Chapter Twenty Two
Sembilan Belas Menit
POV: Adam
Perjanjiannya: hari Minggu, jam empat sore.
Aku sudah siap jam tiga.
Aku sudah mandi jam setengah tiga, yang bodoh, karena ini telepon. Aku sudah mengecek pulsa tiga kali. Aku sudah mengecas ponsel sampai penuh padahal baterainya delapan puluh dua persen dan aku tahu delapan puluh dua persen cukup untuk berjam-jam.
Aku sudah menulis daftar.
Ini bagian yang paling memalukan dan aku tetap mencatatnya di sini.
Aku menulis daftar di kertas bekas nota, hal-hal yang mau kutanyakan, supaya tidak ada yang terlewat dan supaya tidak ada jeda kosong:
1. Sekolah gimana2. Gigi sudah ditambal semua?3. Makan apa aja4. Ada teman baru?5. Ada yang mau dibawain
Nomor lima kucoret sebelum jam empat, karena aku sadar aku tidak punya apa-apa untuk dibawakan, dan menawarkan sesuatu yang tidak bisa kutepati adalah cara paling cepat merusak sembilan belas menit.
Aku belum tahu waktu itu bahwa nanti jumlahnya sembilan belas menit.
Jam empat kurang dua menit ponselku berbunyi.
“Halo, Mas.”
Bukan suara yang kutunggu.
“Van.”
“Sebentar ya, aku panggil dia.”
Ada bunyi langkah. Bunyi pintu. Bunyi suara dari jauh — Vanya memanggil nama anakku dari bawah tangga.
Tangga.
Aku menutup mata sebentar.
“Halo.”
Dan di situ dadaku melakukan sesuatu yang tidak sopan.
“Ra.”
“Ayah.”
“Iya, ini Ayah.”
“Iya, Kira tahu.”
Hening dua detik.
Aku melihat ke kertas nota di lantai.
“Sekolah gimana?”
“Baik.”
“Nilai?”
“Matematika sembilan delapan.”
“Sembilan puluh delapan?”
“Iya.”
“Salah satu?”
“Salah satu.”
“Yang mana?”
“Yang soal cerita.” Ada jeda. “Yang tentang bapak-bapak beli cat.”
“Kamu jawab apa?”
“Kira jawab bener, Ayah. Tapi Kira nulis lagi di bawahnya.”
Aku hampir tertawa. “Nulis apa?”
“Kira nulis catnya kalau sisa jangan dibuang, tutupnya dilap dulu pinggirnya baru ditutup, biar nggak kering.”
“Itu benar.”
“Iya, tapi nggak ada nilainya, Ayah.”
Nomor dua.
“Gigi gimana?”
“Udah dua-duanya.”
“Sakit?”
“Nggak.”
“Beneran nggak?”
“Beneran, Ayah. Ada obat biusnya.”
“Oh.”
“Terus ada TV di langit-langit.”
“TV?”
“Iya. Buat nonton kartun sambil dibor.”
Aku memandangi noda cokelat selebar piring di langit-langit rumah petak nomor tujuh.
“Enak, ya.”
“Enak.”
Hening.
“Ayah.”
“Hm.”
“Ayah nggak marah?”
“Marah kenapa?”
“Kira nggak bilang kalau sakit. Dari kelas tiga.”
Aku memindahkan ponsel ke telinga yang lain.
“Nggak,” kataku. “Ayah nggak marah.”
“Ayah bohong.”
“Ayah nggak bohong, Ra. Ayah— “ Aku menarik napas. “Ayah marah sama Ayah, bukan sama kamu.”
“Jangan gitu, Ayah.”
“Ra—“
“Jangan gitu.” Suaranya naik sedikit, lalu turun cepat, seperti orang yang ingat ada orang lain di ruangan. “Kira nggak bilang karena Kira nggak mau bilang. Itu Kira yang milih. Bukan Ayah.”
Aku menutup mata.
Sepuluh tahun. Anak itu sepuluh tahun.
Nomor tiga aku lewati, karena dia sudah bercerita sendiri, panjang, tentang makanan.
Ada tiga sekat di kotak bekalnya. Ada buah tiap hari. Ada Mbak Ratih yang masak dan Mbak Ratih orangnya baik dan kalau Kira bilang enak, Mbak Ratih senang sekali sampai besoknya dimasakin lagi yang sama.
“Berarti kamu harus hati-hati kalau bilang enak.”
“Iya!” Dia tertawa. “Kira bilang enak sama tempe orek, terus empat hari tempe orek.”
Aku tertawa juga.
Itu bunyi yang pertama kalinya keluar dari rumah ini sejak dua puluh empat hari.
Lalu di ujung sana, di belakang suara anakku, ada suara lain.
Bukan kata-kata. Cuma bunyi orang bergerak, dan bunyi gelas ditaruh, dan bunyi seseorang berdehem pelan sekali.
Dan tawa anakku berhenti seperti keran ditutup.
“...Ayah masih di situ?”
“Masih.”
“Oh.”
Dan setelah itu semuanya berubah.
Aku tidak bisa menjelaskan perubahannya dengan tepat.
Kalimatnya tetap sopan. Jawabannya tetap benar. Tapi panjangnya berkurang setengah, lalu setengahnya lagi, sampai yang tersisa cuma “iya”, “nggak”, dan “nggak tahu”.
Aku bertanya soal teman baru. “Belum.”
Aku bertanya apa dia sudah kenal tetangga. “Belum.”
Aku bertanya kamarnya seperti apa.
“Bagus.”
“Bagus gimana?”
“Ya bagus.”
“Ra.”
“Iya, Ayah.”
“Kamu lagi sama siapa?”
Jeda.
“Sama Ibu.”
“Oh.”
“Sama Om Bram juga.”
“Oh.”
“Di ruang tengah.”
Aku duduk di lantai rumah petak nomor tujuh dan menyadari, dua puluh menit terlambat, bahwa selama ini aku sedang bicara di dalam ruangan yang ada dua orang dewasa lain di dalamnya.
Bukan disembunyikan. Tidak ada yang berbohong. Tidak ada dalam perjanjian kami yang menyebut bahwa telepon ini harus berdua.
Aku cuma tidak pernah memikirkannya.
Selama delapan tahun, kalau aku mau bicara dengan anakku, aku tinggal menoleh.
“Ra.”
“Iya.”
“Kamu boleh nggak bawa telepon ke kamar?”
Hening lama sekali.
“Kayaknya nggak usah, Ayah.”
“Kenapa?”
“Nggak apa-apa.”
Aku mengenali kalimat itu. Tentu saja aku mengenalinya. Itu kalimatku sendiri, dikembalikan padaku lewat kabel sepanjang dua belas kilometer.
“Ya sudah,” kataku.
“Ayah.”
“Hm.”
“Ayah makan nggak hari ini?”
Aku melihat ke meja.
Di atasnya ada rantang. Tiga susun. Ditaruh di situ jam dua belas siang oleh orang yang bilang “saya tanya dulu, boleh nggak” setiap kali, dan yang selalu bertanya walaupun jawabannya sudah selalu boleh sejak minggu lalu.
“Makan,” kataku.
“Makan apa?”
“Ayam.”
“Beneran?”
“Beneran, Ra.” Dan itu benar, dan aku menyadari betapa lamanya sejak terakhir kali aku bisa menjawab pertanyaan itu tanpa berhitung dulu. “Ayah makan ayam.”
“Yang beli sendiri?”
Aku diam sebentar.
“Bukan.”
“Siapa?”
Dan di detik itu aku ingat syarat yang kubuat sendiri di depan pos satpam sekolah jam dua belas malam, dan aku ingat kenapa aku membuatnya, dan aku ingat bahwa alasan itu sekarang sudah bukan alasan lagi karena hal yang paling kutakutkan sudah terlanjur terjadi.
Tapi aku sudah bilang pada Tamara aku yang akan bicara.
Dan aku belum siap. Dan itu satu-satunya alasannya, dan itu alasan yang buruk.
“Orang,” kataku.
“Oh.”
“Ra—“
“Ayah, udah dulu ya.”
Aku melihat jam di layar.
Sembilan belas menit.
“Ra, ini baru—“
“Ibu bilang jangan lama-lama, nanti Ayah kerja.”
“Ayah nggak kerja. Ini hari Minggu.”
“Ayah selalu kerja hari Minggu.”
Aku tidak bisa membantah itu.
“Ya sudah,” kataku. “Minggu depan ya.”
“Iya.”
“Ra.”
“Iya, Ayah.”
Ada seribu hal.
Ada seribu hal dan semuanya ada di kepalaku sekaligus dan tidak satu pun bisa keluar lewat lubang sekecil ini, dan yang keluar akhirnya cuma yang paling kecil dan paling bodoh dan paling tidak cukup.
“Jangan minum yang dingin dulu, ya. Giginya baru ditambal.”
“Iya, Ayah.”
Klik.
Aku memegang ponsel itu di telinga selama beberapa detik setelah sambungannya putus.
Lalu aku menurunkannya. Lalu aku menatap layar yang sudah kembali ke daftar panggilan, dengan satu baris paling atas: nama yang tersimpan sebagai VANYA, sembilan belas menit dua belas detik.
Bukan nama anakku.
Nomornya bukan nomor anakku. Anak umur sepuluh tahun tidak punya nomor.
Jadi setiap Minggu, mulai sekarang, kalau aku mau bicara dengan anakku, aku harus menelepon nomor mantan istriku dan menunggu seseorang memanggil namanya dari bawah tangga.
Aku mengambil kertas nota dari lantai.
Nomor satu, dijawab.
Nomor dua, dijawab.
Nomor tiga, dijawab.
Nomor empat: Ada teman baru?
Aku melipat kertas itu dua kali, lalu empat kali, lalu memasukkannya ke kaleng bekas tempat aku menyimpan sisa timah.
Lalu aku membuka rantang tiga susun itu dan memakan seluruh isinya sampai habis, semuanya, sampai tidak ada yang tersisa sedikit pun.
Karena minggu depan anak itu akan bertanya lagi, dan aku sudah cukup berbohong kepadanya untuk seumur hidup.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit reading
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis