Chapter Forty Eight
Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
POV: Vanya
Malam kedua puluh sembilan.
Besok bulannya habis.
Aku sudah berdiri di depan pintu itu dua puluh delapan malam berturut-turut dan tidak sekali pun gagangnya turun.
Aku sudah mencoba menghitung apa yang membuatku tidak bisa, dan aku sudah punya daftarnya, dan daftarnya tidak membantu sama sekali.
Aku takut dia diam.
Aku takut dia sopan.
Aku takut dia menjawab “iya, Bu” tiga kali lalu menunggu aku pergi.
Yang paling aku takutkan bukan dia membenciku. Kalau dia membenciku, ada yang bisa dikerjakan. Yang aku takutkan dia tidak merasa apa-apa, dan aku akan tahu itu dalam empat detik, dan sesudah tahu aku tidak bisa tidak tahu lagi.
Aku naik tangga jam sebelas kurang lima.
Ada cahaya di bawah pintu.
Itu yang berbeda malam itu. Biasanya gelap; anak itu tidur jam sepuluh, selalu, tanpa disuruh, sejak hari pertama.
Malam itu ada garis kuning tipis di bawah pintu.
Dan aku berdiri di situ dan menyadari bahwa selama dua puluh delapan malam aku selalu datang setelah dia tidur.
Aku memilih jamnya. Aku memilih jam di mana pintu itu pasti tidak akan terbuka bahkan kalau aku membukanya.
Aku sudah tiga puluh dua tahun dan aku baru menyadari itu malam ini.
Aku memegang gagangnya.
Aku menghitung — bukan sengaja, tanganku sendiri yang menunggu — dan waktu hitunganku sampai dua ratus dua puluh delapan, aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku dingin.
Dua ratus dua puluh delapan.
Anak itu menghitung angka yang sama.
Selama satu setengah tahun, di dua sisi pintu yang sama, kami berdua menghitung, dan tidak ada satu pun dari kami yang tahu.
Dua ratus dua puluh sembilan.
Aku memutar gagangnya.
Dia duduk di karpet.
Bersandar ke sisi kasur, di tempat yang penyok memanjang, dengan lampu meja diarahkan ke bawah supaya cahayanya tidak keluar terlalu banyak — dan aku melihat lampu yang dimiringkan itu dan tahu bahwa dia melakukannya supaya tidak ketahuan.
Di pangkuannya buku sampul kertas kado.
Dia menutupnya waktu pintu terbuka. Cepat. Refleks.
“Bu.”
“Belum tidur?”
“Belum, Bu.”
Dan kami berdua diam.
Aku berdiri di ambang pintu itu dan seluruh kalimat yang kususun selama dua puluh sembilan malam hilang.
“Boleh Ibu masuk?”
Anak itu berkedip.
“Boleh, Bu.”
Aku masuk.
Aku menutup pintu — pelan, dan aku sadar aku menutupnya pelan seperti orang yang takut membangunkan sesuatu, padahal orangnya sedang bangun dan menatapku.
Aku tidak duduk di kursi.
Aku duduk di karpet. Di sebelahnya. Di sisi yang tidak penyok.
Dan aku baru sadar setelah duduk bahwa aku sudah lupa bagaimana rasanya duduk di lantai, dan bahwa lututku sakit, dan bahwa dulu, di rumah petak, aku duduk di lantai setiap hari selama empat tahun.
“Bu.”
“Hm.”
“Ibu nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa.”
“Ibu nangis?”
“Nggak.”
“Ibu bohong.”
Aku menoleh ke arahnya.
“Iya,” kataku. “Ibu bohong.”
Dan anak itu — untuk pertama kalinya sejak dia masuk rumah ini — tidak mengangguk sopan dan tidak mengalihkan pandangan.
Dia menatapku.
“Kirana.”
“Iya, Bu.”
“Ibu mau nanya sesuatu, dan Ibu mau kamu jawab jujur.”
“Iya, Bu.”
“Kalau kamu nggak mau jawab, boleh nggak jawab.”
“Iya, Bu.”
Aku menarik napas.
“Kamu tahu Ibu berdiri di depan pintu kamu tiap malam?”
Dia diam.
Lalu, sangat pelan: “Iya, Bu.”
“Dari kapan?”
“Dari minggu ketiga.”
Satu setengah tahun.
“Kenapa kamu nggak pernah buka?”
Dan anak itu mengangkat bahunya dengan cara yang membuatku ingin mengangkat seluruh tubuhnya dari lantai itu.
“Takut Ibu berhenti.”
Aku menutup mulutku dengan tangan dan menahan selama mungkin sepuluh detik.
“Bu.”
“Sebentar.”
“Bu, jangan nangis—“
“Sebentar, Nak.”
Aku menghitung sampai enam puluh.
Lalu aku menurunkan tanganku.
“Ibu mau minta maaf,” kataku. “Bukan yang soal Ibu pergi. Yang itu terlalu besar dan Ibu belum tahu cara minta maafnya dan mungkin nggak akan pernah tahu.”
Dia menunggu.
“Ibu mau minta maaf soal ini.” Aku menunjuk lantai di antara kami. “Satu setengah tahun, Nak. Ibu ada di rumah yang sama sama kamu, dua belas langkah, dan Ibu nggak pernah masuk.”
“Ibu sibuk.”
“Ibu nggak sibuk.”
“Ibu—“
“Ibu takut,” kataku. “Itu aja. Ibu takut kamu nggak butuh Ibu, dan Ibu lebih milih nggak tahu daripada tahu.”
Anak itu menatapku.
“Kira juga,” katanya.
“Kamu juga apa?”
“Kira juga takut.” Dia menunduk ke bukunya. “Kira takut kalau Kira buka pintunya, terus Ibu masuk, terus Ibu nanya Kira mau ikut siapa.”
Aku memandangi buku di pangkuannya.
Dia mengikuti arah pandanganku dan langsung menekannya lebih rapat ke perutnya.
“Kirana.”
“Ini bukan apa-apa, Bu.”
“Ibu sudah lihat.”
Dia berhenti bernapas.
“Bulan lalu,” kataku. “Kaki kasurnya longgar. Ibu angkat buat lihat. Ibu nemu.”
“Ibu baca?”
“Ibu baca semuanya.”
Wajah anak itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kutanggung dan aku hampir mundur.
“Bu— “ Suaranya naik. “Bu, itu— Kira nggak maksud— itu bukan buat nyalahin Ayah—“
“Ibu tahu.”
“Ayah nggak salah apa-apa, Bu. Ayah— “ Dia sudah menangis. “Ayah udah usaha, Ayah kerja tiap hari, Ayah nggak pernah—“
“Kirana.”
“Jangan bilang Ayah, Bu. Tolong. Jangan bilang Ayah.”
Dan aku menyadari, di lantai kamar itu, jam sebelas lewat, apa yang sebenarnya paling ditakuti anak ini.
Bukan aku tahu.
Bapaknya tahu.
“Ibu nggak akan bilang,” kataku. “Ibu janji.”
Bohong. Aku sudah memberitahunya dua minggu lalu di kios, dan laki-laki itu berdiri membelakangiku selama satu menit penuh sambil memegang pinggiran rak.
Tapi malam itu aku memilih berbohong, dan itu satu-satunya kebohongan yang tidak kusesali seumur hidupku.
“Boleh Ibu tanya satu soal bukunya?”
Dia mengangguk.
“Halamannya tinggal berapa?”
Anak itu menoleh cepat.
“Ibu ngitung?”
“Ibu ngitung.”
“...Tiga.”
“Dulu berapa?”
“Waktu Ibu nemu, empat.”
Aku menatapnya.
“Kirana, kenapa kamu nulis kecil-kecil sekarang?”
Dan dia menjawabnya dengan suara yang sangat pelan, dan jawabannya adalah kalimat yang membuatku akhirnya mengerti apa yang sudah satu setengah tahun terjadi di rumah ini tanpa aku lihat.
“Biar nggak habis.”
“Kenapa nggak boleh habis?”
“Karena kalau habis, Kira harus ganti buku.”
“Terus?”
“Terus buku yang lama ditutup.” Dia menggenggam ujung sampul kertas kado itu. “Kalau ditutup artinya selesai.”
Aku tidak bisa bicara.
“Kira nggak mau ada yang selesai, Bu.”
Kami duduk di lantai itu lama sekali.
Lalu aku berdiri, dan aku keluar, dan anak itu memanggil “Bu?” dengan nada panik seperti orang yang mengira dia baru saja salah bicara — dan aku bilang “sebentar, Ibu ambil sesuatu.”
Aku ke kamarku.
Aku membuka laci paling bawah, yang tidak pernah kubuka, yang isinya barang-barang yang kubawa dari rumah petak sembilan tahun lalu dalam satu kantong plastik dan tidak pernah kubongkar.
Aku mengambil satu benda.
Aku kembali, dan duduk lagi di karpet, dan menaruhnya di lantai di antara kami.
Foto.
Ukurannya kecil, sudah menguning, pinggirnya melengkung. Diambil di rumah petak, di depan pintu, tahun kedua.
Perempuan umur dua puluh tiga menggendong bayi. Bayinya pakai topi rajut kuning. Ada lubang kecil di puncak topinya karena perempuan itu salah hitung di bagian atas dan tidak pernah memperbaikinya.
Anak itu mengambil foto itu dengan dua tangan.
“Bu.”
“Hm.”
“Topinya—“
“Ibu tahu kamu punya.”
Dia mengangkat wajah.
“Di ransel,” kataku. “Sudut kamar. Setahun setengah.”
“Ibu—“
“Kenapa kamu nggak pernah nunjukin ke Ibu?”
Dan anak sebelas tahun itu memandangi foto di tangannya, dan menjawab tanpa ragu sedikit pun, seperti orang yang sudah lama tahu jawabannya dan cuma menunggu ada yang bertanya.
“Karena nanti Ibu nangis.”
Aku memeluknya di lantai kamar itu jam dua belas kurang.
Bukan pelukan yang bagus. Kami berdua canggung. Tanganku salah tempat dan dia tidak tahu harus menaruh kepalanya di mana dan kami sempat menyenggol lampu meja.
Satu setengah tahun.
Sembilan tahun.
“Nak.”
“Iya, Bu.”
“Ibu boleh sering-sering masuk sini?”
“Boleh, Bu.”
“Kamu nggak keberatan?”
Anak itu menempelkan keningnya ke bahuku.
“Kira udah nunggu, Bu.”
Aku tidak tidur malam itu.
Aku duduk di ruang tengah sampai jam tiga, sendirian, dengan lampu sudut menyala.
Dan sekitar jam dua, aku akhirnya melakukan hitungan yang sudah kuhindari selama dua puluh sembilan hari.
Aku menghitung berapa banyak yang akan hilang dariku.
Sarapan berdua. Bunyi kaki di tangga jam enam. Pintu kamar yang menyala di bawahnya. Suara “iya, Pak Ujang” setiap pagi. Setahun setengah, dan aku baru mulai empat jam lalu.
Aku menghitungnya sampai habis dan angkanya besar sekali.
Lalu aku menghitung yang satunya.
Halaman JANGAN LUPA: empat halaman, tidak bertambah satu baris pun dalam setahun setengah.
Sisa halaman buku: tiga.
Anak yang menulis kecil-kecil di margin supaya sesuatu tidak selesai.
Dan aku duduk di ruang tengah rumahku sendiri dan mengakui hal yang paling sederhana dan paling terlambat di seluruh hidupku:
Anakku tidak sedang tumbuh di rumah ini.
Anakku sedang menunggu di rumah ini.
Dan aku sudah satu setengah tahun berdiri di depan pintunya setiap malam, menghitung sampai dua ratus dua puluh delapan, dan menyebut itu sebagai menjaga.
Aku mengetuk kamar Bram jam setengah empat.
“Mas.”
“Hm— Van? Jam berapa ini?”
“Setengah empat.”
Dia duduk. Menyalakan lampu.
“Kamu kenapa?”
“Besok bulannya habis.”
Dia menatapku.
“Van.”
“Aku mau antar dia sendiri,” kataku. “Bukan kamu yang nyetir. Aku.”
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan reading
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis