Chapter Eleven
Flag Kematian Sang Villainess
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 — Ciel, Lucrezia
Aku sedang menyalin jadwal event musim dingin ketika asap hitam itu muncul di seberang meja.
Pelan. Tipis. Mengepul dari udara kosong di atas rambut merah gelap Lucrezia Morgana, yang sedang membaca dengan dagu ditopang tangan, sama sekali tidak sadar bahwa di atas kepalanya, dunia baru saja menjatuhkan vonis.
[ DEATH FLAG ] [ Cause: Curse Backlash — Ritual Sabotage ] [ Time Remaining: 71:22:36 ]
Pena di tanganku berhenti.
Tujuh puluh satu jam. Tiga hari. Dan penyebabnya — ritual sabotage — membuat isi perutku dingin, karena aku tahu persis ritual apa yang akan dilakukan Lucrezia tiga hari lagi: Ritual Pembaruan Segel Morgana, upacara tahunan wajib marganya, di mana pewaris tunggal memperbarui segel kutukan warisan keluarganya. Di naskah, ritual itu berjalan lancar dan hanya disebut selewat.
Disabotase. Ini tidak ada di naskah. Ini anomali. Anomali dengan angka mundur.
“Kau menatapku,” kata Lucrezia tanpa mengangkat mata dari bukunya. “Biasanya kau butuh tiga gelas teh sebelum berani melakukan itu. Ada apa?”
Aku menimbang selama dua detik — lalu berhenti menimbang, karena kami sudah melewati fase itu sejak dia membobol laciku.
“Jangan panik,” kataku. “Tapi ada tanda kematian di atas kepalamu, dan menurutnya kau punya tujuh puluh satu jam.”
Untuk pujiannya: dia tidak panik. Dia menutup buku, menegakkan punggung, dan menatapku dengan mata tembaga yang langsung berubah mode — dari pembaca santai menjadi ahli strategi.
“Detail. Semua yang kau lihat, kata per kata.”
Kuberikan. Curse Backlash. Ritual Sabotage. Angkanya. Dia mendengarkan tanpa memotong, jarinya mengetuk meja dalam ritme berpikir, dan ketika aku selesai, hal pertama yang keluar dari mulutnya bukan ketakutan.
“Menarik,” katanya. “Jadi beginilah rasanya membaca halamanku sendiri sebelum ditulis.” Lalu, lebih pelan, dengan senyum tipis yang tidak sampai ke matanya: “Ritual pembaruan. Tentu saja. Kalau aku mati di sana, semua orang akan mengangguk dan bilang, ‘kutukan Morgana memakan pewarisnya sendiri.’ Tidak ada penyelidikan. Tidak ada pelayat. Kematian yang sangat... rapi.”
“Tidak akan terjadi,” kataku.
“Oh?” Alisnya naik. “Ini bukan di naskahmu, katamu sendiri. Berarti pengetahuanmu tidak berlaku. Kau tidak tahu siapa pelakunya, bagaimana caranya, atau—”
“Aku tahu kau tidak mati di bab mana pun sebelum bab enam puluh delapan, dan aku sudah berencana membatalkan yang itu juga. Jadwal kematianmu penuh, Lucrezia. Tidak menerima pendaftar baru.”
Dia menatapku. Sesuatu melintas di wajahnya — cepat, telanjang, segera ditutup kembali dengan seringai.
“Baik, anomaliku yang keras kepala,” katanya. “Kalau begitu mari bekerja. Tujuh puluh satu jam. Kau punya mata yang melihat takdir, aku punya otak terbaik di akademi ini. Mari kita lihat siapa yang lebih pintar — kita, atau dunia.”
Tiga hari berikutnya adalah hal paling dekat dengan “bersenang-senang” yang pernah kualami di dunia ini, dan aku merasa bersalah mengakuinya, mengingat taruhannya nyawa.
Kami bekerja seperti dua bagian dari satu mesin. Aku memantau flag — angkanya, perubahannya, kedipannya setiap kali kami mendekati sesuatu yang relevan; Lucrezia menyebutnya “detektor panas-dingin paling mahal di dunia”. Dia membedah ritual itu komponen demi komponen: sirkulasi mana, formasi segel, daftar sembilan orang yang punya akses ke aula ritual keluarga.
Malam pertama, flag berkedip saat kami memeriksa dokumen pengadaan: kristal katalis ritual tahun ini dipesan dari pemasok baru. Malam kedua, Lucrezia menyusup ke gudang penyimpanan — aku berjaga, profesi keduaku — dan menemukannya: kristal katalis yang sudah diisi terbalik, polaritasnya dibalik dengan keahlian tinggi. Dalam ritual, benda itu tidak akan menyalurkan kutukan keluar dari tubuhnya. Benda itu akan memantulkannya kembali, berlipat ganda, langsung ke jantung sang pelaksana ritual.
“Cantik,” bisik Lucrezia, memutar kristal itu di cahaya lentera dengan kekaguman ahli yang tulus dan mengerikan. “Sabotase yang hanya bisa dideteksi oleh penyihir kutukan tingkat tinggi... yang mana satu-satunya di akademi ini adalah calon korbannya sendiri, yang tentu tidak akan memeriksa alat ritualnya sendiri karena disiapkan keluarganya. Siapa pun ini, dia memahami kutukan Morgana hampir sebaik aku.”
“Bisa dilacak?”
“Isian mana selalu meninggalkan tanda tangan.” Matanya menyipit di atas kristal. “Dan tanda tangan ini... akan kusimpan dulu. Ada daftar pendek di kepalaku.”
Kami tidak melapor. Melapor berarti pertanyaan, dan pertanyaan berarti bagaimana kau tahu — jalan buntu untuk kami berdua. Sebagai gantinya, malam ketiga, dua jam sebelum ritual, Lucrezia menukar kristal itu dengan katalis lama dari brankas pribadinya, membiarkan kristal sabotase “tersimpan aman” sebagai barang bukti untuk hari yang akan dia pilih sendiri.
Aku menunggu di luar aula ritual — figuran tidak diundang ke upacara marga, tentu saja — duduk di undakan taman yang membeku, menatap satu titik di sudut penglihatanku selama satu jam penuh.
71:22:36 → 00:12:04 → 00:03:51 → 00:00:47...
Pintu aula bercahaya ungu dari dalam. Angka berjalan.
00:00:10.
00:00:04.
[ DEATH FLAG: Dismissed ]
Asap hitam itu buyar ke langit malam seperti tidak pernah ada, dan aku baru sadar aku sudah menahan napas sampai kepalaku ringan.
Pintu aula terbuka setengah jam kemudian. Lucrezia keluar sendirian, masih dalam jubah ritual hitam-perak marganya, dan menemukanku di undakan. Dia berhenti. Selama beberapa detik kami hanya saling menatap di taman beku itu — dia yang baru saja tidak mati, aku yang baru saja menontonnya dari angka.
“Sudah hilang?” tanyanya. Suaranya biasa. Tangannya tidak.
“Sudah hilang.”
Dia menghela napas panjang — satu-satunya yang dia izinkan — lalu duduk di undakan sebelahku tanpa diundang, merapatkan jubah ritualnya melawan dingin.
“Kau tahu,” katanya pada taman, “seumur hidupku, setiap kali sesuatu mencoba menghancurkanku, aku menghadapinya sendirian. Itu bukan keluhan; aku bagus dalam sendirian. Aku menjadikannya keahlian.” Dia menatap kedua tangannya. “Tiga hari ini pertama kalinya ada orang yang berdiri di sisi mejaku. Dan anehnya bukan bagian rencananya yang terus kupikirkan. Bagian bodohnya. ‘Jadwal kematianmu penuh.’” Dia menoleh, dan di wajah yang selalu bersenjata itu, untuk sekali, tidak ada senjata sama sekali. “Tidak ada yang pernah melawan takdir untukku, Ciel. Seluruh dunia menulisku sebagai penjahat. Lalu datang kau — pembaca yang menolak percaya.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku mengatakan yang sejujurnya: “Aku membaca ceritamu empat kali. Kau bagian yang paling tidak adil. Menolak itu... bukan kebaikan. Cuma selera.”
“‘Cuma selera,’” ulangnya pelan. Lalu dia tertawa — bukan tawa silet yang biasa; sesuatu yang lebih muda, yang belum pernah dipakai. “Kalau begitu seleramu buruk sekali, memihak villainess.”
“Sudah dibilang, aku figuran. Solidaritas sesama peran buangan.”
Kami duduk di undakan beku itu sampai lentera taman padam satu per satu, membahas daftar pendek di kepalanya, dan untuk pertama kalinya sejak jatuh ke dunia ini, aku sadar aku sudah berhenti menghitung hari menuju kepulangan.
Ting.
[ Lucrezia Morgana: 31% ↑ ] [ Note: “Jadwal kematianku penuh.” ]