Chapter Forty Four
Hrrm-hrrm-hrrm
POV: Kira
Hari Senin sore aku sedang mengerjakan PR IPA tentang rangkaian listrik seri dan paralel, yang mana adalah satu-satunya PR seumur hidupku yang aku kerjakan sambil senyum-senyum sendiri.
Jam empat lewat.
Dan aku dengar.
Aku mau menjelaskan ini pelan-pelan karena penting.
Rumah ini di kompleks. Kompleks itu jalannya lebar dan aspalnya bagus dan yang lewat mobil semua. Kalau ada motor, biasanya ojek atau kurir, dan motor ojek sama kurir itu keluaran baru, bunyinya halus, “ssss” begitu.
Yang aku dengar bukan itu.
Yang aku dengar berat di bawah, agak serak, tiga ketukan.
Hrrm-hrrm-hrrm.
Aku menaruh pensil.
Aku diam. Aku dengarkan lagi.
Hrrm-hrrm-hrrm. Makin dekat.
Dan aku—
Aku tidak berpikir sama sekali. Aku bersumpah aku tidak berpikir. Badanku bergerak duluan.
Aku lari.
Aku lari dari kamar, ke lorong, ke tangga, dan aku hampir jatuh di anak tangga keempat karena kaus kakiku licin di kayu, dan aku pegang pegangannya dan aku lanjut.
Mbak Ratih di dapur bilang “Non!” dan aku tidak berhenti.
Aku buka pintu depan.
Aku lari ke pagar.
Dan di luar pagar, baru berhenti, dengan standar yang belum diturunkan, motor tahun 2003 dengan tas peralatan di jok belakang.
Ayah melepas helm.
Dan aku—
Aku berdiri di halaman dengan kaus kaki saja, dan aku tidak bisa apa-apa, dan yang keluar dari mulutku bukan “Ayah” tapi bunyi yang aku sendiri tidak tahu itu apa.
Ayah membuka gerbang kecil di samping dan aku sudah menabrak perutnya sebelum gerbangnya tertutup.
“Ra.”
“Ayah.”
“Kamu nggak pakai sandal.”
“Nggak apa-apa.”
“Aspalnya panas.”
“Nggak apa-apa, Ayah.”
Aku memeluk perutnya dan aku tidak mau melepas dan aku tidak peduli aku sebelas tahun.
Baunya timah sama keringat.
Bukan bau warung.
Aku mencatat itu di dalam kepalaku, otomatis, seperti sudah dua tahun aku lakukan, dan aku langsung marah sama diriku sendiri karena aku masih melakukannya.
“Ayah kok ke sini?”
“Ada perlu.”
“Perlu apa?”
“Sama ibumu.”
Aku mendongak.
“Sama Ibu?”
“Iya.”
“Bukan sama Kira?”
Dan Ayah—
Ayah berhenti.
Ayah menunduk ke aku dan aku melihat wajahnya berubah, dan aku langsung tahu aku barusan bilang sesuatu yang salah, dan aku langsung mau menariknya kembali.
“Eh, bukan gitu maksud Kira—“
“Ra.”
“Kira nggak maksud—“
“Kirana.”
Ayah jongkok. Ayah jongkok di halaman rumah itu supaya wajahnya sejajar dengan wajahku, seperti dulu, dan Ayah memegang dua bahuku.
“Ayah ke sini karena ibumu yang minta,” kata Ayah. “Ayah nggak tahu mau ngomong apa. Ayah baru tahu tadi malam.”
“Oh.”
“Tapi Ayah datang lebih cepat satu setengah jam dari yang dijanjiin,” kata Ayah. “Karena Ayah mau ketemu kamu dulu sebelum masuk.”
Aku menahan napas.
“Ayah janji jam enam,” kata Ayah. “Sekarang jam empat lewat.”
Kami duduk di teras.
Bukan di dalam. Di teras, di lantai, di anak tangga paling atas, karena aku bilang aku mau di luar dan Ayah tidak bertanya kenapa.
Alasannya karena di dalam ada AC dan tidak ada bunyi apa-apa.
Di luar ada bunyi.
“Ayah.”
“Hm.”
“Ayah pindah rumah?”
Ayah menoleh cepat.
“Kok tahu?”
“Om Bram.”
Ayah menutup matanya sebentar.
“Kapan?”
“Bulan lalu. Nggak sengaja. Om Bram lagi ngomong sama Ibu di dapur.” Aku mengangkat bahu. “Kira nggak nguping. Kira lagi ambil air.”
“Ra, Ayah mau— “
“Ayah nggak usah minta maaf.”
“Ayah harus.”
“Ayah selalu minta maaf, terus Kira selalu bilang nggak apa-apa, terus kita berdua bohong.” Aku menatap lantai teras. “Kira capek, Ayah.”
