← Chapters Ch. 31 / 52

Chapter Thirty One

[ERROR]

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 6 — Ciel, Noct, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian


Hipotesis Lucrezia memakan waktu satu jam untuk dipaparkan dan satu malam penuh untuk diterima.

Dia membuka jurnalnya halaman demi halaman — mimpi yang sama, kebiasaan yang sama, masa kecil tanpa adegan, coretan margin, wangi tinta — dan menyusunnya di meja peta seperti menyusun tulang menjadi kerangka. Sera mendengarkan dengan tangan menggenggam telapak kirinya sendiri. Isolde berdiri sepanjang pemaparan, karena duduk berarti menerima, dan dia belum siap menerima.

“Kesimpulannya,” kata Lucrezia akhirnya, dan untuk pertama kalinya sejak kukenal, suaranya tidak menyisakan ruang untuk permainan, “kami bertiga bukan tiga orang yang kebetulan mirip. Kami tiga bagian. Tiga potongan dari satu jiwa yang sama — jiwa yang menulis dunia ini, yang menuang kesepiannya ke Sera, kewajibannya ke Isolde, dan...” dia berhenti, satu-satunya jeda yang dia izinkan, “...kebenciannya pada diri sendiri, ke aku. Dan jiwa itu, kalau deduksi Ciel soal novel yang berhenti tiga tahun lalu benar, sedang terjebak di suatu tempat. Di dalam karyanya sendiri. Bersama sesuatu yang menghentikannya menulis.”

Sunyi yang panjang.

“Kalau itu benar,” kata Sera pelan — dan aku menunggu keruntuhan, penolakan, apa pun yang wajar; tapi yang keluar adalah pertanyaan yang membuatku mencintainya lebih dalam dari yang kusangka mungkin: “kalau kami bertiga adalah pecahan dari satu orang yang kesepian... maka semua yang kami rasakan padamu, Ciel — apakah itu milik kami, atau miliknya?”

Aku tidak sempat menjawab.

Karena tepat saat itu, di tengah aula barat, di depan meja peta, di jantung markas paling terlindungi di akademi — udara robek.

Bukan seperti sobekan langit Eclipse. Ini lebih kecil dan lebih salah: seperti kertas dunia disilet dari sisi yang tidak punya sisi, dan dari celahnya, tinta hitam mengalir ke atas, melawan gravitasi, menggenang di udara, dan menyusun dirinya menjadi bentuk manusia.

Tinggi. Ramping. Berpakaian seperti murid akademi dari zaman yang mode-nya sudah tiga ratus tahun mati. Wajahnya adalah wajah yang hampir selesai — hidung, rahang, alis, semuanya ada, tapi seperti sketsa yang penulisnya berhenti sebelum menandatangani — dan di tempat matanya, dua kolom teks berjalan tanpa henti, terlalu cepat untuk dibaca, seperti isi buku yang dituang ke lubang.

Di atas kepalanya, label yang membuat seluruh tubuhku dingin:

[ ERROR ] [ Threat Level: — ] [ Note: value cannot be calculated for entities outside record ]

“Formasi!” Isolde bergerak lebih dulu, selalu — pedang keluarga Vayne keluar dan menebas dalam satu tarikan napas, tebasan yang bisa membelah batu.

Pedang itu lewat. Bukan menembus — lewat, seperti kau tidak bisa memotong sesuatu yang tidak ada di kalimat yang sama denganmu. [ Target: does not exist ], jerit sistemnya. Sihir cahaya Sera menyala dan padam di udara kosong: [ Target: does not exist ]. Tujuh lingkaran kutukan Lucrezia mengunci, mencari, gagal: [ does not exist ]. Dan Cassian — Cassian yang menerobos masuk lima detik setelah alarm, pedang emas menyala penuh — mengayunkan serangan terkuat angkatan ini pada sosok itu dan hanya memotong udara, dua kali, tiga kali, sementara Guidance-nya berteriak dalam huruf-huruf yang bahkan dari sini bisa kulihat panik:

[ WARNING — WARNING — DO NOT ENGAGE — SUBJECT OUTSIDE JURISDICTION — ]

Outside jurisdiction. Bahkan Naskah takut padanya.

Sosok itu tidak menghindar dari satu serangan pun. Dia berdiri di tengah badai sihir dan baja yang melewatinya seperti hujan melewati hantu, dan kolom-kolom teks di matanya berhenti bergulir — terkunci, keduanya, pada satu titik di ruangan.

Padaku.

