Chapter Twelve

Delapan Tahun

POV: Adam

Aku bangun Sabtu jam lima dan menyetrika kemeja itu untuk ketiga kalinya minggu ini.

Kancing ketiga sudah ada. Kancing kelima juga, karena sekalian. Jahitanku jelek — benangnya terlalu banyak menumpuk di satu sisi — tapi kancingnya tidak akan lepas lagi sampai kiamat.

Kira berdiri di ambang pintu kamar mandi menonton aku menyetrika, dengan sikat gigi di mulut, dengan wajah yang sudah menyimpulkan sesuatu.

“Apa,” kataku.

“Nggak apa-apa.”

“Ra.”

“Nggak apa-apa, Ayah.” Dia kumur. Meludah. Berbalik. “Bagus kok kemejanya.”

“Ayah nggak—“

“Kira nggak bilang apa-apa.”

Anak itu berjalan ke dapur dengan langkah orang yang baru saja memenangkan sesuatu di pengadilan.


Les tambahannya jam delapan.

Aku sampai jam delapan lewat lima, dan tidak ada murid lain.

Yang ada cuma Kira, aku, dan Tamara di depan kelas empat B dengan spidol di tangan dan wajah yang sedang berusaha keras kelihatan seperti wajah orang yang memang mengadakan les.

“Yang lain mana, Bu?” tanya Kira.

“Nggak ada.”

“Kok nggak ada?”

“Karena Ibu bikin lesnya dadakan dan cuma nempel pengumuman di depan kelas kamu.” Tamara membuka spidol. “Kamu satu-satunya yang baca. Itu juga karena kamu satu-satunya anak di sekolah ini yang baca papan pengumuman.”

Kira menoleh ke aku dengan tatapan panjang.

“Duduk, Ra,” kataku.

“Iya, Ayah.”

“Jangan senyum gitu.”

“Kira nggak senyum.”

Dia senyum.


Aku menunggu di teras depan.

Dua jam, di kursi semen, dengan tangga tetangga yang tadi kubawa untuk membersihkan talang sekolah supaya aku punya alasan berada di sana.

Aku selesai membersihkan talang dalam empat puluh menit.

Sisanya aku duduk.

Jam sepuluh mereka keluar. Kira lari duluan ke arahku sambil mengangkat buku.

“Ayah! Kira dapat bintang!”

“Bintang apa?”

“Bintang aja.”

“Itu Ibu yang gambar,” kata Tamara dari belakang. “Bukan sistem resmi apa pun. Saya cuma bawa stiker.”

Dia berdiri di situ, di bawah bayangan atap, dan aku baru sadar dia tidak pakai seragam dinas. Kaus, celana kain, rambut diikat. Seperti malam di klinik itu.

“Terima kasih, Bu.”

“Nggak usah.”

“Saya bersihin talang depan tadi. Yang di atas ruang kelas satu itu sudah penuh, kalau hujan besar bisa jebol plafonnya.”

Tamara memandangiku beberapa detik.

“Bapak nggak bisa diam ya.”

“Nggak.”

“Dua jam nunggu, terus manjat.”

“Iya.”

“Ya Allah.” Dia menggeleng dan berbalik untuk mengunci pintu kelas, dan aku mendengarnya bergumam sesuatu yang tidak kutangkap seluruhnya, tapi ada kata “orang ini” di dalamnya.


Kami sampai rumah jam sebelas.

Kira langsung ke belakang untuk mengganti baju. Aku menaruh kunci di paku, menaruh tangga di sudut, dan mengeluarkan ponsel dari saku untuk mengeceknya untuk pertama kali sejak pagi.

Empat panggilan tak terjawab.

Nomor yang sama. Tidak tersimpan.

Aku menatapnya beberapa saat. Nomor tidak tersimpan biasanya berarti orderan. Orderan biasanya menelepon sekali, kalau tidak diangkat, cari tukang lain.

Empat kali bukan orderan.

Aku menekan tombol panggil.

Diangkat pada dering pertama. Bukan dering kedua, bukan setengah dering pertama. Pertama, seperti orang yang sudah memegang ponselnya sejak tadi.

“Halo.”

Ada bunyi napas.

Lalu bunyi seperti orang yang membuka mulut dan tidak jadi.

Lalu suara itu.

“Mas.”

Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan ke siapa pun, termasuk ke anakku, termasuk ke diriku sendiri kalau bisa.

Selama delapan tahun aku pikir kalau hari ini datang, aku tidak akan mengenali suaranya.

Aku mengenalinya sebelum dia selesai mengucapkan satu suku kata.


Aku tidak tahu berapa lama aku diam.

