Chapter Fourteen

Surat dari Sekolah

POV: Kira

Bu Tamara tidak masuk hari Senin.

Bu Tamara tidak masuk hari Selasa.

Yang mengajar Pak Dedi, dan Pak Dedi orangnya baik tapi kalau menerangkan pecahan dia menggambar pizza terus, padahal tidak semua orang di kelas ini pernah makan pizza.

Hari Selasa waktu istirahat aku ke ruang guru dan mejanya kosong. Toples permennya masih ada. Pulpen merahnya masih di tempat pensil, semuanya, tidak ada yang dibawa pulang.

Berarti Bu Tamara tidak berencana tidak masuk.

Berarti ada yang terjadi hari Jumat.


Hari Jumat itu Ayah pulang jam tiga.

Biasanya jam lima atau enam. Hari Jumat itu jam tiga, dan Ayah langsung duduk di lantai dan membuka rice cooker orang, dan mengerjakannya sampai malam, dan hari Sabtu Ayah mengerjakan tiga barang, dan hari Minggu Ayah mengerjakan empat.

Ayah kalau sedih tidak diam. Ayah kalau sedih malah lebih banyak kerja. Ini aku tahu dari lama.

Yang baru: Ayah salah.

Hari Minggu Ayah memasang kapasitor kipas terbalik. Aku lihat sendiri. Terus Ayah nyalakan, terus kipasnya muter ke arah yang salah, terus Ayah diam lama sekali menatap kipas itu, terus Ayah bilang satu kata yang tidak boleh diulang anak kecil.

Ayah tidak pernah salah pasang seumur hidupku.


Aku pakai cara Ayah.

Ayah bilang, kalau ada barang rusak, jangan langsung dibongkar. Dengarkan dulu. Cari bunyinya. Bunyi itu memberi tahu di mana rusaknya sebelum kamu buka satu sekrup pun.

Jadi hari Senin malam aku dengarkan.

“Ayah.”

“Hm.”

“Bu Tamara nggak masuk dua hari.”

Obeng Ayah berhenti.

Nah.

“Oh.”

“Sakit katanya.”

“Oh.”

“Menurut Ayah sakit apa ya?”

“Ayah mana tahu, Ra.”

“Ayah nggak mau nengok?”

“Ra.”

“Kenapa?”

“Makan dulu sana.”

Sudah.

Ketemu.

Kalau kipas dinyalakan dan bunyinya keras di satu titik, kamu tandai titik itu. Aku sudah menandai. Namanya Bu Tamara. Ayah tidak bisa mendengar namanya tanpa berhenti bergerak.

Sekarang tinggal cara membukanya, dan bagian ini aku tidak tahu, karena aku baru kelas empat dan Ayah tidak pernah mengajari cara membongkar orang dewasa.

Jadi aku pakai cara sendiri.


Bahannya aku sudah punya semua.

Kertas HVS aku ambil dari sisa fotokopi LKS. Pulpen hitam punyaku. Penggaris punyaku.

Yang susah capnya.

Cap sekolah itu bulat, ada tulisan melingkar, ada gambar buku terbuka di tengah. Aku sudah lihat ratusan kali di surat-surat. Aku gambar pakai pulpen merah, pelan-pelan, sambil melihat contoh dari surat lama yang masih ada di laci.

Hasilnya jelek. Bulatnya penyok sebelah. Tulisan melingkarnya makin ke bawah makin kecil karena kehabisan tempat.

Tapi dari jauh mirip.

Isinya aku tulis begini:

Kepada Yth. Orang Tua/Wali dari: KIRANA PRAYOGA — Kelas 4B

Dengan hormat, sehubungan dengan hal penting mengenai ananda, dimohon kehadiran Bapak di sekolah pada hari Rabu pukul 08.00 WIB. Wajib hadir. Tidak boleh diwakilkan. Tidak boleh telat.

Hormat kami,Wali Kelas 4BTamara Ayuningtyas, S.Pd.

Tanda tangannya aku contoh dari rapor.

Terus aku lipat empat, dan aku remas-remas sedikit pinggirnya biar kelihatan sudah lama di dalam tas, karena kalau terlalu rapi nanti mencurigakan.

Aku pintar. Aku tahu.


Aku kasih malam Selasa, jam sembilan, waktu Ayah lagi mengelap tangan.

“Ayah. Ini dari sekolah.”

Ayah menerimanya.

Ayah membuka.

Ayah membacanya.

Terus Ayah membacanya lagi.

Terus Ayah mengangkat kepala, dan mukanya sama sekali tidak seperti yang aku bayangkan, dan aku langsung tahu semua rencanaku gagal total.

“Ra.”

“Iya, Ayah.”

“Bu Tamara nggak masuk dari Senin.”

“Iya.”

“Berarti dia nggak di sekolah.”

“...Iya.”

“Terus siapa yang bikin surat ini.”

Aku diam.

“Ra.”

“Kira.”

Ayah menaruh kertas itu di lantai. Menghela napas panjang sekali, dari perut, seperti orang mengangkat sesuatu yang berat.

“Kamu tahu ini namanya apa?”

“Surat.”

“Ini namanya memalsukan tanda tangan orang.”

“Kira nggak—“

“Ini.” Ayah menunjuk. “Ini tanda tangan siapa?”

“Bu Tamara.”

“Yang nulis?”

“Kira.”

“Nah.”

Aku menunduk.

Aku sudah siap dimarahi. Aku sudah menyiapkan mukanya. Aku bahkan sudah memikirkan aku akan bilang apa.

Yang tidak aku siapkan: Ayah tidak marah.

Ayah malah duduk bersila di depanku, dan mengambil kertas itu lagi, dan memandanginya lama sekali, dan waktu bicara suaranya pelan.

“Capnya kamu gambar sendiri?”

“Iya.”

“Berapa lama?”

“Setengah jam. Yang pertama gagal.”

“Ada yang pertama?”

“Ada tiga.”

Ayah memejamkan mata.

“Ra.”

“Iya.”

“Kenapa kamu sampai bikin ini?”

Dan pertanyaan itu yang aku tidak siapkan jawabannya, jadi yang keluar dari mulutku adalah yang sebenarnya, dan yang sebenarnya keluar dengan suara yang jelek sekali.

“Karena Ayah salah pasang kapasitor.”

Ayah membuka mata.

“Apa?”

“Hari Minggu. Kipasnya muter kebalik.” Aku menggosok mataku dengan lengan. “Ayah nggak pernah salah, Ayah. Nggak pernah. Delapan tahun Kira lihat Ayah kerja, Ayah nggak pernah salah satu kali pun.”

“Ra—“

“Terus Ayah nggak tidur lima malam. Terus Ayah nolak orderan empat. Terus tiap Kira sebut Bu Tamara, tangan Ayah berhenti.” Aku menghitung dengan jari, satu-satu, karena kalau tidak menghitung nanti aku lupa dan nanti aku cuma nangis. “Itu semua bukti, Ayah. Ayah sendiri yang ngajarin Kira, kalau mau tahu rusaknya di mana, kumpulin dulu.”

Ayah tidak bicara.

“Kira nggak tahu Ayah kenapa,” kataku. “Kira nggak nanya. Kira cuma— “

Aku berhenti karena suaraku sudah tidak bisa dipakai.

Ayah mendekat dan menarikku ke pangkuannya, padahal aku kelas empat dan sudah terlalu besar untuk itu, dan aku tidak protes.

“Kira cuma pengen Ayah ketawa empat kali lagi,” kataku ke bajunya.


Kami duduk begitu lama sekali.

Kipas berbunyi ngik tiga kali. Empat kali. Aku hitung sampai dua belas terus berhenti menghitung.

“Ra,” kata Ayah akhirnya.

“Hm.”

“Yang rusak itu bukan Ayah.”

“Terus apa?”

Ayah diam agak lama.

“Ayah yang ngerusak.”

Aku mengangkat kepala. “Ayah ngerusak apa?”

“Nggak usah dipikirin.”

“Ayah—“

“Ra.” Ayah membetulkan rambutku ke belakang telinga. “Kamu ingat Ayah pernah bilang apa soal barang orang?”

“Yang dititipin itu kepercayaan.”

“Iya.” Ayah mengangguk pelan. “Ada orang yang nitipin sesuatu ke Ayah minggu lalu. Ayah nggak jaga baik-baik. Ayah malah— “

Ayah berhenti.

“Ayah malah ngasih daftar barang,” katanya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke aku.

Aku tidak mengerti bagian itu sama sekali. Aku catat saja di kepala buat nanti.

“Ayah bisa benerin?”

“Ayah nggak tahu.”

“Ayah bilang yang rusak masih bisa diperbaiki.”

“Iya.”

“Ayah bohong?”

“Nggak.” Ayah menghela napas. “Ayah bilang butuh waktu sama tangan yang mau. Yang Ayah nggak bilang: harus dua-duanya mau.”


Aku disuruh tidur jam sepuluh.

Aku pura-pura tidur jam sepuluh lewat lima.

Jam sebelas kurang aku dengar Ayah bangun dari lantai. Aku dengar kotak peralatan ditutup. Aku dengar keran di bak dinyalakan lama sekali, lebih lama dari biasanya, jauh lebih lama.

Terus aku dengar lemari dibuka.

Terus aku dengar bunyi setrika dinyalakan, jam sebelas malam, dan aku hampir tertawa di dalam bantal.

Terus bunyi kunci.

Terus bunyi pintu.

Terus dari luar, dari ujung gang, hrrm-hrrm-hrrm.

Aku bangun dan duduk di kasur dan mendengarkan bunyi itu sampai hilang di ujung jalan besar.

Terus aku ambil bukuku dari sarung bantal, dan aku buka halaman belakang, dan aku tulis satu baris di bawah semua bukti-bukti yang dulu.

Bukti 6: Ayah nyetrika jam 11 malem.

KESIMPULAN: udah bukan sementara.