Chapter Fifteen

Bukan di Sini

POV: Adam

Aku sampai di Jalan Kartini jam sebelas lewat dua puluh.

Klinik Sehat Bunda menyala hijau di kanan jalan, sama seperti malam itu, dan di belakangnya ada gang selebar dua motor yang tembus ke deretan kos-kosan.

Ada tiga kos di gang itu.

Aku tidak tahu yang mana.

Aku pernah membetulkan mesin cuci di seluruh kecamatan ini. Aku hafal jalan-jalan yang tidak ada di peta. Dan aku berdiri di gang selebar dua motor itu selama sepuluh menit tanpa tahu harus ke pintu mana, seperti orang paling bodoh yang pernah lahir.

Yang tengah lampunya masih menyala.

Aku mengetuk.


Yang membuka ibu-ibu berdaster, umur enam puluhan, dengan wajah yang sudah menyiapkan omelan sebelum pintu terbuka penuh.

“Mas, ini jam sebelas.”

“Maaf, Bu. Saya cari Bu Tamara.”

“Tamara siapa?”

“Guru. Guru SD.”

Wajahnya berubah dari kesal ke curiga, yang sebenarnya lebih buruk.

“Mas siapa?”

“Wali murid.”

Aku mendengar sendiri kalimat itu keluar dari mulutku dan langsung tahu itu adalah hal paling buruk yang bisa kukatakan.

“Wali murid,” ulang ibu itu, pelan sekali. “Jam sebelas malam.”

“Bu, saya—“

“PAK RW!”

“Bu, tunggu—“

“Bercanda.” Ibu itu melipat tangan. “Tapi kalau Mas nggak jelasin dalam sepuluh detik, saya beneran.”

Aku menghela napas.

“Saya ada perlu penting. Bukan soal sekolah.”

“Nah, itu lebih jelek.”

“Bu—“

“Bu Nah!” Dia berteriak ke dalam tanpa memalingkan wajah dariku sedikit pun. “Bu Naaah! Ada tamu!”

“Bukan Bu Nah, Bu. Bu Tamara.”

“Iya, Tamara. Panggilannya Nah. Kamu bukan siapa-siapanya, ya, makanya nggak tahu.”


Dia turun satu menit kemudian.

Berkerudung, cepat-cepat, jelas baru dipakai. Wajahnya bengkak di sekitar mata dengan cara yang tidak bisa disembunyikan siapa pun, apalagi di bawah lampu neon gang.

Dia melihatku dan berhenti di anak tangga terakhir.

“Ngapain.”

“Bu Tamara.”

“Saya tanya ngapain.”

Ibu kos berdiri di antara kami dengan kepala berputar bergantian seperti orang menonton bulu tangkis.

“Bu Tin,” kata Tamara tanpa memalingkan wajah dariku, “boleh saya keluar sebentar?”

“Jam sebelas?”

“Sepuluh menit.”

“Nah—“

“Sepuluh menit, Bu Tin. Saya guru. Saya nggak akan kabur ke mana-mana. Umur saya dua puluh delapan.”

Bu Tin melihat ke aku. Lalu ke Tamara. Lalu mendengus dan masuk sambil berkata cukup keras, “Kalau lewat sepuluh menit saya keluar bawa sapu.”


Kami berdiri di gang itu dan tidak ada yang bicara selama beberapa saat.

“Sepuluh menit,” katanya. “Silakan.”

“Saya minta maaf.”

“Buat apa.”

“Buat hari Jumat.”

“Bapak nggak salah apa-apa hari Jumat.” Dia melipat tangan. “Bapak ditanya, Bapak jawab. Itu namanya jujur.”

“Saya nggak jujur.”

Dia mengangkat wajah.

“Saya jawab pakai daftar barang,” kataku. “Ibu benar. Semua yang saya sebut hari itu — rumah, gaji, atap — itu semua benar, tapi itu bukan alasannya.”

“Terus apa alasannya?”

Sepuluh menit. Aku sudah menyiapkan kalimat ini sepanjang jalan dan semuanya hilang begitu perempuan itu berdiri di depanku dengan mata sembab.

“Saya nggak nolak Ibu,” kataku. “Saya nolak diri saya sendiri, dan saya pakai Ibu buat alasannya, dan itu pengecut.”

“Pak Adam—“

“Selama delapan tahun ada satu kalimat yang saya ulang tiap hari, Bu.” Aku menatap tanah. “Bunyinya: saya nggak cukup. Nggak cukup buat bikin orang bertahan. Itu bukan teori. Itu sudah pernah dibuktikan, sekali, dan pembuktiannya lengkap.”

