Chapter Thirteen
Sepuluh Senti
POV: Tamara
Butuh lima hari sebelum aku berhenti berpura-pura tidak melihat.
Senin dia mengantar Kirana dan langsung pergi tanpa mematikan mesin. Selasa dia tidak turun dari motor sama sekali. Rabu Kirana datang naik angkot.
Kamis dia datang lagi, dan aku memperhatikannya dari jendela ruang guru, dan yang kulihat bukan orang yang sedang sibuk.
Dia berhenti terlalu lama di gerbang. Melihat Kirana masuk sampai anak itu hilang di koridor. Lalu duduk di jok, dua tangan di setang, tidak bergerak selama hampir satu menit.
Aku sudah delapan tahun melihat wali murid mengantar anak. Aku tahu bedanya orang yang mau buru-buru pergi dengan orang yang tidak tahu mau ke mana.
Kirana yang memberi konfirmasinya, tanpa diminta, waktu mengumpulkan buku PR.
“Bu.”
“Hm.”
“Bu Tamara punya obat nggak?”
“Obat apa? Kamu sakit?”
“Bukan Kira.” Dia menaruh tumpukan buku di mejaku dan meratakan pinggirnya dengan dua tangan, terlalu lama, terlalu rapi. “Ayah nggak tidur.”
Aku meletakkan pulpen.
“Dari kapan?”
“Sabtu.”
“Kok kamu tahu?”
“Kipas kamar kami bunyi.” Dia mengangkat bahu. “Kalau Ayah tidur, Ayah miring, terus tangannya nutupin kuping. Kalau nggak tidur, Ayah telentang. Lima malam telentang.”
Anak itu mengambil bukunya sendiri dari tumpukan, memasukkannya ke tas, dan berjalan keluar seperti orang yang sudah menyampaikan laporan dan tidak berminat menunggu tindak lanjutnya.
Di kantong rokku, ponselku ada, dan di dalamnya ada dua pesan dari nomor yang belum kubalas selama enam hari.
Aku duduk di ruang guru itu dan merasa persis seperti apa adanya diriku: orang yang memegang satu keping informasi yang bukan miliknya, dan sedang menikmati diamnya sendiri sambil menyebutnya menghormati privasi.
Aku menghadangnya hari Jumat, jam dua, di parkiran.
“Pak Adam.”
“Bu.”
“Berhenti.”
“Saya ada panggilan—“
“Bapak nggak ada panggilan.” Aku berdiri di depan motornya. “Saya sudah nanya ke Bu Ningrum.”
Dia mengangkat wajah. “Ibu ke toko Bu Ningrum?”
“Saya beli lampu.”
“Ibu beli lampu di toko sparepart elektronik.”
“Saya beli lampu,” ulangku, “dan sambil beli lampu saya tanya-tanya, dan Bu Ningrum orangnya baik sekali dan ngomongnya cepat sekali. Bapak nggak ambil panggilan sejak Senin. Empat orderan ditolak. Yang satu sampai nelepon dua kali.”
Rahangnya bergerak sekali.
“Itu urusan saya.”
“Iya. Itu urusan Bapak.” Aku tidak minggir. “Dan anak Bapak lima malam ngitungin posisi tidur bapaknya. Itu urusan saya, karena dia murid saya, dan karena besok Senin dia bakal duduk di kelas saya sambil mikirin bapaknya bukan mikirin pecahan.”
Dia melepas tangannya dari setang.
“Ada apa, Pak?”
“Nggak ada apa-apa.”
“Bohong.”
“Bu Tamara—“
“Saya nggak minta Bapak cerita.” Aku menahan suaraku. “Saya minta Bapak berhenti bilang nggak ada apa-apa ke orang yang jelas-jelas lihat ada apa-apa. Itu dua hal beda.”
Dia diam.
Parkiran itu kosong. Anak-anak sudah pulang sejak setengah jam lalu. Yang tersisa cuma satu satpam di pos depan yang sedang menunduk ke ponselnya, dan panas jam dua yang memantul dari aspal.
“Bu,” katanya akhirnya. “Ibu kenapa sih.”
“Apa?”
“Kenapa Ibu ngurusin sampai segini.”
Dan di situ sesuatu di dalam diriku, yang sudah kutahan sejak malam Sabtu, sejak dua pesan itu masuk, sejak aku memutuskan untuk tidak membalasnya dan tidak bercerita, akhirnya lepas dari pegangan.
“Karena saya suka sama Bapak.”
Dia tidak bergerak.
Sama sekali. Dia bahkan tidak berkedip.
“Sudah lama,” kataku, dan begitu satu kalimat keluar, sisanya keluar semua, dan aku tidak bisa menghentikannya lagi. “Dari sebelum Bapak betulin kipas di rumah Bapak sendiri sambil saya pegangin senter kayak orang bodoh. Dari sebelum malam di klinik itu. Mungkin dari hari pertama, waktu Bapak masuk ruang guru sambil nyembunyiin tangan ke bawah meja.”
“Bu—“
“Dan saya capek.” Aku maju satu langkah. “Saya capek pura-pura ini semua soal Kirana doang. Saya capek bikin les tambahan bohongan hari Sabtu. Saya capek nyariin alasan buat berdiri di gerbang tiap Selasa sama Kamis.”
“Ibu—“
“Bapak tahu itu?”
“Tahu apa?”
“Selasa sama Kamis.” Aku maju lagi. “Hari Bapak jemput. Cuma dua hari itu saya antar anak-anak sampai gerbang. Anak Bapak yang nyadar duluan, Pak. Umur sepuluh tahun. Dia catat.”
Dia menunduk. Aku menarik kerah kemejanya — kemeja yang sama, dengan kancing ketiga yang dijahitnya sendiri dengan benang menumpuk di satu sisi — dan menariknya sampai wajahnya kembali sejajar denganku.
Jaraknya sepuluh senti.
Aku tahu persis sepuluh, karena aku sudah pernah berdiri sedekat ini dengannya, di parkiran yang sama, dan waktu itu dia yang mundur.
Kali ini dia tidak mundur.
Napasnya tidak beraturan. Matanya turun sekali ke mulutku dan naik lagi secepat orang yang menyesali gerakan matanya sendiri.
“Sekarang Bapak bilang,” kataku, dan suaraku sudah tidak keras lagi, tinggal serak. “Bilang nggak. Sekali aja. Saya berhenti hari ini juga, saya tetap ngajar anak Bapak dengan baik, dan kita nggak usah bahas ini lagi seumur hidup.”
Sepuluh senti.
Aku bisa menghitung detik dari denyut di lehernya.
“Bilang, Pak Adam.”
“Saya nggak bisa.”
Aku melepas kerahnya.
“Nggak bisa bilang nggak, atau nggak bisa—“
“Nggak bisa terima.”
Aku mundur setengah langkah.
“Kenapa.”
“Bu.” Dia menarik napas, dan waktu bicara lagi suaranya sudah rata, terlalu rata, seperti orang yang membacakan sesuatu yang sudah disiapkan berhari-hari. “Ibu S1. Ibu punya gaji tanggal satu. Ibu bisa sakit dan tetap dibayar.”
“Terus?”
“Saya punya rumah petak. Satu kamar. Atapnya bocor di satu titik yang sama delapan tahun.” Dia menatap lurus. “Kalau minggu ini nggak ada yang rusak di kampung ini, saya nggak makan. Itu bukan kiasan. Itu memang begitu cara kerjanya.”
“Saya nggak nanya rumah Bapak—“
“Ibu belum selesai dengar.”
Aku diam.
“Dan saya punya anak,” katanya. “Anak itu bukan tambahan, Bu. Bukan hal yang datang belakangan. Dia yang pertama. Dia yang selalu pertama, sampai kapan pun, sama siapa pun.”
“Saya tahu.”
“Ibu bilang tahu sekarang.” Suaranya turun. “Nanti tahun ketiga, waktu Ibu sakit dan saya harus milih antara nemenin Ibu atau ambil orderan buat bayar SPP dia — Ibu masih tahu?”
“Bapak lagi ngarang cerita buat nolak saya.”
“Saya lagi ngasih tahu Ibu isi rumah yang mau Ibu masukin.”
Aku menatapnya lama sekali.
Dan yang paling membuatku ingin mendorong dada laki-laki itu sampai dia jatuh adalah ini: tidak satu pun dari yang dia katakan tentang dirinya sendiri. Semuanya tentang aku. Semua alasan yang dia susun adalah alasan tentang apa yang akan hilang dariku.
“Bapak sudah selesai?”
“Sudah.”
“Sekarang giliran saya.” Aku menyeka wajahku sekali dengan punggung tangan, cepat, marah pada diriku sendiri karena itu perlu. “Bapak tadi ngomong panjang lebar dan nggak sekali pun Bapak bilang Bapak nggak suka sama saya.”
Dia tidak menjawab.
“Nggak sekali pun, Pak.”
“Bu—“
“Itu yang saya minta tadi.” Aku mengambil tasku dari jok motornya. “Satu kata. Bapak nggak sanggup ngasih satu kata, tapi sanggup ngasih saya lima menit ceramah soal atap bocor.”
“Bu Tamara—“
“Saya bukan nanya Bapak punya apa.” Aku berbalik. “Saya nanya Bapak mau atau nggak. Dan Bapak jawab pakai daftar barang.”
Aku berjalan sampai gerbang tanpa menoleh.
Sampai motor. Sampai jalan raya. Sampai lampu merah kedua, dan di lampu merah kedua itu aku berhenti dan menyadari bahwa aku menangis di dalam helm, dan tidak bisa mengelapnya, dan lampu masih empat puluh detik lagi.
Malamnya aku tidak makan.
Sabtu aku tidak keluar kamar.
Minggu ibuku menelepon dan aku tidak angkat.
Senin pagi aku mengirim pesan ke Pak Har jam enam.
Pak, izin dua hari. Saya kurang sehat. Materi kelas 4B sudah saya siapkan, tolong titip ke Pak Dedi.
Balasannya masuk cepat: Iya Bu, istirahat yang cukup.
Aku menaruh ponsel dan berbaring memunggungi jendela.
Dua hari.
Aku sudah delapan tahun jadi guru dan tidak pernah sekali pun izin karena hal yang bukan sakit.
Dan yang paling tidak bisa kumaafkan dari diriku sendiri bukan itu.
Yang tidak bisa kumaafkan: di antara semua kalimat yang kuteriakkan di parkiran siang itu, tidak ada satu pun yang berbunyi mantan istri Bapak sudah nyari Bapak, dan saya tahu dari enam hari lalu, dan saya diam.
Aku punya seluruh kesempatan.
Aku pakai kesempatan itu untuk bicara soal hari Selasa dan Kamis.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti reading
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis