← Chapters Ch. 49 / 52

Chapter Forty Nine

Elena

POV: Elena (orang ketiga terbatas) Karakter: 2 — Elena, Ren


Malam itu, di kedai teh kecil yang buka sampai larut — pilihan Elena; “atapmu belum kuinspeksi, jadi kita mulai dari yang beratap resmi” — Elena menceritakan semuanya. Dari awal. Karena Ren adalah pembacanya, dan pembacanya berhak atas cerita yang utuh.

Dia bercerita tentang gadis yang mulai menulis umur tiga belas, di rumah yang sangat sunyi, karena kertas adalah satu-satunya tempat yang mendengarkan. Tentang orang tua yang mengukur kasih dengan prestasi — kau boleh dicintai kalau juara — dan bagaimana dia belajar membelah dirinya supaya bisa bertahan: satu bagian yang tersenyum sempurna di depan tamu, satu bagian yang berprestasi sampai patah, satu bagian yang marah dan dikurung dalam-dalam karena anak baik tidak boleh marah.

“Kau sudah kenal mereka bertiga,” katanya, memutar cangkir tehnya pelan. “Kuberi mereka nama bertahun-tahun kemudian. Kupikir aku sedang menciptakan karakter.” Senyum kecil, miring. “Ternyata aku sedang membagi barang bawaan. Sera membawa lapar-dicintainya. Isolde membawa cambuknya. Lucrezia membawa amarahnya — dan kesediaannya dibenci, supaya aku tidak perlu. Menulis mereka rasanya seperti bernapas. Sekarang aku tahu kenapa.”

Starblade Academy tumbuh jadi hidupnya — dan pelariannya. Siang bekerja di kantor yang menggerusnya pelan-pelan; malam menulis dunia tempat luka-lukanya bisa berjalan-jalan memakai gaun dan pedang dan kutukan. Seratus dua puluh bab. Pembaca yang tumbuh. Dan tekanan yang tumbuh lebih cepat: tenggat, komentar, angka, ditambah kantor, ditambah rumah yang menelepon hanya untuk membandingkan — sampai suatu malam di bab 120, di tengah arc final, dia duduk di depan tuts dan menemukan bahwa semua kalimatnya berbunyi bohong.

“Writer’s block, kata orang. Bukan.” Elena menatap tehnya. “Blok itu punya suara. Dia berdiri di belakang kursiku setiap malam dan berbisik dengan suaraku sendiri: untuk apa. tidak ada yang benar-benar menunggu. kau menulis luka-lukamu supaya ditonton orang. bakar saja. Aku melawan dua bulan. Lalu suatu malam aku terlalu lelah untuk melawan, dan aku ingat berpikir — sungguh-sungguh berpikir — andai aku bisa masuk dan tidak usah keluar lagi.” Dia mengangkat wajah. “Hati-hati dengan doa yang diucapkan orang yang menulis dunia, Ren. Ada yang mendengarkan. Aku terbangun di ruang putih, dan pintu kembalinya adalah menyelesaikan cerita — dan aku tidak bisa menyelesaikan cerita, karena hal yang menghalangiku ikut masuk bersamaku. Gembok dan kunci, terkunci jadi satu.”

Tiga tahun — setahun waktu dalam — dia di sana. Menonton dunianya berjalan sendiri, dibajak oleh kebiasaan-kebiasaan buruknya yang mengeras jadi Kehendak Naskah (“tata bahasa itu... aku, Ren. Versi terburukku. Semua seharusnya dan jadwal dan koreksi yang kupakai mencambuk diriku — dilepas ke duniaku tanpa aku”). Menonton Noct di tepi keputihan, kegelapan tua yang lukanya beresonansi dengan lukanya. Dan kemudian —

“Kemudian kau.” Suaranya berubah; menghangat dari dalam. “Typo kecil di barisan belakang, yang menolak menolong Sera lalu menolong diam-diam. Aku membacamu seperti orang sekarat membaca kabar baik. Kau tahu bagian mana yang meruntuhkanku pertama kali? Bukan yang heroik. Bab rotinya. Kau bilang pada Isolde-ku: baru hari ini kau terlihat seperti manusia, bukan patung pedang. Aku menangis berjam-jam. Karena dua puluh tahun aku menunggu ada yang mengatakan itu — bukan pada karakterku. Padaku. Dan tidak pernah terpikir olehku bahwa aku boleh menuliskannya — bahwa kebaikan sebesar itu boleh gratis, tanpa plot, tanpa harga. Kau masuk ke duniaku dan melanggar satu-satunya aturan yang kupegang seumur hidup: kau mencintai tanpa syarat prestasi. Dan gadis-gadisku — pecahan-pecahanku — sembuh satu per satu di tanganmu, dan setiap mereka sembuh, aku merasakannya di sini—” dia menekan dadanya, “—seperti tulang yang disambung ulang dengan benar.”

Dia bercerita tentang malam-malam menonton dari mejanya. Tertawa untuk pertama kalinya (affection meter; “aku hampir sayang pada sistem itu; dia satu-satunya humas yang kupunya”). Mengetik kali ini kubiarkan mereka memilih sendiri dengan tangan gemetar. Menonton pengorbanan direncanakan di halaman yang disobek dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dan altar. Dan pelukan untuk Noct — “kau memeluk keputusasaanku, Ren. Hal yang tiga tahun berdiri di belakang kursiku. Kau memeluknya dan bilang dia tidak sendirian, dan aku merasakan gembokku terbuka.”

“Aku terbangun di apartemenku. Tiga tahun berdebu, seperti kosmu. Dan hal pertama yang kulakukan—” dia tertawa pada dirinya sendiri, “—bukan menangis, bukan menelepon siapa pun. Aku menyalakan komputer dan menulis bab 121. Karena kau berkata: pulanglah lewat jalanmu, penulis. Tulis tamatnya. Itu perintah pertama dalam hidupku yang diberikan orang yang tidak minta apa-apa dariku. Jadi kutepati. Enam puluh tujuh bab. Sambil menunggu. Sambil mencari wajah yang tidak pernah kulihat di setiap stasiun dan kedai dan antrean.” Dia menatapnya melintasi meja kecil itu — pembacanya, figurannya, orang yang kini nyata dan bisa disentuh dan sedang memegang tangannya yang bertinta. “Dan sekarang tinggal satu pertanyaan, dan aku menanyakannya sebagai Elena yang utuh, bukan sebagai tiga gadis yang kau kenal: kau jatuh cinta pada Sera, pada Isolde, pada Lucrezia. Mereka aku — tapi aku juga bukan persis mereka; aku yang utuh lebih berantakan, lebih biasa, minus sihir, plus tenggat penerbit. Jadi... apa kita mulai dari awal? Kau dan aku, dua orang asing di kedai teh?”

Ren — pembacanya — mempertimbangkan pertanyaan itu dengan keseriusan yang dia berikan pada semua hal penting. Lalu menggeleng.

“Tidak bisa dari awal,” katanya. “Aku sudah baca sampai tengah. Kebiasaan burukku — aku selalu tahu jalan ceritanya.” Dia membalik tangan Elena, menatap empat huruf di telapaknya, dan menutupnya dengan tangannya sendiri. “Tapi aku bisa tawarkan yang lebih baik: kita mulai dari sini. Bukan halaman satu — halaman ini. Kau bukan tiga gadis itu; benar. Kau ruangan tempat mereka tinggal. Dan aku sudah lama sekali, Elena, ingin pulang ke ruangannya langsung.”

Di kedai teh kecil yang buka sampai larut, seorang penulis menangis untuk terakhir kalinya tahun itu — jenis tangis yang datang ketika tulang terakhir disambung ulang dengan benar — dan di luar, hujan berhenti, dan tidak ada satu sistem pun di dunia mana pun yang mencatat momen itu.

Tidak perlu.

Ada hal-hal yang tumbuh sendiri di antara dua jiwa, tanpa disuruh halaman. Dan hal-hal seperti itu, sudah dibuktikan, tidak bisa dihapus.