Chapter Forty Seven
Empat Orang Dewasa
POV: Adam
Dua minggu masuk ke bulan itu, Vanya mengirim pesan.
Mas, boleh aku lihat rumahnya?
Aku membaca pesan itu tiga kali sebelum membalas.
Boleh. Bram ikut.
Kenapa harus Bram?
Karena ini bukan urusan dua orang.
Titik-titik muncul dan hilang tiga kali.
Oke.
Aku menaruh ponsel dan langsung menelepon Tamara.
“Tam.”
“Hm.”
“Hari Sabtu kamu bisa?”
“Bisa.”
“Vanya mau lihat rumahnya.”
Hening di seberang.
“Mas.”
“Iya.”
“Kamu minta aku ada di situ?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku menatap lorong rumah tipe tiga puluh enam itu, ke pintu kamar yang tertutup di ujungnya.
“Karena kalau kamu nggak ada,” kataku, “seumur hidup kamu bakal ngerasa ini terjadi tanpa kamu.”
Mereka datang hari Sabtu jam sepuluh.
Mobil hitam itu tidak muat masuk gang, jadi diparkir di ujung, dan mereka jalan kaki empat puluh meter melewati kontrakan-kontrakan dan warung Bu Nur yang baru dan tiga anak yang main bola dan berhenti main untuk menonton.
Bram yang duluan mengulurkan tangan.
“Pak Adam.”
“Pak Bram.”
“Rumahnya bagus.”
“Belum masuk.”
“Halamannya bagus.”
“Nggak ada halamannya, Pak.”
Laki-laki itu tertawa canggung dan aku merasa kasihan padanya untuk kesekian kalinya.
Tamara keluar dari dapur dengan nampan.
Dan di situ terjadi hal yang aku takutkan sejak Selasa: dua perempuan itu bertemu, di ruang depan rumahku, untuk pertama kalinya.
“Bu Tamara,” kata Vanya.
“Bu Vanya.”
Mereka bersalaman.
Tiga detik. Tidak ada yang menahan, tidak ada yang melepas terlalu cepat.
“Maaf ya, cuma ada teh,” kata Tamara.
“Nggak apa-apa.”
“Gelasnya juga nggak sama.”
“Nggak apa-apa, Bu.”
Dan mereka duduk, dan aku menghembuskan napas yang sudah kutahan sejak pintu dibuka.
Rumahnya kecil, jadi tur rumahnya selesai dalam empat menit.
Ruang depan. Dapur. Kamar mandi — Bram menekan gagang pintunya dan membukanya dan menutupnya lagi, dan aku tahu persis kenapa dia melakukan itu dan aku tidak berkomentar.
Kamar yang kanan.
“Ini kamar saya.”
Lalu kami sampai ke ujung lorong.
Aku berdiri di depan pintu itu dengan tangan di gagangnya dan tidak langsung membukanya.
“Van.”
“Hm.”
“Ini bukan buat pamer.”
“Aku tahu, Mas.”
“Aku bikin ini waktu aku belum tahu ini bakal kepakai apa nggak,” kataku. “Aku mau kamu tahu itu duluan.”
Aku membuka pintunya.
Tiga kali empat meter.
Kasur seratus dua puluh kali dua ratus, sprei polos, dibeli bekas dari kos yang bangkrut.
Meja belajar dari kayu kusen, kakinya tidak persis sama panjang dan aku menyanggah yang satu dengan potongan triplek yang kelihatan kalau ditunduk.
Lampu belajar yang bisa ditekuk.
Jendela menghadap kebun kosong.
Dan di atas meja, di tengah, satu obeng kecil bergagang isolasi pink.
Vanya masuk.
Bram tidak. Dia berdiri di ambang pintu bersamaku, dua langkah di belakang, dan tidak masuk sama sekali sepanjang delapan menit berikutnya, dan aku menghormatinya untuk itu.
Perempuan itu berjalan ke jendela. Melihat keluar. Berbalik.
Duduk di ujung kasur.
Dia duduk di situ dan menaruh dua tangannya di sprei dan menekan pelan, seperti orang mengetes empuk.
“Mas.”
“Hm.”
“Kasurnya baru?”
“Kasurnya baru. Rangkanya bekas.”
Dia mengangguk.
Lalu dia menunduk, dan bahunya bergerak, dan Tamara — yang sejak tadi berdiri di lorong di belakang kami — melewati aku dan Bram tanpa bilang apa-apa, masuk, dan duduk di ujung kasur yang satu lagi.
