Chapter Eight

Kancing yang Kurang Satu

POV: Tamara

Dia datang hari Selasa, jam dua siang, waktu ruang guru sedang penuh.

Itu bagian yang paling kusesali belakangan. Bukan yang dia lakukan — yang dia lakukan sudah bisa kutebak sejak Minggu pagi. Yang tidak kutebak adalah dia memilih melakukannya di depan Bu Yanti, Pak Har, dan dua guru honorer yang sedang makan siomay di meja belakang.

“Bu Tamara. Bisa minta waktu sebentar?”

Aku menoleh. Dia berdiri di ambang pintu, rambutnya masih basah di pelipis, kemejanya kemeja — bukan kaus oblong. Berkerah. Disetrika.

Laki-laki itu menyetrika baju untuk datang ke sini.

“Duduk, Pak.”

“Nggak lama.”

Dia mengeluarkan amplop dari saku dan menaruhnya di mejaku.

Di ruangan itu, empat kepala berputar dengan kecepatan yang sama.

“Dua ratus tiga puluh,” katanya. “Sudah saya hitung. Sudah saya cek dua kali.”

Aku tidak menyentuh amplop itu.

“Saya nggak ngerti maksud Bapak.”

“Bu Tamara.”

“Sudah saya bilang, saya nggak—“

“Kliniknya buka jam delapan,” katanya. “Saya ke sana Senin pagi. Saya tanya baik-baik, dan mbaknya juga nggak mau bilang. Jadi saya tunggu.”

“Tunggu apa?”

“Saya tunggu sampai jam sebelas, sampai perawat yang jaga malam Sabtu itu masuk lagi.” Suaranya rata sekali. “Dia yang bilang. Perempuan, rambut diikat, pakai kaus abu-abu. Bilangnya wali kelas.”

Bu Yanti meletakkan sendok siomaynya. Aku bisa mendengarnya. Seluruh ruangan bisa mendengarnya.

“Bapak sampai nunggu tiga jam di klinik cuma buat tahu itu?”

“Iya.”

“Sabtu Bapak nggak kerja?”

“Nggak.”

“Berarti Bapak buang satu hari kerja—“

“Iya, Bu.”

Aku menatapnya.

Dia menatapku balik, dan tidak ada kemarahan di situ, dan justru itu yang bikin aku ingin melempar sesuatu. Kalau dia marah, aku bisa marah balik. Yang ada di wajahnya bukan marah. Yang ada di wajahnya adalah orang yang sedang menutup satu-satunya lubang di kapalnya sebelum air masuk lebih banyak.

“Kirana gimana?” tanyaku.

“Sudah turun. Senin sudah mau makan.”

“Sudah masuk sekolah?”

“Besok.”

“Bagus.” Aku menggeser amplop itu kembali ke arahnya dengan satu jari. “Uangnya buat obat lanjutan.”

“Bu—“

“Bapak nggak dengar? Saya bilang buat obat.”

“Bu Tamara,” katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya naik setengah tingkat, dan seluruh ruang guru mendadak sangat sibuk dengan urusan masing-masing. “Kalau saya biarkan ini, minggu depan ada yang lain. Terus bulan depan ada lagi. Terus lama-lama saya nggak bisa lihat muka Ibu tanpa merasa saya ngutang.”

“Terus kenapa kalau ngutang?”

“Karena saya nggak punya apa-apa buat bayarnya.”

Ruangan itu jadi sunyi.

Dia menyadari suaranya sendiri, dan menurunkannya, dan melanjutkan lebih pelan.

“Saya cuma punya itu, Bu. Nggak ngutang. Itu satu-satunya yang saya punya sejak dulu.”


Aku membiarkan amplop itu di mejaku sampai jam tiga.

Bu Yanti pindah ke kursi sebelahku tiga puluh detik setelah pintu tertutup, dengan wajah yang sudah menyusun sembilan pertanyaan sebelum sampai.

“Tam.”

“Nggak.”

“Aku belum ngomong apa-apa.”

“Kamu udah ngomong di muka kamu.”

“Itu ayahnya Kirana?”

“Iya.”

“Yang istrinya—“

“Yanti.”

“Oke, oke.” Dia mengangkat kedua tangan. “Satu pertanyaan doang.”

“Satu.”

“Dia setrika baju.”

“Itu bukan pertanyaan.”

“Itu pertanyaan kalau kamu ngerti bahasa Indonesia.” Bu Yanti mencondongkan badan. “Laki-laki tukang servis, datang ke ruang guru jam dua siang, buat naruh dua ratus tiga puluh ribu yang nggak ada yang nagih, pakai kemeja disetrika. Tam. Itu bukan bayar utang. Itu upacara.”

Aku tidak menjawab.

Karena dia benar.


Aku memikirkannya sepanjang sore, dan aku sampai pada kesimpulan yang tidak enak, yaitu bahwa aku salah.

Bukan salah karena membayar. Kalau diulang seratus kali, aku akan membayar seratus kali; anak itu empat puluh satu derajat dan bapaknya berdiri di depan kaca kasir menghitung uang yang jelas-jelas kurang, dan aku duduk sepuluh meter dari situ dengan dompet di pangkuan.

Salahku bukan di situ.

Salahku adalah aku membayarnya diam-diam.

