Chapter Forty Nine
Tiga Potong
POV: Kira
Ibu masuk kamar jam tujuh pagi hari Sabtu.
Bukan mengetuk. Masuk.
Dua hari terakhir Ibu memang begitu — masuk saja, seperti orang yang sedang mengejar sesuatu yang tertinggal, dan aku tidak keberatan sedikit pun.
“Kirana. Bangun.”
“Ini Sabtu, Bu.”
“Ibu tahu. Bangun.”
Aku duduk. Rambutku berantakan. Ibu duduk di ujung kasur dan aku melihat mukanya dan aku langsung tahu ada sesuatu.
“Ibu kenapa?”
“Kamu mandi dulu.”
“Bu—“
“Mandi dulu, Nak. Ibu tunggu.”
Ibu ngomongnya di meja makan, sambil aku makan, dan Ibu tidak duduk. Ibu berdiri di sisi meja memegang punggung kursi.
“Kirana.”
“Iya, Bu.”
“Ibu sudah putusin sesuatu.”
Aku menaruh sendok.
“Ibu nggak akan tanya kamu mau atau nggak,” katanya. “Ibu nggak akan tanya kamu mau ikut siapa. Nggak sekarang, nggak nanti. Nggak akan pernah.”
Ada bunyi di telingaku.
“Hari ini Ibu antar kamu ke rumah ayahmu,” katanya. “Dan kamu tinggal di sana.”
Aku tidak senang.
Aku mau menulis itu apa adanya karena kalau aku bohong di bagian ini semua yang lain jadi bohong juga.
Aku tidak senang.
Yang pertama datang di dadaku bukan senang. Yang pertama datang itu takut, dan yang kedua marah, dan yang ketiga sesuatu yang aku sampai sekarang tidak tahu namanya.
“Kenapa?”
“Kirana—“
“Kenapa, Bu?” Suaraku aneh. “Kira salah apa?”
Ibu menutup matanya.
“Kamu nggak salah apa-apa.”
“Terus kenapa Ibu—“
“Karena Ibu yang salah.”
“Ibu nggak salah!” Aku berdiri. Kursinya jatuh. “Ibu nggak jahat sama Kira! Ibu bawa Kira ke dokter! Ibu—“
“Nak.”
“Kira nggak pernah komplain apa-apa, Bu. Nggak sekali pun. Kira—“
“Kirana.”
Ibu jongkok di depanku dan memegang dua bahuku.
“Itu masalahnya,” kata Ibu.
Aku menangis di dapur itu selama mungkin sepuluh menit.
Bukan tangis senang. Aku tahu bedanya sekarang.
Aku menangis karena aku sudah satu setengah tahun menyusun cara supaya rumah ini tidak terasa seperti tempat menunggu, dan aku hampir berhasil, dan pagi itu semuanya dibongkar dalam satu kalimat.
Dan karena aku sadar — di dapur itu, sambil ingus keluar dan Mbak Ratih pura-pura mengelap meja di sudut — bahwa aku senang.
Aku senang sekali.
Dan aku merasa jahat karena senang, dan itu yang paling tidak enak dari seluruh pagi itu.
“Nak.”
“Iya, Bu.”
“Kamu boleh senang.”
Aku mengangkat wajah.
“Ibu izinin,” kata Ibu. “Kamu boleh senang, dan kamu nggak usah nutupin di depan Ibu, dan kamu nggak usah minta maaf.”
“Bu—“
“Ibu tahan sampai kamu masuk pintu itu.” Ibu menyeka wajahnya. “Habis itu Ibu nangis di mobil sendirian. Itu urusan Ibu, bukan urusan kamu.”
Aku mengemasi barangku sendiri.
Ibu tidak membantu. Ibu duduk di kursi kamarku — di sebelah beruang besar yang tidak pernah pindah dari situ — dan menonton.
Aku ambil ransel yang di sudut.
Aku buka. Isinya masih empat: topi kuning, obeng pink, kertas ulangan, cap sekolah yang gagal.
Aku tambah satu: buku sampul kertas kado.
Aku tambah satu lagi: foto yang Ibu kasih malam itu.
“Kirana.”
“Iya, Bu.”
“Baju kamu.”
“Bajunya di sini aja.”
Ibu berhenti.
“Nak—“
“Bajunya di sini aja, Bu.” Aku menutup ransel. “Kan kamar Kira nggak dibongkar.”
Ibu menutup mulutnya dengan tangan.
“Kata Ayah gitu, kan?” tanyaku. “Kata Ayah kamarnya tetap ada.”
“Iya.”
“Ya sudah.” Aku memakai ransel di dua bahu. “Berarti ini masih kamar Kira. Masa kamar Kira nggak ada bajunya.”
Ibu yang menyetir.
Bukan Pak Ujang. Om Bram juga tidak ikut. Om Bram berdiri di teras waktu kami keluar dan dia melambai dan dia bilang “hati-hati, ya” dan suaranya tidak benar sama sekali.
Aku turun dari mobil lagi.
Aku lari balik ke teras.
Aku salim ke Om Bram, dan aku bilang, “Om.”
“Iya?”
“Makasih ya, Om.”
“Buat apa?”
Dan aku bilang yang paling benar yang bisa aku pikirkan dalam tiga detik.
“Buat yang di lantai sebelas.”
Aku tidak menunggu mukanya.
Aku lari balik ke mobil.
Dua belas kilometer.
Aku hafal jaraknya. Aku sudah menghitungnya ratusan kali.
Yang tidak aku tahu, dua belas kilometer itu ternyata cuma dua puluh delapan menit.
Dua puluh delapan menit.
Satu setengah tahun aku memikirkan jarak ini seperti sesuatu yang besar sekali, dan ternyata kalau ada yang mau mengantar, jaraknya dua puluh delapan menit.
Aku melihat ke luar jendela sepanjang jalan.
Lampu merah pertama. Kedua. Belok. Pasar. Toko Bu Ningrum — aku melihatnya, ada tulisan baru di kacanya — terus kios.
Aku menoleh.
Rolling door-nya turun. Ada kertas ditempel.
HARI INI TUTUP.
“Bu.”
“Hm.”
“Kiosnya tutup.”
Ibu tidak menjawab.
Aku melihat mukanya di kaca spion dan Ibu sedang menggigit bibirnya.
“Bu, Ayah tahu Kira dateng?”
“Ibu telepon tadi pagi.”
“Jam berapa?”
“Jam enam.”
Gangnya sempit. Mobilnya tidak muat.
Kami jalan kaki empat puluh meter.
Aku menghitung langkah dan aku tidak bisa berhenti menghitung, dan sampai hari ini aku ingat angkanya: lima puluh tiga langkah dari mobil ke pintu.
Rumahnya kecil. Catnya kusam. Ada dua kursi plastik di teras.
Dan di teras itu, duduk di anak tangga, dengan kemeja yang disetrika dan tangan yang jelas-jelas baru dicuci berkali-kali, ada Ayah.
Ayah berdiri waktu melihat kami di ujung gang.
Ayah tidak lari.
Ayah cuma berdiri di situ, dan menunggu, dan aku sudah tahu Ayah akan begitu karena Ayah selalu begitu, karena satu-satunya yang bisa Ayah lakukan seumur hidupnya cuma datang dan menunggu.
Aku yang lari.
Aku tidak bisa menuliskan bagian ini dengan benar.
Aku sudah coba tiga kali dan tidak ada yang benar.
Yang bisa aku tulis cuma ini: aku menabrak Ayah dan Ayah hampir jatuh ke belakang dan Ayah memegang kusen pintu dengan satu tangan supaya tidak jatuh, dan tangan yang satunya di belakang kepalaku.
Dan Ayah tidak bilang apa-apa.
Nol kata.
Ayah cuma memegangi kepalaku dan bernapas dengan cara yang aneh, dan aku merasakan dadanya naik turun tidak beraturan di pipiku, dan aku tahu Ayah sedang menahan sesuatu dengan seluruh tenaganya karena ada dua orang perempuan berdiri di teras itu.
Dan Ayah kalah.
Aku merasakan kapan tepatnya Ayah kalah, karena bahunya turun semua sekaligus.
Bu Tam yang membawaku ke kamar.
Ayah tidak bisa. Ayah duduk di kursi plastik teras dan Ibu duduk di kursi satunya dan mereka berdua tidak bicara sama sekali dan itu tidak apa-apa.
“Sini,” kata Bu Tam.
Lorongnya pendek. Empat langkah.
Bu Tam membuka pintu di ujung.
Tiga kali empat meter.
Kasur. Meja belajar dari kayu, kakinya diganjal triplek yang kelihatan kalau menunduk. Lampu belajar yang bisa ditekuk. Jendela menghadap kebun kosong, dan matahari masuk sampai lantai karena masih jam sembilan.
Dan di atas meja, di tengah, satu obeng kecil.
