← Chapters Ch. 37 / 52

Chapter Thirty Seven

Gerbang Bab Terakhir

POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 6 — Ciel, Seraphina, Isolde, Lucrezia, Cassian (musuh), pasukan Eclipse & pembela akademi


[ FINAL CHAPTER: active ] [ All units: converge ]

Fajar hari itu tidak pernah benar-benar datang. Langit sobek di utara melebar sampai menelan matahari terbit, dan hari terakhir dimulai dalam cahaya keliru — senja abadi berwarna tinta encer, di mana bayangan jatuh ke arah yang salah.

Eclipse datang bukan sebagai gelombang. Eclipse datang sebagai segalanya sekaligus: pasang hitam dari lembah, hujan bentuk-bentuk bersayap dari sobekan langit, dan di gerbang aula utama — di jantung akademi, di depan pintu tempat Kristal Kebangkitan berdiri dan tempat, menurut kebocoran Noct, celah keluar-halaman akan terbuka — satu sosok emas-putih-kertas berdiri menunggu, sempurna dan kosong.

Naskah meletakkan Cassian tepat di depan pintuku. Tentu saja. Naskah membaca rencanaku sejak entah kapan, dan menyusun pertahanan terbaiknya: untuk sampai ke celah, aku harus melewati sahabatku.

“Formasi tiga lapis,” suara Lucrezia di sisiku, tenang seperti membacakan resep. “Sesuai rencana. Aku lepas di halaman luar. Isolde di taman tengah. Sera dan kau tembus ke aula. Dan Ciel—” dia menoleh, dan menyeringai dengan seluruh silet lamanya, dipakai kali ini sebagai keberanian, “—jangan mati sebelum pintumu. Itu tulisanku yang jelek sekali kalau terjadi.”

Kami menembus perang.

Tidak ada kata yang cukup untuk lari itu, jadi aku menyimpannya sebagai potongan-potongan, seperti arsip yang baik: Rektor Aldric di menara, tongkat terangkat, suara tuanya menggerakkan pertahanan yang kususun berminggu-minggu — setiap regu di titik yang benar, setiap gerbang diperkuat di tempat yang tepat, seluruh akademi bertarung mengikuti peta seorang hantu. Milo di barisan logistik tembok dalam, melempar tabung ramuan ke garis depan, sempat bersitatap denganku satu detik penuh dan berteriak — pada orang yang tidak dia kenal, dengan keyakinan yang tidak bisa dia jelaskan — “KAU! ANAK ANEH! JANGAN MATI, AKU BELUM SEMPAT BILANG YANG WAKTU ITU!” Kubalas dengan lambaian, karena kalau kubalas dengan kata-kata, aku tidak akan sanggup terus berlari.

Halaman luar: lautan kegelapan, dan Lucrezia berhenti berlari.

“Lapisan satu,” katanya, dan melepas segel di kedua lengannya sekaligus — segel yang selama ini kukira perhiasan marga. Sebelas lingkaran kutukan menyala di sekelilingnya, membentuk mahkota yang mengerikan dan agung, dan gelombang hitam pertama yang menyentuh jaringnya berhenti, terjerat, membeku di udara seperti tinta di dalam kaca. “Pergi! Kutahan halaman ini selama—” dia menghitung dengan jujur, khas dirinya, “—entah. Lama. PERGI!”

Perpisahan pertama tidak diberi upacara. Perang tidak memberi waktu untuk itu; hanya satu tatapan, satu anggukan, satu kalimat yang kulempar sambil berlari mundur — “Draf keduamu, Lu! Aku menagihnya!” — dan tawanya, tawa tanpa silet, mengejar kami masuk ke taman tengah.

Taman tengah: bentuk-bentuk bersayap turun seperti hujan panah hidup, dan Isolde berhenti berlari.

“Lapisan dua.” Pedang pinjaman dari gudang — pedang keluarga sudah patah oleh pahlawan — keluar dari sarungnya, dan dia memutar gagangnya sekali di jarinya, bulat, ritual kecil warisan seseorang yang tidak dia kenal. Sarung tangan kulit cokelat mengencang di genggamannya. “Ciel.” Dia tidak menoleh; matanya sudah menghitung musuh. “Sembilan puluh delapan.”

“...Apa?”

“Kalau kau bangun lagi setelah jatuhmu nanti — di mana pun — hitungannya sembilan puluh delapan. Aku menghitung semua jatuhmu sejak malam pertama, dan aku menolak angkanya berhenti ganjil di sembilan puluh tujuh.” Barulah dia menoleh, satu detik, dan di wajah datar itu ada segalanya. “Bangun, dan genapkan. Itu perintah terakhirku. Laksanakan.”

“...Siap, guru.”

Dia sudah berbalik menghadap hujan sebelum kata kedua selesai, dan hal terakhir yang kulihat darinya adalah punggung yang lurus di tengah taman, satu pedang melawan langit, tidak mundur satu jengkal pun.

Aula utama: dan di depan pintunya yang besar, di bawah segel event terakhir yang berputar pelan — [ FINAL CHAPTER ] — Cassian Valeheart menunggu, pedang emas terhunus, mata putih kertas menatap lurus.

Sera dan aku berhenti di ujung tangga aula, terengah, berdua.

“Lapisan tiga,” bisik Sera. Tangannya menemukan tanganku, telapak ke telapak, huruf ke kulit, dan meremasnya sekali — kuat, tanpa gemetar. “Sesuai rencana. Aku pancing kubahnya, kau cari celah bicaramu. Dan Ciel — apa pun yang terjadi di dalam sana nanti—”

“Sampai pintu terakhir,” kataku. “Aku ingat halamanmu.”

Kami menaiki tangga bersama, menuju sahabat yang harus dibebaskan dan pintu yang hanya bisa dilewati sekali, sementara di belakang kami seluruh dunia bertarung untuk membeli waktu bagi satu figuran — dan di sudut penglihatanku, penghitung yang berbulan-bulan mundur dalam satuan hari kini berkedip, berganti satuan, seolah Naskah pun tahu bahwa semua jadwal lamanya sudah tidak berlaku:

[ Time to correction: 02:11:36 ]

Dua jam, sebelas menit.

Cukup untuk satu pembebasan, satu pelukan, dan satu ending yang benar.

“Cassian!” seruku, melangkah ke cahaya. “Aku datang menagih janji nol koma tiga persen!”