Tidak menyentuhnya. Tidak bilang apa-apa. Cuma duduk.
Aku menutup pintu setengah dan mengajak Bram ke ruang depan.
“Rokok, Pak?”
“Saya nggak ngerokok.”
“Saya juga nggak.” Bram duduk. “Cuma nggak tahu mau ngomong apa.”
Kami duduk di ruang depan rumah tipe tiga puluh enam dengan teh yang sudah dingin.
“Pak Adam.”
“Iya.”
“Saya mau minta sesuatu, dan saya sadar saya nggak punya posisi buat minta apa pun.”
“Silakan.”
Dia memutar gelasnya.
“Kalau nanti anak itu pindah ke sini,” katanya, “boleh saya tetap ketemu dia?”
Aku menatapnya.
“Bukan sering,” katanya cepat. “Bukan tiap minggu. Saya nggak akan ganggu. Saya cuma—“
“Boleh.”
Dia berhenti.
“Boleh?”
“Boleh, Pak Bram.”
“Bapak nggak mikir dulu?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
Aku menaruh gelasku.
“Anak saya benerin AC ruang meeting kantor Bapak,” kataku.
Dia mengangkat wajah.
“Dia cerita ke saya,” lanjutku. “Bulan lalu. Dia cerita soal delapan orang tepuk tangan di lantai sebelas. Dia cerita soal Mas Rio yang niup selang sampai celananya kena.”
Bram menunduk.
“Dan dia cerita soal Bapak,” kataku. “Dia bilang Bapak bilang ke orang-orang di kantor itu bahwa dia anaknya tukang servis.”
Laki-laki itu tidak bergerak.
“Bapak bisa bilang apa aja waktu itu,” kataku. “Ada delapan orang di ruangan dan nggak ada satu pun yang bakal tahu. Bapak bisa bilang keponakan. Bapak bisa bilang anak.”
“Saya nggak bisa bilang anak, Pak.”
“Bapak bisa,” kataku. “Bapak cuma nggak mau.”
Aku melihat laki-laki empat puluh dua tahun itu menyeka matanya dengan buku jari, cepat, dan pura-pura sedang membetulkan letak duduknya.
“Boleh, Pak Bram,” kataku lagi. “Kapan aja.”
Kami bicara sampai jam satu, berempat, di ruang depan.
Aturannya kami susun satu per satu dan Tamara yang menuliskannya di kertas, karena tentu saja Tamara yang menuliskannya di kertas.
Satu. Kalau Kirana pindah, kamarnya di rumah Vanya tidak dibongkar. Tetap ada. Barangnya tidak dipindahkan semua.
Dua. Telepon tidak dijadwal. Anak itu boleh menelepon ibunya kapan pun dia mau, dan tidak boleh ada yang menghitung berapa kali.
Tiga. Nomor Vanya kembali ke kolom wali murid, bersama nomorku. Dua-duanya.
Empat. Vanya boleh datang tanpa janji.
“Tanpa janji?” tanya Tamara.
“Tanpa janji,” kataku.
“Mas, kamu yakin?”
“Iya.”
Vanya mengangkat wajah.
“Mas, itu berlebihan. Aku nggak mau—“
“Van.” Aku menatapnya. “Delapan tahun aku nggak pernah larang kamu datang. Yang bikin kamu nggak datang bukan aku.”
Ruangan itu sunyi.
“Aku nggak akan mulai sekarang,” kataku.
Yang kelima aku yang mengajukan dan itu yang paling lama diperdebatkan.
“Lima,” kataku. “Kirana nggak boleh ditanya.”
“Ditanya apa?” tanya Bram.
“Ditanya dia mau ikut siapa.”
Ruangan itu diam.
“Mas—“ Vanya mulai.
“Nggak sekali pun,” kataku. “Nggak sekarang, nggak nanti, nggak waktu dia dua belas, nggak waktu dia tujuh belas.”
“Tapi kalau dia sendiri yang—“
“Kalau dia sendiri yang ngomong, itu lain,” kataku. “Yang aku larang itu kita yang nanya.”
“Kenapa?” tanya Bram.
Dan aku menjawabnya dengan cara yang sudah kususun di dalam kepalaku selama satu setengah tahun sejak Pak Haji membawa tiga lembar kertas dari warnet.
“Karena kalau dia yang jawab, dia yang nanggung.”
Aku menatap tiga orang di ruangan itu.
“Kita bertiga ini orang dewasa,” kataku. “Kita yang bikin kacau. Aku yang nggak sanggup delapan tahun. Van yang pergi. Kita berdua yang bikin anak itu jadi begini.”
Vanya menunduk.
“Yang nanggung akibatnya jangan dia,” kataku. “Sudah cukup dia nanggung yang lain.”
Aku mengantar mereka ke ujung gang jam setengah dua.
Bram jalan duluan ke mobil. Tamara masuk untuk mengambil sesuatu.
Vanya berhenti di depan warung Bu Nur.
“Mas.”
“Hm.”
“Tinggal dua minggu.”
“Iya.”
“Aku belum buka pintunya.”
Aku menatapnya.
“Aku sudah coba empat kali,” katanya. “Aku berdiri di situ, aku pegang gagangnya, terus aku turun lagi.”
“Van—“
“Kenapa susah banget, Mas?” Dia menggeleng. “Ini pintu. Ini rumah aku. Itu anak aku.”
Aku memikirkan bagaimana menjawabnya.
“Karena selama kamu belum masuk,” kataku, “kamu masih bisa mikir mungkin nggak seburuk itu.”
Dia menutup matanya.
“Iya.”
“Aku juga gitu, Van.”
Dia membuka mata.
“Delapan tahun aku nggak pernah tanya anak itu satu pertanyaan,” kataku. “Nggak sekali pun. Aku nggak pernah tanya dia capek apa nggak.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah tahu jawabannya,” kataku. “Dan selama aku nggak nanya, aku masih bisa pura-pura nggak tahu.”
Aku berdiri di ujung gang sampai mobil itu belok.
Tamara datang dan berdiri di sebelahku dan tidak bilang apa-apa selama beberapa saat.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku ngomong sama dia tadi. Di kamar.”
Aku menoleh.
“Ngomong apa?”
“Aku bilang aku nggak akan pernah nyuruh Kirana manggil aku Ibu.” Dia menatap ujung gang. “Aku bilang itu punya dia. Selamanya. Walaupun dia nggak pernah pakai.”
“Terus?”
“Terus dia nangis, terus aku juga, terus kami dua-duanya berhenti barengan kayak orang bodoh, terus kami duduk di kasur anak orang yang belum tidur di situ selama dua menit tanpa ngomong apa-apa.”
Aku menatapnya.
“Tam.”
“Hm.”
“Kamu nggak cemburu?”
“Cemburu.”
“Terus?”
“Ya cemburu aja.” Dia mengangkat bahu. “Aku cemburu sama dia karena dia yang pertama. Aku cemburu sama anak kamu karena dia yang pertama. Aku cemburu sama kios itu karena dia dapat waktu kamu lebih banyak dari aku.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Aku dua puluh sembilan tahun, Mas,” katanya. “Aku sudah tahu cemburu itu nggak hilang. Aku cuma sudah berhenti mikir itu artinya ada yang salah.”
Dia menoleh.
“Aku nomor dua,” katanya. “Aku sudah tahu dari bapak aku sendiri, dua tahun lalu, dan aku masih di sini, dan aku bakal tetap di sini hari Sabtu depan waktu kamu nikahin aku.”
Malamnya aku menelepon anakku.
Tidak ada jadwal lagi sejak bulan lalu. Aku bisa menelepon kapan saja sekarang.
Aku belum terbiasa.
“Ayah?”
“Iya.”
“Kok telepon?”
“Nggak boleh?”
“Boleh.” Aku bisa mendengar dia tersenyum. “Cuma bukan hari Minggu.”
“Ayah tahu.”
Kami bicara dua puluh menit tentang tidak ada apa-apa. Tentang Pak Dedi. Tentang Sarno. Tentang kucing Bu Ningrum yang bernama Modal dan sekarang punya anak empat yang dinamai Bunga, Pokok, Cicilan, dan Bonus.
Dan tidak sekali pun aku menyebut apa yang terjadi di ruang depan rumah ini hari itu.
Tidak sekali pun aku menyebut kamar di ujung lorong.
Tidak sekali pun aku menyebut dua minggu.
Karena kalau ini gagal — dan ini masih bisa gagal, dan aku sudah cukup dewasa untuk tahu betapa mudahnya hal semacam ini gagal — yang patah bukan aku.
“Ayah.”
“Hm.”
“Ayah kok diem?”
“Ayah lagi ngerjain kipas.”
“Oh.” Jeda. “Ayah bohong.”
“Iya.”
“Ayah lagi apa?”
“Lagi duduk.”
“Duduk di mana?”
Aku melihat ke ujung lorong, ke pintu yang tertutup itu.
“Di ruang depan,” kataku.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa reading
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis