Chapter Thirty Nine

Yang Kira Lupa

POV: Kira

Pak Dedi bukan guru yang jelek.

Aku mau catat itu duluan supaya adil.

Pak Dedi hafal nama semua murid dalam dua minggu. Pak Dedi tidak pernah marah. Kalau ada yang tidak mengerti, Pak Dedi mengulang sampai empat kali dan tidak pernah bilang “kok gitu aja nggak ngerti”.

Pak Dedi cuma menggambar pizza terus.

Dan Pak Dedi tidak tahu apa-apa.

Bukan salahnya. Aku tidak pernah bilang. Aku murid baru di kelasnya dan aku anak yang nilainya bagus dan tidak pernah ribut, dan buat guru, anak seperti itu artinya tidak ada masalah.

Bu Tam butuh empat bulan untuk tahu aku tidak pernah jajan.

Pak Dedi tidak akan pernah tahu, karena Pak Dedi tidak punya alasan untuk mencari.


Ruang guru sekarang jadi tempat yang tidak boleh aku datangi tanpa keperluan.

Aku pernah ke sana dua kali di minggu pertama. Yang pertama Bu Tam sedang mengajar. Yang kedua Bu Tam ada, tapi mejanya dikelilingi anak-anak kelas empat yang baru, dan aku berdiri di pintu selama mungkin sepuluh detik dan Bu Tam mengangkat wajah dan melihat aku dan tersenyum.

Terus ada anak kelas empat yang bertanya sesuatu.

Terus Bu Tam menoleh ke anak itu.

Aku pulang.

Bukan karena marah. Bu Tam tidak salah apa-apa. Itu memang kerjaannya.

Cuma aku sadar hari itu bahwa selama satu tahun aku punya satu orang di sekolah ini yang tugasnya memperhatikan aku, dan sekarang tugas itu sudah dipindahkan ke tiga puluh dua anak lain.


Telepon jadi dua minggu sekali sejak bulan Februari.

Aku tidak bilang apa-apa waktu itu. Aku pikir Ayah yang minta. Waktu aku tanya, Ayah bilang “biar Kira nggak capek” dan aku tahu itu bohong tapi aku tidak mendesak.

Aku baru tahu yang sebenarnya bulan Juni, dari Om Bram, yang tidak sengaja menyebutkannya waktu di mobil.

Ibu yang minta.

Aku tidak marah. Aku bahkan mengerti alasannya, karena aku memang diam sampai Selasa setiap habis telepon, dan aku sudah tahu itu sejak lama.

Yang bikin dadaku sakit bukan itu.

Yang bikin dadaku sakit: berarti waktu Ayah bilang “biar Kira nggak capek”, Ayah sedang menutupi Ibu.

Ayah masih menutupi Ibu.

Setelah semuanya.


Yang mulai terjadi bulan Juli aku tidak menceritakannya ke siapa pun sampai sekarang.

Aku lupa.

Bukan lupa yang biasa. Aku ingat semua yang penting. Aku ingat wajah Ayah. Aku ingat bunyi knalpot motornya. Aku ingat harga bakwan dan aku ingat titik bocor di langit-langit ada di sebelah mana dari pintu.

Yang aku lupa yang kecil-kecil.

Aku lupa kipas kamar itu bunyinya ngik setiap berapa putaran.

Aku duduk di kasur setinggi pinggang itu suatu malam dan mencoba mengingatnya dan aku tidak bisa. Tiga? Empat? Aku hitung ribuan kali seumur hidupku. Ribuan.

Aku tidak bisa ingat.

Aku juga lupa lap yang aku taruh di dasar ember itu warnanya apa.

Aku lupa kalau naik motor sama Ayah, tanganku megangnya di mana. Perut apa jaket.

Aku lupa Ayah manggil aku “Ra” atau “Kira” waktu marah.


Jadi aku mulai menulis.

Bukan di kolom hutang. Bukan di halaman belakang yang isinya bukti.

Aku buka halaman baru di tengah, dan aku tulis judulnya kecil-kecil di pojok:

JANGAN LUPA

Terus aku tulis semuanya. Semua yang masih aku ingat, cepat-cepat, sebelum hilang juga.

Kipas ngik tiap 3 putaran. (Kira rasa 3. Kalau salah maaf.)

Lap di ember warnanya biru, ada gambar bunga udah pudar.

Pegangannya di perut Ayah, bukan jaket. Jaket kalau lagi ujan doang.

Ayah manggil Kira “Ra” kalau biasa. “Kira” kalau serius. “Kirana” belum pernah.

Ayah kalo pura-pura tidur jempol kakinya gerak.

Bau baju Ayah kalo abis kerja: timah sama keringet. Kalo abis makan di warung: bau warung.

Ayah cuci tangan 3x. Terus jadi 7x waktu ada Bu Tam.

Ayah nggak pernah salah pasang, kecuali sekali, hari Minggu, kapasitor kebalik.

Aku menulis sampai tanganku pegal.

Terus aku baca ulang dari atas.

Terus aku sadar semuanya tentang Ayah.

Tidak ada satu pun tentang aku.


Aku menulis satu lagi di bawahnya, dan yang ini paling susah, dan aku menulisnya tiga kali di kertas coret-coretan dulu sebelum berani masuk ke buku.

Kira juga nggak apa-apa.

Itu doang. Satu baris.

Aku tidak tahu kenapa aku menulisnya.

Aku sudah lama tidak mengucapkannya. Tidak ada yang bisa diucapkan lagi, karena tidak ada yang bilang “Ayah nggak apa-apa” di sini, karena orangnya dua belas kilometer.

Jadi aku tulis saja.

Supaya ada.

Supaya kalau nanti Ayah bilang itu lagi, aku sudah siap jawabannya, dan aku tidak perlu memikirkannya dulu, dan Ayah tidak perlu menunggu.


Bulan Agustus aku hampir menulis surat.

Beneran surat. Pakai amplop. Aku sudah punya amplopnya, aku ambil dari laci Om Bram, yang putih polos.

Aku sudah menulisnya di kertas coret-coretan.

Ayah, Kira mau pulang.

Empat kata.

Aku memandanginya lama sekali di karpet kamar nomor dua dari tangga.

Terus aku sobek.

Karena aku sudah menghitung apa yang terjadi kalau surat itu sampai.

Ayah akan menerimanya hari Selasa. Ayah akan membacanya di kios. Ayah akan berdiri di situ dengan surat itu di tangan dan tidak bisa melakukan apa-apa, karena rumahnya belum jadi, karena kamarnya masih gambar di kertas HVS yang dilipat delapan.

Dan Ayah akan menyimpannya, dan Ayah akan membacanya lagi tiap malam, dan Ayah akan bekerja lebih banyak lagi sampai salah pasang kapasitor.

Empat kata itu tidak akan membuat aku pulang lebih cepat satu hari pun.

Empat kata itu cuma akan bikin Ayah sakit lebih lama.

Jadi aku sobek, dan aku buang di tempat sampah luar, bukan yang di kamar, karena yang di kamar dibersihkan Mbak Ratih.


Aku menghitung halaman bulan September.

Bukunya empat puluh lembar. Delapan puluh halaman.

Halaman hutang: sudah sampai halaman tiga puluh satu.

Halaman DAFTAR YANG BELUM KIRA TAU MASUK MANA: enam halaman, dan terus nambah, karena di rumah ini setiap hari ada yang dibeli.

Halaman JANGAN LUPA: empat halaman.

Halaman belakang yang isinya bukti: tiga halaman dari belakang.

Aku hitung sisanya.

Sembilan halaman kosong di tengah.

Aku duduk di karpet dan memandangi angka itu dan ada sesuatu di dadaku yang tidak enak sama sekali.

Sembilan halaman.

Aku menulis kira-kira setengah halaman seminggu.

Berarti delapan belas minggu. Berarti empat bulan lebih sedikit.

Terus habis.


Aku tahu ini konyol.

Buku tulis harganya tiga ribu. Di sini ada laci penuh buku tulis baru yang belum dipakai, di meja belajar yang lampunya bisa ditekuk.

Aku tinggal ambil satu.

Tapi bukunya harus yang ini.

Yang sampulnya kertas kado bekas ulang tahun Nabila kelas tiga, yang motifnya bintang-bintang, yang aku tulis di halaman depan pakai spidol huruf besar semua waktu aku masih tidur di kasur sembilan puluh kali seratus delapan puluh.

Kalau aku ganti buku, artinya buku yang lama selesai.

Kalau buku yang lama selesai, artinya ada bagian hidupku yang ditutup dan dimasukkan ke laci.

Aku tidak mau ada yang ditutup.

Jadi aku mulai menulis lebih kecil.

Bulan Oktober tulisanku sudah setengah dari yang dulu. Bulan November aku mulai menulis di pinggir-pinggir, di margin, di bagian yang biasanya kosong.

Aku hitung ulang bulan Desember.

Empat halaman.

Aku duduk di karpet itu jam sebelas malam, dengan lampu meja menyala, dan aku dengar langkah di lorong berhenti di depan pintuku seperti biasa.

Aku tidak menutup bukunya.

Aku terlalu capek untuk menutup bukunya.

Aku cuma duduk di situ, dengan buku terbuka di pangkuan, dan aku hitung.

Dua ratus dua puluh delapan.

Dua ratus dua puluh sembilan.