Chapter Forty Four
Halaman Putih
POV: Ciel (orang pertama) Karakter: 2 (+3 bayangan) — Ciel, Elena (samar), Noct
Tidak ada kata untuk melewati pintu itu, jadi aku akan memakai kata yang paling dekat: seperti dibaca sampai habis, lalu dibalik.
Lalu — keputihan.
Aku berdiri (kalau “berdiri” masih berlaku; tubuhku terasa seperti gagasan tentang tubuh, garis besar yang digambar dari ingatan) di ruangan yang tidak punya dinding, tidak punya arah, tidak punya waktu. Putih halaman. Putih belum. Dan di tengahnya, satu-satunya isi seluruh keputihan itu: sebuah meja, deretan tuts, dan seorang wanita yang menoleh ke arah kami dengan wajah orang yang mendengar pintu terbuka di rumah yang tiga tahun tidak menerima tamu.
Muda. Lelah dengan cara yang tua. Rambut hitam sebahu, jari-jari bertinta, dan mata yang—
—mata yang membuatku lupa cara bernapas, karena aku mengenal mata itu. Bukan satu kenalan: tiga. Langit-sebelum-hujan milik Sera ada di sana. Abu-abu gelap Isolde ada di sana. Kilau tembaga Lucrezia ada di sana. Tiga pasang mata yang kucintai, hidup bersama dalam satu wajah asing yang entah bagaimana bukan asing sama sekali.
Di sekeliling mejanya, tiga siluet berdiri — samar, setinggi dirinya — dan saat aku dan Noct melangkah masuk (Noct yang mengalir di sisiku, tinta yang makin tenang, makin muda, makin selesai), ketiga siluet itu berpaling ke arah kami.
Lalu, satu per satu, mereka berjalan pulang.
Tidak ada kata yang lebih tepat. Siluet pertama — yang berdiri paling dekat lampu, yang bentuknya memutar sesuatu di jari — berjalan ke wanita itu dan masuk, seperti seseorang pulang lewat pintu depan, dan wanita itu tersentak, tangannya naik ke dadanya, dan matanya menjadi sedikit lebih... utuh. Siluet kedua — punggung lurus, bahu prajurit — menyusul. Siluet ketiga berhenti sejenak di depanku, dan meski tidak punya wajah, aku bersumpah dia menyeringai — seringai margin-margin penuh, seringai draf kedua — sebelum ikut pulang.
Dan yang tersisa di ruangan putih itu adalah satu wanita utuh, berdiri gemetar memegangi mejanya, menatapku dengan tiga warna mata yang kini menyatu jadi warnanya sendiri — cokelat gelap, hangat, penuh — dan berkata, dengan suara yang selama ini hanya kudengar menangis di dasar mimpi orang-orang yang kucintai:
“Kau... kau dia. Figuranku.” Tawanya keluar patah, tidak percaya, basah. “Aku membacamu setiap hari. Setahun penuh. Kau satu-satunya hal yang membuatku bertahan di sini dan kau bahkan bukan tulisanku—” Dia berhenti. Tangannya menutup mulut. Dan kalimat berikutnya keluar sebagai bisikan yang menampung tiga tahun: “Kau menyembuhkan mereka. Sera-ku. Isolde-ku. Lucrezia-ku. Semua luka yang kubagi tiga karena tidak sanggup membawanya sendirian — kau menemukan ketiganya dan menyembuhkan semuanya. Terima kasih. Terima kasih sudah menemukan semua pecahanku.”
Pecahanku.
Kata itu jatuh ke tempatnya dengan bunyi klik yang mengguncang seluruh keputihan — kotak di kepalaku yang selama ini tidak berani kubuka penuh, akhirnya terbuka sendiri: mimpi ruang putih, kebiasaan jari, masa kecil tanpa adegan, tiga luka yang terlalu mudah kukenali, S.I.L.—
“Kau penulisnya,” kataku. Suaraku aneh di ruangan tanpa gema. “Dan mereka bertiga... aku tidak jatuh cinta pada tiga gadis, ya? Aku—”
“Kau mencintai tiga jendela,” katanya lembut, “dari satu ruangan. Ruangan ini.” Dia menyentuh dadanya sendiri, tempat tiga siluet pulang. “Maafkan aku. Mereka nyata — kau harus tahu itu; setiap perasaan mereka nyata, setiap pilihan mereka milik mereka, terutama sejak kau mengajari mereka memilih. Tapi bahannya... bahannya aku. Semuanya aku.”
Ada seribu hal untuk dikatakan dan tidak ada waktu untuk satu pun — karena keputihan di sekeliling kami mulai terang, dan aku merasakan arus itu lagi: penghapusanku belum selesai; ruang ini hanya persinggahan; pintu satu arah masih menarikku — menarik kami — ke arah yang lebih jauh, keluar dari luar-halaman, ke arah datangnya wanita ini tiga tahun lalu.
Dan wanita itu merasakannya juga. Wajahnya berubah. “Tidak — tunggu, arusnya membawamu— ” Dia bergerak dari mejanya, meraih ke arahku, dan tangannya menembus — kami tidak lagi cukup berada di halaman yang sama bahkan untuk bersentuhan. “Tidak, tidak, ini salah, kau harus tinggal, aku bisa menulis— aku akan menulismu kembali, kuberi kau nama, kuberi kau bab—”
“Jangan.” Kata itu keluar dariku lebih tenang daripada yang kukira sanggup. “Kau dengar sistem tadi, di bawah? Tidak ada draf lagi. Kalau kau menulisku kembali, kau menulis dengan aturan lamanya — dan aturan lamanya yang membuat semua ini. Pulanglah lewat jalanmu, penulis. Tulis tamatnya. Bukan untukku — untuk mereka. Mereka menunggu ending dari tanganmu sendiri; aku sudah berjanji mengantarkan itu.” Aku tersenyum, dan menemukan bahwa gagasan-tentang-tubuh masih bisa tersenyum. “Lagi pula aku tidak menghilang. Aku cuma... keluar duluan. Lewat pintu belakang. Figuran memang biasanya lewat situ.”
Arus menguat. Noct di sisiku sudah hampir sepenuhnya cahaya — tinta yang memucat jadi sesuatu yang lebih ringan, dan di detik terakhirnya sebagai bentuk, dia menoleh pada wanita itu dan mengucapkan kalimat yang tiga ratus tahun terlambat, dengan suara sembilan belas tahun yang akhirnya damai:
“Ceritamu bagus. Aku membencinya karena aku tidak boleh ikut. Itu saja. Itu saja selama ini.” Dan pada saya: “Typo. Kalau di seberang sana ada apa-apa... aku duluan, ya. Tiga ratus tahun cukup lama untuk jadi yang terakhir terus.”
Dia terurai menjadi terang — bukan terhapus; selesai — dan pergi ke arah arus dengan ringan, seperti murid pulang di hari terakhir sekolah.
Tinggal aku, dan wanita di meja itu, dan keputihan yang makin menelan.
“Namamu,” seruku, karena arus sudah menarik dan itu satu-satunya yang belum kupegang. “Sebelum aku pergi — S.I.L. itu mereka bertiga; tapi kau. Siapa namamu?”
Dia menatapku dari seberang keputihan yang melebar — penulisku, penulis kami, wanita yang lukanya kucintai dalam tiga bentuk — dan di wajahnya, untuk pertama kalinya, kulihat senyum yang nanti akan kukenali sebagai gabungan tiga senyum: gradasi kedelapan Sera, sudut kecil Isolde, silet-tanpa-silet Lucrezia.
“Elena,” katanya. “Dan figuranku—” suaranya mengejarku ke dalam arus, kalimat terakhir yang kubawa keluar dari semua halaman, “—aku penulis. Mencari orang yang hilang dari cerita itu pekerjaanku. Ke mana pun pintumu membuka... tunggu aku di bab berikutnya.”
Keputihan menjadi segalanya.
Lalu segalanya menjadi—
- 1 Halaman yang Salah
- 2 Aturan Pertama Figuran
- 3 Gadis yang Tidak Kutolong
- 4 Penolong Tak Dikenal
- 5 Genius yang Kalah
- 6 Villainess Membaca Terlalu Banyak
- 7 Dungeon Orientasi
- 8 Meter yang Tak Seharusnya Naik
- 9 Teh di Atap
- 10 Latihan Tengah Malam
- 11 Flag Kematian Sang Villainess
- 12 Sang Protagonis Merasa Janggal
- 13 Festival Bintang Jatuh
- 14 Typo
- 15 Boss yang Tidak Ada di Naskah
- 16 Interlude: Bunga yang Kesepian
- 17 Interlude: Pedang & Kutukan
- 18 Orang yang Mulai Lupa
- 19 Kehendak Naskah
- 20 Healer yang Tak Bisa Menyentuhku
- 21 Nama di Telapak Tangan
- 22 Protagonis yang Diperalat
- 23 Sapu Tangan Isolde
- 24 Perpustakaan Terlarang
- 25 Duel yang Ditulis
- 26 Bab yang Hilang
- 27 Interlude: Ruang Putih
- 28 Perang Datang Lebih Cepat
- 29 Stat Figuran di Medan Perang
- 30 Tiga Gadis, Satu Kebiasaan
- 31 [ERROR]
- 32 Transmigrator yang Dihapus
- 33 Jatuhnya Sang Pahlawan
- 34 Malam Sebelum Akhir
- 35 Rencana yang Kusembunyikan
- 36 Surat yang Tak Terkirim
- 37 Gerbang Bab Terakhir
- 38 Isolde Menahan Pasukan
- 39 Lucrezia Membakar Naskah
- 40 Cangkir Kedua
- 41 Melawan Sang Protagonis
- 42 Pelukan untuk Sang Error
- 43 Typo yang Memilih Dihapus
- 44 Halaman Putih reading
- 45 Dunia Asal
- 46 Tiga Tahun
- 47 Hiatus Berakhir
- 48 Jumpa Penggemar
- 49 Elena
- 50 Naskah Baru
- 51 SIDE STORY: “Milo Bermimpi”
- 52 SIDE STORY: “Margin”