“Akhirnya,” katanya. Suaranya adalah suara yang dilapis-lapis — seorang pemuda, dan di bawahnya sesuatu yang jauh lebih tua, dan di bawah itu, samar, hampir tak terdengar, suara perempuan yang menangis. “Empat ratus halaman aku menunggumu berhenti bersembunyi di balik plot, typo kecil. Kau sulit ditemukan. Itu pujian — aku dulu butuh dua tahun untuk sepudar dirimu sekarang.”

Dia melangkah. Dunia di sekitar langkahnya bermasalah — lantai batu yang dilewatinya kehilangan tekstur sesaat, menjadi abu-abu polos seperti latar yang belum digambar, sebelum buru-buru memperbaiki diri.

“Jangan mendekat padanya.” Sera bergerak memotong jalur itu, berdiri di antara kami meski sistemnya sendiri berteriak bahwa tidak ada apa-apa di sana. Buta, dia tetap memasang tubuhnya. Mereka semua begitu — Isolde di kiriku, Lucrezia di kananku, Cassian di depan, empat orang membentuk dinding di sekeliling satu figuran, melawan sesuatu yang tidak bisa mereka lihat, sentuh, atau lukai.

Sosok itu berhenti. Memandangi formasi kami. Dan tertawa — pelan, dan di dalam tawa itu ada retakan yang membuatnya lebih menyedihkan daripada menakutkan.

“Lihat itu,” katanya. “Dinding daging di sekeliling sebuah kesalahan cetak. Aku juga pernah punya itu. Persis itu. Mereka berdiri seperti itu juga di malam terakhirku — dan besok paginya mereka bangun dan bertanya-tanya kenapa mereka berdiri semalaman di ruangan kosong.” Kolom teks di matanya bergulir cepat, sekali, seperti berkedip. “Aku tidak datang bertarung, typo. Melawanku, kau lihat sendiri, bukan konsep yang berlaku di sini. Aku datang memberi undangan.”

“Tidak tertarik,” kataku.

“Kau belum dengar isinya.”

“Aku sudah baca catatannya. Rektor kesembilan. ‘Akan kubuat naskah ini tahu rasanya tidak dibaca.’” Aku menatap dua kolom teks itu lurus-lurus — satu-satunya di ruangan ini yang bisa. “Tiga ratus tahun, dan rencanamu masih membakar perpustakaan karena satu buku menyakitimu. Aku menolak.”

Sesuatu bergerak di wajah-sketsa itu. Kolom teksnya tersendat.

“...Dia menyimpan catatan,” katanya pelan, dan untuk sesaat suara pemuda di lapisan teratas itu terdengar sendirian, tanpa lapisan-lapisan tuanya, “orang tua itu menyimpan catatan tentangku?”

Dan di situlah aku melihatnya — celah yang akan kuingat sampai akhir: di dalam hal yang menyebut dirinya [ERROR], di bawah tiga abad kebencian, masih ada satu murid yang terhapus yang baru tahu, detik ini, bahwa seseorang pernah menolak melupakannya.

Celah itu menutup secepat terbukanya. Sosok itu menegakkan diri, dan tinta di sekujur bentuknya menggelap.

“Undangannya tetap berlaku,” katanya. “Kau punya sembilan puluh hari lebih sedikit sebelum Naskah menyelesaikanmu. Sebelum itu terjadi, kau akan datang padaku sendiri — karena kau akan segera menemukan apa yang kutemukan dulu: bahwa dinding dagingmu itu—” matanya menyapu empat orang di sekelilingku, “—akan diambil darimu satu per satu, dan pada akhirnya kau akan memilih antara dihapus bersama mereka... atau berdiri di tempatku, di luar halaman, di tempat tidak ada yang bisa diambil lagi.”

Dia mulai luruh, tinta jatuh ke atas, kembali ke celah yang tidak punya sisi.

“Namaku Noct, omong-omong,” kata suara pemuda itu, di detik terakhir, hampir seperti kebiasaan lama yang tersisa. “Dulu. Waktu masih ada gunanya punya nama. Sampai jumpa, typo. Sampaikan salamku... pada penulis kita.”

Celah menutup. Aula sunyi. Empat orang menoleh padaku serentak — mereka hanya mendengar setengah percakapan, sisi ku saja, sepanjang waktu — dan Lucrezia yang pertama menemukan suaranya:

“‘Penulis kita,’” ulangnya. “Ciel. Dia bilang penulis kita?”

Aku menatap titik di udara tempat celah itu tadi berada, dan merasakan seluruh peta perang di kepalaku menyusun ulang dirinya.

“Dia tahu di mana penulisnya,” kataku. “Dia bukan cuma tahu. Kurasa... selama tiga tahun ini, dialah yang menahannya.”