Gagangnya dililit isolasi warna pink.
Aku berjalan ke meja itu dan aku mengambilnya dan aku memegangnya dengan dua tangan seperti waktu aku umur sepuluh.
“Bu Tam.”
“Hm.”
“Isolasinya sama.”
“Iya.”
“Rolnya yang tiga tahun lalu?”
“Iya, Kirana.” Suara Bu Tam serak. “Ayahmu simpan.”
Bu Tam duduk di ujung kasur dan menepuk sebelahnya.
Aku duduk.
“Kirana.”
“Iya, Bu Tam.”
“Ibu mau bilang satu hal, dan Ibu mau bilang sekarang sebelum semuanya jadi ramai.”
“Iya.”
Dan Bu Tam bilang, tanpa dilembut-lembutkan, seperti biasa:
“Ibu Guru sayang sama Kira duluan, baru sama ayah Kira.”
Aku menoleh.
“Ibu baca karangan kamu bulan Oktober,” kata Bu Tam. “Ayah kamu baru Ibu suka bulan Desember.”
“Bu Tam—“
“Jadi kalau nanti ada yang bilang Ibu masuk ke rumah ini gara-gara ayahmu,” katanya, “kamu boleh bilang mereka salah urutan.”
Aku memeluknya.
Dan Bu Tam bilang “aduh” karena aku menyenggol dagunya, dan kami berdua tertawa, dan itu bunyi pertama yang lucu di rumah itu hari itu.
Ibu pulang jam sebelas.
Aku mengantarnya ke ujung gang. Ayah tidak ikut. Ayah berdiri di teras dan Bu Tam berdiri di sebelahnya dan mereka membiarkan kami berdua.
Lima puluh tiga langkah.
Di depan mobil, Ibu berbalik.
“Kirana.”
“Iya, Bu.”
“Ibu—“
Dan Ibu berhenti, karena tidak ada yang bisa diucapkan, dan kami berdua tahu itu.
Jadi aku yang bilang.
Aku bilang yang biasa aku bilang, yang sudah aku hafal seumur hidup, yang aku tulis di buku supaya jawabannya sudah siap dan tidak ada yang perlu menunggu.
“Ibu nggak usah sedih,” kataku. “Kira juga nggak apa-apa.”
Dan Ibu—
Ibu menggeleng.
“Nggak, Nak.”
Aku berkedip.
“Apa?”
“Nggak usah.” Ibu jongkok. Ibu memegang dua tanganku. “Kali ini nggak usah.”
“Bu—“
“Ibu tahu kalimat itu, Kirana.” Mata Ibu merah semua. “Ibu sudah dengar itu sembilan tahun lalu dari ayahmu, dan waktu itu Ibu terlalu capek buat sadar itu bukan jawaban.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Kamu nggak usah bilang nggak apa-apa ke Ibu,” kata Ibu. “Nggak sekarang. Nggak seumur hidup kamu. Kamu boleh nggak baik-baik aja di depan Ibu.”
Dan seluruh yang aku tahan sejak jam tujuh pagi keluar semua di ujung gang itu, di depan mobil, di depan warung Bu Nur yang orang-orangnya semua menoleh.
Sebelas tahun.
Sebelas tahun tidak ada satu orang pun yang menolak kalimat itu.
Ibu pulang sendirian.
Aku berdiri di ujung gang sampai mobilnya belok.
Aku tidak melambai. Ibu juga tidak.
Kami berdua tidak menoleh, dan aku tahu kenapa aku tidak menoleh, dan aku tahu kenapa Ibu tidak menoleh, dan itu hal yang sama.
Ayah masak siang itu.
Nasi goreng. Nasi kemarin. Agak gosong di pinggir.
Bu Tam mau membantu dan Ayah bilang jangan, dan Bu Tam duduk di kursi dan mengomel selama dua puluh menit dan tidak pergi.
Aku duduk di lantai ruang depan — bukan di kursi, di lantai, karena lantainya dingin dan aku sudah lama tidak duduk di lantai — dan aku menonton punggung Ayah di dapur.
Terus Ayah menaruh tiga piring di lantai.
Terus Ayah keluar sebentar.
Terus Ayah balik bawa plastik.
Dan Ayah membuka plastiknya dan menaruh isinya di atas tutup gelas supaya tidak lembap, seperti biasa, seperti selalu, seperti delapan tahun.
Bakwan.
Aku menghitung.
Satu.
Dua.
Tiga.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong reading
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis