Chapter Twenty Six

Pembukuan

POV: Tamara

Kiosnya buka hari Senin, dan hari Rabu aku sudah tahu ada yang salah.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini apa?”

Aku mengangkat buku tulis yang dia sebut pembukuan.

Isinya begini:

Sen — kipas bu hj 50, dispenser 65, magic com 40 (blm dibayar)Sel — mesin cuci 120, kipas 45, ??? 30

“Tanda tanya tiga itu apa?”

“Saya lupa.”

“Mas.”

“Barangnya kecil. Bunyinya— “ Dia mengerutkan kening. “Bunyinya kayak dengung.”

“Semua barang bunyinya dengung.”

“Nggak semua.”

“Mas Adam.” Aku menaruh buku itu di meja. “Kamu bisa nyebutin bushing sama kapasitor sama kawat email dari luar kepala, tapi kamu nulis ‘tanda tanya tiga’.”

“Itu beda.”

“Beda gimana?”

“Yang satu barang.” Dia mengambil obeng lagi. “Yang satu uang.”

Aku menarik kursi plastik dan duduk di depan meja kerjanya, dan aku memutuskan hari itu juga bahwa aku akan tinggal sampai jam sembilan.


Sistemnya aku bikin dalam dua jam dan bentuknya sengaja kubuat sesederhana mungkin, karena aku sudah delapan tahun mengajar dan aku tahu sistem yang tidak dipakai itu sama saja dengan tidak ada.

Empat kolom. Tanggal, barang, masuk, keluar.

Satu kotak sepatu untuk nota sparepart.

Dan satu aturan yang aku tulis di kertas dan tempel di dinding dengan lakban:

KALAU BARANGNYA DIBAWA PULANG SEBELUM DIBAYAR, TULIS NAMA ORANGNYA.

“Ini kayak di kelas,” katanya.

“Iya.”

“Ada tempelannya.”

“Iya.”

“Kalau saya nggak ngerjain, saya disuruh berdiri di depan?”

“Kamu disuruh nggak makan siang.”

“Itu kejam.”

“Itu efektif.”


Yang tidak kuperhitungkan adalah kios itu terlalu kecil.

Enam kali empat meter, dan tiga meter di antaranya sudah dipakai etalase dan meja kerja dan tumpukan barang orang. Yang tersisa untuk berjalan cuma satu jalur selebar satu setengah orang.

Jadi setiap kali aku mau ke belakang, aku harus lewat di belakang kursinya.

Aku lewat pertama kali dengan menempelkan diri ke etalase. Sopan. Jarak dua puluh senti.

Yang kedua aku tidak.

“Permisi.”

“Iya— “ Dia menggeser kursinya ke depan, cepat, terlalu cepat, sampai lututnya menabrak meja. “Aduh.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Aku berhenti tepat di belakangnya.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu geser kursi kenapa?”

“Biar Ibu lewat.”

“Barusan aku dipanggil Ibu.”

Dia diam.

“Mas Adam, ini bukan sekolah.”

“Iya.”

“Ini kios kamu.”

“Iya.”

“Terus kenapa kamu manggil aku Ibu?”

Dia tidak menjawab, dan telinganya sudah merah, dan aku berdiri di belakang kursinya selama tiga detik lebih lama dari yang dibutuhkan siapa pun untuk lewat.


Aku datang lagi Kamis. Jumat. Sabtu.

Hari Sabtu aku bawa nasi dan aku duduk di kursi plastik itu dari jam empat sampai jam delapan, dan aku sadar aku sudah punya kursi.

Bukan kiasan. Kursi itu tidak dipakai siapa pun lagi. Sarno duduk di jerigen. Pak Haji duduk di lantai. Bu Ningrum tidak pernah duduk karena Bu Ningrum tidak pernah tinggal lebih dari empat menit.

Kursi plastik biru itu ada di sisi kanan meja kerja, menghadap dia, dan tidak ada yang pernah memindahkannya.

“Mas.”

“Hm.”

“Ini kursi siapa?”

“Kursi.”

“Aku tanya kursi siapa.”

Dia mengangkat wajah dari papan sirkuit di depannya.

“Kamu.”

Satu kata. Bukan “Ibu”. Bukan “Bu Tamara”.

Aku menyilangkan kaki dan mengetuk pulpen ke buku kas dan berusaha keras kelihatan seperti orang yang tidak baru saja menang sesuatu.


Godaan yang berhasil di laki-laki ini bukan yang biasa.

Aku sudah mencobanya. Aku bukan orang yang tidak tahu caranya. Yang tidak berhasil: memuji penampilannya (dia tidak percaya), duduk terlalu dekat (dia menggeser), menyentuh lengan (dia berdiri dan mengambil sesuatu yang tidak dia butuhkan).

Yang berhasil ternyata satu: menyebut pekerjaannya dengan benar.

Aku menemukannya secara tidak sengaja hari Sabtu itu.

“Yang ini kenapa?”

“Kapasitor start-nya lemah.”

“Kembung?”

Obengnya berhenti.

“Apa?”

“Yang kayak kaleng mau meledak itu.” Aku menunjuk. “Yang di AC sekolah dulu. Yang Mas fotoin terus dibawa masuk buat ditunjukin ke Pak Har.”

Dia menatapku.

“Kamu inget?”

“Aku inget semuanya, Mas.”

“Itu sudah— “ Dia berpikir. “Itu bulan Oktober.”

“Aku inget kamu ngomong ‘kalau dibiarin sebulan lagi, kompresornya beneran mati, terus satu juta lima ratus itu jadi benar’.” Aku memiringkan kepala. “Aku inget karena malam itu aku pulang terus mikirin kamu sampai jam dua.”

Dia menaruh obengnya.

Dia benar-benar menaruh obengnya, di atas meja, dan itu belum pernah terjadi sebelumnya selama empat bulan aku mengenal orang ini.

“Tam.”

“Hm.”

“Jangan begitu.”

“Jangan begimana?”

“Jangan— “ Dia mencari kata dan tidak menemukannya. “Jangan.”

“Aku cuma ngulang omongan kamu sendiri.”

“Iya.”

“Terus salahnya di mana?”

“Nggak ada.”

“Nah.” Aku berdiri dari kursiku. “Berarti nggak ada alasan buat aku berhenti.”


Aku melewatinya lagi menuju belakang.

Kali ini aku tidak sopan sama sekali.

Aku berhenti di samping kursinya, dan menaruh satu tangan di sandaran kursi itu, dan mencondongkan badan seolah sedang melihat papan sirkuit di mejanya.

“Ini yang mana yang kembung?”

“Tam.”

“Yang mana, Mas. Aku beneran nanya.”

“Yang— “ Suaranya sudah tidak stabil. “Yang di kiri.”

“Yang mana kiri?”

“Kiri kamu.”

“Bukan kiri kamu?”

Dan laki-laki itu menoleh untuk membetulkan aku, dengan kalimat yang sudah setengah keluar dari mulutnya, dan wajahnya berhenti sepuluh senti dari wajahku.

Kami berdua tidak bergerak.

“Tam.”

“Hm.”

“Kamu sengaja.”

“Iya.”

“Dari tadi?”

“Dari Senin.”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal Adam Prayoga, laki-laki itu tidak mundur, tidak berdiri, tidak mengambil sesuatu yang tidak dia butuhkan, dan tidak memanggilku Ibu.

Dia yang naik ke atas.


Kalau ada yang bertanya, itu bukan seperti di gerbang sekolah malam itu.

Yang di gerbang sekolah itu aku yang melakukan semuanya dan dia berdiri seperti tembok dan aku pulang sambil kesal.

Yang ini bukan.

Yang ini tangannya sampai ke belakang leherku, dan kursi plastiknya berdecit ke belakang, dan buku kas yang baru kususun dua jam jatuh dari meja beserta seluruh isi kotak sepatu, dan aku tidak peduli sedikit pun tentang nota-nota itu, yang mana adalah hal paling tidak profesional yang pernah kulakukan seumur hidup.

Aku juga tidak dengar rolling door.

Aku bersumpah aku tidak dengar apa-apa.

“YA ALLAH.”


Bu Ningrum berdiri di ambang pintu dengan panci di tangan.

Panci yang sama. Aku hafal pancinya.

Kami bertiga membeku dalam formasi yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.

“Bu Ningrum,” kata Adam.

“Saya cuma mau nganter—“

“Bu Ningrum, ini—“

“Saya nggak lihat apa-apa.” Dia menaruh panci itu di lantai, di ambang pintu, tanpa masuk. “Saya sudah lima puluh empat tahun, mata saya minus.”

“Bu—“

“Saya cuma mau bilang satu hal.” Dia sudah setengah berbalik. “Rolling door itu ada kuncinya, Dam. Di sebelah kanan. Saya yang jual gemboknya ke kamu tiga minggu lalu.”

Dan dia pergi.


Kami membereskan nota selama dua puluh menit dan tidak ada satu pun dari kami yang bicara.

Aku menyusun ulang urutannya. Dia memegangi kotak sepatu.

“Tam.”

“Jangan ngomong.”

“Aku cuma mau—“

“Mas, kalau kamu ngomong sekarang, aku akan inget kalimat itu seumur hidup, dan aku nggak yakin kamu bisa milih kalimat yang bagus dalam kondisi ini.”

Dia menutup mulut.

Kami selesai jam sembilan lewat. Aku memasukkan buku kas ke laci dan mengambil tas dan berjalan ke pintu, dan di pintu aku berbalik.

“Mas.”

“Hm.”

“Yang di gerbang sekolah dulu,” kataku. “Aku bilang kayak nyium tembok.”

“Iya.”

“Aku tarik.”

Telinganya merah sampai ke leher.

Aku keluar sambil tersenyum seperti perempuan tidak tahu diri, dan aku sudah memakai helm waktu ponselku bergetar di saku.

Aku pikir dia.

Layarnya menyala.

IBU

Jam sembilan lewat dua puluh. Hari Sabtu.

Ibuku tidak pernah menelepon hari Sabtu. Ibuku menelepon hari Rabu, delapan menit, sudah dua puluh tahun.

Aku menatap layar itu di parkiran kios selama empat dering sebelum menjawab.