Chapter Forty Five

Dua Ratus Meter dari Sekolah

POV: Vanya

Aku tidak bisa mengatakannya hari Senin.

Aku sudah menyiapkannya sejak jam dua siang hari Minggu. Aku menelepon enam kali, dan waktu akhirnya diangkat aku bahkan tidak sanggup menyebutkan pokok masalahnya lewat telepon.

Lalu dia datang hari Senin, satu setengah jam lebih cepat, dan duduk di teras rumahku dengan anak itu selama satu setengah jam.

Aku melihat mereka dari jendela lantai dua.

Anak itu tertawa empat kali. Aku menghitungnya, karena aku sudah membaca buku itu dan sekarang aku tidak bisa berhenti menghitung juga.

Empat kali dalam satu setengah jam.

Di rumah ini, dalam setahun setengah, aku bisa menghitung seluruhnya dengan dua tangan.

Waktu akhirnya aku turun dan duduk di depan laki-laki itu di ruang tengahku sendiri, yang keluar dari mulutku bukan yang kusiapkan.

Yang keluar: “Mas, kios kamu di mana persisnya?”


Aku ke sana hari Rabu.

Aku tidak bilang siapa-siapa. Aku bilang ke Bram aku mau ke pasar. Aku menyetir sendiri, yang sudah lama tidak kulakukan, dan aku memarkir di seberang jalan tiga toko jauhnya dan aku duduk di dalam mobil.

Aku tidak turun selama satu jam empat puluh menit.


Kiosnya kecil.

Itu hal pertama. Aku tidak tahu apa yang kubayangkan — mungkin sesuatu yang lebih besar, mungkin karena kata “kios” di kepalaku selama ini berpasangan dengan kata “usaha” dan kata “usaha” berpasangan dengan gambaran tertentu.

Enam kali empat meter. Rolling door abu-abu yang bawahnya karatan. Plang di atasnya sederhana, dicetak, dua warna:

SERVIS ELEKTRONIK — A. PRAYOGAKipas • Kulkas • Mesin Cuci • AC • PompaBarang second bergaransi

Di kaca depan ditempel kertas HVS, tulisan tangan, huruf besar-besar:

GARANSI 1 BULAN. KALAU RUSAK LAGI, BALIKIN KE SINI. GRATIS.

Aku membaca kertas itu dari dalam mobil di seberang jalan dan aku tahu persis siapa yang menempelkannya, karena aku pernah tinggal sembilan tahun dengan orang yang menulis huruf besar tegak dan agak dipaksakan seperti itu.


Orang datang.

Itu hal kedua, dan aku tidak siap untuk hal kedua.

Dalam satu jam empat puluh menit yang kuhitung, ada sebelas orang.

Ibu-ibu membawa rice cooker dengan dua tangan. Anak muda membawa kipas berdiri. Bapak-bapak yang cuma berdiri di depan dan berbicara lima menit lalu pergi tanpa membawa apa-apa.

Yang membuatku menaruh tangan di mulut adalah cara mereka memanggilnya.

Aku tidak bisa mendengar dari seberang jalan. Tapi aku bisa melihat mulut mereka bergerak sebelum mereka masuk, dan aku bisa melihat bahwa mereka memanggilnya dari luar, dari trotoar, sebelum sampai pintu.

Orang tidak memanggil nama pemilik toko dari trotoar kecuali dia sudah lama ada di situ.


Ada satu yang paling lama.

Ibu-ibu tua, membawa setrika, dan aku melihat laki-laki itu keluar, mengambil setrikanya, membukanya di meja luar, dan melakukan sesuatu selama mungkin tiga menit.

Lalu dia menyerahkannya kembali.

Ibu itu membuka dompet.

Dan laki-laki itu mengangkat tangan dan menggeleng.

Ibu itu bersikeras. Dia menggeleng lagi. Ibu itu memasukkan uang ke saku kemejanya dan laki-laki itu mengeluarkannya dan menaruhnya kembali ke tangan ibu itu dan mereka melakukan itu tiga kali sampai ibu itu menyerah dan pergi sambil mengomel.

Aku duduk di mobil dan menonton itu dan aku tahu persis apa yang barusan terjadi.

Rusaknya kecil.

Dia bilang kecil.

Sembilan tahun lalu aku pernah berteriak kepadanya di rumah petak karena hal yang sama. Aku ingat kalimatku. Aku ingat aku bilang kamu ini mau ngasih makan anakmu pakai apa, Mas, pakai terima kasih?

Dan dia menjawab sesuatu, dan aku tidak mendengarkan jawabannya, karena aku dua puluh dua tahun dan aku belum tidur enam bulan dan yang kudengar setiap hari cuma bunyi bayi.

Sekarang aku duduk di mobil seharga dua ratus juta di seberang jalan dan aku ingin sekali mengingat apa jawabannya.


Jam dua belas ada motor matic berhenti.

Perempuan turun, melepas helm, membawa rantang.

Aku sudah pernah melihat wajahnya sekali, dari jauh, waktu mengantar Kirana di hari pertama sekolah dua tahun lalu.

Wali kelas 4B.

Dia masuk tanpa mengetuk. Tentu saja tanpa mengetuk. Dia menaruh rantang itu di meja, lalu berdiri di belakang kursi laki-laki itu dan mengatakan sesuatu, dan laki-laki itu tidak mengangkat kepala dari pekerjaannya.

Perempuan itu mengambil obeng dari tangannya.

Beneran mengambil. Dari tangannya.

Dan laki-laki itu mengangkat kepala, dan mereka bicara — aku tidak bisa dengar, cuma bisa lihat — dan perempuan itu menunjuk rantang, dan laki-laki itu mengatakan sesuatu, dan perempuan itu menunjuk rantang lagi lebih keras.

Lalu dia makan.

Perempuan itu duduk di kursi plastik biru di sebelah meja kerja, menyilangkan kaki, membuka buku, dan mengoreksi ulangan sambil sesekali menoleh untuk memastikan orang di sebelahnya masih makan.

Aku menonton itu selama dua puluh menit.

Dan aku menangis di dalam mobil di seberang jalan dengan cara yang paling memalukan yang bisa dilakukan perempuan tiga puluh dua tahun, yaitu sambil menutup mulut dengan dua tangan supaya tidak ada yang dengar padahal jendelanya tertutup dan tidak ada siapa-siapa.

Bukan karena cemburu.

Aku sudah lama tidak punya hak untuk cemburu dan aku tahu itu dan itu bukan yang kurasakan.

Yang kurasakan begini: selama sembilan tahun aku menyusun satu cerita di kepalaku, dan ceritanya adalah bahwa aku pergi karena tidak ada jalan lain, karena rumah itu memang tidak bisa diselamatkan, karena laki-laki itu memang tidak bisa berubah dan aku sudah mencoba.

Dan aku duduk di seberang jalan dan melihat ada perempuan lain, dengan orang yang sama, di dalam kehidupan yang tidak lebih kaya dari yang dulu kutinggalkan.

Perempuan itu mengambil obeng dari tangannya dan menunjuk rantang.

Itu saja.

Selama ini itu saja yang perlu dilakukan.


Jam satu ada mobil pikap berhenti di depan kios.

Turun dua orang berseragam, membawa map.

Aku melihat mereka berjabat tangan dengan laki-laki itu. Aku melihat map dibuka di meja luar. Aku melihat dia membaca lama sekali — lebih lama dari yang wajar untuk orang yang sudah tahu isinya — dan sesekali menunjuk sesuatu dan bertanya.

Perempuan wali kelas itu berdiri di sebelahnya dan ikut membaca.

Lalu dia menandatangani.

Dan setelah mobil pikap itu pergi, dua orang itu berdiri di trotoar depan kios dan tidak melakukan apa-apa selama beberapa detik.

Lalu perempuan itu memukul lengannya. Keras.

Dan laki-laki itu tertawa.

Aku belum pernah melihatnya tertawa seperti itu.

Aku menikah dengannya empat tahun dan aku belum pernah melihatnya tertawa seperti itu.


Aku hampir pulang.

Aku sudah menyalakan mesin dua kali dan mematikannya dua kali.

Yang membuatku akhirnya turun bukan keberanian. Aku tidak berani. Aku sama sekali tidak berani.

Yang membuatku turun adalah anak sekolah.

Jam dua lewat, dan tiba-tiba trotoar itu penuh anak-anak berseragam merah putih yang berjalan pulang, berombongan, ribut, sebagian membeli es di gerobak di ujung.

Mereka lewat persis di depan kios itu.

Dan aku ingat sesuatu yang dikatakan laki-laki itu di ruang tengahku hari Senin, waktu aku bertanya di mana kiosnya persisnya, dan dia menjawab dengan cara yang tidak kumengerti waktu itu.

Dua ratus meter dari sekolah, Van.

Aku pikir dia sedang memberi patokan alamat.

Aku duduk di mobil dan melihat gerombolan anak SD itu lewat di depan kiosnya dan aku menyadari, dua hari terlambat, bahwa dia sedang menjawab pertanyaan yang lain.

Bukan di mana kiosnya.

Berapa jauh anak kelas lima harus jalan kaki kalau suatu hari dia pulang sekolah dan mau ke tempat bapaknya.

Aku mematikan mesin.

Aku membuka pintu.

Aku menyeberang.