Chapter Ten

Penelitian

POV: Kira

Yang pertama harus dilakukan kalau mau tahu sesuatu adalah mengumpulkan data.

Bu Tamara sendiri yang bilang. Waktu pelajaran IPA tentang percobaan. Katanya jangan langsung menyimpulkan, kumpulkan dulu, catat, baru simpulkan.

Jadi aku kumpulkan.

Data nomor satu. Sejak Bu Tamara ke rumah, Ayah cuci tangan lebih lama. Dulu tiga kali gosok. Sekarang aku hitung tujuh. Pakai sabun colek, sampai busanya abu-abu.

Data nomor dua. Ayah beli kancing.

Ini yang paling aneh. Hari Jumat aku lihat di meja ada bungkus kecil isi dua belas kancing putih, harganya tiga ribu, sama jarum sama benang. Ayah menjahit kancing kemejanya sendiri malam-malam pakai kacamata baca bekas yang biasanya cuma dipakai buat lihat rangkaian.

Ayah cuma punya satu kemeja.

Satu kemeja, dua belas kancing.

Data nomor tiga. Hari Senin Ayah nanya ke aku, sambil ngerjain setrika orang, nadanya biasa banget, terlalu biasa: “Ra, Bu Tamara itu... orangnya galak, ya, di kelas?”

Aku jawab, “Nggak.”

Terus Ayah nggak nanya apa-apa lagi.

Tapi obengnya nggak jalan selama sepuluh detik.

Aku hitung.


Bu Tamara juga aku teliti.

Ini lebih susah, karena Bu Tamara pintar dan aku muridnya.

Tapi ada satu yang tidak bisa dia sembunyikan.

Kalau bel pulang bunyi, semua guru langsung ke ruang guru. Bu Tamara juga. Tapi kalau hari Selasa dan Kamis — hari Ayah menjemput — Bu Tamara antar kami sampai gerbang.

Senin, Rabu, Jumat tidak.

Aku catat selama tiga minggu.

Selasa: iya. Kamis: iya. Selasa: iya. Kamis: iya. Selasa: hujan, tetap iya, pakai payung.

Itu namanya pola. Bu Tamara sendiri yang ngajarin apa itu pola.


Hari Kamis aku dapat data terbaik.

Ulangan Matematika dibagikan, dan Bu Tamara bilang yang nilainya di bawah tujuh puluh harus ditandatangani orang tua. Punyaku sembilan puluh dua jadi aku tidak perlu.

Tapi Bu Tamara memanggil Ayah di gerbang.

“Pak Adam, sebentar.”

Ayah turun dari motor. Aku sudah duduk di jok belakang, jadi tinggiku pas, jadi aku lihat semuanya dari jarak satu meter dan mereka lupa aku ada.

Bu Tamara mengulurkan kertas ulanganku.

“Ini punya Kirana. Nggak perlu tanda tangan, cuma buat dilihat.”

“Berapa?”

“Lihat sendiri.”

Ayah mengambilnya.

Dan di situ terjadi.

Jari mereka bersentuhan di pinggir kertas, dan Ayah menarik, dan Bu Tamara tidak melepas.

Aku serius. Tidak melepas.

Kertasnya ketarik dua arah. Ayah berhenti menarik. Bu Tamara masih pegang.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik.

Ayah melihat ke kertas. Bu Tamara melihat ke Ayah.

Ayah tidak mengangkat kepala.

“Bu.”

“Hm.”

“Kertasnya.”

“Iya, kenapa.”

“Belum dilepas.”

“Oh.” Bu Tamara melepas, pelan-pelan, satu jari satu jari, seperti orang yang sengaja. “Maaf ya, Pak. Tangan saya suka lupa.”

Kupingnya Ayah merah.

Aku hafal telinga Ayah. Ayah kalau capek telinganya nggak merah. Ayah kalau panas-panasan seharian mukanya yang merah, bukan telinganya. Ini beda.

“Sembilan puluh dua,” kata Ayah, cepat, kayak orang yang ganti topik.

“Iya. Yang salah cuma soal cerita nomor lima.”

“Yang mana?”

Bu Tamara mendekat untuk menunjuk.

Ayah mundur setengah langkah.

Bu Tamara maju lagi setengah langkah, dan menunjuk soal nomor lima, dan bahunya menempel di lengan Ayah waktu menunjuk, dan dia sama sekali tidak kelihatan sadar.

Dia sadar. Aku tahu dia sadar. Bu Tamara itu bisa tahu siapa yang nyontek dari belakang tanpa nengok.

“Ini,” katanya. “Ibu beli sepuluh telur, tiga pecah, berapa sisanya. Kirana jawab tujuh.”

“Tujuh benar.”

“Iya, benar. Tapi dia nulis di bawahnya.” Bu Tamara membalik kertasnya. “Coba baca.”

Ayah membaca.

Aku sudah tahu isinya karena aku yang nulis. Aku nulis di bawah jawaban: tapi yang tiga pecah masih bisa dipakai kalau langsung digoreng, jadi sebenernya nggak rugi.

Ayah lama sekali membaca kalimat sependek itu.

“Saya kasih sembilan puluh dua,” kata Bu Tamara pelan, “karena nggak ada kolom nilai buat yang begini.”

Ayah melipat kertasnya dan memasukkannya ke saku dan tidak bilang apa-apa.


Di jalan pulang aku mulai penelitian bagian dua, yaitu wawancara.

“Ayah.”

“Hm.”

“Bu Tamara cantik nggak?”

Motor sedikit oleng.

“Ra.”

“Kenapa? Kira nanya doang.”

“Nggak usah nanya yang begitu.”

“Berarti cantik.”

“Ra.”

“Kalo nggak cantik, Ayah bakal langsung bilang nggak.” Aku menempelkan pipi ke punggung Ayah. “Ayah kalo nggak nemu jawabannya artinya iya.”

Ayah tidak menjawab sampai lampu merah.

Terus di lampu merah dia bilang, “Kamu dapat teori itu dari mana?”

“Dari Ayah.”

“Ayah nggak pernah ngajarin.”

“Ayah nggak pernah ngajarin, tapi Ayah selalu gitu.”

Lampu hijau. Motor jalan. Ayah tidak membalas.

Aku menang.


Malam itu aku buka bukuku dan aku tidak menulis hutang.

Aku tulis di halaman belakang, halaman yang masih kosong, yang aku sisakan buat hal-hal yang bukan angka.

PENELITIAN: Bu Tamara sama Ayah.

Bukti 1: Ayah cuci tangan 7x (dulu 3x)Bukti 2: Ayah beli kancing 12 biji padahal kemejanya 1Bukti 3: Bu Tamara antar sampai gerbang cuma hari Selasa sama KamisBukti 4: Bu Tamara nggak lepas kertas selama 3 detikBukti 5: kuping Ayah merah

KESIMPULAN SEMENTARA: iya.

Terus aku diam agak lama, dan aku tulis satu lagi di bawahnya, lebih kecil, karena yang ini bukan bukti.

Ayah ketawa 4x hari ini. Biasanya 1x. Kadang 0x.


Yang aku pikirkan waktu mau tidur bukan itu semua sebenarnya.

Yang aku pikirkan adalah rumah kami cuma ada satu kamar.

Kalau ada orang lain, tidurnya di mana.

Terus aku pikir lagi: berarti kalau ada orang lain, harus ada rumah yang lebih besar, dan rumah yang lebih besar itu mahal, dan berarti bukunya nambah lagi.

Terus aku pikir lagi: tapi Bu Tamara guru. Guru itu punya gaji tiap bulan. Ayah dapat uang cuma kalau ada yang rusak.

Kalau Bu Tamara ada, mungkin Ayah nggak usah nggak makan siang hari Selasa.

Aku memikirkan itu lama sekali sampai dadaku sesak, dan aku tidak tahu kenapa sesak, padahal isi pikirannya bagus.

Ayah masuk kamar jam sebelas. Aku pura-pura tidur.

Ayah duduk di pinggir kasur dan membetulkan selimutku, dan aku dengar dia mengeluarkan kertas dari saku, dan membukanya, dan diam.

Kertas ulangan.

Ayah membacanya lagi. Dalam gelap. Dengan penerangan dari lampu ruang depan yang masuk lewat pintu.

Terus Ayah melipatnya, dan menghela napas, dan bilang sesuatu yang sangat pelan sampai aku hampir tidak dengar.

“Anak siapa sih kamu ini.”

Aku hampir jawab. Hampir.

Tapi kalau aku jawab, ketahuan aku belum tidur, dan Ayah tidak akan pernah bilang begitu lagi.


Besoknya, waktu istirahat, aku ke ruang guru sendirian.

Bu Tamara lagi mengoreksi. Yang lain tidak ada.

“Bu.”

“Kenapa, Kirana?”

Aku berdiri di depan mejanya dan mengumpulkan seluruh keberanian yang aku punya, dan tetap saja suaraku keluar lebih kecil dari yang aku mau.

“Kalau Bu Tamara jadi ibunya Kira, gimana?”

Pulpen merah itu berhenti.