Chapter Eighteen

Malam Terakhir

POV: Adam

Dua minggu itu aku pakai untuk menghitung.

Bukan menghitung uang. Uang sudah lama tidak perlu dihitung; hasilnya selalu sama.

Aku menghitung yang lain.

Enam tahun lagi sampai dia SMA. Sembilan sampai kuliah, kalau kuliah. Biaya kawat gigi kalau nanti ternyata perlu — aku mencarinya di internet di warnet Pak Haji, dan menutup halamannya setelah delapan detik.

Aku menghitung berapa kali dalam setahun aku bisa jatuh sakit sebelum kami kehabisan.

Jawabannya nol.

Selama delapan tahun jawabannya selalu nol, dan aku tidak pernah menganggap itu masalah, karena aku memang tidak pernah sakit. Aku sudah memutuskan untuk tidak sakit sejak anak itu umur dua tahun, dan sejauh ini keputusan itu berhasil.

Yang tidak pernah kuhitung: apa yang terjadi kalau keputusan itu suatu hari tidak berlaku lagi.


Bu Ningrum yang paling keras menentang.

“Kamu gila.”

“Bu.”

“Kamu gila, Dam. Anak kamu satu-satunya.”

“Saya tahu.”

“Terus kamu kasih?” Dia menaruh kotak relay itu keras-keras. “Perempuan itu pergi delapan tahun. Delapan. Sekarang dia datang bawa mobil terus kamu langsung— “

“Bu Ningrum, kalau saya nggak kasih, saya bisa kasih apa?”

Dia membuka mulut.

Dan tidak ada yang keluar, dan itu jawabannya, dan aku sudah tahu itu akan jadi jawabannya sebelum aku bertanya.

Pak Haji Tarmiji lain lagi. Dia menawarkan bantuan hukum.

“Saya sering nonton sidang, Dam. Kamu bisa gugat.”

“Gugat apa, Pak Haji?”

“Ya— hak asuh.”

“Hak asuhnya sudah di saya. Dia yang pergi.” Aku menyerahkan uang sewa. “Nggak ada yang perlu digugat. Nggak ada yang ngerebut.”

“Terus kenapa dia mau kamu kasih?”

Aku tidak menjawab.

Karena jawabannya adalah tidak ada yang merebut apa pun dari siapa pun. Aku menyerahkannya. Sendiri. Dengan sadar. Dan itulah bagian yang tidak bisa dijelaskan kepada orang yang bertanya dengan niat baik.


Bu Tamara datang hari Rabu ke rumah.

Aku belum bicara dengannya sejak telepon di warung itu, dua minggu lalu, selain hal-hal wajib di gerbang sekolah.

“Bapak nggak jawab chat saya.”

“Saya jawab.”

“Bapak jawab ‘iya, Bu’. Dua puluh dua kali. Saya hitung.”

Aku menaruh obeng.

“Bu Tamara—“

“Saya nggak ke sini buat itu.” Dia berdiri di tengah ruangan, tidak duduk, dan aku baru sadar dia belum pernah berdiri di ruangan ini tanpa duduk. “Saya ke sini karena Bu Yanti dengar dari ibu-ibu di pagar, dan ibu-ibu di pagar dengar dari Bu Nur.”

“Oh.”

“Bapak mau kasih Kirana ke ibunya.”

“Iya.”

Dia menatapku.

“Bapak sudah gila?”

“Mungkin.”

“Pak Adam.” Suaranya turun. “Anak itu milih Bapak. Di rumah makan. Di depan ibunya sendiri. Bapak dengar sendiri, kan?”

“Saya dengar.”

“Terus?”

“Terus itu yang bikin saya harus.” Aku mengangkat wajah. “Bu, anak itu milih saya sambil punya dua gigi bolong yang saya nggak tahu. Dia milih saya sambil nyimpen uang jajannya sendiri. Dia milih saya sambil bangun jam setengah lima buat ngecek air.”

“Itu bukan alasan buat—“

“Dia milih saya karena dia nggak tahu ada pilihan lain, Bu.” Aku menaruh kedua tanganku di lantai. “Delapan tahun dia cuma tahu satu jenis hidup. Dia nggak lagi milih. Dia cuma setia.”

Tamara tidak menjawab.

“Dan saya sudah pakai kesetiaan itu delapan tahun,” kataku. “Tiap kali saya nggak sanggup, saya pakai. Tiap kali saya nggak bisa beliin sesuatu, saya pakai. Saya bilang ke diri saya sendiri: nggak apa-apa, dia nggak minta kok.”

“Pak—“

“Anak sepuluh tahun nggak minta bukan karena dia nggak mau.”


Dia duduk juga akhirnya. Di kursi plastik. Di tempat yang sama seperti malam pertama dia datang ke rumah ini.

“Berapa lama?”

“Belum tahu.”

“Bapak nggak bikin perjanjian?”

“Ada. Boleh telepon tiap Minggu. Boleh nengok sebulan sekali. Sekolahnya nggak dipindah.”

“Itu doang?”

“Itu doang.”

“Pak Adam, itu bukan perjanjian. Itu belas kasihan.”

“Iya, Bu.” Aku mengangguk. “Memang itu.”

Dia menutup wajahnya dengan dua tangan dan menahannya di situ beberapa saat.

“Saya minta maaf,” katanya dari balik tangannya. “Soal chat itu. Kalau saya bilang dari awal, mungkin Bapak punya waktu lebih buat—“

“Nggak ada bedanya.”

“Bapak nggak tahu itu.”

“Bu.” Aku menunggu sampai dia menurunkan tangannya. “Kalau Ibu kasih tahu saya tiga minggu lebih awal, saya bakal punya tiga minggu lebih lama buat tahu gigi anak saya bolong dan tetap nggak bisa bayar dokternya. Itu aja.”

Dia menangis tanpa suara, dengan cara orang yang sudah terlatih menangis di kamar mandi guru dan tidak mau ketahuan.

“Bu Tamara.”

“Apa.”

“Ibu masih mau?”

Dia mengangkat wajah.

“Saya nggak punya apa-apa,” kataku. “Sekarang saya bahkan nggak punya anak saya. Kalau Ibu mau mundur, sekarang waktunya, dan saya nggak akan— “

“Kalau Bapak selesaikan kalimat itu, saya lempar kursi ini.”

Aku menutup mulut.

“Saya tanya Bapak satu hal waktu di gang kos,” katanya. “Bapak mau atau nggak. Bapak jawab dua kata dan saya terima dua kata itu. Sekarang giliran saya jawab, dan saya cuma butuh satu.”

“Bu—“

“Mau.”


Malam terakhir turun hujan.

Kira sudah memasang ember sejak sore, di titik yang sama, dengan lap di dasarnya. Tasnya sudah dikemas. Bukan tas besar; Vanya bilang tidak usah bawa apa-apa, semuanya sudah disiapkan di sana, dan Kira tetap mengemas satu tas ransel sekolahnya sendiri dan tidak mau memberitahu isinya.

Kami tidur jam sembilan, di kasur yang sama, seperti delapan tahun terakhir.

Kipas berbunyi ngik setiap tiga putaran.

“Ayah.”

“Hm.”

“Besok Ayah kerja?”

“Kerja.”

“Servis apa?”

“Belum ada yang telepon.”

“Nanti pasti ada.”

“Iya.”

Hujan mengetuk seng. Ember di ruang depan berbunyi pelan, teredam lap.

“Ayah.”

“Hm.”

“Nanti kalau Ayah kangen, Ayah telepon aja.”

“Iya.”

“Tiap hari juga boleh.”

“Perjanjiannya tiap Minggu, Ra.”

“Oh.” Dia diam sebentar. “Iya. Tiap Minggu.”

Aku menatap langit-langit yang tidak kelihatan.

“Ayah.”

“Hm.”

“Kira boleh nanya satu, terus habis itu Kira tidur?”

“Boleh.”

“Kalau Kira di sana, Ayah makan?”

Aku menahan napas selama tiga detik penuh sebelum menjawab, dan tiga detik itu adalah tiga detik terpanjang yang pernah kualami di dalam rumah ini.

“Makan.”

“Beneran?”

“Beneran.”

“Ayah janji?”

“Ayah janji.”

“Ayah nggak boleh bohong.”

“Ayah nggak bohong.”

Bohong.

“Ya sudah,” katanya. “Kalau gitu Kira nggak apa-apa.”

“Ra.”

“Kira beneran nggak apa-apa, Ayah.” Dia bergeser lebih dekat, seperti waktu masih kecil, dan menempelkan keningnya ke lenganku. “Kira udah gede. Kira ngerti.”

“Kamu nggak harus ngerti.”

“Kira ngerti kok.”

“Ra, kamu boleh nangis.”

“Ayah dulu.”

Aku memejamkan mata.

“Ayah nggak apa-apa,” kataku.

“Ya udah.” Suaranya sudah bergetar sekarang, tapi dia menahannya, dan dia menahannya dengan cara yang persis sama seperti caraku menahannya, dan itu yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri. “Berarti Kira juga nggak apa-apa.”

Kami berbaring di gelap dan tidak ada yang menangis.

Dua orang yang sama-sama tahu yang satunya berbohong, dan sama-sama memilih tidak membongkarnya, karena membongkarnya berarti yang satunya harus menanggung dua.

Itu bukan kekuatan. Aku tahu sekarang.

Itu yang kuajarkan padanya tanpa pernah membuka mulut sekali pun.


Mereka datang jam sembilan pagi.

Kira salim ke aku di depan pintu, seperti setiap pagi sekolah, persis sama, tidak lebih lama satu detik pun.

Dia tidak menoleh waktu jalan ke mobil.

Aku tahu kenapa dia tidak menoleh. Aku juga tidak akan menoleh.

Pintu mobil ditutup. Mesin menyala. Mobil itu mundur pelan-pelan keluar gang karena tidak ada tempat memutar, dan itu memakan waktu lama sekali, dan selama itu aku berdiri di depan pintu dan melambaikan tangan ke kaca yang gelap tanpa tahu apakah ada yang melihat.

Lalu belokan.

Lalu tidak ada.


Aku masuk ke rumah dan menutup pintu.

Ruang depan. Bangkai dispenser di sudut. Ember di bawah noda cokelat, masih ada isinya dari semalam.

Aku angkat embernya. Aku buang airnya di kamar mandi. Aku bilas. Aku balik. Aku taruh lagi di tempat yang sama, karena besok mungkin hujan.

Lalu aku ke dapur dan membuka tudung saji.

Di dalamnya ada piring dengan nasi, ditutup, masih hangat.

Dan di sebelah piring itu, di atas tutup gelas supaya tidak lembap, ada dua potong bakwan.