Chapter Three
Telat Lima Menit
POV: Adam
Rabu pagi, mesin cuci Bu Sri di blok C tidak mau memutar.
Aku sudah bilang tidak bisa hari itu. Aku bilang Kamis. Tapi Bu Sri bilang cuciannya sudah menumpuk tiga hari dan anaknya besok wisuda, dan orang yang menyebut kata wisuda di depan tukang servis itu curang, karena tidak ada tukang servis yang bisa menolak setelah mendengarnya.
Jam sembilan aku sudah di belakang mesin cucinya. Van belt-nya putus. Dua puluh menit kalau ada barangnya, dan barangnya ada, karena aku menyimpan tiga di tas sejak dulu.
Jam sembilan lewat empat puluh aku selesai. Jam sembilan lima puluh aku sudah di jalan.
Jam sepuluh lewat lima aku baru sampai di gerbang sekolah.
Aku mencuci tangan di keran depan kelas satu, di bawah tulisan CUCI TANGAN SEBELUM MASUK KELAS yang catnya sudah mengelupas. Sabun tidak ada. Air saja tidak cukup untuk gemuk mesin cuci — dia masuk ke garis-garis di telapak dan ke bawah kuku dan tinggal di situ sampai besok.
Aku menggosok sampai keran mengeluarkan bunyi kosong, lalu menyerah, lalu masuk.
Ruang guru ada di ujung koridor. Pintunya terbuka. Di dalam ada tiga meja, dua kosong, satu ditempati perempuan yang sedang mengoreksi dengan pulpen merah dan mengetuk-ngetukkan tumitnya ke lantai dengan ritme cepat.
Aku mengetuk kusen.
“Permisi.”
Dia mendongak.
Dua hal terjadi di wajahnya berurutan, cepat sekali, tapi aku sempat melihat keduanya. Yang pertama, dia melihat jam di dinding. Yang kedua, dia melihatku dan alisnya turun sedikit, seperti orang yang menemukan barang di rak yang salah.
“Wali murid?”
“Iya.”
“Muridnya siapa?”
“Kirana Prayoga. Empat B.”
Dia meletakkan pulpennya.
“Kakaknya?”
“Bukan.”
“Om-nya?”
“Bukan.”
“Sepupunya?” Dia sudah berdiri sekarang, dan nada suaranya berubah jadi nada orang yang mulai kesal pada teka-teki yang dia sendiri buat. “Mas, saya nggak bisa kasih informasi soal murid ke sembarang orang. Harus wali resmi.”
“Saya ayahnya.”
Perempuan itu berhenti.
Dia memandangiku dari kepala sampai sepatu. Kaus oblong. Celana kerja yang lututnya sudah pudar. Tas selempang yang talinya pernah kujahit ulang sendiri dengan benang yang warnanya beda.
“Ayahnya.”
“Iya.”
“Ayah kandung.”
“Iya, Bu.”
“Bapak umur berapa?”
“Tiga puluh tiga.”
Dia diam sebentar. Lalu, dengan suara yang jelas-jelas ditujukan untuk dirinya sendiri tapi keras juga: “Ya Allah. Saya kira anak kuliahan.”
“Sering,” kataku.
“Sering apa?”
“Sering dikira.”
Dia menarik kursi di depan mejanya, menunjuknya dengan dagu, dan sebelum aku sempat duduk, dia melihat jam dinding lagi, lalu melihatku.
“Bapak telat lima menit lagi.”
“Lagi?”
“Kata Kirana, Bapak selalu telat lima menit ke mana-mana.” Dia duduk, membuka map, dan tidak mendongak waktu bicara. “Kata dia, kalau Bapak janji jam tujuh, datangnya jam tujuh lewat lima. Tiap kali. Nggak pernah sepuluh, nggak pernah dua. Lima.”
Aku duduk.
Ada rasa aneh mendengar kebiasaanku sendiri diceritakan kembali oleh orang asing, dengan ketelitian yang cuma bisa datang dari seseorang yang mengamatiku bertahun-tahun tanpa pernah bilang.
“Nama saya Tamara,” katanya. “Wali kelas empat B.”
“Adam.”
“Saya tahu.” Dia membalik satu lembar. “Adam Prayoga. Pekerjaan: wiraswasta.”
“Itu saya yang nulis waktu daftar.”
“Wiraswasta apa?”
“Servis elektronik.”
Dia mendongak, matanya turun sekilas ke tanganku yang kutaruh di pangkuan, ke garis-garis hitam yang tidak mau hilang itu, lalu naik lagi. Aku menggeser tangan ke bawah meja.
“Nggak usah disembunyiin,” katanya. “Saya guru SD. Tangan saya tiap hari kena spidol, lem, muntah anak orang. Yang tadi saya lihat itu kerja.”
Yang dia panggil aku untuk itu ada dua.
Yang pertama resmi.
“SPP Kirana nunggak empat bulan,” katanya, dan dia menyebutkannya datar, tanpa dilembut-lembutkan, dan aku bersyukur untuk itu. Orang yang melembutkan angka biasanya sedang menyiapkan kasihan.
