malam lalu, setelah pertemuan kedua dengan Noct, dengan tulisan yang lebih rapi dari biasanya — tulisan orang yang menulis pelan-pelan supaya tangannya tidak sempat menolak. Judulnya satu kata: “Pintu.”
Dan isinya adalah kesimpulan yang sudah kususun ulang dua puluh kali dengan harapan menemukan celah, dan dua puluh kali dia pulang dengan bentuk yang sama:
Fakta 1: Penulis terjebak di luar halaman bukan karena ditahan Noct, tapi karena keputusasaannya sendiri — dan keputusasaan itu MEWUJUD sebagai Noct versi sekarang. Mereka terkunci satu sama lain: dia tidak bisa keluar selama [ERROR] ada di sana; [ERROR] tidak bisa “selesai” selama dia di sana memberinya makan.
Fakta 2: [ERROR] tidak bisa dihancurkan. Tiga ratus tahun membuktikannya. Dia hanya bisa DIBAWA — dan hanya oleh sesama entitas tak tercatat, karena hanya kami yang bisa saling menyentuh.
Fakta 3: “Dibawa” ke mana? Keluar dari luar-halaman hanya ada dua arah: kembali ke dalam naskah (mustahil untuknya — naskah menolaknya seperti tubuh menolak duri), atau... keluar sepenuhnya. Ke arah datangnya penulis. Ke arah datangnya AKU.
Fakta 4: Naskah sedang menghapusku ke arah yang sama. Penghapusanku adalah pintu satu arah keluar dari dunia ini — pintu yang sedang dibuka paksa, sedikit demi sedikit, tepat di tubuhku.
Kesimpulan: aku bukan penyelamat yang kebetulan lewat. Aku adalah pintunya. Satu-satunya cara mengeluarkan penulis adalah memeluk keputusasaannya — memeluk Noct — dan membiarkan Naskah menyelesaikan penghapusanku dengan dia di dalam pelukanku. Kami berdua keluar dari halaman. Penulis bebas. Cerita bisa tamat.
Harga: aku tidak ikut tamatnya.
Catatan terakhir: JANGAN beri tahu mereka. Sera akan mencari cara lain sampai fajar keburu datang. Isolde akan berdiri di depan pintu. Lucrezia akan menemukan celah logika dan celah itu akan berupa dirinya sendiri sebagai pengganti. Mereka akan melakukan hal-hal itu karena mereka mencintaiku, dan aku tidak akan pernah selesai jika melihatnya. Rencana ini hanya berjalan jika dibawa sendirian.
Aku menutup halaman itu, malam terakhir sebelum fajar penyerangan, dan pergi menemui satu-satunya orang yang boleh tahu.
Rektor Aldric mendengarkan sampai selesai di menaranya, tanpa memotong, sambil memandangi kotak kayu tua berisi kertas kosong pendahulunya.
“Kau datang bukan minta izin,” katanya ketika aku selesai. Bukan pertanyaan.
“Aku datang minta dua hal. Pertama: kalau berhasil — kalau penulisnya bebas dan cerita ini mendapat tamatnya — seseorang harus memastikan dunia ini tetap berjalan setelahnya. Kau satu-satunya yang setengah sadar. Jaga mereka.” Aku meletakkan buku catatanku di mejanya. Seluruhnya. Halaman naskah, halaman anomali, halaman “Diingat” — kecuali satu halaman yang sudah kusobek dan kubakar. “Kedua: arsip ini. Bukan untuk disimpan. Untuk dibagikan — pelan-pelan, sesudahnya, pada orang-orang yang namanya ada di dalam. Biar mereka tahu mereka pernah diperhatikan seseorang. Itu... itu saja warisanku. Kurasa cukup layak untuk seorang figuran.”
Orang tua itu memandangi buku di mejanya lama sekali. Ketika dia mengangkat wajah, matanya — yang selalu meleset setengah jengkal — menatapku tepat, untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, seolah untuk perpisahan bahkan tata bahasa memberi kelonggaran.
“Tiga ratus tahun jabatan ini,” katanya pelan, “dan setiap pemegangnya menulis satu kalimat untuk diwariskan. Kalimat pendahuluku sudah kau baca — soal kekebalan hati. Malam ini kuputuskan kalimatku.” Dia berdiri, dan membungkuk padaku — Rektor Astra Academy, membungkuk penuh pada murid kelas F — dan mengucapkannya seperti orang meletakkan batu pertama: “Peran paling kecil di halaman, jika dipegang dengan hati paling besar, adalah peran yang untuknya seluruh cerita ditulis. Pergilah, Nak. Pintu yang baik tidak pernah tahu betapa banyak yang lewat karenanya.”
Aku pulang lewat perpustakaan barat untuk terakhir kali — sekadar menyentuh meja pojok itu, ritual pamit pada tempat, kebiasaan yang kata Sera selalu membocorkanku—
—dan menemukan lilin menyala di meja kami, dan Lucrezia duduk di kursiku, menungguku dalam gelap, dengan ekspresi yang membuat kakiku berhenti di ambang rak.