Ayah tidak bicara lama sekali.
“Iya,” katanya akhirnya. “Ayah juga.”
“Rumahnya gimana?”
“Kecil.”
“Bocor?”
“Nggak.”
“Yang di langit-langit itu— “
“Nggak ada.” Ayah menggeleng. “Langit-langitnya putih semua. Nggak ada nodanya.”
Aku diam.
“Kira suka yang ada nodanya.”
Ayah menoleh.
“Kenapa?”
“Nggak tahu.” Aku mengangkat bahu lagi. “Kan tanda Kira yang naruh embernya.”
Dan Ayah—
Ayah menoleh ke arah lain, ke arah pagar, dan Ayah tidak bicara selama mungkin dua puluh detik, dan waktu Ayah bicara lagi suaranya tidak benar.
“Ayah juga.”
“Ayah juga apa?”
“Ayah juga kangen bocornya.”
Kami duduk sampai jam lima.
Aku cerita soal Pak Dedi yang menggambar pizza terus. Ayah tertawa.
Aku cerita soal PR IPA rangkaian seri dan paralel dan Ayah langsung menjelaskan yang tidak aku tanya sampai aku harus bilang “Ayah, sudah, nanti Kira nggak ada kerjaan”.
Aku cerita soal Dimas yang sekarang di kelas 5A dan masih suka melambai kalau lewat.
Ayah cerita soal Sarno yang pernah memasang kipas terbalik dan tidak sadar selama dua jam.
Ayah cerita soal Bu Ningrum yang sekarang punya kucing yang dinamai “Modal”.
Ayah tidak cerita soal Bu Tam, dan aku tahu itu disengaja, dan aku memutuskan untuk membantunya.
“Ayah.”
“Hm.”
“Bu Tam gimana?”
Ayah menoleh.
“Kamu nanya?”
“Iya.”
“Ra—“
“Kira beneran nanya, Ayah.” Aku menatapnya. “Kira sudah ngomong sama Bu Tam waktu itu. Berdua. Di kelas 4B.”
“Ayah tahu.”
“Bu Tam cerita?”
“Nggak.” Ayah menggeleng. “Bu Tam nggak pernah cerita apa pun soal yang kalian omongin. Ayah nanya dua kali, dua-duanya nggak dijawab.”
Aku menghela napas.
Terus tanpa aku sengaja, aku senyum.
“Bagus.”
Jam enam kurang, pintu depan terbuka.
Perempuan itu berdiri di ambang. Dia sudah rapi, tapi matanya bengkak, dan dia sudah pakai bedak untuk menutupinya dan tidak berhasil.
“Mas.”
Ayah berdiri.
“Van.”
“Kamu— “ Dia melihat aku, lalu Ayah, lalu aku lagi. “Kamu sudah lama di sini?”
“Satu setengah jam.”
“Kenapa nggak masuk?”
“Aku janji jam enam.”
Perempuan itu memandangi kami berdua di teras itu — aku duduk di anak tangga, kaus kaki, PR ditinggal di atas — dan ada sesuatu di wajahnya yang aku tidak mengerti sama sekali waktu itu.
“Kirana,” katanya. “Masuk dulu, ya. Ibu mau ngomong sama ayahmu.”
“Iya, Bu.”
Aku berdiri.
Aku ambil sandal. Aku jalan ke pintu.
Dan waktu aku lewat perempuan itu, dia bilang sesuatu yang sangat pelan, dan aku tidak yakin dia bermaksud aku dengar.
“Maaf ya, Nak.”
Aku berhenti setengah langkah.
“Buat apa, Bu?”
Dia tidak menjawab.
Dia cuma mendorong pintunya lebih terbuka supaya aku bisa masuk.
Aku naik ke kamar.
Aku duduk di karpet, di sisi yang penyok, dan aku tidak melanjutkan PR IPA.
Aku dengar suara dari bawah. Tidak jelas. Cuma nadanya.
Nada Ayah pelan.
Nada perempuan itu naik turun, berhenti, mulai lagi.
Ada satu kali di mana nadanya berhenti lama sekali dan aku berdiri dan berjalan ke pintu dan berhenti dengan tangan di gagangnya.
Aku tidak membuka.
Aku berdiri di situ, di belakang pintu, di dalam kamar nomor dua dari tangga, dan aku menghitung.
Dua ratus dua puluh delapan.
Aku sudah hafal angkanya karena aku selalu berhenti di situ.
Dua ratus dua puluh sembilan.
Dua ratus tiga puluh.
Aku tidak berhenti kali ini.
Aku hitung sampai seribu empat ratus lima belas.
Terus aku dengar motor menyala di luar.
Terus hrrm-hrrm-hrrm.
Terus makin jauh.
Terus tidak ada.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm reading
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis