Chapter Twenty
Healer yang Tak Bisa Menyentuhku
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 4 — Ciel, Seraphina, Isolde, (monster Wraith)
[ Phase 2 — System erasure: 12% ]
Fase dua ternyata bukan gelombang. Fase dua adalah rayap.
Minggu pertama setelah vonis, hal-hal kecil mulai gagal. Pintu asrama yang terbuka dengan lencana murid — lencanaku butuh tiga kali tempel, lalu lima, lalu penjaga harus membukakan manual sambil menggerutu soal “lencana rusak”. Papan absen kelas yang mencatat kehadiran otomatis mulai melewatiku; pengajar menandaiku hadir dengan tangan, kalau ingat aku ada. Kios kantin yang menghitung jatah dengan sistem menolak transaksiku dua kali dari lima.
Aku sedang di-logout dari dunia, satu layanan setiap kali.
“Ini sebenarnya menarik secara akademis,” kata Lucrezia, yang kini memperlakukan penghapusanku sebagai proyek penelitian gabungan — dan yang caranya peduli memang berbentuk begitu, jadi aku menerimanya. “Sistem dunia menopang semuanya: kunci, catatan, sihir penunjang. Naskah tidak perlu membunuhmu, Ciel. Dia cukup mencabut aksesmu satu per satu sampai dunia ini tidak bisa kau pakai lagi.” Dia mendongak dari catatannya. “Karena itu mulai hari ini kau tidak ke mana-mana sendirian. Terutama ke tempat yang bisa membunuhmu.”
“Aku tidak berencana ke tempat yang bisa membunuh—”
Dua hari kemudian, tugas patroli perimeter musim dingin — kewajiban rotasi semua murid, termasuk kelas F — menempatkanku di sektor hutan utara. Dan ketika aku melapor untuk bertukar jadwal, petugas administrasi menatap daftar, menatapku, dan berkata jadwalku “tidak ditemukan di sistem” — jadi tidak bisa ditukar. Bagus sekali. Dihapus dari sistem kecuali untuk hal yang berbahaya. Aku mulai curiga Naskah punya selera humor, dan seleranya buruk.
Sera dan Isolde mendengarnya dari Lucrezia. Maka Sabtu pagi itu, di gerbang utara, aku menemukan dua orang menungguku dengan perlengkapan patroli lengkap.
“Rotasi kami,” kata Isolde datar, “kebetulan sektor yang sama.”
“Rotasi kalian sektor selatan. Aku melihat papannya.”
“Papannya,” kata Sera manis, “salah tulis.”
Kalian berdua pembohong yang buruk dan aku tidak akan pernah mengatakan betapa leganya aku. Kami berangkat bertiga menembus salju.
Serangan itu datang di jam ketiga, dan dia datang salah.
Sektor utara musim dingin seharusnya berisi es-serigala level rendah — patroli rutin, naskah aman. Tapi yang keluar dari kabut di punggung bukit bukan serigala. Sesuatu yang tinggi dan keliru, seperti bayangan manusia yang digambar oleh orang yang hanya pernah mendengar deskripsi manusia: terlalu panjang, sendinya terbalik, dan tubuhnya berkedip — berkedip, ada dan tidak ada, seperti gambar yang gagal dimuat.
[ Anomaly: “Wraith” — unregistered ] [ Warning: entity exists partially outside record ] [ Threat Level: B+ ]
Sebagian di luar catatan. Seperti aku.
Naskah mengirim sesuatu yang setengah terhapus untuk menghapus yang setengah terhapus. Efisien. Puitis. Kurang ajar.
“Formasi,” kata Isolde, dan pedangnya sudah keluar sebelum kata itu selesai. “Ciel, belakang kami. Sera, jangkar.”
Pertarungan itu mengerikan dengan cara yang baru. Wraith itu tidak bisa dikunci: tebasan Isolde yang pertama lewat menembus tubuhnya saat dia berkedip-hilang, dan cakarnya yang panjang muncul dari sudut yang tidak masuk akal. Sihir cahaya Sera membakarnya — dia menjerit tanpa mulut, suara seperti kertas dirobek pelan — tapi target lock-nya terus lepas: [ Target lost ], [ Target lost ], berkedip di udara setiap kali makhluk itu keluar dari catatan dunia sepersekian detik.
“Polanya!” teriakku dari belakang, karena itu tugasku sekarang, satu-satunya senjataku: mataku. “Dia berkedip mengikuti irama — dua panjang, satu pendek! Dia SOLID di kedipan pendek! Isolde, hitungan ketiga dari sekarang—”
Isolde tidak bertanya bagaimana aku tahu. Dia tidak pernah bertanya lagi. Dia bergerak pada hitungan, dan pedang keluarga Vayne menemukan sesuatu yang akhirnya bisa dipotong — Wraith itu terpental mundur, sobek dari bahu ke rusuk, menjerit kertas-robek—
—dan berkedip ke arah yang salah.
Bukan mundur. Bukan menyerang Isolde. Dia muncul kembali tiga meter di kiriku — di titik buta yang tidak dijaga siapa pun karena tidak ada lintasan wajar yang menuju ke sana — dengan cakar sudah terayun.
Aku sempat melakukan persis satu hal: yang diajarkan Isolde di malam-malam lapangan tua. Jatuh dengan benar.
Cakar itu, yang mengincar jantung, merobek dari pundak ke rusuk.
Dunia menjadi putih, lalu merah, lalu sangat dingin. Aku ingat salju di pipiku. Aku ingat jeritan kertas-robek makhluk itu berubah menjadi jeritan sungguhan — dua suara manusia, murka, dan cahaya emas-dan-hitam yang mengoyak kabut di atasku sampai tidak ada lagi yang tersisa untuk menjerit. Aku ingat berpikir, jauh dan lambat: oh. Darah sebanyak ini biasanya masalah.
Lalu Sera ada di lututnya di sampingku, dan kedua tangannya menyala hijau paling terang yang pernah kulihat, dan dunia mengkhianatinya tepat di depan mataku:
[ Healing target: Not Found ]
“Tidak.” Dia mencoba lagi, cahaya membentur udara sejengkal dari lukaku, memercik sia-sia seperti hujan di kaca. [ Not Found ]. “Tidak, tidak — dia di sini, dia TEPAT DI SINI—” [ Not Found ]. “SISTEM! Dia di depanku! Aku menyentuhnya! Kenapa kau tidak bisa—”
“Sera.” Suaraku keluar setengah bisikan. “Tanganmu.”
“Apa—”
“Sistemmu tidak bisa menemukanku. Tanganmu bisa. Dari kemarin-kemarin... tanganmu selalu bisa.”
Dia menatapku satu detik — dan kemudian putri Adipati Elowen, [Saint] termuda dalam sejarah, membuang seluruh sihirnya seperti membuang payung dalam badai, merobek jubah putihnya sendiri jadi perban, dan menekan lukaku dengan kedua tangan telanjang sambil meneriakkan instruksi pada Isolde — air, perapian, kain, sekarang — dengan suara komandan yang tidak pernah diajarkan di kelas mana pun.
Dia menjahit dan membalut selama satu jam, di dalam pondok patroli, dengan tangan yang tidak berhenti dan mata yang tidak berani berhenti, sementara Isolde menjaga pintu dengan pedang terhunus menghadap dunia — seluruh dunia, seolah siap menantang langit dan salju dan tata bahasa sekaligus.
Ketika selesai — ketika napasku stabil dan hangat mulai kembali — Sera duduk mundur, menatap kedua tangannya yang merah oleh darahku, dan mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah kulupakan, dengan suara yang sangat pelan dan sangat jernih:
“Seumur hidup, sihirku bisa menyembuhkan siapa pun dari jarak dua puluh meter. Sekali ucap. Selesai. Aku tidak pernah tahu nama orang-orang itu.” Dia mengangkat wajah, dan matanya seperti langit sebelum hujan, dan hujannya turun. “Naskah bodoh itu pikir dia menghukumku dengan membuatku tidak bisa menyembuhkanmu. Dia salah. Dia baru saja mengajariku apa bedanya menyembuhkan dan merawat. Dan dia baru saja memastikan bahwa dari semua orang di dunia ini, hanya kau yang sembuh oleh tanganku sendiri.”
Dia mengambil tanganku — yang bisa dia temukan tanpa sistem, selalu — dan menggenggamnya di antara kedua tangannya yang merah.
“Jadi silakan dia mencoba menghapusmu, Ciel. Dia akan menemukan bahwa aku sudah menulismu di tempat yang tidak bisa dia baca.”
Di sudut pandanganku, penghitung berjalan mundur, dingin dan rapi: [ 114:07:22:51 ].
Dan di sebelahnya, meter itu — tulisan yang tidak pernah ikut berkedip:
[ Seraphina Elowen: 58% ↑ ]