“Ruang rektorat,” katanya, tanpa pembukaan, “punya satu jendela yang memantul ke kaca menara jam kalau lampunya menyala malam-malam. Kau mengajariku sendiri memperhatikan hal-hal kecil. Kesalahanmu.” Dia berdiri, berjalan mendekat, dan berhenti tepat sejangkauan lengan. Mata tembaganya menyisirku dari atas ke bawah — bukan mencari luka; mencari kebohongan, dengan keahlian orang yang dibesarkan di antara kebohongan. “Kau menyerahkan buku catatanmu. Seluruhnya. Orang menyerahkan arsip hidupnya hanya untuk satu alasan, Ciel, dan alasan itu bukan ‘persiapan misi’.”
“Lu—”
“Ada halaman yang disobek.” Suaranya sangat tenang, dan tangannya gemetar, dan dia membiarkanku melihat gemetarnya — Lucrezia Morgana, yang tidak pernah membiarkan siapa pun melihat apa-apa. “Aku memeriksa jilidannya waktu Rektor lengah. Satu halaman, disobek rapi, bekas sobekannya masih baru. Kau menyembunyikan sesuatu dari kami — dari aku — dan satu-satunya hal yang pernah kau sembunyikan dariku selama ini adalah hal-hal yang menurutmu akan menyakitiku.” Dia menarik napas, dan pertanyaannya keluar seperti kutukan yang paling dia takuti: “Rencana di halaman itu. Kau pulang di dalamnya, atau tidak?”
Perpustakaan barat sangat sunyi. Lilin berkedip. Di sudut penglihatanku, penghitung berjalan: [ 88:14:20:35 ] — dan aku berdiri di persimpangan yang paling kutakuti, antara kebohongan yang menyelamatkan rencana dan kejujuran yang menyelamatkan... apa? Kepercayaannya? Di malam terakhir?
“Lu,” kataku pelan. “Kau pernah bilang aku satu-satunya yang keberatan dengan ending-mu.”
“Jangan—”
“Izinkan aku tetap jadi orang itu. Sekali lagi. Apa pun yang terjadi lusa — ingat bahwa semua yang kulakukan, kulakukan sebagai pembaca yang keberatan dengan ending yang salah.” Aku mengambil tangannya yang gemetar, dan menggenggamnya dengan sarung tangan baru yang pas, hadiah dari pedang untuk perjalanan. “Dan ending yang salah, Lucrezia Morgana, adalah semua ending yang tidak ada kalian di dalamnya, hidup, bebas, dengan cerita milik kalian sendiri. Itu satu-satunya jawaban yang kupunya malam ini. Kumohon jangan minta yang kedua.”
Dia menatapku lama — sangat lama — dan aku menonton otak terbaik di akademi menyusun seluruh kebenaran dari jawaban yang tidak menjawab; kulihat detik tepatnya dia tahu; dan kulihat, setelahnya, dia membuat keputusannya sendiri yang tidak akan pernah sepenuhnya kupahami sampai semuanya selesai: dia tidak berteriak, tidak membongkar, tidak menahan.
Dia melangkah maju dan memelukku — kedua lengan kali ini, bukan mencuri, wangi lilin dan tinta — dan berbisik di bahuku dengan suara yang pecah di tengah:
“Dasar pembaca bodoh. Kau bahkan tidak sadar, ya? Bahwa bagi kami... ending yang ada kau di dalamnya bukan permintaan. Itu syarat.”
Dia melepaskanku, mengusap matanya dengan punggung tangan, satu gerakan cepat yang kami berdua sepakat tidak pernah terjadi, dan pergi ke arah pintu — lalu berhenti di ambangnya, tanpa menoleh.
“Aku tidak akan memberi tahu mereka,” katanya. “Bukan karena setuju. Karena aku kenal kau: dihalangi pun kau akan tetap pergi, cuma dengan lebih banyak luka. Jadi sebagai gantinya, aku akan melakukan hal yang lebih berguna.” Bahunya tegak. “Aku akan mencari celah yang tidak kau temukan. Sampai detik terakhir. Karena kau boleh jadi pembaca terbaik dunia ini, Ciel — tapi akulah penulisnya sekarang. Dan penulis yang baik selalu punya draf kedua.”
Pintu menutup di belakangnya.
Aku berdiri sendirian di perpustakaan barat, di antara rak-rak tempat semuanya dimulai, memegang satu rahasia, satu buku tipis berjudul [Extra] di balik jubahku, dan delapan puluh delapan hari yang tidak akan kupakai habis.
“Draf kedua,” ulangku pada ruangan kosong, dan untuk alasan yang belum kupahami, kalimat itu terasa seperti benih yang jatuh di tempat yang tepat.