Chapter Thirty One
Kolom Wali
POV: Kira
Yang mulai bukan Dimas.
Aku mau catat itu dari awal, karena semua orang kemarin salah, termasuk Bu Tam, termasuk guru piket, termasuk aku.
Yang mulai anak namanya Reza, pindahan dari kelas sebelah, yang duduk di belakang dan suka bicara keras supaya semua orang dengar padahal ngomongnya ke satu orang.
Hari Rabu, istirahat, dia bilang begini:
“Enak ya jadi Kirana. Dianter mobil. Ada sopirnya.”
Aku diam. Aku sudah biasa. Sudah empat bulan.
“Sepatunya juga baru terus.”
Aku masih diam.
“Emang bapaknya kerja apa sih sekarang?”
Dan itu bagian yang bikin dadaku mulai panas, karena dia bilang sekarang.
Bukan “bapaknya kerja apa”. Tapi “bapaknya kerja apa sekarang“, seperti orang yang tahu ada yang berubah dan sedang menunggu untuk mendengarnya sendiri.
Aku tidak menjawab.
Terus Reza bilang, sambil ketawa, tidak keras, malah pelan, yang justru lebih jelek:
“Bapaknya ganti, ya?”
Yang berdiri Dimas.
Dimas duduk tiga meja dari situ dan dia berdiri dan kursinya jatuh ke belakang dan bunyinya keras sekali sampai seluruh kelas menoleh.
“Bapaknya nggak ganti!”
“Ya Allah, Dim, gue cuma—“
“Bapaknya nggak ganti!” Dimas maju satu langkah. “Bapaknya tetep yang dulu! Bapaknya yang benerin AC ruang guru dulu itu! Yang manjat tangga sendiri! Bapaknya tukang servis, tapi bapaknya paling pinter di sekolah ini!”
Kelas itu diam.
Dan aku—
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bagian ini.
Semua yang Dimas bilang benar. Semuanya. Tidak ada satu pun yang salah, dan dia bilangnya sambil membelaku, dan dia bilangnya sambil berdiri padahal dia yang paling kecil di kelas ini.
Tapi dia bilang tukang servis dengan suara keras di depan dua puluh delapan orang.
Dan itu punyaku.
Itu punyaku yang aku jaga empat bulan. Aku tidak pernah bilang ke siapa-siapa. Kalau ditanya bapakku kerja apa, aku bilang “wiraswasta”, karena itu yang Ayah tulis di formulir, dan aku pakai kata itu karena kata itu tidak ada gambarnya di kepala orang.
Aku jaga selama empat bulan.
Dan Dimas mengeluarkannya, keras-keras, dalam tiga detik, sambil membelaku.
Aku berdiri.
Aku jalan ke Dimas.
Aku dorong dia.
Dua tangan, di dada, sekuat yang aku bisa, dan Dimas jatuh ke belakang menabrak meja dan sikunya kena pinggiran dan bunyinya jelek sekali.
Terus aku teriak.
Aku tidak ingat persis apa yang aku teriakkan. Yang aku ingat cuma dua kata, karena dua kata itu terus terulang di kepalaku sampai sekarang.
“BUKAN URUSANMU!”
Dan Dimas duduk di lantai memegangi sikunya dan melihat aku dengan muka yang aku tidak akan lupa seumur hidup.
Bukan marah.
Bingung.
Aku dibawa ke ruang guru.
Bu Tam tidak marah. Itu yang bikin lebih parah. Bu Tam menyuruhku duduk, mengambil kotak P3K, keluar untuk mengobati siku Dimas dulu di ruang sebelah, terus kembali dan duduk di depanku dan tidak bilang apa-apa selama satu menit penuh.
“Kirana.”
“Iya, Bu.”
“Ibu nggak akan nanya kamu kenapa mukul.”
Aku mengangkat wajah.
“Ibu sudah dengar dari empat anak,” katanya. “Ibu tahu Reza ngomong apa. Ibu tahu Dimas ngomong apa. Ibu tahu urutannya.”
Aku menunduk lagi.
“Yang mau Ibu tanya cuma satu.” Bu Tam mencondongkan badan. “Kamu marah sama Dimas, atau kamu marah sama sesuatu dan Dimas kebetulan lagi berdiri di depan kamu?”
Aku tidak jawab lama sekali.
“Yang kedua, Bu.”
“Ibu juga mikir gitu.”
“Tapi yang sakit tetep Dimas.”
“Iya.” Bu Tam mengangguk. “Itu yang bikin marah jadi mahal, Kirana. Yang bayar biasanya bukan yang bikin marah.”
Aku minta maaf ke Dimas jam satu.
Sikunya sudah dikasih plester. Dia duduk di kursi depan UKS dan kakinya diayun-ayun.
“Dim.”
“Apa.”
“Maaf.”
Dia mengangkat bahu.
“Beneran, Dim. Maaf.”
“Iya.”
“Sakit?”
“Nggak.”
“Bohong.”
“Iya bohong.” Dia menoleh. “Sakit banget.”
Aku duduk di sebelahnya.
Kami tidak ngomong beberapa lama.
Terus Dimas bilang, “Ra.”
“Hm.”
“Aku salah ngomong apa?”
Dan aku—
Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku sudah coba menyusunnya di kepala sejak di ruang guru dan tetap tidak bisa. Karena kalau aku bilang “kamu bilang tukang servis”, nanti dia pikir aku malu punya bapak tukang servis.
Aku tidak malu. Aku bangga sampai dadaku sesak.
Yang aku tidak mau itu bapakku jadi bahan omongan orang. Bukan malu. Beda.
Tapi aku kelas empat dan aku tidak punya kata untuk beda itu.
“Kamu nggak salah,” kataku akhirnya.
“Terus kenapa didorong?”
“Aku yang salah.”
“Oh.” Dia mengangguk. “Ya udah.”
Dan dia terima gitu aja.
Anak ini pinter apa bodoh sih.
Yang dipanggil sekolah datang jam dua.
Aku sedang duduk di ruang guru waktu pintunya kebuka, dan yang masuk perempuan itu, pakai baju rapi, jalannya cepat, mukanya panik dengan cara yang ditahan.
“Kirana.”
Dia jongkok di depanku dan memegang bahuku dengan dua tangan.
“Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?”
“Nggak, Bu.”
“Kamu— “ Dia melihat tanganku, lengan, muka. “Ibu ditelepon sekolah. Ibu langsung— “
“Kira nggak apa-apa, Bu. Yang kena Dimas.”
Perempuan itu berhenti.
“Kamu yang mukul?”
“Iya.”
Dia menutup matanya sebentar.
Terus dia bangun dan bicara dengan Bu Tam, panjang, sopan, dan aku dengar setengahnya saja karena aku sedang memikirkan sesuatu yang lain.
Aku memikirkannya sejak pintu terbuka.
Waktu perempuan itu keluar untuk menelepon, aku menoleh ke Bu Tam.
“Bu.”
“Iya.”
“Sekolah nelepon siapa aja tadi?”
Bu Tam sedang menulis. Pulpennya berhenti.
“Yang tercatat di data siswa.”
“Siapa yang tercatat, Bu?”
Bu Tam tidak langsung menjawab.
“Bu Tam.”
“Ibumu,” katanya. “Sama Om kamu.”
“Ayah?”
Bu Tam menaruh pulpennya.
“Nggak, Kirana.”
Ada sesuatu di dadaku yang turun.
“Kenapa nggak?”
“Karena— “ Bu Tam berhenti. Menarik napas. “Karena di kolom wali murid, nomor ayahmu sudah diganti.”
“Diganti?”
“Data siswa diperbarui bulan November,” katanya pelan. “Alamat baru, nomor telepon baru. Yang di kolom wali sekarang ibumu sama suaminya.”
“Ayah nggak ada?”
“Ayahmu ada di kolom orang tua.” Bu Tam menatapku. “Tapi yang ditelepon sekolah kalau ada apa-apa itu yang di kolom wali.”
Aku diam lama sekali.
Terus aku nanya, dan waktu aku nanya suaraku aneh, dan aku benci suaraku waktu itu.
“Bu, kalau Kira kenapa-kenapa, Ayah nggak dikabarin?”
Bu Tam tidak menjawab.
“Bu.”
“Ibu bisa kabarin,” katanya. “Secara pribadi.”
“Bukan itu maksud Kira.”
“Ibu tahu bukan itu maksud kamu.”
Aku memandangi meja Bu Tam. Ada toples permen. Ada tempat pensil isinya pulpen merah semua. Ada foto kelas 4B yang ditempel di sudut, yang aku ada di barisan kedua dari kanan.
“Berarti kalau Kira jatuh,” kataku, “atau Kira sakit, atau Kira kenapa-kenapa di sekolah— Ayah tahunya nanti. Hari Minggu.”
“Kirana—“
“Sembilan belas menit.”
Bu Tam menoleh cepat. “Apa?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
Aku tidak tahu kenapa aku bilang itu. Aku bahkan tidak tahu berapa lama teleponnya. Aku cuma tahu setiap Minggu teleponnya pendek, dan setiap Minggu aku yang menutup duluan, dan setiap Minggu setelah itu aku ke kamar mandi dan menyalakan keran.
Di mobil pulang, perempuan itu memegang tanganku.
“Kirana, Ibu nggak marah.”
“Iya, Bu.”
“Ibu cuma— “ Dia menghela napas. “Ibu kaget. Sekolah nelepon, Ibu pikir kamu kenapa-kenapa.”
“Iya.”
“Kamu jangan mukul orang lagi ya.”
“Iya, Bu.”
Kami sampai lampu merah.
Aku melihat ke luar jendela, ke motor-motor yang berhenti di depan, dan tanpa aku sengaja mataku mencari yang tahun 2003 dengan tas di jok belakang.
Tidak ada. Tentu saja tidak ada. Dua belas kilometer.
“Bu.”
“Iya, Nak?”
“Kenapa nomor Ayah diganti?”
Tangannya berhenti di tanganku.
Lampu berubah hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson. Pak Ujang jalan.
“Itu cuma formalitas administrasi, Nak,” katanya. “Karena kamu tinggalnya sama Ibu.”
“Oh.”
“Ayahmu tetap ayahmu.”
“Iya, Bu.”
Dan aku bilang iya, dan aku tidak bertanya lagi, dan aku melihat ke luar jendela sampai rumah.
Tapi di dalam kepalaku aku sudah menulis satu baris baru, dan baris itu masuk ke halaman belakang, ke tempat bukti-bukti, bukan ke tempat hutang.
Bukti: kalau Kira kenapa-kenapa, yang dikabarin bukan Ayah.
Kesimpulan: Kira bukan anaknya Ayah lagi di kertas.
Aku hapus yang terakhir waktu sampai rumah.
Bukan karena salah.
Karena aku tidak sanggup melihatnya tertulis.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali reading
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis