Chapter Twenty
Kamar Nomor Dua dari Tangga
POV: Kira
Rumahnya ada tangganya.
Aku belum pernah tinggal di rumah yang ada tangganya. Di sekolah ada, tapi sekolah beda, sekolah memang harusnya besar.
Kamarku yang nomor dua dari tangga.
Pintunya putih. Di dalamnya ada kasur yang tingginya sampai pinggangku, ada lemari yang bisa masuk tiga orang, ada meja belajar yang lampunya bisa ditekuk, dan ada jendela besar yang tirainya dua lapis — satu tipis, satu tebal.
Aku hitung: kasur, lemari, meja, kursi, rak, karpet, lampu, tirai.
Delapan barang.
Di rumah kami, di kamar, barangnya ada tiga. Kasur, lemari plastik, kipas.
Malam pertama aku tidak bisa tidur karena terlalu sepi.
Ini aneh, karena harusnya sepi itu enak.
Di rumah, kalau malam, ada bunyi kipas ngik setiap tiga putaran, ada bunyi TV Pak Haji Tarmiji yang kekencangan, ada bunyi solder Ayah yang ditaruh di kaleng, ada bunyi motor lewat gang.
Di sini tidak ada bunyi apa-apa. AC-nya juga tidak bunyi. Aku bangun tengah malam dan berbaring di kasur setinggi pinggang itu dan mendengarkan dan yang aku dengar cuma telingaku sendiri.
Malam kedua aku turun dari kasur dan tidur di karpet.
Malam ketiga juga.
Malam keempat Mbak Ratih yang bantu-bantu di rumah ini menemukan aku di karpet waktu bawa handuk pagi-pagi, dan dia kaget, dan dia lapor.
Habis itu ada yang menaruh guling tambahan di kasur. Dua.
Aku tidur di kasur setelah itu. Bukan karena gulingnya. Karena aku tidak mau ada yang lapor lagi.
Yang harus aku pelajari di rumah ini banyak.
Satu: kalau makan, tidak boleh menghitung.
Hari pertama aku tanya, “Ini ayamnya berapa, Bu?”
Semua orang di meja berhenti mengunyah.
Ibu bilang, “Kirana nggak usah mikirin itu.”
Om Bram bilang, “Makan aja, Nak.”
Mbak Ratih di belakang menunduk.
Aku bilang iya, dan aku makan, dan aku tidak tanya lagi sampai sekarang.
Tapi aku tetap menghitung di dalam. Aku tidak bisa berhenti. Ayam di sini beda dengan ayam di warung Bu Nur. Ini yang dadanya tebal. Ini di pasar dua puluh delapan ribu satu ekor, kalau sudah dipotong dan digoreng dan dikasih apa-apa jadi lebih.
Aku hitung di dalam kepala terus, tiap makan, tiga kali sehari.
Dua: di sini kalau ada yang rusak, dibuang.
Ini yang paling susah.
Minggu kedua, tutup blender pecah. Cuma tutupnya. Badannya masih bagus, motornya masih jalan, aku dengar sendiri masih halus.
Mbak Ratih bilang ke Ibu. Ibu bilang, “Ya sudah, beli baru.”
Aku bilang, “Bu, itu tutupnya doang.”
“Iya, tapi kalau tutupnya nggak ada nanti muncrat.”
“Bisa beli tutupnya aja.”
“Beli tutupnya di mana, Kirana?”
Dan aku tidak bisa jawab, karena beli tutupnya di toko Bu Ningrum, dan toko Bu Ningrum dua belas kilometer dari sini, dan aku tidak tahu bagaimana cara ke sana.
Blendernya dibuang hari itu juga.
Aku melihat orang mengangkatnya ke tempat sampah besar di depan, dan motor yang masih halus itu ikut masuk, dan aku berdiri di jendela lantai dua dan dadaku sakit di titik yang sama seperti waktu aku dengar Ayah bilang “dokter giginya siapa”.
Tiga: di sini semua orang baik.
Ini bukan sindiran. Aku serius.
Ibu baik. Om Bram baik. Mbak Ratih baik. Sopirnya namanya Pak Ujang dan dia baik, dia hafal aku suka duduk di depan.
Tidak ada yang jahat sama sekali di rumah ini. Tidak ada yang marah. Tidak ada yang mengunci aku di kamar. Tidak ada yang bilang aku anak orang miskin.
Aku sudah baca buku-buku yang begitu. Di buku, kalau anak dibawa ke rumah baru, biasanya ada yang jahat.
Di sini tidak ada.
Dan itu yang bikin aku tidak tahu harus bagaimana.
Kalau ada yang jahat, aku bisa marah. Aku bisa punya alasan. Aku bisa bilang aku mau pulang karena di sini ada yang jahat.