Dia diam.

“Terus datang orang,” lanjutku. “Orang yang bikin les bohongan hari Sabtu. Yang nungguin di klinik jam satu pagi terus bilang itu tugas guru. Yang teriak di depan kepala sekolahnya sendiri gara-gara saya kemurahan tiga ratus ribu.”

“Saya nggak teriak.”

“Ibu teriak.”

“Saya meninggikan intonasi secara terukur.”

Aku tertawa. Satu kali, pendek, dan bunyinya asing di telingaku sendiri.

“Dan saya ketakutan,” kataku. “Karena kalau saya terima, terus suatu hari Ibu sadar saya memang nggak cukup — saya nggak akan selamat yang kedua kalinya, Bu. Anak saya juga nggak.”

Tamara menatapku lama sekali.

“Itu yang harusnya Bapak bilang hari Jumat.”

“Iya.”

“Kenapa nggak dibilang?”

“Karena baru semalam saya tahu kalimatnya.”

“Siapa yang ngasih tahu?”

“Anak saya.”

Aku mengeluarkan kertas itu dari saku dan memberikannya. Dia membukanya di bawah lampu gang, dan membacanya, dan aku melihat wajahnya berubah tiga kali dalam sepuluh detik.

“Ini—“

“Iya.”

“Dia palsuin tanda tangan saya.”

“Iya.”

“Capnya digambar tangan.”

“Tiga kali gagal dulu.”

“Ya Allah.” Dia menutup mulutnya. “Ini anak—“

Dia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena suaranya sudah rusak duluan, dan dia buru-buru menunduk dan menyeka wajahnya dengan punggung tangan, cepat, marah, seperti orang yang benci melakukan itu di depan orang.


“Pak Adam.”

“Iya.”

“Saya nanya sekali lagi, dan ini yang terakhir seumur hidup saya, karena harga diri saya juga ada batasnya.”

“Iya.”

“Bapak mau atau nggak.”

Sepuluh senti lagi, dan kali ini bukan dia yang mendekat.

“Saya juga,” kataku.

Dia mengerutkan kening. “Apa?”

“Yang Ibu bilang hari Jumat. Di parkiran.” Aku menahan pandanganku di matanya. “Saya juga.”

Hening tiga detik.

“Cuma itu?”

“Ya— iya.”

“Dua kata.”

“Bu—“

“Saya ngomong hampir dua menit di parkiran itu, Pak Adam. Dua menit. Saya sebut hari Selasa, saya sebut hari Kamis, saya sebut senter, saya sebut klinik.” Dia mengangkat dua jari. “Bapak: dua kata.”

“Saya nggak pinter ngomong.”

“Saya tahu Bapak nggak pinter ngomong. Saya sudah tahu itu dari hari pertama.” Dia maju. “Tapi dua kata, Pak. Dua.”

“Ibu mau saya bilang apa?”

“Saya nggak mau ngajarin.”

“Bu—“

“Kalau saya ajarin, nanti jadi kalimat saya, bukan kalimat Bapak.”

Aku berdiri di gang itu, di bawah lampu neon yang salah satunya berkedip, dengan ibu kos yang aku yakin sedang mengintip dari balik gorden, dan aku mencari kalimatku sendiri.

“Saya nyetrika baju jam sebelas malam,” kataku.

Tamara mengangkat alis.

“Buat ke sini.” Aku menunjuk kemejaku. “Ini kemeja saya satu-satunya. Saya cuci tadi sore, terus saya setrika jam sebelas, terus saya berangkat, terus saya berdiri sepuluh menit di gang ini karena saya nggak tahu kos yang mana.”

“Terus?”

“Terus saya ketuk pintu yang salah dan hampir dilaporin ke Pak RW.”

“Pak Adam.”

“Itu kalimat saya, Bu.” Aku menatapnya. “Saya nggak bisa ngomong dua menit. Yang bisa saya lakuin cuma datang. Delapan tahun saya cuma bisa itu.”

Dia diam.

Lampu neon itu berkedip dua kali.

“Ya sudah,” katanya pelan. “Itu cukup.”


“Bukan di sini.”

“Apa?”

“Ini gang kos, Pak, dan di dalam ada ibu-ibu yang sudah megang sapu.” Dia sudah mengambil kunci motornya dari saku daster—bukan daster, dari saku entah apa. “Sepuluh menit saya habis. Bapak masih mau ngomong?”

“Masih.”

“Ya sudah. Ikut.”


Sekolah jam dua belas malam itu tempat yang aneh.

Satpamnya mengenali Tamara dan membuka gerbang tanpa banyak bertanya, cuma mengangguk dan berkata “Bu Tam” dan kembali ke posnya, dan aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang dipikirkan bapak itu.

Kami tidak masuk. Cuma berdiri di dalam gerbang, di dekat pos, di tempat yang lampunya cukup terang untuk dilihat orang dan cukup jauh untuk tidak terdengar.

“Nah,” kata Tamara. “Sekarang ngomong.”

“Ada satu syarat.”

“Bapak nolak orang terus sekarang punya syarat.”

“Ada satu syarat, Bu.” Aku menoleh ke arah gedung kelas yang gelap. “Anak saya nggak boleh tahu dulu.”

Dia menoleh cepat. “Kenapa?”

“Karena kalau dia tahu, dia bakal berharap.” Aku menelan. “Dan kalau ini nggak jadi apa-apa, yang patah bukan saya, Bu. Yang patah anak yang gambar cap sekolah tiga kali sampai berhasil.”

Tamara menatapku lama.

“Berapa lama?”

“Sampai saya yakin.”

“Yakin apa?”

“Sampai saya yakin saya nggak akan bikin Ibu nyesel.”

“Itu bisa sepuluh tahun.”

“Bisa.”

“Pak Adam.” Dia menghela napas. “Setahun. Nggak, enam bulan. Saya kasih waktu Bapak sampai kenaikan kelas. Habis itu saya kasih tahu sendiri ke anak Bapak, dan Bapak nggak bisa apa-apa, karena saya wali kelasnya dan saya punya akses ke dia enam jam sehari.”

“Itu ancaman.”

“Itu jadwal pelajaran.”

Aku tertawa lagi. Kedua kalinya malam itu.

Dan Tamara melihatku tertawa, dan sesuatu di wajahnya melunak sepenuhnya untuk pertama kalinya sejak aku datang, dan dia melangkah maju dan menarik kerah kemejaku persis seperti hari Jumat.

Kali ini dia tidak berhenti di sepuluh senti.


Aku tidak tahu berapa lama.

Yang aku tahu, tanganku masih di sisi tubuhku waktu dia melepas, dan itu jelas salah, dan aku menyadarinya terlambat sekali.

Tamara mundur setengah langkah dan menatapku dengan alis satu naik.

“Kaku banget.”

“Bu—“

“Kayak nyium tembok.”

“Bu Tamara.”

“Delapan tahun, ya?”

“Bu.”

“Ya Allah, Pak.” Dia membetulkan kerudungnya sambil menggeleng, dan dia tersenyum, dan senyum itu adalah yang paling menyebalkan yang pernah kulihat seumur hidupku. “Ini PR. Serius. Saya kasih waktu sampai bulan depan.”

“Saya nggak—“

“Nanti saya nilai.”

Aku berdiri di situ dengan telinga yang panasnya bisa dipakai menyolder.

Dia mengambil kunci motornya, berjalan ke gerbang, lalu berhenti dan menoleh.

“Pak Adam.”

“Iya.”

“Besok Bapak antar Kirana jam berapa?”

“Setengah tujuh.”

“Bapak telat lima menit lagi.” Dia memakai helmnya. “Sekali ini aja, jangan.”

“Kenapa?”

“Karena saya masuk lagi besok,” katanya, “dan saya mau lihat Bapak dari jendela ruang guru pas jam setengah tujuh, bukan setengah tujuh lewat lima.”


Aku pulang jam satu.

Aku tidak tidur, tapi kali ini bukan karena hal yang sama.

Aku berbaring di samping anakku dan mendengarkan kipas itu berbunyi ngik setiap tiga putaran, dan untuk pertama kalinya sejak Sabtu, bunyi itu tidak terdengar seperti hitungan mundur.

Aku bangun jam lima. Aku menyetrika seragam Kira. Aku menggoreng telur dua.

Jam enam kurang sepuluh aku membuka pintu untuk memanaskan motor.

Di mulut gang, di tempat yang cuma cukup untuk satu mobil dan biasanya tidak pernah ada mobil, ada sedan hitam terparkir dengan mesin mati.

Kacanya gelap.

Dan dari cara embun mengumpul di kap depannya, benda itu sudah berada di situ sejak sebelum subuh.