Chapter Three
Gadis yang Tidak Kutolong
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 3 — Ciel, Seraphina, Fenn
Perpustakaan barat Astra Academy adalah tempat paling aman di seluruh akademi bagi seorang figuran.
Alasannya sederhana: tidak ada satu pun adegan penting Starblade Academy yang terjadi di sini. Perpustakaan timur? Itu beda cerita — di sana ada lorong terlarang, buku terkutuk, dan setidaknya tiga adegan romansa. Tapi perpustakaan barat hanyalah gudang buku administrasi dan jurnal pertanian. Sepanjang seratus dua puluh bab, dia disebut satu kali, dalam setengah kalimat.
Karena itu, seminggu setelah upacara, tempat ini resmi jadi markasku. Setiap sore, sepulang kelas — kelas untuk murid Extra pada dasarnya adalah pelajaran umum ditambah pesan tersirat “setidaknya kalian bisa jadi juru tulis” — aku duduk di meja pojok, ditemani debu dan buku catatan.
Di buku itu, dengan sandi campuran yang hanya bisa kubaca sendiri, aku menuliskan ulang seluruh alur Starblade Academy. Setiap event. Setiap tanggal. Setiap kematian. Empat kali membaca membuat ingatanku bagus, tapi ingatan adalah aset yang bocor — dan di dunia ini, satu detail yang lupa bisa berarti mati.
Sore itu aku sedang menulis kronologi arc dungeon ketika pintu perpustakaan berderit.
Aku tidak mendongak. Figuran tidak mendongak; mendongak itu mengundang interaksi.
Langkah kaki. Dua orang. Berhenti beberapa rak dariku.
“...harusnya ada di kategori herbologi.” Suara gadis, cemas. “Aku sudah cari tiga hari, Sera. Kalau sampai lusa tidak ketemu, aku benar-benar tamat.”
“Tenang dulu, Fenn. Tarik napas.”
Aku membeku.
Suara kedua itu. Jernih. Mengalir. Suara yang seminggu lalu membacakan pidato di depan ribuan orang.
Kenapa. Kenapa dia di sini. Perpustakaan barat tidak ada di naskah. TIDAK ADA ADEGAN DI SINI.
Aku menunduk serendah mungkin dan mulai mengemasi buku catatanku dengan gerakan pencuri profesional. Pelan. Tanpa suara. Meja pojok punya jalur mundur ke pintu samping; tiga meter, belok kiri, bebas—
“Permisi.”
Sepatu putih berhenti tepat di sisi mejaku.
Aku mendongak dengan kecepatan orang yang berharap keajaiban, dan keajaiban tidak terjadi: Seraphina Elowen berdiri di sana, rambut keperakan menangkap cahaya sore dari jendela, menatapku dengan sopan.
Di sampingnya, gadis berkacamata dengan rambut dikepang — [ Fenn — Herbalist Lv. 4 ] — mengintip dari balik bahunya.
“Maaf mengganggu,” kata Seraphina. “Kau sering di sini, ya? Aku melihatmu beberapa kali lewat jendela. Kami mencari sebuah buku — Kompendium Flora Pegunungan Utara, jilid tiga. Petugas bilang dipindah ke perpustakaan barat, tapi katalognya kacau. Mungkin kau pernah melihatnya?”
Otakku memproses tiga hal secara paralel.
Pertama: dia melihatku beberapa kali. Aku, figuran, yang seluruh strategi hidupnya adalah tidak terlihat. Catatan merah besar.
Kedua: Kompendium Flora Pegunungan Utara jilid tiga. Aku tahu buku itu. Lebih tepatnya, aku tahu kenapa mereka mencarinya. Ini event bab sembilan naskah: tugas herbologi Fenn, sahabat Sera, yang nyaris membuatnya dikeluarkan — dan diselesaikan oleh Cassian, yang kebetulan lewat, membuat kesan pertama yang baik pada Sera. Batu bata kecil dalam fondasi romansa protagonis.
Ketiga: buku itu ada di rak belakangku. Aku melihatnya dua hari lalu. Salah selip di kategori jurnal irigasi, baris ketiga dari bawah.
Dan di sinilah aku, berdiri di persimpangan yang kutakuti: satu kalimat dariku — “ada di rak itu” — akan mencabut adegan ini dari tangan Cassian.
“Maaf,” kataku. “Aku tidak tahu.”
Kalimat itu keluar lebih halus dari yang kukira, mengingat di dalam kepalaku dia diteriakkan sambil membanting meja.
Fenn mengempis seperti balon. “Sudah kuduga...”
Seraphina masih menatapku. Sesaat lebih lama dari yang perlu. Aku tiba-tiba sangat sadar bahwa mata orang ini berwarna seperti langit sebelum hujan, dan bahwa novel pernah menghabiskan satu paragraf hanya untuk warna itu, dan bahwa paragraf itu kurang.
“Begitu, ya,” katanya akhirnya. Dia tersenyum — senyum sempurna, senyum podium. “Maaf sudah mengganggu waktumu.”
“Tidak apa-apa.”
Mereka berbalik. Fenn berbisik, “sekarang bagaimana? Lusa dikumpulkan, Sera. Lusa.” Dan Sera menjawab dengan suara menenangkan yang gagal menenangkan, dan mereka menyusuri rak-rak dengan kecepatan orang yang tidak akan menemukan apa-apa, karena buku itu tidak ada di tempat yang masuk akal, karena buku itu ada di baris ketiga dari bawah kategori jurnal irigasi, di rak tepat di belakang kursiku.
Aku duduk kembali.
Aku membuka buku catatanku.
Aku menatap halaman yang sama selama empat puluh lima menit.
Sepanjang empat puluh lima menit itu, aku mendengar mereka: langkah yang makin lambat, tangga rak yang digeser, Fenn yang suaranya makin tipis, dan sekali — hanya sekali — helaan napas Sera yang lolos tanpa izin, kecil dan letih, sangat berbeda dari suara podiumnya.
Menjelang gerbang malam, mereka menyerah. Pintu perpustakaan berderit tertutup.
Sunyi.
“Bagus,” kataku pada ruangan kosong. “Naskah aman. Kerja bagus, Ciel. Figuran teladan.”
Ruangan kosong tidak menjawab. Status window-ku berpendar netral. Di luar jendela, dua sosok berjalan menjauh melintasi halaman — yang satu menunduk dalam, yang satu menepuk-nepuk punggung temannya.
Ini benar. Secara strategi, ini seratus persen benar. Lusa, sesuai naskah, Cassian akan lewat, mendengar masalah mereka, dan menyelesaikannya dengan kharisma protagonisnya. Fenn selamat. Sera terkesan. Roda berputar. Semua senang.
Lusa.
Berarti malam ini dan besok malam, gadis berkacamata itu tidak akan tidur. Dan gadis satunya — yang bahkan bukan yang punya tugas — akan ikut mencari sampai lilin habis, karena begitulah dia ditulis: karakter yang tidak bisa membiarkan orang lain susah sendirian, tidak peduli betapa lelahnya dirinya sendiri.
Aku tahu. Aku membacanya empat kali.
“...Sialan.”
Aku berdiri, menarik tangga rak, dan mengambil Kompendium Flora Pegunungan Utara jilid tiga dari baris ketiga bawah kategori jurnal irigasi. Debu setebal jari. Aku menimbangnya di tangan selama sepuluh detik, berdebat final dengan diri sendiri.
Aturan Nomor Satu: jangan mengubah cerita.
Ya. Tapi begini: yang dibutuhkan naskah dari event bab sembilan hanyalah Fenn selamat dan kesan baik untuk Cassian. Kalau bukunya “ditemukan” secara anonim — tanpa nama, tanpa wajah, tanpa siapa pun tahu — maka Fenn tetap selamat, dan lusa Cassian masih bisa jadi pahlawan untuk masalah lain; naskah punya seribu cara mempertemukan protagonis. Yang penting tidak ada jejak menuju aku.
Itu logika yang bagus. Kedengarannya seperti dibuat oleh pengacara yang disewa hatiku sendiri, tapi bagus.
Aku merobek selembar kertas dari buku catatanku, dan dengan tulisan tangan kiri yang diburuk-burukkan, menulis:
“Salah selip di jurnal irigasi. Sampul belakang ada nomor pinjam atas nama murid tahun lalu — lampirkan itu sebagai bukti keterlambatan katalog, dan pengurus perpustakaan yang akan dianggap lalai, bukan kau. Tugasmu aman. — Seseorang yang kebetulan lewat”
Detail nomor pinjam itu ada di novel — Cassian menemukannya lusa. Aku hanya... memajukan jadwal. Sedikit.
Aku menyelipkan surat itu ke dalam buku, berjalan ke asrama tempat Fenn tinggal — semua orang tahu asrama herbologi, kebunnya menyala kalau malam — meletakkan buku itu di depan pintunya, mengetuk dua kali, dan melesat ke balik pagar tanaman dengan kecepatan yang membuat AGI 6-ku terasa seperti pencapaian hidup.
Pintu terbuka. Fenn melongok, menunduk, memungut buku itu. Aku mendengar suara tercekat, lalu — cukup keras untuk membangunkan separuh asrama — “SERA! SERAAA! ADA ORANG BAIK DI DUNIA INI!”
Aku menyelinap pergi lewat kebun, tersenyum tanpa sadar.
Sampai sistem menghentikanku di tengah jalan.
Ting.
Sebuah jendela kecil membuka diri di sudut pandanganku. Bukan jendela status. Bukan penanda event. Sesuatu yang belum pernah kulihat — bingkainya merah muda, dan aku bersumpah dia berpendar dengan nada bicara yang puas:
[ Affection Meter — New Entry ] [ Seraphina Elowen: 7% ↑ ] [ Note: “Orang yang tidak mendongak.” ]
Aku berhenti di tengah kebun herbologi, di antara tanaman-tanaman yang menyala biru lembut, dan menatap angka itu selama waktu yang sangat lama.
“Tidak,” kataku pada sistem. “Tidak, tidak, tidak. Salah orang. Dia bahkan tidak tahu itu aku. Dia tidak melihat apa-apa. Kau salah hitung. Tarik kembali.”
[ Seraphina Elowen: 7% ]
“Kenapa naik?! Naik dari MANA?!”
Meter itu berpendar tenang, tak terusik, dengan ketenangan pegawai administrasi yang sama menyebalkannya seperti minggu lalu.
Dan jauh di seberang halaman, di jendela asrama yang menyala hangat, seorang gadis berambut keperakan sedang membaca sebuah surat bertulisan tangan kiri yang diburuk-burukkan — membacanya dua kali, tiga kali — lalu melipatnya dengan hati-hati, seperti orang menyimpan sesuatu yang tidak ingin dia jelaskan pada dirinya sendiri.