Chapter Thirty Eight

Kelas Lima

POV: Tamara

Kami bertemu hari Sabtu, di ruang kelas 4B, yang kosong karena Sabtu.

Aku sudah mengajar delapan tahun dan sudah menghadapi ratusan anak dalam ratusan percakapan sulit, dan aku menyiapkan pertemuan ini selama tiga hari seperti orang menyiapkan sidang.

Aku menyiapkan kalimat pembuka. Aku menyiapkan tiga versi jawaban untuk tiga kemungkinan pertanyaan. Aku bahkan menyiapkan di mana aku akan duduk — bukan di kursi guru, karena kursi guru itu ketinggian.

Anak itu masuk jam sembilan, meletakkan tas di meja, dan duduk di kursinya sendiri, absen empat belas, baris kedua dari kanan.

Aku duduk di kursi di sebelahnya.

Dan seluruh persiapan tiga hariku hancur dalam empat detik, karena dia yang bicara duluan.

“Bu Tam.”

“Iya.”

“Kira minta maaf.”


“Kirana.”

“Kira udah mikir.” Dia menatap mejanya sendiri. “Kira marahnya bukan sama Bu Tam.”

“Ibu tahu.”

“Tapi Kira ada marah sedikit sama Bu Tam.”

Aku menutup mulut.

“Sedikit,” ulangnya, dan mengangkat ibu jari dan telunjuknya dengan jarak satu senti. “Segini.”

“Boleh Ibu tanya kenapa?”

Anak itu diam agak lama.

“Waktu Kira tanya Bu Tam masih ke rumah Ayah nggak, Bu Tam jawab masih.” Dia masih menatap meja. “Waktu Kira tanya sering nggak, Bu Tam jawab seminggu dua kali kadang tiga.”

“Iya.”

“Bu Tam nggak bohong.”

“Nggak.”

“Tapi Bu Tam tahu Kira nanyanya itu bukan buat tahu berapa kali seminggu.”

Aku menatap anak berumur sepuluh tahun itu dan merasakan sesuatu yang dekat sekali dengan takut.

“Iya,” kataku. “Ibu tahu.”

“Kenapa Bu Tam nggak bilang?”

“Karena Ibu janji sama ayahmu.”

“Oh.” Dia mengangguk. “Iya sih.”

Dan dia menerima itu. Begitu saja. Tanpa protes.

Dan aku duduk di kursi anak kelas empat di ruang kelas kosong hari Sabtu dan merasa jauh lebih buruk daripada kalau dia berteriak.


“Kirana, sekarang giliran Ibu.”

Dia menoleh.

“Ibu mau minta maaf, dan Ibu mau kamu dengar sampai selesai, terus habis itu kamu boleh bilang apa aja. Boleh marah. Boleh nggak mau ngomong sama Ibu lagi. Ibu tetap ngajar kamu dengan baik sampai kenaikan kelas.”

“Bu Tam nggak usah—“

“Dengar dulu.”

Dia menutup mulut.

“Ibu nggak minta maaf karena suka sama ayahmu,” kataku. “Yang itu Ibu nggak nyesel sedikit pun dan Ibu nggak akan pura-pura nyesel.”

Dia mengangguk pelan.

“Yang Ibu minta maaf, Ibu diam delapan bulan sama anak yang tiap hari duduk di kelas Ibu.” Aku menatapnya. “Kamu titip satu kalimat ke Ibu dulu, waktu karangan itu. Kamu tulis Bu Guru juga jangan bilang-bilang ya.

Matanya membesar.

“Bu Tam inget?”

“Ibu simpan kertasnya sampai sekarang.”

“Yang mana— “

“Yang judulnya AYAHKU.” Aku menatapnya lurus. “Yang isinya soal buku yang kamu simpan.”

Anak itu memucat.

“Bu Tam—“

“Ibu nggak pernah bilang ke siapa-siapa,” kataku cepat. “Sampai sekarang. Termasuk ke ayahmu. Terutama ke ayahmu.”

Dia menghembuskan napas.

“Tapi kamu percaya Ibu buat nyimpen rahasia kamu,” lanjutku, “dan Ibu balas dengan nyimpen rahasia Ibu dari kamu. Itu nggak adil, Kirana. Kamu sepuluh, Ibu dua puluh delapan.”

Dia menunduk.

“Jadi mulai sekarang begini,” kataku. “Kalau ada apa-apa soal ayah kamu, kamu tanya ke Ibu, dan Ibu jawab jujur. Semuanya. Walaupun jelek. Walaupun ayahmu nggak mau.”

“Beneran?”

“Beneran.”

“Kalau Ayah nyuruh Bu Tam diem?”

“Ibu bilang ke ayahmu, Ibu nggak mau.”

Dan anak itu tersenyum — kecil, di satu sudut — untuk pertama kalinya sejak dia masuk ruangan.


Dia bertanya delapan hal setelah itu.

Aku menjawab semuanya. Jujur. Termasuk yang jelek.

“Bu Tam bakal tinggal di rumah petak?”

“Iya. Kalau belum pindah.”

“Bu Tam nggak jijik? Kamar mandinya pintunya harus diangkat.”

“Ibu sudah pernah pakai.”

“Kapan?”

“Waktu Ibu pertama ke rumah kamu, dan ayahmu nyuruh Ibu megang senter empat puluh menit, dan Ibu terlalu gengsi buat bilang Ibu kebelet.”

Dia tertawa. Keras. Di ruang kelas kosong.

“Bu Tam nanti punya anak?”

Dan di situ aku tidak melembutkan.

“Ibu nggak tahu,” kataku. “Mungkin. Ibu mau, kalau dikasih.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Kirana.”

“Iya.”

“Kalau itu terjadi, kamu tetap yang pertama.”

“Bu Tam nggak usah bilang gitu—“

“Ibu nggak lagi baik-baikin kamu.” Aku memutar kursiku menghadapnya penuh. “Ibu nggak bilang kamu yang pertama buat Ibu. Ibu belum tentu bisa janji itu dan Ibu nggak mau bohong.”

Dia menatapku.

“Yang Ibu bilang: kamu yang pertama buat ayah kamu, dan itu bukan sesuatu yang bisa Ibu ubah, dan Ibu nggak mau ngubah.” Aku menahan pandanganku. “Ibu sudah tahu itu dari sebelum Ibu bilang mau. Bapak Ibu sendiri yang kasih tahu. Ibu tetap bilang mau.”

Anak itu diam lama sekali.

“Bu Tam nggak sedih?”

“Sedih.”

“Terus kenapa tetap mau?”

Aku memikirkannya, dan aku memutuskan untuk memberikan jawaban yang sebenarnya, karena aku baru saja berjanji.

“Karena Ibu tumbuh di rumah yang orang tuanya lengkap,” kataku, “dan nggak ada satu pun yang pernah datang ke pentas drama Ibu.”

Dia mengerutkan kening.

“Ayah kamu, delapan tahun, dateng ke gerbang sekolah tiap hari. Telat lima menit tiap kali, tapi dateng.” Aku menyeka mataku sekali. “Ibu nggak pernah punya itu, Kirana. Sekali pun.”

“Jadi Bu Tam mau ayah Kira karena—“

“Karena Ibu mau tahu rasanya jadi orang yang ditungguin,” kataku. “Walaupun nomor dua.”


Dia memelukku sebelum keluar.

Berdiri dari kursi, jalan tiga langkah, dan memeluk pinggangku tanpa bilang apa-apa, dan aku tidak siap sama sekali dan aku menumpahkan seluruh persiapan tiga hariku ke rambut anak itu.

“Bu Tam.”

“Hm.”

“Jaga Ayah ya.”

“Iya.”

“Ayah suka lupa makan kalau lagi mikir.”

“Ibu tahu.”

“Terus Ayah kalau capek nggak bilang capek, Ayah malah kerja lebih banyak.”

“Ibu tahu itu juga.”

“Terus— “ Dia menarik napas. “Terus kalau Ayah salah pasang kapasitor, itu artinya Ayah lagi sedih.”

Aku memegang bahunya dan mendorongnya sedikit supaya bisa melihat wajahnya.

“Kirana.”

“Iya.”

“Itu bukan kerjaan kamu lagi.”

Anak itu menatapku.

“Iya,” katanya. “Kata Ayah juga gitu.”

“Terus?”

“Terus Kira tetep mau.” Dia mengangkat bahu. “Kan boleh.”


Kenaikan kelas dua bulan kemudian.

Aku tahu ini akan datang. Aku sudah tahu sejak Januari. Aku wali kelas empat; aku selalu wali kelas empat; sudah enam tahun berturut-turut aku memegang kelas empat dan aku tidak pernah keberatan sekali pun.

Rapat pembagian tugas hari Rabu di ruang guru.

“Bu Tamara tetap 4B,” kata Pak Har.

Aku mengangkat tangan.

“Pak, saya minta 5A.”

Seluruh ruangan menoleh.

“Bu Tamara sudah enam tahun di kelas empat.”

“Iya, Pak.”

“Ada alasan khusus?”

Dan aku sudah menyiapkan jawabannya selama dua minggu, dan aku tetap harus menunggu tiga detik sebelum bisa mengucapkannya.

“Nggak, Pak. Cuma pengen suasana baru.”

Bohong.

Pak Har memandangiku dari balik kacamatanya selama beberapa saat.

“Bu Tamara.”

“Iya, Pak.”

“Kelas 5A wali kelasnya Pak Dedi. Sudah tiga tahun. Anak-anaknya cocok sama dia.” Beliau menaruh pulpennya. “Kalau saya pindahkan, saya harus punya alasan yang bisa saya tulis di berkas.”

“Saya ngerti, Pak.”

“Dan alasan yang bisa saya tulis,” katanya pelan, “bukan alasan yang sebenarnya. Ibu tahu itu.”

Ruang guru itu sunyi.

Bu Yanti tidak menoleh. Pak Dedi menatap mejanya. Semua orang di ruangan itu tahu, karena semua orang di sekolah ini sudah tahu sejak Bu Yanti mengetik lima kata di grup bernama Kurikulum Merdeka.

“Ya sudah, Pak,” kataku.

“Bu Tamara—“

“Nggak apa-apa. Saya tetap 4B.”


Pengumuman kelas ditempel hari Jumat di papan depan.

Aku berdiri di jendela ruang guru dan menonton anak-anak berkerumun di depan papan itu, saling mendorong, mencari nama masing-masing, berteriak waktu menemukan teman.

Aku mencari satu anak.

Dia ada di pinggir kerumunan, menunggu sampai agak sepi, seperti biasa. Lalu maju. Lalu membaca.

KELAS 5B — WALI KELAS: BAPAK DEDI SUPRIYANTO

Aku melihat dia membaca nama itu.

Aku melihat dia berdiri di situ beberapa detik lebih lama dari yang perlu.

Lalu dia menoleh — ke atas, ke jendela ruang guru, tepat ke tempatku berdiri, seolah dia sudah tahu aku di sana sejak tadi.

Kami saling menatap melewati halaman sekolah.

Dia mengangkat tangan setinggi bahu. Melambai sekali, pendek.

Lalu berbalik dan berjalan ke gerbang tempat mobil hitam itu menunggu.

Dan besok, dan seterusnya, anak itu tidak lagi duduk di baris kedua dari kanan di ruangan yang aku masuki setiap pagi.

Aku sudah delapan bulan jadi satu-satunya jembatan antara laki-laki itu dan anaknya.

Hari itu jembatannya putus, dan yang memutuskannya bukan Vanya, bukan Bram, bukan siapa-siapa.

Kalender.