“Berapa totalnya?”
“Enam ratus.”
Aku mengangguk. Di kepalaku sudah mulai jalan hitungannya. Dispenser yang belum diambil orangnya, itu delapan puluh kalau jadi. Mesin cuci Bu Sri hari ini seratus dua puluh. Kalau minggu depan ada tiga panggilan.
“Bisa dicicil?”
“Bisa. Bapak bilang saja mampunya berapa, nanti saya yang urus ke tata usaha.”
“Dua ratus bulan ini.”
“Oke.”
Dia menulis. Tidak bertanya kenapa. Tidak bertanya ke mana ibunya. Tidak menawarkan keringanan dengan nada yang bikin orang merasa harus berterima kasih tiga kali. Cuma menulis, lalu menutup map, lalu mendorongnya ke samping seperti orang menyingkirkan piring kotor supaya bisa mulai makan.
Yang kedua tidak resmi.
“Sekarang yang beneran,” katanya.
“Tadi bukan yang beneran?”
“Tadi cuma alasan buat manggil Bapak.”
Aku menunggu.
Tamara menyatukan kedua tangannya di atas meja.
“Anak Bapak nggak pernah jajan.”
“Dia dikasih uang jajan.”
“Saya tahu. Saya nggak bilang Bapak nggak kasih.” Dia mengetuk meja sekali dengan telunjuk. “Saya bilang dia nggak pernah pakai. Sudah saya perhatikan dari Agustus. Dia bawa botol air dari rumah, dia duduk di kelas waktu istirahat, dan kalau ada yang nawarin, dia bilang sudah makan dari rumah.”
“Mungkin memang sudah.”
“Jam sembilan pagi, tiap hari, sudah kenyang?”
Aku tidak menjawab.
“Kemarin ada anak namanya Dimas nawarin dia cilok. Gratis. Anak itu nolak.” Tamara menyandarkan punggungnya. “Anak kelas empat, Pak. Kelas empat itu makhluk yang kalau ada makanan gratis di radius sepuluh meter, dia sudah di sana sebelum ada yang bilang apa-apa. Anak Bapak nolak makanan gratis. Dua kali saya lihat.”
Ada sesuatu yang naik dari perutku ke tenggorokan dan berhenti di situ.
“Saya nggak pernah nyuruh dia begitu.”
“Saya tahu Bapak nggak pernah nyuruh.” Suaranya turun, dan aku baru mengerti apa yang dimaksud Kira waktu bilang Bu Tamara kalau serius suaranya jadi pelan. “Justru itu yang saya mau omongin. Anak yang disuruh irit itu ngeluh. Anak yang mikir sendiri itu diam.”
Di luar, bel berbunyi. Suara ratusan sandal menghambur di koridor. Di ruangan ini tidak ada yang bergerak.
“Bapak tahu dia nyimpen uang jajannya?”
“Nggak.”
“Sekarang tahu.”
Aku memandangi permukaan meja itu. Ada bekas lingkaran gelas, tiga buah, saling tumpang tindih.
“Ibu manggil saya buat kasih tahu itu?”
“Saya manggil Bapak buat lihat Bapak.”
Aku mendongak.
“Saya sudah baca berkasnya,” katanya, dan untuk pertama kalinya sejak aku masuk ruangan ini, dia terdengar hati-hati. “Ibunya nggak ada. Yang antar-jemput Bapak. Yang tanda tangan Bapak. Yang bayar Bapak. Sendirian, delapan tahun.”
“Saya nggak sendirian. Ada anak saya.”
Tamara menatapku lama sekali setelah itu, dan aku tidak tahu apa yang dia cari, dan aku tidak tahu apakah dia menemukannya.
Lalu dia berdiri.
“Ya sudah. Dua ratus bulan ini, sisanya nanti kita atur.” Dia mengulurkan tangan, dan aku ragu sepersekian detik karena tanganku, dan dia melihat keraguan itu dan justru mengulurkan lebih jauh. “Saya nggak jijik, Pak. Salaman.”
Aku menyalaminya.
“Terima kasih, Bu.”
“Belum apa-apa juga.”
Aku sudah di ambang pintu waktu dia bicara lagi.
“Pak Adam.”
Aku menoleh.
Di tangannya ada selembar kertas. Kertas folio bergaris, tulisan tangan anak-anak, penuh sampai bawah dan masih menyambung di baliknya.
“Ini karangan anak Bapak. Tugas Bahasa Indonesia minggu lalu. Tema bebas.”
Aku melangkah kembali dan mengulurkan tangan.
Tamara tidak memberikannya.
Dia menariknya sedikit, menahannya di dadanya, dan wajahnya melakukan hal yang tidak dilakukannya sepanjang setengah jam terakhir — dia melihat ke bawah duluan.
“Bukan sekarang,” katanya.
“Kenapa?”
“Karena kalau Bapak baca ini sekarang, Bapak nggak bisa kerja seharian.”
Dia memasukkannya ke laci, dan menutup laci itu, dan pulpen merahnya sudah di tangannya lagi sebelum aku sempat bertanya apa-apa.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit reading
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis