Chapter Forty Six
Tiga Tahun
POV: Ren (orang pertama) Karakter: 2 — Ren, Milo (dunia nyata — sekilas), Elena (lewat catatan penulis)
Tiga minggu memisahkanku dari jumpa penggemar itu, dan aku menghabiskannya dengan dua pekerjaan: menyusun ulang hidup yang ditinggal tiga tahun, dan membaca ulang enam puluh tujuh bab — kali ini bukan untuk ceritanya.
Untuk catatan penulisnya.
Aku melewatkannya di pembacaan pertama, malam itu, karena terlalu sibuk menemukan diriku di halaman-halamannya. Tapi di bawah setiap bab, S.I.L. menulis catatan kecil — kebiasaan lamanya sejak dulu, biasanya satu kalimat basa-basi. Yang sekarang bukan basa-basi. Yang sekarang, kalau dibaca berurutan, adalah buku harian tiga tahun yang ditulis untuk satu pembaca yang entah ada di mana:
Bab 121 (diunggah tiga tahun lalu, dua hari setelah aku menghilang): — “Aku kembali. Maaf untuk tiga tahun yang hilang; suatu hari mungkin bisa kuceritakan ke mana aku pergi. Bab ini tentang seseorang yang kutemui di sana. Kalau kau membaca ini — kau tahu siapa kau — aku menepati janjiku: aku menulis.”
Bab 133: — “Ada pembaca yang bertanya kenapa arah cerita berubah total. Jawabannya sederhana: aku bertemu tokoh utamanya. Yang asli. Aku hanya menyalin.”
Bab 150 (tahun kedua): — “Hari ini aku ke stasiun dan berdiri di peron lama sekali, menatap orang-orang, seperti orang bodoh. Kau tahu masalahnya dengan mencari seseorang yang kau kenal jiwanya tapi bukan wajahnya? Semua orang mungkin kau. Tidak ada yang kau.”
Bab 162: — “Penerbit menawariku menerbitkan cetak. Kubilang belum tamat. Mereka tanya kapan tamat. Kubilang: ketika yang kutunggu datang menagih endingnya. Mereka pikir aku seniman yang nyentrik. Biar saja.”
Bab 171 (tahun ketiga): — “Aku hampir menyerah bulan ini. Kutulis di sini supaya jujur. Lalu aku membaca ulang bab tehnya — babmu, kau tahu yang mana — dan ingat bahwa kau tidak pernah melewatkan janji kecil. Tiga tahun itu janji besar, mungkin. Jadi kupotong kecil-kecil: aku menunggumu seminggu lagi. Lalu seminggu lagi. Begitu terus. Ternyata bisa.”
Bab 187 (tiga minggu lalu): — “Bab terakhir sebelum tamat. Aku menyisakan satu bab lagi — dan aku baru sadar kenapa aku tidak sanggup menulisnya sendirian di kamar. Ending harus diserahkan langsung. Maka: jumpa penggemar. Pertama dan terakhir. Kalau kau ada di luar sana, figuranku — kau selalu datang pada janji kecil. Anggap ini janji kecil.”
Aku membaca catatan-catatan itu berulang kali sepanjang tiga minggu — di sela mengurus surat-surat kependudukan yang menyatakan aku “ditemukan”, di sela wawancara canggung dengan kantor lama yang posisiku sudah diisi orang lain dan anehnya aku tidak sedih sama sekali, di sela malam-malam ketika kamarku terasa terlalu sunyi karena tidak ada Milo yang mengomel dari ranjang seberang.
Tiga tahun. Dia menungguku tiga tahun, dengan cara satu-satunya yang dia punya: menulis mercusuar setinggi enam puluh tujuh bab dan menyalakannya setiap minggu, tidak tahu apakah kapalnya masih ada.
Aku mencoba jalur cepat, tentu saja. Kukirim pesan ke akunnya — tiga draf, dua jam, akhirnya: “Racikan keenam: daun mint musim semi, sedikit jahe. Aku datang menagih janji teh. — Figuranmu.” Terkirim ke kolom pesan yang menampung sebelas ribu pesan tak terbaca dari pembaca yang semuanya, sejak bab 121, menyebut diri mereka “figuranmu” — karena tentu saja; dia menulis Ciel terlalu hidup, dan sekarang separuh pembacanya mengaku-ngaku jadi aku. Pesanku tenggelam dalam lautan aku-aku palsu. Adil, kurasa. Sepanjang dua kehidupan aku berlatih tidak menonjol; sukses besar, di saat paling salah.
Jadi: jumpa penggemar. Jalan satu-satunya. Tiket kupesan di menit pengumuman — nomor antrean 214, dari lima ratus.
Di minggu terakhir, satu hal lagi terjadi yang harus kucatat di arsip ini.
Aku sedang di toko kelontong dekat kos, membeli kopi, ketika seseorang di lorong sebelah menjatuhkan tumpukan mi instan dan mengumpat dengan logat yang membuat seluruh tubuhku berhenti. Aku menoleh. Pemuda seumuranku, wajah ramah yang gampang dilupakan, kaus oblong, sedang memunguti mi sambil menyalahkan gravitasi.
Bukan dia. Tentu saja bukan dia — Milo ada di dunia lain, di balik sampul, tujuh belas kata yang kubuat jadi ribuan. Orang ini orang asing dengan jenis wajah yang sama, jenis energi yang sama, karena dunia mana pun rupanya selalu menyediakan orang-orang seperti itu: yang melempar roti, yang mengomel, yang tidak menutup pintu besi.
Aku membantunya memunguti mi. Dia nyengir dan bilang, “Makasih, bro. Dunia butuh lebih banyak orang yang mau repot.”
“Dunia butuh lebih banyak orang sepertimu,” kataku, dan dia tertawa bingung, dan kami berpisah sebagai dua orang asing, dan aku berjalan pulang dengan mata panas dan hati yang anehnya ringan.
Karena itulah yang kupelajari dari semua halaman: dunia — dunia mana pun — penuh figuran yang menjaga dunia tetap berjalan tanpa pernah dicatat siapa pun. Dulu aku salah satunya dan membencinya. Sekarang aku salah satunya dan tahu rahasianya: tidak dicatat bukan berarti tidak berarti. Perlu dihapus dari sebuah dunia dulu untuk benar-benar memahaminya.
Malam terakhir sebelum jumpa penggemar, aku menyiapkan satu-satunya barang yang akan kubawa selain tiket: buku catatan baru. Halaman pertamanya sudah kuisi sore itu, dengan tulisan tangan kananku sendiri, tidak diburuk-burukkan, tidak disandikan — untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, aku menulis tanpa menyamar:
“Racikan keenam. Daun mint musim semi. Sedikit jahe. Atap boleh diganti, asal tehnya jangan.”
“— Ren. Yang kau kenal sebagai Ciel. Yang terlambat tiga tahun, dan tidak berniat terlambat semenit pun lagi.”
Aku menutup buku itu, mematikan lampu, dan untuk pertama kalinya sejak pulang, tidur tanpa mimpi — seperti orang yang besok tidak perlu lagi mencari apa-apa di dalam tidurnya.