Dari dalam terdengar Kira menyanyi. Lagu iklan. Yang tentang mi.

“Mas,” katanya lagi. “Ini Vanya.”

“Iya.”

“Kamu— “ Suaranya patah di tengah dan disambung lagi. “Kamu sehat?”

“Iya.”

“Alhamdulillah.”

Aku berdiri di ruang depan rumah petak nomor tujuh, di samping bangkai dispenser yang orangnya tidak pernah datang, dan aku memandangi noda cokelat selebar piring di langit-langit.

“Ada perlu apa?”

“Mas—“

“Ada perlu apa, Van.”

Dia menangis. Tidak keras. Yang jenis ditahan di tenggorokan, yang bunyinya cuma seperti napas yang salah.

“Aku mau tanya kabar Kirana.”

Nyanyian dari dalam berhenti.

Aku berjalan ke luar, ke gang, dan menutup pintu di belakangku.

“Kirana baik.”

“Dia— sekarang kelas berapa?”

“Empat.”

“Empat,” ulangnya. “Ya Allah. Empat.”

“Van.”

“Sebentar. Sebentar, Mas.”

Aku menunggu di gang. Ada anak-anak main di ujung sana. Ada ibu-ibu menjemur. Ada suara TV dari rumah Pak Haji Tarmiji, volume dua puluh lebih keras dari yang perlu.

“Aku mau ketemu dia,” katanya.

Dan di situ sesuatu di dalam dadaku, yang sejak tadi mengambang, akhirnya turun dan mendarat.

“Nggak.”

“Mas—“

“Nggak, Van.”

“Aku ibunya.”

“Iya.” Aku menutup mata. “Kamu ibunya.”

“Mas, aku cuma mau—“

“Delapan tahun.”

Dia diam.

“Delapan tahun, Van. Dia demam tujuh puluh kali. Ompongnya dua puluh gigi. Dia belajar naik sepeda, jatuh, kepalanya bocor, tiga jahitan di sini—“ aku menyentuh alis kiriku sendiri, di tempat yang sama, di gang kosong, seperti orang gila “—dan kamu nggak tahu itu sampai barusan.”

“Aku tahu aku—“

“Aku nggak lagi marah.” Suaraku keluar rata dan aku sendiri terkejut betapa ratanya. “Aku cuma lagi ngasih tahu kamu apa yang kamu nggak tahu. Karena kalau kamu mau ketemu dia, kamu harus tahu dulu kamu ketemu siapa.”

Sunyi lama sekali.

Lalu dia bicara, dan kalimatnya adalah kalimat yang paling aku takutkan sepanjang delapan tahun, dan dia mengucapkannya dengan sangat pelan dan sangat sopan.

“Aku sudah nikah, Mas.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Kampung ini kecil, Van.”

“Oh.”

“Iya.”

“Mas, aku—“

“Van.” Aku membuka mata. “Aku tutup, ya.”

“Jangan.”

“Kirana nunggu.”

“Mas, tolong. Satu—“

Aku menutup telepon.


Aku berdiri di gang itu selama sepuluh menit.

Ponselku bergetar dua kali lagi dan aku tidak mengangkat, dan yang ketiga tidak ada.

Waktu aku masuk, Kira sedang duduk di lantai dengan buku bintangnya, tidak membacanya, cuma dipangku.

“Siapa, Ayah?”

“Orderan.”

“Kok lama?”

“Nawar.”

Dia mengangguk pelan.

Anak itu tidak percaya sedikit pun. Aku tahu dari cara dia mengangguk. Anaknya kalau percaya, dia mengangguk sekali. Kalau tidak percaya, dia mengangguk dua kali dan matanya turun.

Dia mengangguk dua kali.

“Ayah.”

“Hm.”

“Ayah nggak apa-apa?”

Aku duduk di lantai di sebelahnya dan mengambil buku bintang itu dari pangkuannya dan membukanya di halaman yang ada stikernya.

“Ayah nggak apa-apa.”


Malamnya aku tidak tidur.

Aku menyervis radio yang orangnya tidak akan datang sampai jam satu, dan waktu radio itu selesai dan bunyinya bersih dan tidak ada lagi yang bisa kukerjakan, aku duduk di lantai dengan solder yang masih panas dan tidak melakukan apa-apa selama empat puluh menit.

Di kamar, kipas itu berbunyi.

Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik.

Aku mengambil kaleng pelumas dari kotak.

Aku memegangnya cukup lama.

Lalu aku kembalikan ke kotak, dan menutup kotaknya, dan masuk ke kamar untuk berbaring di samping anakku sampai subuh, dengan mata terbuka, mendengarkan bunyi itu sampai azan.