Chapter Twenty Three
Sepeda dengan Dua Belas Gigi
POV: Kira
Om Bram sudah mencoba sembilan kali.
Aku hitung, karena aku menghitung semuanya, dan karena aku kasihan.
Percobaan satu. Minggu pertama. Om Bram masuk kamar, berdiri di pintu, dan bilang, “Kamarnya udah enak?”
Aku bilang, “Udah, Om.”
Terus Om Bram bilang, “Oh. Bagus.”
Terus Om Bram berdiri di situ tujuh detik lagi terus pergi.
Percobaan dua. Om Bram beli boneka. Beruang. Besarnya sampai dadaku.
Aku bilang makasih. Aku taruh di kursi. Dia masih di kursi sampai sekarang, tidak pernah pindah satu senti pun, dan tiap kali Om Bram lewat kamarku pintunya terbuka, dan aku tahu dia melihat beruang itu di kursi yang sama.
Umurku sepuluh. Boneka itu buat anak umur empat.
Tapi Om Bram tidak tahu itu, karena Om Bram tidak punya anak, dan aku tidak akan bilang.
Percobaan tiga. Om Bram ajak nonton bioskop. Filmnya kartun. Aku bilang mau. Kami nonton. Filmnya bagus.
Di tengah film aku menoleh dan Om Bram sedang melihat aku, bukan layar, dengan muka orang yang sedang mengecek apakah pekerjaannya berhasil.
Aku senyum ke dia.
Dia langsung lihat ke layar lagi.
Percobaan empat sampai delapan isinya: es krim, restoran yang piringnya panas, toko buku, kolam renang, dan satu kali dia menawarkan mengajakku ke kantornya “biar tahu Om kerja apa”.
Yang terakhir itu sebenarnya paling dekat.
Aku mau. Aku beneran mau. Aku suka lihat orang kerja.
Tapi waktu itu aku sedang di minggu ketiga, waktu aku belum bisa bicara panjang, jadi yang keluar cuma “nggak tahu, Om”.
Mukanya waktu itu aku ingat sampai sekarang.
Percobaan sembilan sepedanya.
Sabtu pagi, ada bunyi mobil bak. Mbak Ratih memanggilku turun.
Sepeda itu berdiri di ruang tamu dengan plastik masih menempel di sadelnya.
Warnanya putih. Ada rem cakram depan belakang. Ada dua belas gigi. Ada botol minum yang ada tempatnya sendiri di rangka.
“Buat kamu,” kata Om Bram.
Ibu berdiri di belakangnya sambil senyum, tapi senyum yang agak khawatir, seperti orang yang sudah bilang jangan dan dibantah.
“Coba naik,” kata Om Bram.
Aku naik.
Aku bisa naik sepeda. Ayah yang mengajari waktu aku kelas satu, pakai sepeda bekas yang dibeli Ayah dua ratus ribu terus dicat ulang sendiri pakai pilox biru, dan aku jatuh di aspal dan alisku bocor tiga jahitan.
Sepeda ini enak sekali. Ringan. Rantainya tidak berbunyi sama sekali.
Aku muter di halaman tiga kali.
“Gimana?” Om Bram bertanya, dan dia bertanya dengan cara yang membuat dadaku sakit, karena dia bertanya seperti orang yang sedang menunggu nilai ulangan.
“Enak, Om.”
“Enak?”
“Enak banget.”
“Nanti Sabtu depan Om ajarin pakai giginya, ya. Yang dua belas itu. Buat nanjak.”
“Iya, Om.”
Aku senyum. Aku senyum benar-benar, karena aku tidak mau dia sedih.
Terus aku masuk kamar dan duduk di karpet dan aku tidak tahu kenapa aku ingin menangis.
Malamnya aku menghitung.
Sepeda seperti itu — aku pernah lihat di toko dekat sekolah lama, yang mereknya sama, yang ada rem cakramnya — harganya dua juta empat.
Dua juta empat.
Aku hitung: dua juta empat itu SPP empat puluh bulan.
Dua juta empat itu Ayah servis kipas empat puluh delapan kali.
Dua juta empat itu delapan kali dokter gigi yang paling murah, yang tiga ratus, yang aku cari tahu waktu kelas tiga terus aku tutup lagi karena nggak mungkin.
Aku bukan tidak suka sepedanya. Sepedanya bagus. Aku tidak bohong waktu bilang enak.
Cuma yang aku mau itu bukan sepeda.
Yang aku mau, kalau ada yang tanya — dan tidak ada yang tanya, dan aku juga tidak akan jawab kalau ditanya — yang aku mau adalah ada orang yang duduk di lantai di sebelahku dan bilang, “Sini, pegangnya kayak pegang pulpen, jangan kayak pegang golok.”
Itu tidak ada harganya.
Itu justru yang bikin susah. Kalau ada harganya, aku bisa hitung, aku bisa tulis di buku, aku bisa tahu berapa lama lagi.
Yang tidak ada harganya itu yang tidak bisa dibeli siapa-siapa.
Yang tidak direncanakan siapa pun terjadi hari Rabu.
Remote pagar rusak.
Pagar rumah ini otomatis, buka-tutupnya pakai remote kecil yang ditaruh di mobil dan satu lagi di dekat pintu. Yang di dekat pintu mati.
Mbak Ratih ganti baterai. Tetap mati.
“Ya udah, Mbak, nanti telepon orangnya,” kata Ibu.
“Orangnya” itu maksudnya vendor. Aku sudah hafal kata itu di rumah ini. Kalau ada apa-apa, telepon orangnya.
Aku berdiri di dapur waktu itu, minum, dan aku bertahan tiga puluh detik sebelum kalah.
“Boleh Kira lihat?”
Semua orang menoleh.
