← Chapters Ch. 19 / 52

Chapter Nineteen

Kehendak Naskah

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Lucrezia, Rektor Aldric


Aku menceritakan semuanya pada Sera malam itu, di atap, sampai hujan benar-benar berhenti: dunia yang berupa novel, aku yang berupa pembaca, naskah, flag, meter — oke, meter tidak; ada kejujuran, ada bunuh diri. Dia mendengarkan sampai habis tanpa sekali pun memotong, dan di akhir cerita, dia diam lama sekali, menatap lampu-lampu akademi di bawah.

Lalu dia berkata sesuatu yang tidak kuduga:

“Jadi seseorang menulisku.” Suaranya aneh. Bukan tidak percaya. Seperti orang yang akhirnya menemukan nama untuk sakit yang sudah lama dirasakan. “Kesepianku. Podiumku. Tujuh gradasi senyumku. Seseorang duduk di suatu tempat dan memutuskan semua itu untukku.” Dia menoleh, dan matanya basah tapi tidak jatuh. “Kalau begitu jawab satu hal, kau yang sudah membaca sampai habis. Teh di atap ini — yang tidak ada di naskahmu — ini milikku, kan? Ini aku yang memutuskan?”

“Ya,” kataku. “Ini milikmu. Semua yang tidak ada di naskah adalah milik kalian.”

“Bagus.” Dia mengangguk pelan, sekali, seperti menandatangani sesuatu. “Kalau begitu aku akan mengumpulkan lebih banyak.”

Esok malamnya, di perpustakaan barat, aku menceritakan hal yang sama pada Lucrezia — yang mendengarkan dengan mata makin menyala, sesekali menyela dengan pertanyaan setajam jarum (“bab berapa aku dijebak? Enam puluh delapan. Dan kita sekarang, menurut hitunganmu, di kisaran bab tiga puluh? Bagus, masih ada waktu”), dan sama sekali tidak terkejut.

“Kau sudah menduga,” kataku.

“Aku sudah menghitung.” Dia mengetuk jurnal bersegel tiganya, tapi tidak membukanya. “Ada hipotesisku sendiri yang belum matang. Nanti, kalau datanya cukup. Malam ini kita fokus pada masalahmu — karena masalahmu, Ciel, baru saja naik pangkat.”

Dia benar. Dan pangkatnya datang tengah malam itu juga.


Aku terbangun bukan karena suara. Aku terbangun karena cahaya — kamar asrama nomor tujuh (yang penghuninya kini menganggapku anak baru dan tidur damai di ranjang seberang) diterangi pendaran biru yang jauh lebih terang dari biasanya.

Status window-ku terbuka sendiri di atas ranjangku, sebesar pintu.

Dan dia sedang menulis.

[ SCRIPT CORRECTION — NOTICE ]

[ Entity designation: [ ] (formerly registered: “Ciel”) ] [ Classification: TYPO — foreign insertion, unauthorized ] [ Review complete. ] [ Findings: 47 narrative deviations. 3 primary character arcs corrupted. 1 protagonist development arrested. Chapter progression: unrecoverable by passive means. ]

[ Verdict: DELETION ]

[ Correction schedule initiated. ] [ Phase 1 — Social erasure: 71% complete ] [ Phase 2 — System erasure: beginning ] [ Phase 3 — Physical erasure: pending ]

[ Time to full correction: 122 days ]

Aku duduk di ranjang, dalam cahaya biru itu, dan membaca vonis mati yang ditulis dengan format laporan kerja.

Seratus dua puluh dua hari. Ada jadwalnya. Ada fase-fasenya. Tidak ada kemarahan di dalamnya, tidak ada kebencian — dan justru itu yang membuat tanganku dingin. Kebencian bisa dilawan, dibujuk, dialihkan. Ini bukan kebencian. Ini birokrasi. Aku bukan musuh dunia ini.

Aku salah ketik yang akhirnya sampai ke meja editor.

“...Baiklah,” kataku pada jendela raksasa itu, dan suaraku hanya gemetar sedikit, aku cukup bangga. “Setidaknya kau memberitahuku tenggatnya. Itu lebih dari yang pernah dilakukan kantorku dulu.”

Jendela itu menutup pelan, kembali ke ukuran normal, kembali berpura-pura tidur. Tapi di sudutnya, kecil dan permanen seperti noda, sebuah penghitung baru kini menyala dan tidak mau ditutup dengan perintah apa pun:

[ 121:23:59:44 ]

Berjalan mundur. Detik demi detik.


“Seratus dua puluh dua hari,” kata Rektor Aldric keesokan paginya.

Aku menemuinya di menara rektorat — atau tepatnya, aku berdiri di depan pintunya pagi-pagi buta dan pintu itu terbuka sebelum kuketuk, karena orang tua itu memang begitu. Sekarang dia berdiri di jendela menaranya, memandangi akademi yang bangun perlahan di bawah, dengan punggung yang terlihat lebih tua dari kemarin.

“Kau tidak bertanya seratus dua puluh dua hari apa,” kataku.

“Karena aku sudah lama menghitung hal yang sama, dengan alat yang lebih tua.” Dia berbalik. Matanya menatapku — dan lagi-lagi meleset sedikit, setengah jengkal ke kiri, sebelum dikoreksi dengan susah payah. “Kau makin sulit dilihat, Nak. Bagi orang biasa, kau kabut. Bagiku... kau seperti kata yang kubaca lewat air. Masih ada. Makin dalam.”

“Rektor. Kau tahu tentang dunia ini. Sejak kapan?”

Dia tersenyum tipis di dalam janggutnya. “Ada peran-peran yang ditulis terlalu longgar, Nak. ‘Rektor bijak’ — apa isinya? Duduk di menara, muncul saat dibutuhkan, tahu banyak hal tanpa dijelaskan dari mana. Penulis mana pun malas merincinya. Dan di kelonggaran itu—” dia mengetuk pelipisnya, “—ada ruang untuk memperhatikan. Tiga ratus tahun peran ini diwariskan, dan setiap pewarisnya sedikit lebih sadar dari yang sebelumnya. Aku yang pertama cukup sadar untuk menyebutnya dengan nama: Kehendak Naskah.”

“Bisakah dia dilawan?”

“Dilawan?” Rektor terkekeh, tanpa humor. “Nak, dia bukan penjaga dunia ini. Dia tata bahasanya. Melawannya seperti kalimat melawan gramatika — kau bisa jadi kalimat yang salah, tapi kau tetap tersusun dari aturannya.” Dia berjalan ke rak, menarik sebuah kotak kayu tua, dan mengeluarkan isinya: selembar kertas kosong yang menguning. “Tapi. Ada satu hal yang kutemukan dalam tiga ratus tahun catatan para rektor. Satu pengecualian. Ditulis pendahuluku yang kesembilan, tentang anomali sebelummu—”

Jantungku berhenti. “Sebelumku?

“—ya. Kau bukan salah ketik pertama, Nak. Itu cerita untuk hari lain, dan bukan cerita yang berakhir baik.” Dia menyodorkan kertas kosong itu. “Ini pengecualiannya. Baca.”

“Kertasnya kosong.”

“Kertasnya dihapus. Bersama pemiliknya. Kecuali—” dia membaliknya. Di sudut belakang, kecil, ditulis tangan yang berbeda — tangan pendahulunya, yang menulis tentang kertas itu: “Segala yang ditulis Naskah, dihapus Naskah. Namun satu hal tidak pernah bisa dihapusnya: yang tumbuh sendiri di antara dua jiwa tanpa disuruh halaman. Anomali itu lenyap, tetapi orang yang mencintainya tetap mencari sesuatu yang tak bisa mereka namai, sampai akhir hayat mereka. Naskah bisa mengambil nama. Naskah tidak pernah berhasil mengambil kehilangan.

Aku membaca kalimat itu tiga kali.

“Rektorat menyebutnya apa?” tanyaku pelan.

“Pendahuluku menyebutnya ‘kekebalan hati’. Aku menyebutnya lebih sederhana.” Rektor Aldric mengambil kembali kertas kosong itu dan menyimpannya seperti menyimpan jenazah. “Kau ingat nasihatku di taman? Bertahanlah di pembacanya. Nak — dalam seratus dua puluh dua hari, Naskah akan menghapus setiap jejakmu dari halaman dunia ini. Kau tidak bisa mencegahnya. Yang bisa kau lakukan adalah memutuskan: selama hari-hari itu, kau mau menulis dirimu di mana.”

Di sudut penglihatanku, penghitung berjalan mundur. Dan di tiga titik berbeda di akademi ini, terikat padaku oleh sesuatu yang tidak pernah disuruh halaman mana pun, tiga meter merah muda berpendar — angka-angka yang, baru kusadari sekarang, adalah satu-satunya tulisan di seluruh dunia ini yang tidak pernah, sekali pun, ikut berkedip saat dunia dikoreksi.

[ 121:16:40:12 ]

Seratus dua puluh satu hari untuk belajar menulis di tempat yang tidak bisa dihapus.

Aku membungkuk pada Rektor, dan mulai.