Chapter Seventeen
Perempuan di Rumah Makan
POV: Kira
Ayah bilang hari Minggu kami makan di luar.
Kami tidak pernah makan di luar. Terakhir kelas dua, waktu Ayah dapat borongan servis di kantor kelurahan, dan itu pun cuma bakso di pinggir jalan dan Ayah bilang dia sudah kenyang.
Jadi waktu Ayah bilang rumah makan, aku langsung tahu ada yang salah.
“Ayah dapat borongan lagi?”
“Nggak.”
“Terus kenapa makan di luar?”
“Ada yang mau ketemu kamu.”
Aku sedang memasukkan buku ke tas waktu Ayah bilang itu, dan aku ingat persis tanganku berhenti di tengah, dan aku ingat aku tidak menoleh.
“Siapa?”
Ayah lama sekali tidak menjawab.
“Ibu kamu.”
Aku tidak menangis. Aku mau catat itu.
Aku juga tidak tanya apa-apa. Ayah menunggu aku tanya, aku tahu dari cara Ayah berdiri di ambang pintu selama satu menit penuh, tapi aku tidak tanya.
Bukan karena aku tidak mau tahu.
Karena aku sedang menghitung.
Ini yang aku hitung: Ayah bilang “ibu kamu”, bukan “ibumu”, bukan “mama kamu”, bukan namanya. Ayah bilang itu dengan suara yang datar sekali, dan Ayah kalau suaranya datar sekali artinya Ayah sedang memegang sesuatu yang berat dengan dua tangan.
Dan yang kedua: Ayah bilang “ada yang mau ketemu kamu.”
Bukan “kita mau ketemu.”
Bukan “Ayah mau ngenalin.”
Ada yang mau. Orang lain yang mau. Bukan Ayah.
Rumah makannya ada AC-nya.
Meja kami di pojok. Ayah duduk di sebelahku, bukan di depan, dan aku tahu itu bukan kebetulan.
Mereka datang jam dua belas lewat.
Perempuan itu jalan duluan. Di belakangnya om-om, badannya besar, kemejanya rapi, dan om-om itu yang pertama senyum ke aku, senyumnya kaku, kayak orang yang sedang menahan mau melakukan sesuatu.
Perempuan itu berhenti dua meter dari meja.
Aku melihatnya.
Dia melihatku.
Ada satu hal yang tidak pernah aku ceritakan ke siapa-siapa, termasuk ke Ayah.
Di rumah, di dalam kotak kaleng bekas biskuit di atas lemari, ada tiga foto. Aku pernah menemukannya waktu kelas dua sambil cari isolasi. Di salah satu foto ada perempuan yang menggendong bayi, dan bayinya pakai topi rajut kuning, dan aku masih punya topi rajut kuning itu di dalam tasku sekarang, dilipat, di dalam kantong ritsleting yang paling kecil.
Aku hafal wajah di foto itu.
Yang berdiri dua meter dari meja bukan wajah di foto itu.
Dia mirip. Tapi lebih kurus, dan matanya lain, dan dia berdiri seperti orang yang tidak boleh maju sebelum diizinkan.
“Kirana,” katanya.
Suaranya pecah di huruf terakhir.
Aku sopan.
Aku mau catat itu juga, karena nanti kalau ada yang bilang aku tidak sopan, itu bohong.
Aku berdiri. Aku salim. Tangannya dingin dan gemetar dan dia memegang tanganku dua detik lebih lama dari salim biasa.
Aku duduk lagi. Aku makan. Aku jawab semua pertanyaannya.
“Kelas berapa?”
“Empat, Bu.”
Bu. Aku panggil dia Bu. Aku tidak tahu harus panggil apa dan yang keluar itu, dan aku lihat mukanya waktu aku bilang itu, dan aku tahu itu sakit, dan aku tidak minta maaf.
“Suka pelajaran apa?”
“Matematika.”
“Cita-citanya apa?”
Aku mengunyah lama sekali sebelum jawab.
“Belum tahu, Bu.”
Bohong. Tapi bohong yang sopan.
Ayah pergi ke kamar mandi jam satu.
Aku tahu Ayah sengaja. Ayah tidak pernah ke kamar mandi di tengah makan seumur hidup.
Begitu Ayah hilang di balik pintu, perempuan itu langsung bicara, cepat, seperti orang yang sudah menghitung punya berapa menit.
“Kirana, Ibu— “ Dia berhenti. Menarik napas. “Ibu tahu Ibu nggak berhak minta apa-apa dari kamu.”
Aku diam.
“Ibu nggak akan cerita alasan Ibu pergi. Bukan karena Ibu nggak mau. Karena kamu masih sepuluh tahun dan alasannya bukan alasan yang pantas kamu dengar sekarang.” Matanya merah. “Nanti. Kalau kamu sudah besar dan kamu mau dengar, Ibu ceritain semuanya, dan kamu boleh benci Ibu setelah itu.”
Aku masih diam.
“Ibu cuma mau tanya satu.”
“Apa, Bu?”
“Kamu mau ikut Ibu?”
Om-om di sebelahnya menoleh cepat sekali. “Van.”
“Aku cuma nanya.”
“Van, ini bukan cara—“
“Aku cuma nanya,” katanya lagi, dan suaranya sudah tidak bisa dipakai lagi.
Aku menaruh sendok.
Dan yang keluar dari mulutku keluar lebih keras dari yang aku mau, dan orang di meja sebelah menoleh, dan aku tidak peduli.
“Nggak.”
“Kirana—“
“Nggak, Bu.” Aku menggeleng, terus-terusan, kayak orang bodoh. “Kira sama Ayah. Kira selalu sama Ayah. Kira nggak mau ke mana-mana.”
“Ibu nggak—“
“Ibu nggak ada delapan tahun.”
Ruangan itu jadi sunyi di bagian kami.
“Kira nggak marah.” Suaraku bergetar dan aku benci itu. “Kira beneran nggak marah, Bu. Kira cuma— Kira sama Ayah. Udah. Itu aja.”
Perempuan itu menutup mulutnya dengan tangan.
Dan di belakangnya, di dekat pintu kamar mandi, Ayah sudah berdiri entah dari kapan.
Malam itu Ayah aneh.
Ayah tidak menyervis apa-apa. Ayah tidak menyalakan solder. Kotak peralatan tidak dibuka sama sekali, satu malam penuh, dan itu belum pernah terjadi.
Yang Ayah lakukan begini:
Jam tujuh Ayah bilang, “Ra, sini. Buka mulut.”
“Kenapa?”
“Buka aja.”
Aku buka. Ayah menyalakan senter dan melihat ke dalam mulutku lama sekali. Ayah memiringkan kepalaku ke kiri. Ke kanan. Ayah menekan pipiku dengan jempol supaya lebih terbuka.
Terus Ayah mematikan senter dan tidak bilang apa-apa.
Jam setengah delapan Ayah mengambil sepatuku dari rak dan membaliknya dan melihat solnya. Yang kanan. Terus yang kiri. Terus yang kanan lagi, lama, di bagian jempol, di tempat yang sudah menghadap keluar sejak Agustus.
Terus Ayah menaruhnya kembali. Rapi. Sejajar.
Jam delapan Ayah membuka lemari dan mengeluarkan map plastik yang isinya kertas-kertas. Ayah duduk di lantai dan membukanya satu-satu. Buku SPP. Kartu puskesmas. Akta. Kartu keluarga.
Aku duduk di ambang pintu kamar dan menonton punggung Ayah.
Ayah membuka buku SPP itu lama sekali. Ada empat kotak yang belum ada capnya. Aku tahu ada empat karena aku juga sudah menghitungnya, tiga minggu lalu, dan sudah aku tulis di bukuku.
Ayah menghitung dengan jari.
Satu. Dua. Tiga. Empat.
Terus Ayah menghitung lagi dari awal, kayak orang yang berharap hasilnya berubah.
Aku tidak pernah melihat Ayah menghitung dua kali seumur hidup.
“Ayah.”
Ayah tidak menoleh. “Belum tidur?”
“Ayah nggak apa-apa?”
Ayah menutup map plastik itu pelan-pelan dan merapikan pinggirnya dengan dua tangan, terlalu lama, terlalu rapi, dan aku mengenali gerakan itu karena itu gerakanku sendiri waktu menaruh tumpukan buku PR di meja Bu Tamara.
“Ayah nggak apa-apa.”
“Ayah bohong.”
Ayah berhenti.
“Ra.”
“Ayah bohong,” kataku lagi. “Ayah nggak buka kotak sekali pun malam ini. Ayah ngitung dua kali. Ayah lihat sepatu Kira tiga kali.”
Ayah menunduk ke map plastik di pangkuannya.
“Kamu lihat semua, ya.”
“Iya.”
“Dari dulu?”
“Dari dulu, Ayah.”
Ayah menghela napas panjang sekali.
Terus Ayah menoleh, dan Ayah senyum, dan senyumnya itu bukan senyum yang benar, dan itu pertama kalinya seumur hidup aku bisa membedakan dan berharap aku tidak bisa.
“Kira juga nggak apa-apa,” kataku, cepat, sebelum Ayah sempat bilang apa-apa. “Kalau Ayah nggak apa-apa, Kira juga nggak apa-apa.”
Ayah memandangiku lama sekali.
“Sana tidur.”
“Ayah—“
“Sana, Ra.”
Aku tidur jam sembilan.
Aku bangun entah jam berapa karena mau pipis, dan waktu aku lewat ruang depan, lampu masih menyala.
Ayah duduk di lantai, membelakangi kamar, dengan ponsel di telinga.
Aku berhenti di ambang pintu.
Ayah tidak bicara lama sekali. Cuma mendengarkan.
Terus Ayah bilang, pelan sekali, dan aku harus menahan napas untuk bisa dengar.
“Van.”
“...”
“Dokter giginya siapa.”
Dadaku sakit tiba-tiba, di satu titik, kayak ada yang menekan dari dalam.
Aku tidak tahu kenapa waktu itu.
Aku baru tahu dua minggu kemudian.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan reading
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis