Chapter Fifty

Ngik

POV: Adam

Malam pertama dia tidak tidur.

Aku tahu karena aku juga tidak.

Kamarku dan kamarnya bersebelahan dan dindingnya tipis, dan aku bisa mendengar dia bergerak. Miring ke kiri. Miring ke kanan. Duduk. Berbaring lagi.

Jam satu aku bangun dan berdiri di lorong.

Empat langkah.

Aku berdiri di depan pintu itu dengan tangan di gagangnya dan aku tidak membukanya, dan aku berdiri di situ cukup lama untuk menyadari bahwa aku sedang melakukan persis yang dilakukan Vanya selama satu setengah tahun.

Jadi aku mengetuk.

“Ra.”

Hening.

“Ra, Ayah tahu kamu belum tidur.”

“...Iya.”

“Boleh masuk?”

“Boleh.”


Dia duduk di kasur seratus dua puluh kali dua ratus itu dengan selimut sampai pinggang.

Kamar itu gelap kecuali cahaya dari lorong.

“Nggak bisa tidur?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Dia mengangkat bahu.

Aku duduk di lantai, bersandar ke sisi kasur, karena kalau aku duduk di kasurnya nanti dia merasa harus menggeser.

“Ra.”

“Hm.”

“Kalau ada yang kurang, bilang.”

“Nggak ada yang kurang, Ayah.”

“Kasurnya kegedean?”

“Nggak.”

“Bantalnya?”

“Bantalnya enak.”

“Terus?”

Dia diam lama sekali.

“Sepi,” katanya.


Aku duduk di lantai itu dan mendengarkan.

Dia benar. Rumah ini sepi.

Di gang Melati III selalu ada bunyi. TV Pak Haji yang kekencangan. Motor lewat. Orang ngobrol di depan. Ayam. Anjing tetangga blok C yang menggonggong ke apa pun.

Di sini ujung gang, dan di belakang kebun kosong, dan tembok kamarnya berbatasan dengan kebun itu.

Yang terdengar cuma jangkrik.

“Ayah.”

“Hm.”

“Kipas yang lama gimana?”

Aku menoleh.

“Yang mana?”

“Yang di kamar kita.” Dia bicara ke selimutnya. “Yang bunyinya.”

Aku tidak menjawab selama beberapa detik.

“Ayah buang?” tanyanya.

“Nggak.”

“Ayah bawa?”

“Ayah bawa.”

Dia duduk lebih tegak.

“Di mana?”


Kardusnya di belakang, di bawah rak, di antara kardus lain yang belum sempat kubongkar sejak pindah.

Aku menariknya keluar jam setengah dua pagi dengan anak sebelas tahun berdiri di belakangku memegang senter dari ponselnya.

“Yang mana, Ayah?”

“Yang tulisannya SPAREPART.”

“Kok kipas ditaruh di kardus sparepart?”

“Biar nggak ada yang buka.”

Aku merasakan dia berhenti menyorot sebentar.

Kipas itu di dalam, dibungkus kain, dengan kabel yang sudah kugulung rapi dan diikat pakai karet.

Aku mengeluarkannya.

Debunya tipis. Warnanya sudah kusam sejak lima tahun lalu. Ada bekas stiker di badannya yang tidak pernah selesai kucabut.

“Ayah.”

“Hm.”

“Kok dibungkus?”

Aku memegang kipas itu di pangkuanku di lantai dapur rumah tipe tiga puluh enam jam setengah dua pagi.

“Biar nggak lecet,” kataku.


Aku menaruhnya di kamarnya, di sudut, di dekat kepala kasur.

Aku mencolokkannya.

“Ayah bentar.”

“Kenapa?”

Aku sudah mengambil obeng dari kotak.

“Bushing-nya kering,” kataku. “Sudah dua tahun nggak jalan. Kalau langsung dinyalain nanti macet, terus panas, terus kumparannya kebakar.”

“Ayah mau benerin?”

“Ayah kasih pelumas dikit di as-nya.”

Dan aku sudah membuka satu sekrup waktu dia bicara lagi.

“Ayah.”

“Hm.”

“Jangan.”

Aku berhenti.

“Ra, ini cuma pelumas. Lima menit.”

“Iya, tapi jangan.”

Aku menoleh.

Anak itu duduk di kasur dengan selimut di pangkuan dan menatap kipas itu dan tidak menatapku.

“Kenapa?” tanyaku.

“Nanti bunyinya hilang.”


Aku menaruh obeng itu di lantai.

“Ra.”

“Kira tahu itu artinya rusak,” katanya cepat. “Kira tahu. Bushing kering, terus aus, terus lama-lama macet. Ayah sendiri yang ngajarin.”

“Iya.”

“Tapi jangan dulu.” Dia memeluk lututnya. “Sebentar aja. Sampai Kira bisa tidur.”

Aku menutup sekrup yang sudah kubuka.

Aku mencolokkannya.

Aku memutar tombolnya ke satu.


Kipas itu mulai berputar pelan, seperti orang tua yang bangun dari duduk terlalu lama.

Satu putaran.

Dua.

Tiga.

Ngik.

Aku mendengar anak itu menarik napas.

Empat. Lima. Enam.

Ngik.

Aku duduk di lantai kamar itu dengan punggung ke sisi kasur dan mendengarkan bunyi yang sudah kudengar setiap malam selama delapan tahun dan tidak kudengar sama sekali selama dua tahun terakhir.

Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik.

Aku tidak menoleh.

Aku tidak menoleh karena aku bisa mendengar dari cara napasnya berubah bahwa anak itu sedang menangis, dan kalau aku menoleh dia akan berhenti, dan aku sudah cukup lama membuat anak itu berhenti.

Jadi aku duduk menghadap dinding.

Dan aku juga menangis, menghadap dinding, seperti orang bodoh berumur tiga puluh lima tahun, di kamar yang kucat sendiri untuk seseorang yang belum tentu datang.


Kami tidak bicara mungkin sepuluh menit.

Yang ada cuma jangkrik dan kipas.

Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik.

Lalu ada tangan di bahuku.

Dari belakang, dari kasur. Kecil. Dingin karena AC-nya tidak ada dan malamnya memang dingin.

“Ayah.”

“Hm.”

“Ayah nangis?”

Dan aku sudah menyiapkan jawabannya sejak dulu.

Aku sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan itu sejak anak itu umur empat tahun. Aku sudah mengucapkannya ratusan kali. Aku bisa mengucapkannya sambil tidur.

Aku membuka mulut.

Dan aku menutupnya lagi.

Karena aku ingat perempuan yang jongkok di ujung gang siang tadi dan bilang kamu nggak usah bilang nggak apa-apa ke Ibu, nggak seumur hidup kamu.

“Iya,” kataku.

Tangan di bahuku berhenti.

“Iya, Ra. Ayah nangis.”


Anak itu turun dari kasur.

Dia duduk di lantai di sebelahku, bersandar ke sisi kasur yang sama, dengan selimut ditarik ikut ke bawah.

Dia tidak memelukku. Dia cuma duduk, bahunya menempel ke lenganku, seperti di teras rumah itu, seperti di rumah makan itu, seperti selalu.

Dan dia bicara, dan yang dia bilang bukan pertanyaan.

“Ayah nggak apa-apa.”

Aku menoleh.

“Ra—“

“Bukan nanya, Ayah.” Dia menatap kipas itu. “Kira lagi bilang.”

Aku memandanginya.

Sebelas tahun. Rambutnya berantakan. Pipinya masih basah.

“Ayah nggak apa-apa,” katanya lagi. “Sekarang beneran. Kira yang bilang, jadi bener.”


Aku menutup wajahku dengan satu tangan dan aku tidak sanggup bicara selama mungkin satu menit penuh.

Delapan tahun.

Delapan tahun aku mengucapkan kalimat itu kepada anak ini, dan setiap kali aku mengucapkannya aku sedang berbohong, dan setiap kali dia mengangguk dua kali dan menurunkan matanya karena dia tahu.

Dan malam itu dia mengembalikannya kepadaku, dan itu benar.

Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun kalimat itu benar.

“Ayah.”

“Iya.”

“Ayah tidur di sini aja.”

“Ra, kamu sudah gede—“

“Bukan di kasur.” Dia menepuk lantai. “Di sini. Sebentar. Sampai Kira tidur.”


Dia tidur jam tiga.

Aku tahu jamnya karena aku mengeceknya.

Aku tidak pindah. Aku duduk di lantai dengan punggung ke sisi kasur dan kepala anak itu jatuh ke bahuku sekitar jam setengah tiga dan aku tidak bergerak sama sekali setelah itu, bahkan waktu kakiku kesemutan, bahkan waktu aku ingin batuk.

Aku sudah pernah begini sebelumnya, di angkot, empat puluh menit, dengan orang lain.

Aku ingat waktu itu aku berpikir bahwa itu hal paling sulit yang pernah kulakukan.

Aku salah.


Jam empat kurang aku memindahkannya ke kasur.

Dia tidak bangun. Dia bergumam sesuatu dan berbalik dan memeluk bantal.

Aku menarik selimutnya sampai bahu.

Aku berdiri di ambang pintu itu beberapa saat.

Kipas di sudut masih berputar di kecepatan satu.

Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik.

Aku memutuskan malam itu — dan aku tidak pernah mengubah keputusan itu, tidak sampai sekarang, tidak sampai kipas itu benar-benar mati enam tahun kemudian — bahwa aku tidak akan pernah memberi pelumas pada as kipas itu.

Biar aus. Biar rusak pelan-pelan. Biar mahal.

Ada satu barang di dunia ini yang tidak akan kuperbaiki.

Aku menutup pintunya sampai tinggal celah, seperti dulu, seperti delapan tahun, dan aku berjalan empat langkah ke kamarku sendiri.

Dan aku tidur.