Chapter Fifty One
Kancing Ketiga
POV: Tamara
Akadnya ditunda dua minggu.
Sabtu yang seharusnya jadi Sabtu yang lain, dan yang mengusulkan bukan aku.
“Tam, aku mau minta sesuatu.”
“Apa?”
“Boleh ditunda dua minggu?”
Aku sudah membeli kain. Aku sudah memesan katering — bukan katering besar, cuma Bu Nur yang sekarang punya warung baru dan bisa masak untuk lima puluh orang. Aku sudah memberi tahu sekolah. Aku sudah memberi tahu ibuku, yang mana adalah percakapan yang memakan waktu tiga minggu dan dua kali tangis dan satu kali telepon ayahku yang berdurasi empat menit dan menyelesaikan semuanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kalau Sabtu depan, Kirana baru enam hari di rumah ini.”
Aku diam.
“Dia bakal dateng sebagai tamu, Tam.” Suaranya pelan. “Aku mau dia dateng sebagai orang rumah.”
Aku menelepon Bu Nur malam itu juga.
Akadnya di rumah.
Bukan di masjid, bukan di gedung. Di ruang depan rumah tipe tiga puluh enam yang seluruh perabotnya dikeluarkan ke teras dan digantikan tikar sewaan.
Lima puluh tiga orang. Aku menghitungnya karena aku yang memesan konsumsi.
Orang tuaku datang. Ibuku memakai kebaya yang sudah disiapkan sejak tiga tahun lalu untuk hari yang beliau bayangkan sangat berbeda dari ini, dan beliau memakainya juga, dan itu caranya bilang iya.
Ayahku duduk di depan, di sebelah penghulu, dan tidak bicara sepanjang pagi seperti biasa.
Bu Ningrum datang membawa panci.
“Bu, ini kondangan.”
“Ini sayur asem.”
“Bu Ningrum—“
“Saya bawa panci ke rumah orang ini sudah tiga tahun.” Dia meletakkannya di dapur seperti orang meletakkan bendera. “Kamu nggak bisa ngubah tradisi.”
Pak Haji Tarmiji datang paling pagi, jam enam, memakai baju koko putih dan peci, dan menempatkan dirinya di dekat pintu untuk menyalami setiap orang yang datang seolah beliau tuan rumahnya.
“Pak Haji, Bapak bukan keluarganya.”
“Saya pemegang saham.”
“Sahamnya sudah selesai November dua tahun lalu.”
“Saham itu ada nilai historisnya, Bu Guru.”
Bu Yanti datang membawa delapan orang guru dan satu kamera.
“Tam. TAM.”
“Apa.”
“Aku mau bilang satu hal dan aku cuma bilang sekali.”
“Yanti, aku lagi—“
“Tiga tahun lalu,” katanya, sambil memegang dua bahuku, “kamu berdiri di ruang guru dan bilang ke aku ‘itu bukan pertanyaan’.”
Aku menatapnya.
“Yang soal dia nyetrika baju,” katanya. “Kamu inget?”
“Aku inget.”
“Nah.” Dia melepas bahuku dan mundur untuk melihat keseluruhan. “Sekarang lihat kemejanya.”
Aku menoleh.
Adam berdiri di dekat penghulu, memakai kemeja putih baru — yang kami beli bersama tiga minggu lalu, yang harganya seratus tiga puluh lima ribu, yang dia coba tiga kali di toko sambil bertanya apakah warnanya terlalu putih.
Disetrika. Rapi.
Kancingnya lengkap semua.
Aku menyeretnya ke dapur lima menit sebelum mulai.
“Tam, sebentar lagi—“
“Diam.”
“Ada penghulu di luar.”
“Aku tahu ada penghulu di luar.” Aku sudah membuka kotak jahit. “Berdiri diam.”
“Kenapa?”
“Kancing ketiga.”
Dia menunduk ke dadanya sendiri.
“Kancingnya ada.”
“Aku tahu ada.” Aku mengambil benang. “Aku mau jahit ulang.”
“Tam, itu masih—“
“Mas Adam.” Aku mengangkat wajah. “Kemeja yang kamu pakai waktu pertama kali dateng ke ruang guru itu kancing ketiganya lepas.”
Dia berhenti.
“Terus kamu jahit sendiri,” kataku, “pakai benang yang numpuk sebelah, dan kamu pakai kemeja itu tiap kali kamu mau ngomong sama aku selama satu tahun.”
“Tam—“
“Diam.”
Aku menjahitnya. Dua puluh detik. Tidak perlu, sama sekali tidak perlu, dan aku menusukkan jarum itu tiga kali ke kain yang sudah sempurna dan mengikat simpul yang tidak ada gunanya.
Jaraknya sepuluh senti.
Aku menghitungnya, seperti selalu, dan aku tidak mundur, dan kali ini dia juga tidak.
“Sudah,” kataku.
“Terima kasih.”
“Sekarang keluar. Ada penghulu.”
Aku duduk di kamar sampai dipanggil.
Yang menemaniku bukan ibuku.
Anak sebelas tahun itu masuk membawa dua gelas air, menaruh keduanya di meja rias, dan duduk di ujung kasur dengan kaki menggantung.
“Bu Tam gugup?”
“Enggak.”
“Bu Tam bohong.”
“Iya.”
Dia tertawa.
Dia sudah tinggal di rumah ini tiga minggu dan tawanya sudah berubah. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana. Lebih cepat keluar. Tidak dicek dulu.
“Kirana.”
“Iya, Bu Tam.”
“Ibu mau bilang lagi yang waktu itu.”
“Yang mana?”
“Yang soal panggilan.” Aku memutar badan menghadapnya. “Ibu nggak akan pernah minta kamu manggil Ibu apa pun. Bu Tam boleh selamanya. Sampai kamu tua. Sampai Ibu tua.”
“Iya.”
“Ibu serius, Kirana.”
“Iya, Bu Tam. Kira tahu.”
“Ibu nggak mau kamu ngerasa—“
“Bu Tam.”
Aku berhenti.
Anak itu turun dari kasur dan berdiri di depanku.
“Kira boleh minta izin sesuatu nggak?”
“Boleh.”
“Kira sudah mikir tiga minggu.”
“Iya?”
“Kira nanya Ayah juga. Ayah bilang terserah Kira.” Dia meremas ujung bajunya. “Terus Kira nanya Ibu.”
Aku menoleh cepat.
“Ibu kamu?”
“Iya.”
“Kamu nanya Vanya?”
“Kira telepon.” Dia mengangkat bahu. “Kan boleh sekarang. Kapan aja.”
Aku menatap anak itu.
“Kamu nanya apa?”
“Kira nanya, kalau Kira manggil Bu Tam ‘Bunda’, Ibu marah nggak.”
Aku berhenti bernapas.
“Terus Ibu diam lama banget,” katanya. “Terus Ibu nangis. Terus Ibu bilang ‘nggak, Nak’.”
“Kirana—“
“Terus Ibu bilang,” dan anak itu menirukan nada perempuan itu dengan cara yang membuat dadaku sakit, “‘Ibu cuma minta satu. Jangan panggil dia Ibu. Yang itu punya Ibu.’”
Aku menutup mulutku dengan dua tangan.
“Jadi Kira mau manggil Bunda,” katanya. “Boleh?”
Aku merusak seluruh riasanku dua menit sebelum akad.
Bu Yanti masuk dan berteriak dan memanggil orang dan tiga perempuan mengelilingiku dengan tisu dan bedak dan satu orang bertanya siapa yang membuat aku menangis dan aku menunjuk anak sebelas tahun yang berdiri di sudut dengan wajah panik.
“Kirana!”
“Kira nggak sengaja!”
“Nggak apa-apa,” kataku dari balik tisu. “Nggak apa-apa. Dia nggak salah.”
“Terus kenapa nangis?”
“Nggak apa-apa, Yanti.”
“Tam.”
“Dia manggil aku Bunda.”
Ruangan itu berhenti.
Lalu Bu Yanti mulai menangis juga, dan dua guru yang lain ikut, dan satu-satunya yang tidak menangis di kamar itu adalah anak sebelas tahun yang berdiri di sudut sambil berkata “ya ampun” dengan nada persis seperti ayahnya.
Akadnya delapan detik.
Aku menghitungnya. Bu Yanti merekamnya dan aku menontonnya seratus kali sesudahnya dan hasilnya selalu delapan detik.
Satu kali. Tidak ada pengulangan. Suaranya tidak bergetar sama sekali.
“Sah?”
“Sah.”
Dan ruangan itu meledak, dan Pak Haji Tarmiji berteriak paling keras padahal beliau duduk paling depan dan tidak perlu berteriak.
Yang membawa cincin Kirana.
Kami membelinya bulan lalu, bertiga, di toko emas dekat pasar. Enam ratus dua puluh ribu untuk dua. Anak itu yang memilih, karena Adam dan aku sama-sama tidak punya pendapat dan penjualnya mulai frustrasi.
Dia berjalan ke depan membawa kotaknya dengan dua tangan seperti orang membawa air penuh.
Adam memakaikannya ke jariku.
Tangannya bergetar dan dia hampir menjatuhkannya dan Bu Ningrum di baris ketiga berkata “aduh” cukup keras.
Lalu giliranku.
Aku memegang tangan laki-laki itu — tangan yang garis-garisnya hitam dan tidak akan pernah hilang, yang sudah kucium di teras rumah orang tuaku tiga tahun lalu di depan tetangga yang menyiram tanaman — dan aku memakaikan cincin itu ke jarinya.
Dan aku tidak bisa melepasnya.
Aku memegangnya beberapa detik lebih lama dari yang perlu, di depan lima puluh tiga orang.
“Tam,” bisiknya.
“Hm.”
“Tangannya.”
“Iya, kenapa.”
“Belum dilepas.”
Aku mengangkat wajah.
Dan laki-laki itu — di depan penghulu, di depan orang tuaku, di depan anaknya, dengan telinga yang sudah merah sampai leher — tersenyum dengan satu sudut mulut dan berkata:
“Kamu telat lima menit lagi.”
Aku melepas tangannya dan memukul lengannya di depan lima puluh tiga orang dan seluruh ruangan tertawa dan ibuku menutup wajahnya dengan telapak tangan.
“Tiga tahun,” kataku.
“Iya.”
“Tiga tahun aku nunggu kamu ngomong itu.”
“Aku simpan.”
“Kamu simpan?”
“Iya.”
“Buat hari ini?”
“Buat hari ini.”
Malamnya, setelah semua orang pulang, setelah tikar digulung dan perabot dikembalikan dan Bu Ningrum mengambil pancinya yang sudah kosong, kami bertiga duduk di ruang depan.
Bertiga. Di lantai. Karena kursinya cuma dua dan tidak ada yang mau duduk di kursi.
“Bunda.”
Aku menoleh.
Aku akan menoleh setiap kali kata itu diucapkan selama sisa hidupku dan aku sudah tahu itu sejak siang.
“Iya?”
“Bunda capek?”
“Capek banget.”
“Kira juga.”
“Kamu ngapain? Kamu cuma bawa cincin.”
“Kira nangis empat kali.” Dia mengangkat empat jari. “Itu capek.”
Adam tertawa dari sudut ruangan.
Dan aku duduk di lantai rumah tipe tiga puluh enam itu, di antara laki-laki yang tiga tahun lalu menyembunyikan tangannya ke bawah meja dan anak yang menggambar cap sekolah tiga kali sampai berhasil, dan aku memikirkan satu hal yang tidak kukatakan kepada siapa pun malam itu.
Ayahku benar.
Aku nomor dua.
Dan tidak ada satu detik pun hari itu, tidak satu detik pun, di mana aku merasa itu kurang.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga reading
- 52 Buku yang Belum Habis