Chapter Forty Two

Yang Sudah Lama Dia Tahu

POV: Vanya

Suamiku pulang jam delapan dan aku sudah duduk di ruang tengah sejak jam empat.

Tanpa TV. Tanpa ponsel. Lampu cuma yang di sudut.

“Van?”

“Mas, duduk.”

Dia menaruh tasnya. Melepas jamnya. Duduk di seberang.

“Kirana?”

“Di kamar. Tidur.”

“Kamu kenapa?”

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, jadi aku mulai dari bagian yang paling tidak penting.

“Kaki kasurnya longgar.”

“Kasur siapa?”

“Kirana.”

Bram menunggu.

“Aku angkat buat lihat,” kataku. “Ada buku di bawahnya.”

Dan suamiku — laki-laki yang selama ini selalu bertanya, selalu meminta penjelasan, selalu butuh dijelaskan dua kali — tidak bertanya apa-apa.

Dia cuma menutup matanya sebentar dan menghela napas.

Dan aku mengenali napas itu.

Itu napas orang yang sudah tahu.


“Kamu tahu.”

“Van—“

“Mas.”

“Iya,” katanya. “Aku tahu.”

Aku menatapnya.

“Sudah berapa lama?”

“Sepuluh bulan.”

Ruangan itu tidak ada bunyi apa-apa selama beberapa detik.

“Sepuluh bulan.”

“Aku nggak baca isinya,” katanya cepat. “Sumpah, Van. Aku nggak pernah buka.”

“Terus gimana kamu tahu?”

“Aku lihat dia nulis.” Dia menggosok wajahnya dengan satu tangan. “Malam-malam. Pintunya kebuka sedikit. Dia duduk di karpet, nulis di buku sampul kertas kado, terus dia dengar aku lewat terus dia tutup cepat-cepat.”

“Terus?”

“Terus besoknya aku lihat lagi. Terus minggu depannya.” Bram menatap lantai. “Aku nggak buka bukunya, Van. Tapi aku nggak perlu buka buat tahu itu bukan PR.”


“Kenapa kamu nggak bilang?”

“Aku bilang.”

“Kapan?”

“Waktu remote pagar itu.”

Aku membuka mulut dan tidak ada yang keluar.

“Aku bilang ke kamu di dapur, malam itu,” katanya. “Aku bilang aku beliin dia sepeda dua juta empat dan dia cuma senyum, terus dia benerin remote pakai penghapus dan ketawa buat pertama kalinya.”

“Itu bukan soal buku.”

“Itu soal hal yang sama.”

“Bukan hal yang sama, Mas.”

“Van.” Dia mengangkat wajah. “Aku bilang ke kamu waktu itu: harusnya aku nanya dia bisa apa, bukan dia mau apa. Kamu jawab apa?”

Aku ingat.

Aku ingat persis apa yang aku jawab, karena aku sudah mengulangnya di kepalaku beberapa kali sejak siang tadi.

“Aku bilang dia anak-anak, jangan disuruh benerin barang.”

“Iya.”

“Aku bilang jangan dibesar-besarin.”

“Iya, Van.”


Aku memeluk lututku di sofa itu seperti orang berumur enam belas.

“Kenapa kamu nggak maksa?”

“Karena aku bukan bapaknya.”

“Mas—“

“Aku bukan bapaknya, Van, dan aku sudah setuju sejak awal bahwa aku bukan bapaknya.” Suaranya tidak keras. “Kalau aku maksa kamu soal anak itu, aku ngelewatin garis, dan yang bikin garisnya bukan kamu. Aku sendiri.”

“Kamu bisa bilang aja—“

“Aku sudah bilang tiga kali.”

Aku berhenti.

“Yang remote, itu satu,” katanya. “Yang kedua waktu dia benerin AC ruang meeting di kantorku, dan aku pulang terus cerita ke kamu, dan kamu bilang ‘wah pinter ya’.”

Aku menatapnya.

“Yang ketiga bulan Mei,” lanjutnya. “Waktu aku tanya kamu, apa kamu pernah mikir dia mau pulang.”

Dan aku ingat itu juga.

Aku ingat aku menjawabnya dengan cepat sekali, terlalu cepat, dan aku ingat aku berdiri dan pergi ke dapur di tengah percakapan itu.

“Aku bilang dia sudah adaptasi,” kataku pelan.

“Iya.”

“Aku bilang teleponnya sudah aku kurangi dan dia sudah nggak diam sampai Selasa lagi.”

“Iya, Van.”

“Dan itu benar.”

“Itu benar,” katanya. “Dia memang sudah nggak diam sampai Selasa lagi.”

Dia menatapku.

“Karena teleponnya cuma dua minggu sekali, jadi sedihnya juga cuma dua minggu sekali.”


Aku menangis lagi dan aku sudah bosan menangis hari itu.

Bram tidak mendekat. Dia tetap di kursinya, dan aku bersyukur untuk itu.

“Van, boleh aku ngomong satu hal yang bakal bikin kamu marah?”

“Ngomong.”

“Kamu nggak salah ngambil dia.”

Aku mengangkat wajah.

“Aku serius,” katanya. “Anak itu SPP-nya nunggak empat bulan. Giginya bolong dua, yang satu sudah hitam pinggirannya. Dia belum pernah ke dokter sejak umur lima.”

“Mas—“

“Kamu bawa dia ke sini dan sekarang giginya beres dan dia sekolah tanpa nunggak dan dia ke dokter tiap kali sakit.” Dia mencondongkan badan. “Itu bukan hal kecil, Van. Itu bukan hal yang bisa kamu anggap salah cuma karena hari ini kamu nemu buku.”

“Terus kenapa dadaku begini?”

“Karena kamu benar soal yang kamu urus,” katanya, “dan kamu salah soal yang kamu kira sudah selesai.”


Dia berdiri dan mengambil dua gelas air dan kembali dan duduk lagi.

“Van, aku mau tanya, dan aku minta kamu jawab jujur, bukan jawab yang bagus.”

“Tanya.”

“Waktu kamu ambil dia,” katanya, “kamu ambil dia buat dia, atau buat kamu?”

Aku memegang gelas itu dengan dua tangan.

“Aku sudah mikirin itu dari jam sebelas siang,” kataku.

“Terus?”

“Dua-duanya.”

“Mana yang lebih besar?”

Aku tidak menjawab lama sekali.

“Waktu itu aku yakin buat dia,” kataku akhirnya. “Aku punya daftarnya. Aku hafal semuanya. SPP, gigi, sepatu, dokter. Aku sebutin semua di warung Bu Nur pagi itu dan aku benar semua.”

“Iya.”

“Tapi aku nggak pernah nanya satu hal ke diriku sendiri.” Suaraku pecah. “Kalau ada orang lain yang bisa bayarin semua itu — bukan aku, orang lain, siapa pun — apa aku tetap mau ambil dia?”

Bram tidak menjawab.

“Aku tetap mau, Mas.”

“Van.”

“Aku tetap mau.” Aku menyeka wajahku. “Berarti bukan soal giginya.”


Kami duduk sampai jam sebelas.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu tahu apa yang paling nggak bisa aku terima dari buku itu?”

“Apa?”

“Bukan angkanya.” Aku menatap gelas yang sudah kosong. “Di halaman yang judulnya JANGAN LUPA, dia nulis semua yang dia takut lupa soal bapaknya. Empat halaman.”

“Terus?”

“Nggak ada satu pun soal aku.”

Bram diam.

“Dan itu masuk akal,” kataku cepat, karena aku tidak mau dia menghiburku. “Itu adil. Aku pergi waktu dia dua tahun. Nggak ada yang bisa dia ingat. Nggak ada yang bisa dia takut lupa.”

“Van—“

“Tapi Mas.” Aku mengangkat wajah. “Setahun setengah dia di sini. Setahun setengah. Dan halaman itu masih empat halaman.”

Aku menaruh gelasnya di meja.

“Dia nggak nambahin apa-apa.”


Bram naik duluan jam setengah dua belas.

Aku bilang aku menyusul.

Aku tidak menyusul.

Aku naik tangga jam dua belas kurang lima, dan aku berjalan di lorong seperti setiap malam selama setahun setengah, dan aku berhenti di depan pintu kamar nomor dua dari tangga seperti setiap malam selama setahun setengah.

Di dalam gelap. Anak itu sudah tidur.

Aku berdiri di situ.

Dan aku menghitung, karena malam itu aku memutuskan untuk berhenti berbohong pada diriku sendiri tentang apa yang sebenarnya kulakukan di depan pintu ini setiap malam.

Aku tidak berdiri di sini untuk mengecek anakku.

Aku berdiri di sini karena selama aku berdiri di sini, aku belum harus masuk.

Dan selama aku belum masuk, aku belum harus tahu.

Dan sekarang aku sudah tahu, dan pintu ini tetap tidak terbuka, karena ternyata bukan pintunya yang berat.

Aku menghitung sampai dua ratus dua puluh delapan dan turun.