Aku pikir itu bentuk menghargai. Ternyata bukan. Kalau kamu menolong orang tanpa memberi mereka kesempatan berkata iya, kamu tidak sedang menghargai mereka — kamu sedang memutuskan sendiri bahwa mereka tidak sanggup, dan kamu melakukannya di belakang punggung mereka supaya kamu tidak perlu melihat wajah mereka waktu keputusan itu dibuat.

Aku sudah delapan tahun jadi guru. Aku tahu betul tidak boleh memberi label ke anak di depan kelas.

Ternyata aku bisa melakukan hal yang persis sama ke orang dewasa dan menyebutnya kebaikan.


Dia datang lagi Kamis, mengantar Kirana, dan berhenti di parkiran seperti biasa.

Aku menghampirinya sebelum dia sempat menyalakan motor.

“Pak Adam.”

Dia melepas helm. Menunggu.

“Saya minta maaf.”

Alisnya bergerak sedikit. “Buat?”

“Buat bayar diam-diam.” Aku melipat tangan. “Harusnya saya tanya dulu. Saya nggak tanya karena saya tahu Bapak akan nolak, dan saya nggak mau denger Bapak nolak. Itu bukan sopan. Itu maksa dengan cara halus.”

Dia diam agak lama.

“Ibu nggak perlu minta maaf.”

“Perlu.”

“Bu—“

“Pak Adam, saya guru. Kalau saya salah di depan orang, saya minta maaf di depan orang. Itu aturan saya sendiri, bukan aturan Bapak.” Aku mengangkat dagu. “Jadi terima aja, biar cepat.”

Dia menatapku beberapa saat.

Lalu, pelan sekali, satu sudut mulutnya naik.

Itu yang pertama. Sepuluh hari aku kenal orang ini dan itu yang pertama.

“Ya sudah,” katanya. “Diterima.”

“Bagus.” Aku menghela napas. “Sekarang giliran saya yang minta.”

“Minta apa?”

“Uangnya sudah saya terima. Lunas, kita impas, nggak ada yang ngutang siapa-siapa.” Aku menatap matanya. “Tapi lain kali, kalau jam satu pagi, Bapak telepon saya buat minta tolong, bukan buat nanya alamat.”

“Saya nggak—“

“Saya belum selesai.” Aku mengangkat satu jari. “Dan saya akan tanya dulu sebelum ngeluarin uang. Saya tanya, Bapak jawab, dan kalau Bapak bilang nggak usah, saya nggak usah. Adil?”

Dia berpikir. Lama. Terlalu lama untuk pertanyaan sesederhana itu.

“Adil,” katanya akhirnya.


Kalau berhenti di situ, hari itu akan selesai dengan sopan dan aku bisa pulang.

Tapi dia mengangkat tangannya untuk memakai helm lagi, dan waktu tangannya naik, kemejanya ikut naik, dan aku melihatnya.

Kemeja yang sama dengan hari Selasa. Sudah dicuci, sudah disetrika lagi.

Kancing ketiga hilang. Yang tersisa cuma benang.

“Berhenti.”

“Kenapa?”

“Kancing Bapak.”

Dia menunduk ke dadanya sendiri. “Oh. Iya. Lepas kemarin.”

“Terus?”

“Terus ya lepas.”

“Bapak tahu di bawah sana ada apa?”

“Ada saya.”

“Ya makanya.” Aku sudah maju satu langkah sebelum otakku sempat mengajukan keberatan resmi. “Sini.”

“Bu—“

“Diam.”

Aku menyatukan dua sisi kemejanya, menyilangkannya, dan menyelipkan ujungnya ke bawah kancing yang di atasnya. Trik lama. Ibuku dulu melakukannya ke seragam adikku setiap kali kancingnya hilang dan tidak ada yang sempat menjahit.

Butuh sepuluh detik.

Sepuluh detik dengan tanganku di depan dada laki-laki itu, dan wajahku setinggi bahunya, dan jarak di antara kami sepuluh senti — dan aku tahu persis itu sepuluh senti, karena aku menghitungnya, dan karena aku memutuskan untuk tidak mundur.

Dia yang mundur.

Setengah langkah. Cepat. Seperti orang menarik tangan dari sesuatu yang panas.

“Sudah,” kataku.

“Terima kasih.”

“Kancing itu tiga ribu satu lusin, Pak.”

“Iya.”

“Jarum sama benang sepuluh ribu, seumur hidup.”

“Iya.”

“Bapak bisa nyolder rangkaian sekecil kuku.” Aku menepuk dadanya sekali dengan punggung jari, tepat di kancing yang tidak ada itu, dan menahan tanganku di situ satu detik lebih lama dari yang wajar. “Masa jahit kancing nggak bisa.”

Telinganya merah.

Bukan wajahnya. Wajahnya tidak berubah sama sekali. Telinganya.

Aku mundur, membetulkan tali tasku, dan berbalik ke gedung sekolah dengan langkah paling normal yang bisa kuatur.

Di belakangku motornya tidak menyala selama beberapa saat.

Baru di ujung koridor aku sadar aku sedang tersenyum, dan sadar juga bahwa dari jendela ruang guru, Bu Yanti sudah berdiri sejak entah kapan dengan ponsel di tangan dan wajah orang yang baru saja mendapatkan bahan untuk dua minggu ke depan.