“Apanya, Nak?” tanya Ibu.
“Remotenya.”
Mbak Ratih memberikannya sambil melihat ke Ibu dengan wajah bertanya. Ibu mengangkat bahu.
Aku pegang. Aku goyangkan dekat telinga.
Tidak ada bunyi kocak. Berarti bukan komponen lepas.
Aku tekan tombolnya. Karetnya empuk, tidak lengket.
“Kira ambil obeng dulu ya.”
Obengnya di kamar, di dalam tas ransel, di kantong ritsleting yang paling kecil, di sebelah topi rajut kuning.
Aku bawa turun.
Om Bram sudah pulang waktu aku turun, masih pakai kemeja kantor, dan dia berdiri di dapur memegang gelas dan melihat aku dengan alis naik.
“Itu apa?”
“Obeng, Om.”
“Obeng warna pink.”
“Iya.”
Aku duduk di kursi meja makan dan mulai kerja.
Empat sekrup. Kecil sekali, yang ini memang harus pakai obeng paling kecil. Aku taruh keempatnya di atas tutup gelas supaya tidak hilang.
Casing-nya aku buka pelan, dari pinggir, dua sisi bergantian, jangan langsung dicungkil satu sisi karena nanti klipnya patah.
Di dalam ada papan hijau kecil.
Aku dekatkan ke lampu.
Bantalan karet di bawah tombolnya sudah abu-abu. Yang hitam-hitam di ujungnya sudah tipis dan mengkilap. Dan di papannya, di bagian bulat-bulat tembaga, ada lapisan kusam.
“Ini kotor,” kataku.
“Kotor?”
“Iya, Om. Yang bagian ini.” Aku angkat supaya dia lihat. “Ini yang nyambungin. Kalau kotor, ditekan tapi nggak nyambung.”
“Terus?”
“Dibersihin.”
“Pakai apa?”
“Karet penghapus.”
Om Bram menaruh gelasnya.
“Penghapus?”
“Iya, Om. Yang putih, yang buat pensil. Digosok pelan-pelan.” Aku sudah berdiri untuk mengambil tempat pensilku. “Ayah bilang jangan pakai amplas, nanti lapisannya habis.”
Butuh sebelas menit.
Aku gosok bulatan tembaganya sampai kuning lagi. Aku lap bantalan karetnya pakai tisu yang dibasahi sedikit. Aku pasang lagi, empat sekrup, jangan terlalu kencang, cukup sampai terasa berhenti.
Aku tekan tombolnya.
Di luar, pagar berbunyi dan mulai bergerak.
Mbak Ratih menjerit kecil. Ibu berdiri dari kursinya.
Dan aku — aku tidak bisa menahannya — aku tertawa.
Bukan senyum sopan. Tertawa. Yang keluar sendiri, yang bunyinya keras, yang aku tidak sempat atur dulu.
“Nyala, Om! Nyala!”
Aku menoleh ke Om Bram.
Dan Om Bram tidak melihat pagar.
Om Bram melihat aku, dan mukanya sama sekali bukan muka orang senang, dan senyumnya ada tapi matanya tidak ikut, dan dia berdiri di situ dengan tangan masih memegang meja.
Tawaku berhenti sendiri.
“Om?”
“Nggak apa-apa.” Dia berdehem. “Bagus. Pinter kamu.”
“Kira— “ Aku menaruh obengnya. “Kira nggak boleh ya buka-buka barang orang?”
“Boleh.” Suaranya aneh. “Boleh, Nak. Boleh banget.”
Malam itu, waktu aku sudah di kamar, aku dengar mereka bicara di bawah.
Aku tidak sengaja. Aku turun mau ambil air.
Aku berhenti di tangga nomor lima dari atas.
“...cuma remote, Mas,” kata Ibu. “Nggak usah dibesar-besarin.”
“Van.”
“Dia emang pinter. Dari dulu—“
“Van, dengerin aku.”
Diam sebentar.
“Aku beliin dia sepeda dua juta empat,” kata Om Bram. “Dia bilang makasih. Dia senyum. Dia muter tiga kali di halaman terus masuk kamar.”
“Terus?”
“Terus hari ini dia benerin remote pagar pakai penghapus, dan itu pertama kalinya aku denger anak itu ketawa sejak dia masuk rumah ini.”
Aku memegang pegangan tangga dengan dua tangan.
“Mas, kamu jangan—“
“Aku nggak lagi nyalahin kamu.”
“Kedengerannya kamu lagi nyalahin aku.”
“Aku lagi nyalahin diri aku sendiri, Van, karena aku sudah dua bulan beliin anak itu barang dan aku belum sekali pun nanya dia mau apa.” Ada bunyi kursi. “Dan waktu aku tanya, aku tanyanya salah. Aku tanya ‘kamu mau apa’. Harusnya aku tanya ‘kamu bisa apa’.”
Ibu tidak menjawab lama sekali.
“Besok aku ajak dia ke kantor,” kata Om Bram. “Ada AC di ruang meeting yang bocor airnya. Sudah tiga minggu.”
“Mas, dia anak-anak. Jangan disuruh—“
“Aku nggak nyuruh.” Suaranya pelan. “Aku mau lihat mukanya lagi kayak tadi. Sekali lagi aja.”
Aku naik ke kamar dan tidak jadi ambil air.
Aku duduk di karpet dan memandangi obeng pink itu di pangkuanku lama sekali.
Terus aku angkat ujung kasur, dan aku ambil bukuku, dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan aku menulis sesuatu.
Bukan di kolom hutang.
Di halaman belakang, di bawah semua bukti-bukti lama tentang Ayah dan Bu Tam.
Om Bram nangis kayaknya. Tapi Kira nggak lihat, jadi nggak bisa ditulis jadi bukti.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi reading
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis