Chapter Thirty Five

Tanpa Cincin

POV: Tamara

Sebulan itu lewat dengan cara paling menyiksa, yaitu biasa saja.

Dia tidak berubah. Tidak ada yang aneh. Tidak ada bunga, tidak ada ajakan makan di tempat yang tidak masuk akal, tidak ada satu pun tanda dari daftar tanda-tanda yang aku sendiri malu mengaku sudah menyusunnya di kepala.

Yang ada cuma kios yang makin ramai dan buku kas yang makin tebal dan seorang laki-laki yang setiap malam masih di sana jam sembilan.

Tanggal tiga puluh aku datang ke kios jam delapan malam dan aku sudah memutuskan di jalan bahwa aku tidak akan menagih.

Kalau dia lupa, ya sudah. Aku sudah dua puluh delapan tahun. Aku tidak akan jadi perempuan yang menagih kalimat.

Rolling door setengah turun. Aku menunduk masuk.

Dia sedang menyolder, punggung membelakangi pintu, kepala menunduk ke papan sirkuit.

Aku tidak menyapa.

Aku berjalan pelan, berhenti di belakang kursinya, dan melingkarkan dua tanganku di depan dadanya, dan menaruh daguku di bahunya.

Soldernya berhenti di udara.

“Tam.”

“Jangan gerak. Nanti kena.”

“Aku megang solder tiga ratus lima puluh derajat.”

“Ya taruh.”

Dia menaruhnya di dudukan.

Dan tetap tidak bergerak, dan aku bisa merasakan bahwa napasnya berubah, dan aku memutuskan untuk tinggal di posisi itu selama yang aku mau karena aku sudah menunggu tiga puluh hari.

“Aku mau tinggal di rumah petakmu, Mas,” kataku ke telinganya.

“Apa?”

“Aku nggak minta yang lain.” Aku mengeratkan pelukanku. “Kalau bulan depan kamu bilang belum siap, aku nggak akan marah. Tapi aku mau kamu tahu itu duluan, sebelum kamu ngomong apa pun. Aku nggak minta yang lain.”

Dia diam lama sekali.

Lalu dia melepas tanganku dari dadanya — pelan, satu-satu, dengan cara yang membuat perutku dingin selama dua detik penuh — dan memutar kursinya menghadapku.

“Duduk.”


Yang dia keluarkan dari laci bukan kotak.

Buku tulis. Yang biasa. Yang tiga ribu di warung.

Dia menaruhnya di meja di antara kami dan membukanya.

“Ini apa?”

“Baca.”

Halaman pertama judulnya ditulis tangan, huruf besar semua, tegak dan agak dipaksakan seperti tulisan orang yang jarang menulis.

YANG HARUS TAMARA TAHU SEBELUM MEMUTUSKAN

Aku mengangkat wajah.

“Mas.”

“Baca dulu.”

Aku membaca.

Halaman satu: seluruh utangku. Bu Ningrum satu juta, sisa delapan ratus. Pak Haji empat ratus, bagi hasil lima persen sampai November. Sewa kios jatuh tempo tanggal lima. Angsuran belum lunas semua.

Halaman dua: penghasilan kios enam bulan terakhir. Per bulan. Ditulis tangan, semua, dengan angka yang naik tapi tidak rapi — ada bulan yang turun, dan bulan yang turun itu tidak disembunyikan.

Halaman tiga judulnya: KALAU AKU SAKIT.

Aku membacanya dan berhenti di tengah.

“Mas.”

“Terus.”

Kalau aku sakit dua minggu, kios tutup. Pemasukan nol. Simpanan sekarang cukup untuk tiga minggu. Setelah itu Tamara yang menanggung semuanya, termasuk sewa kios, karena kalau kios dilepas aku tidak bisa mulai lagi.

Aku tidak punya asuransi. Aku belum bisa beli.

Halaman empat: KALAU KIRANA PULANG.

Biaya bertambah. Sekolah, makan, dokter. Tamara tidak akan pernah jadi yang pertama. Aku sudah bilang ini ke bapaknya Tamara dan aku tidak menariknya.

Halaman lima kosong.

Kecuali satu baris di paling atas.

Yang aku punya cuma ini. Kalau kurang, aku mengerti.


Aku menutup buku itu dan meletakkan dua tanganku di atasnya dan menunduk cukup lama.

“Kamu nulis ini kapan?”

“Sebulan.”

“Sebulan?”

“Dua puluh tiga hari.” Dia menggosok tengkuknya. “Yang halaman tiga aku tulis ulang empat kali. Yang pertama aku bikin kelihatan lebih bagus dari yang sebenarnya, terus aku sobek.”

“Kenapa disobek?”

“Karena kalau kamu bilang iya ke yang versi bagus, kamu bilang iya ke orang yang salah.”

Aku menatapnya.

“Mas Adam.”

“Hm.”

“Kamu ngelamar aku pakai laporan keuangan.”

“...Iya.”

“Kamu tahu nggak orang normal ngelamar pakai apa?”

“Cincin.”

“Nah.”

“Aku nggak punya.”

Dia bilang itu tanpa malu, tanpa minta maaf, dengan nada orang yang sedang menyebutkan hasil pengukuran.

“Aku sudah lihat harganya,” lanjutnya. “Yang paling murah yang pantas itu satu juta dua. Sama dengan sewa kios sebulan.”

“Mas—“

“Dan aku bisa nunggu enam bulan sampai punya.” Dia menatapku. “Aku sudah mikir itu. Aku hampir milih itu.”

“Terus kenapa nggak?”

“Karena itu nunggu lagi.”


Dia berdiri.

Kios itu kecil. Kalau dia berdiri, jaraknya jadi tidak ada.

“Tam, aku sudah delapan tahun jadi orang yang nunggu,” katanya. “Nunggu barang rusak. Nunggu orang nelepon. Nunggu sampai aku pantas. Nunggu sampai keadaannya bener dulu.”

“Iya.”

“Dan tiap kali aku nunggu sampai pantas, yang datang duluan selalu hal yang lain.” Suaranya rendah. “Aku nunggu sampai pantas buat beliin anakku dokter gigi. Yang datang duluan ibunya.”

Aku menahan napas.

“Jadi nggak,” katanya. “Nggak nunggu lagi. Cincinnya nanti. Kalau kamu mau, kita beli bareng, pakai uang kios, bulan Agustus.”

“Mas—“

“Aku belum selesai.”

Aku menutup mulut.

Dan laki-laki itu — yang bicara dua kata di gerbang sekolah tengah malam dan diprotes karena kurang, yang menjawab pengakuan cinta dengan daftar barang, yang butuh sepuluh menit untuk menyusun kalimat di depan bapakku — berdiri di kiosnya sendiri dan bicara tanpa berhenti untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya.

“Aku jatuh cinta sama kamu, Tam.”

Aku tidak bisa bergerak.

“Dari kamu marahin aku gara-gara telat lima menit,” katanya. “Waktu itu aku belum tahu itu apa. Aku pikir aku cuma nggak enak sama guru anakku. Tiga bulan aku pikir gitu.”

“Mas.”

“Terus kamu bayarin klinik itu diam-diam dan aku marah, dan aku baru sadar aku nggak pernah semarah itu sama orang yang nggak penting.” Dia menelan. “Terus kamu teriak di ruang guru gara-gara aku kemurahan tiga ratus ribu. Nggak ada yang pernah teriakin aku gara-gara itu, Tam. Delapan tahun. Semua orang cuma bilang ‘kasihan ya Adam’.”

Aku sudah menangis dan aku tidak sempat menyadarinya.

“Kamu satu-satunya orang yang marah sama aku,” katanya. “Bukan kasihan. Marah. Karena kamu pikir aku pantas dapat lebih.”

Dia berhenti.

“Aku nggak punya apa-apa buat ditaruh di jari kamu,” katanya. “Yang aku punya cuma buku itu, dan isinya jelek semua, dan aku tetap kasih ke kamu karena aku nggak mau kamu bilang iya ke sesuatu yang nggak kamu tahu.”

Dia menarik napas.

“Mau nggak kamu nikah sama aku?”


Aku tidak menjawab dulu.

Aku berdiri, dan aku menarik kerah kemejanya seperti biasa, seperti setiap kali, karena ternyata aku memang cuma bisa itu.

Lalu aku melepasnya lagi.

“Mas.”

“Hm.”

“Ambil pulpen.”

“Apa?”

“Ambil pulpen kamu.”

Dia mengambilnya dari meja, bingung.

Aku membuka buku itu ke halaman lima, yang kosong kecuali satu baris di paling atas.

Dan aku menulis di bawahnya.

Gaji pokok + tunjangan: 4.100.000 per bulan, tanggal 1.BPJS kelas 2, aktif, sudah termasuk suami dan anak nanti.Tabungan: 31.400.000.Kalau Mas sakit dua minggu, kios nggak usah tutup. Sarno bisa yang gampang-gampang, aku yang jaga kas.Kalau Kirana pulang, aku wali kelas keempatnya selama satu tahun penuh dan aku hafal semua yang dia suka dan semua yang bikin dia diam.Aku sudah tahu aku nggak akan jadi yang pertama. Aku sudah dikasih tahu Bapak aku sendiri, empat bulan lalu, dan aku tetap di sini.

Aku menaruh pulpennya.

“Nih,” kataku. “Sekarang datanya lengkap.”

Dia membacanya.

Aku melihat matanya bergerak turun baris per baris, dan berhenti di baris terakhir, dan berhenti di situ lama sekali.

“Tam.”

“Mau.”

“Aku belum—“

“Kamu sudah nanya barusan, dan aku jawab.” Aku menyeka wajahku dengan punggung tangan. “Mau, Mas. Sudah dari lama. Aku cuma nunggu kamu berani nanya.”


Kami menutup kios jam sepuluh.

Di luar, di trotoar, Bu Ningrum sedang menurunkan rolling door tokonya sendiri dan melihat kami keluar dan langsung berhenti bergerak.

“Bu Ningrum,” kata Adam.

“Apa.”

“Ini Tam.”

Bu Ningrum mengerutkan kening.

“Saya tahu itu Tamara, Dam. Dia beli lampu dari saya tiga puluh dua kali.”

“Bukan.” Dia menoleh padaku sebentar. “Maksud saya— bulan Agustus. Kalau Ibu ada waktu.”

Bu Ningrum menatapnya. Lalu menatapku. Lalu menatap tangan kami, yang mana adalah kesalahan kami sendiri karena kami memang sedang bergandengan di trotoar di depan tokonya.

Perempuan lima puluh empat tahun itu menaruh gembok yang sedang dipegangnya ke atas rolling door.

“Ya Allah,” katanya. “Akhirnya.”

“Bu—“

“Delapan bulan saya jualan lampu ke perempuan ini.” Dia mengangkat kedua tangan ke langit. “Dua puluh delapan lampu, Dam. DUA PULUH DELAPAN. Rumahnya satu kamar.”

“Tiga puluh dua, Bu,” kataku.

“NAH.”


Di parkiran, sebelum aku pulang, aku ingat satu hal dan berhenti.

“Mas.”

“Hm.”

“Kirana.”

Dia berhenti memasang helm.

Kami berdiri di situ beberapa saat, dan aku melihat seluruh malam itu — buku tulis tiga ribu, halaman lima, trotoar, Bu Ningrum — perlahan berubah bentuk di wajahnya.

“Iya,” katanya pelan.

“Kamu mau kasih tahu dia kapan?”

“Aku nggak tahu.”

“Mas.”

“Aku nggak tahu, Tam.” Dia menggosok wajahnya dengan satu tangan. “Aku sudah delapan bulan nggak bilang. Aku janji di depan pos satpam sekolah bahwa aku yang bakal bilang, terus aku nggak bilang, terus makin lama makin susah.”

“Telepon dia besok.”

“Besok bukan jadwal.”

“Mas Adam.” Aku menatapnya. “Kalau soal ini kamu nunggu jadwal, kamu balik lagi jadi orang yang nunggu.”

Dia diam.

“Besok aku telepon,” katanya.

Dia tidak sempat.

Karena besok pagi, jam sepuluh kurang, di sekolah, seorang anak kelas empat mendengar sesuatu dari anak kelas enam yang ibunya ada di grup WhatsApp bernama Kurikulum Merdeka.