Di sini tidak ada yang jahat, dan aku tetap mau pulang, dan berarti masalahnya aku.
Ke dokter gigi hari Selasa.
Tempatnya wangi. Kursinya bisa turun sendiri. Ada layar di langit-langit yang bisa nonton kartun.
Dokternya perempuan, ramah, memanggilku “Adik cantik”.
“Adik cantik, ini yang bawah kanan ya. Ada dua. Yang satu sudah agak dalam.”
“Iya, Dok.”
“Sakit nggak selama ini?”
Aku diam sebentar.
“Kalau minum yang dingin.”
“Dari kapan?”
“Kelas tiga.”
Dokternya berhenti menulis.
“Kelas tiga? Setahun lebih?”
“Iya.”
“Nggak bilang siapa-siapa?”
“Nggak.”
Dokternya melihat ke Ibu. Ibu melihat ke lantai.
Aku ingin bilang sesuatu waktu itu. Aku ingin bilang: Bu Dokter jangan lihat gitu, Ayah nggak tahu karena Kira nggak bilang, Kira nggak bilang karena Kira tahu berapa harganya, Kira sudah tanya-tanya waktu kelas tiga dan yang paling murah tiga ratus.
Aku tidak bilang.
Karena kalau aku bilang, artinya aku bilang Ayah miskin di depan orang, dan itu tidak boleh.
Jadi aku diam dan membuka mulut dan menonton kartun di langit-langit sampai selesai.
Di mobil pulang, Ibu memegang tanganku dan bilang, “Nanti bulan depan kontrol lagi ya.”
“Iya, Bu.”
Terus Ibu bilang, pelan sekali, “Maaf ya, Nak.”
Aku tidak jawab.
Bukan karena marah.
Karena aku tidak tahu maaf itu buat aku atau buat Ayah, dan kalau buat Ayah, harusnya bukan aku yang menerima.
Aku berhenti bicara minggu ketiga.
Bukan sengaja. Aku tidak memutuskan apa-apa. Cuma tiap kali ada yang tanya, jawabannya lebih pendek, dan makin lama makin pendek, sampai akhirnya cuma “iya” dan “nggak” dan “nggak tahu”.
Ibu tanya aku mau apa buat ulang tahun. Aku bilang nggak tahu.
Om Bram tanya aku mau les apa. Aku bilang nggak tahu.
Mbak Ratih tanya aku mau dimasakin apa. Aku bilang nggak tahu.
Aku tahu semua jawabannya. Semuanya. Aku mau pulang, aku mau les nyolder, aku mau nasi goreng nasi kemarin yang agak gosong di pinggir.
Aku tidak bilang karena kalau aku bilang, mereka akan berusaha membuatnya ada di sini.
Dan begitu ada di sini, dia jadi bukan itu lagi.
Malam Sabtu aku buka tas ranselku yang belum aku bongkar sejak pindah.
Isinya empat.
Satu: topi rajut kuning.
Dua: obeng kecil yang gagangnya dililit isolasi pink.
Tiga: dua potong kertas — kertas ulangan Matematika yang sembilan puluh dua, sama kertas cap sekolah yang gagal, yang pertama, yang bulatnya paling penyok. Yang berhasil aku kasih ke Ayah. Yang gagal aku simpan.
Empat: buku yang sampulnya kertas kado bintang-bintang.
Aku duduk di karpet dan membuka bukunya di halaman terakhir yang ada tulisannya.
Aku sudah tidak menulis apa-apa selama tiga minggu.
Karena di sini tidak ada yang bisa ditulis. Semua yang aku pakai di rumah ini bukan dibeli Ayah. Kalau aku tulis, itu bukan hutang aku ke Ayah.
Dan kalau aku tulis di kolom yang lain, aku harus kasih judul, dan aku tidak mau menulis judul itu.
Jadi aku balik ke halaman paling depan, yang ada tulisan spidol huruf besar semua.
NANTI KALAU KIRA BESAR, KIRA LUNASIN.
Aku baca sepuluh kali. Mungkin dua puluh.
Terus aku tutup bukunya, dan aku angkat ujung kasur yang setinggi pinggang itu — berat sekali, aku harus pakai dua tangan dan bahu — dan aku selipkan bukunya di bawah, di tengah, di tempat yang orang harus benar-benar mencari untuk menemukannya.
Di rumah, bukunya aman di sarung bantal karena Ayah tidak pernah mencuci sarung bantal.
Di sini yang mencuci Mbak Ratih, dan Mbak Ratih mencuci semuanya, tiap hari Senin.
Aku belajar cepat. Ayah bilang itu masalahnya.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga reading
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis