Chapter Forty One
Sampul Kertas Kado
POV: Vanya
Aku menemukannya karena hal paling sepele di dunia: kasurnya berdecit.
Anak itu sedang di sekolah. Aku masuk untuk membuka jendela, seperti setiap pagi, dan waktu aku lewat aku menyenggol ujung kasur dan ada bunyi.
Bunyi kayu bergesek.
Aku menekannya sekali lagi. Bunyi lagi.
Kaki kasurnya longgar. Itu saja. Aku sudah mau menelepon orangnya waktu aku berpikir untuk melihat dulu, karena barangkali cuma sekrup, karena—
Aku berhenti di tengah pikiran itu.
Karena barangkali cuma sekrup.
Sembilan tahun. Aku sudah sembilan tahun tidak berpikir seperti itu tentang apa pun.
Aku mengangkat ujung kasur itu untuk melihat kakinya.
Dan di bawah, di tengah, di tempat yang harus benar-benar dicari untuk ditemukan, ada buku tulis.
Sampulnya dilapis kertas kado.
Motif bintang-bintang, warnanya sudah pudar sebelah karena kena sesuatu, dan di pinggirnya sudah terkelupas dan ditempel ulang pakai selotip yang juga sudah menguning.
Aku memegangnya di tangan.
Aku tahu apa yang benar. Aku tahu persis apa yang benar; aku bukan orang bodoh dan aku bukan orang jahat. Anak umur sebelas tahun berhak punya buku yang disembunyikan di bawah kasur. Aku juga punya waktu seumur itu.
Aku duduk di lantai dengan buku itu di pangkuan selama mungkin empat menit.
Lalu aku membukanya.
Dan aku ingin mencatat, untuk diriku sendiri, bahwa aku tidak membukanya untuk mengintip.
Aku membukanya karena tanganku bergerak sendiri, dan karena di dalam diriku ada sesuatu yang sudah tahu — sudah lama tahu, sejak malam pertama aku berdiri di depan pintu itu dan tidak berani masuk — bahwa ada sesuatu di rumah ini yang tidak kuketahui, dan aku sudah lelah tidak mengetahuinya.
Halaman pertama ditulis pakai spidol. Huruf besar semua. Miring ke kanan, tulisan anak yang baru belajar menulis besar-besar.
NANTI KALAU KIRA BESAR, KIRA LUNASIN.
Aku membalik halaman.
Sepatu 85.000Tas sekolah 60.000 (bekas, kata Ayah baru)Obat batuk 12.000SPP Januari — Ayah bilang udah, tapi belumBuku LKS 4 x 15.000
Aku membalik lagi.
Sandal jepit 15.000Kaos kaki 2 pasang 18.000Ayah beliin es krim, 5.000. Kira bilang nggak usah tapi Ayah maksa. Kira makan setengah, setengahnya Kira bilang kekenyangan biar Ayah yang habisin. Ayah nggak makan siang hari itu.
Aku menutup buku itu.
Aku membukanya lagi.
Tulisannya berubah sepanjang buku.
Di awal besar-besar dan miring. Di tengah mulai rapi. Di bagian akhir kecil sekali, rapat, sampai ke pinggir kertas, di margin, di tempat yang biasanya kosong — seperti orang yang sedang menghemat.
Ayah nggak makan siang hari Selasa. Kira nggak tau berapa.
Aku membaca baris itu tiga kali.
Kira nggak tau berapa.
Anak itu mencoba memberi harga pada bapaknya yang tidak makan siang, dan tidak berhasil, dan menuliskannya sebagai catatan untuk dilengkapi nanti.
Ada halaman yang judulnya di pojok, kecil: PENELITIAN: Bu Tamara sama Ayah.
Bukti 1: Ayah cuci tangan 7x (dulu 3x)Bukti 2: Ayah beli kancing 12 biji padahal kemejanya 1Bukti 3: Bu Tamara antar sampai gerbang cuma hari Selasa sama KamisBukti 4: Bu Tamara nggak lepas kertas selama 3 detikBukti 5: kuping Ayah merah
KESIMPULAN SEMENTARA: iya.
Ayah ketawa 4x hari ini. Biasanya 1x. Kadang 0x.
Aku menaruh tanganku di mulutku.
Bukti 6: Ayah nyetrika jam 11 malem.
KESIMPULAN: udah bukan sementara.
Anak umur sepuluh tahun mengumpulkan bukti bahwa bapaknya jatuh cinta, dan bahagia soal itu, dan mencatat jumlah tawa bapaknya sebagai data.
Ada halaman yang judulnya dicoret sampai kertasnya sobek.
Aku bisa membaca yang di bawah coretannya kalau kertasnya dimiringkan ke cahaya.
HUTANG KIRA KE
Dicoret. Berulang-ulang. Sampai bolong.
Di bawahnya ditulis lagi, lebih kecil:
DAFTAR YANG BELUM KIRA TAU MASUK MANA
Dokter gigi 2x — 1.400.000 (Kira lihat struknya di meja)Seragam baru 3 stel — kira-kira 600.000Sepatu — 450.000Sepeda — 2.400.000Makan tiap hari 3x — nggak tahu
Anak itu tidak sanggup menulis kata “IBU” sebagai judul.
Bukan karena membenciku. Kalau membenciku, gampang; dia akan menulisnya dengan huruf besar dan menikmatinya.
Dia tidak sanggup karena kalau dia menulisnya, aku dan bapaknya masuk ke kolom yang sama, dan dia tahu — anak sebelas tahun itu tahu, lebih baik daripada aku — bahwa kami bukan jenis yang sama.
Halaman terakhir yang ada tulisannya judulnya JANGAN LUPA.
Kipas ngik tiap 3 putaran. (Kira rasa 3. Kalau salah maaf.)
Lap di ember warnanya biru, ada gambar bunga udah pudar.
Pegangannya di perut Ayah, bukan jaket.
Ayah manggil Kira “Ra” kalau biasa. “Kira” kalau serius.
Bau baju Ayah kalo abis kerja: timah sama keringet.
Aku membaca daftar itu dan aku tahu persis apa yang sedang kubaca, karena aku pernah menulis daftar yang sama.
Bukan di buku. Di kepala. Tahun pertama setelah aku pergi.
Aku juga takut lupa. Aku mengulang-ulang di dalam kepala setiap malam: bau kepalanya, cara dia menggenggam jariku, bunyi napasnya waktu tidur.
Bedanya, aku berhenti mengulang setelah tahun kedua.
Anak ini tidak berhenti. Anak ini malah menuliskannya supaya tidak bisa hilang.
Dan yang paling tidak bisa kutanggung, yang membuatku akhirnya menaruh buku itu di lantai dan menekan kedua tanganku ke wajah:
Di seluruh empat halaman itu, tidak ada satu pun tentang aku.
Bukan karena dia menghapusku.
Karena dia tidak punya apa-apa untuk ditulis.
Baris terakhir di buku itu satu kalimat, sendirian, di bawah semuanya.
Kira juga nggak apa-apa.
Aku tahu kalimat itu.
Aku pernah mendengarnya. Bukan dari anak itu.
Dari suamiku, dulu, di rumah petak, waktu dia pulang jam sebelas malam dengan tangan hitam dan aku tanya dia sudah makan atau belum dan dia bilang aku nggak apa-apa, dan aku terlalu lelah dan terlalu hancur waktu itu untuk mendengar bahwa itu bukan jawaban.
Sembilan tahun.
Anak itu menyalin kalimat bapaknya dan menyimpannya di bawah kasur di rumahku.
Aku duduk di lantai kamar itu sampai jam satu siang.
Aku membacanya dari awal. Semuanya. Delapan puluh halaman, yang tiga puluh satu di antaranya berisi angka.
Aku menghitung totalnya di ponselku, karena aku juga tidak bisa berhenti menghitung, karena ternyata itu menurun.
Enam juta delapan ratus tiga puluh dua ribu.
Empat tahun.
Empat tahun catatan seorang anak tentang apa yang bapaknya keluarkan untuknya, dan totalnya enam juta delapan ratus tiga puluh dua ribu, dan sepeda yang dibelikan suamiku dan tidak pernah disentuh anak itu harganya dua juta empat.
Yang membuatku akhirnya pecah bukan angkanya.
Aku mengembalikan buku itu ke bawah kasur. Persis di tengah, persis seperti tadi, dan aku menekan kasurnya supaya bunyinya kembali seperti semula, dan aku bahkan tidak memanggil orang untuk memperbaiki kakinya karena kalau diperbaiki dia akan tahu ada yang mengangkatnya.
Lalu aku berdiri.
Dan waktu berdiri, aku melihat tas ransel di sudut, yang sudah setahun setengah tidak pernah dipakai ke mana-mana dan tidak pernah dibongkar.
Aku membukanya.
Isinya empat.
Kertas ulangan matematika bernilai sembilan puluh dua.
Selembar kertas HVS dengan cap sekolah digambar tangan, bulatnya penyok sebelah, tulisannya makin ke bawah makin kecil karena kehabisan tempat.
Sebuah obeng kecil, gagangnya dililit isolasi warna pink, sudah kotor di ujungnya.
Dan topi rajut kuning.
Kecil sekali. Muat di telapak tanganku.
Aku merajutnya sendiri di bulan ketujuh, di rumah petak, dengan benang yang kubeli di pasar seharga dua belas ribu, dan aku salah hitung di bagian atas sampai ada satu lubang kecil di puncaknya yang tidak pernah kuperbaiki.
Lubangnya masih ada.
Aku menangis di lantai kamar nomor dua dari tangga dengan topi rajut kuning di tangan sampai Mbak Ratih mengetuk pintu dan aku menyuruhnya pergi.
Bukan karena aku merasa bersalah. Aku sudah merasa bersalah sembilan tahun; rasa bersalah itu bukan barang baru, aku sudah hafal bentuknya, aku sudah bisa hidup dengannya.
Yang baru ini lain.
Anak itu membawa topi ini dari rumah petak. Sendiri. Dia memasukkannya ke ransel malam sebelum pindah, di antara semua barang yang bisa dia bawa, dan dia memilih ini.
Dia tahu ini apa. Dia pasti tahu; tidak ada anak yang membawa topi bayi tanpa tahu itu topi siapa.
Setahun setengah dia tinggal di rumahku.
Setahun setengah topi ini ada di sudut kamarnya, dua belas langkah dari kamarku.
Dan tidak sekali pun — tidak sekali pun — anak itu mengeluarkannya dan menunjukkannya kepadaku dan bertanya Bu, ini punya siapa.
Karena dia tahu kalau dia bertanya, aku akan menangis.
Dan dia sudah punya satu orang yang tidak boleh dibuat sedih, dan kuotanya cuma satu, dan yang satu itu bukan aku.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado reading
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis