Chapter Thirty Seven
Kertas yang Dilipat Delapan
POV: Adam
Empat hari.
Hari kelima aku tidak menelepon. Aku naik motor.
Aku sampai di depan pagar besi hitam itu jam sembilan pagi hari Sabtu, tanpa janji, tanpa memberi kabar, dua minggu lebih awal dari jadwal.
Vanya yang membuka.
Dia berdiri di ambang pintu dan melihatku dan tidak berkata apa-apa selama beberapa detik.
“Van, aku tahu ini bukan jadwal.”
“Masuk.”
“Aku nggak—“
“Mas.” Dia membuka pintu lebih lebar. “Masuk.”
Anak itu di kamarnya.
Vanya berhenti di kaki tangga dan menunjuk ke atas dengan dagu.
“Nomor dua dari tangga.”
“Aku tahu.”
“Mas.”
Aku menoleh.
Perempuan itu berdiri memegang pegangan tangga dengan wajah yang tidak bisa kubaca.
“Dia nggak marah,” katanya. “Dia bilang sendiri ke aku. Dia nggak marah.”
“Terus?”
“Dia nggak mau kamu denger dia nangis.” Vanya menatap lantai. “Katanya nanti kamu sedih semalaman terus besoknya salah pasang kapasitor.”
Aku memegang pegangan tangga itu dan berdiri di situ mungkin lima detik.
“Van.”
“Hm.”
“Kamu ingat waktu kita masih di petak?”
“Ingat.”
“Aku dulu sering ngomel kalau kamu terlalu khawatir soal dia.”
“Ingat.” Sudut mulutnya bergerak sedikit. “Kamu bilang anak kecil itu kuat, jangan dijagain kayak barang pecah.”
“Iya.”
“Terus?”
“Terus ternyata dia memang kuat,” kataku. “Dan itu yang paling salah dari semuanya.”
Pintunya terbuka sedikit.
Anak itu duduk di karpet, bersandar ke sisi kasur, dengan buku pelajaran di pangkuan yang jelas-jelas tidak sedang dibaca.
Dia mengangkat wajah waktu aku mengetuk kusen.
Dan tidak berdiri.
Itu pertama kalinya seumur hidup anak itu tidak berdiri waktu aku masuk ruangan.
“Ayah?”
“Iya.”
“Ini bukan— “ Dia melihat ke pintu. “Ini bukan tanggalnya.”
“Iya.”
“Kok Ayah—“
“Ayah bolos.”
Dia mengerutkan kening. “Bolos apa?”
“Bolos kios.” Aku masuk dan duduk di lantai, di karpet, di sisi yang penyok memanjang selebar badan anak kelas empat. “Sarno yang jaga. Kemungkinan besar besok kiosnya sudah nggak ada.”
Anak itu tidak tertawa.
Tapi bahunya turun sedikit, dan itu cukup untuk sekarang.
“Ra.”
“Iya.”
“Ayah nggak ke sini buat minta maaf.”
Dia mengangkat wajah.
“Ayah sudah minta maaf di telepon, dan kamu sudah dengar, dan minta maaf dua kali itu buat orang yang mau enak sendiri.” Aku menaruh tas di lantai. “Ayah ke sini buat ngasih lihat sesuatu.”
“Apa?”
Aku mengeluarkan kertas dari saku dalam tas.
Kertas HVS, dilipat delapan, pinggirnya sudah lembut karena terlalu sering dibuka.
Aku membukanya di lantai di antara kami.
Anak itu memandanginya lama sekali.
“Ini apa, Ayah?”
“Rumah.”
“Rumah siapa?”
“Belum ada.”
Itu gambar denah. Bukan gambar bagus; aku bukan tukang gambar. Garisnya pakai penggaris, ukurannya ditulis di pinggir tiap garis, dan ada angka-angka kecil di mana-mana.
Ruang depan. Dapur. Kamar mandi.
Dua kamar.
“Yang ini,” kataku, menunjuk yang kanan, “kamar Ayah.”
“Yang ini?”
“Baca.”
Anak itu memiringkan kepala untuk membaca tulisan kecil di dalam kotak itu.
Huruf besar semua. Tegak dan agak dipaksakan.
KIRA
Dia tidak berkata apa-apa.
“Tiga kali empat,” kataku. “Kasurnya di sini, ngadep jendela, karena kamu nggak bisa tidur kalau nggak ada yang bisa dilihat.”
“Ayah tahu?”
“Ayah tahu.”
Aku menunjuk angka di pinggir.
“Kasurnya seratus dua puluh kali dua ratus.”
“Itu gede banget, Ayah.”
“Iya.”
“Kasur Kira di rumah kan— “
“Yang lama sembilan puluh kali seratus delapan puluh.” Aku menatap gambarnya. “Ayah ukur tinggi kamu terakhir waktu kamu masih di rumah. Seratus tiga puluh empat. Terus Ayah cari di internet berapa tinggi anak perempuan umur enam belas.”
Anak itu menoleh ke aku.
“Ayah.”
“Rata-ratanya seratus lima puluh delapan,” kataku. “Ayah ambil seratus enam puluh lima, buat jaga-jaga, karena ibumu tinggi.”
Dia menunduk lagi ke kertas itu.
Aku melihat jarinya bergerak di atas kotak bertuliskan namanya, pelan, menelusuri garisnya.
“Ayah gambar ini kapan?”
“Mulai bulan Februari.”
“Februari itu— “ Dia menghitung. “Itu waktu Ayah baru buka kios.”
“Minggu kedua.”
“Ayah gambar rumah sebelum Ayah punya uang buat rumahnya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Aku memikirkan bagaimana menjelaskan ini kepada anak umur sepuluh tahun tanpa membuatnya jadi janji.
“Karena Ayah nggak bisa beli,” kataku. “Tapi Ayah bisa ukur.”
Yang kedua aku keluarkan dari ponsel.
Foto. Diambil minggu lalu, di kios, jam sembilan malam, jelek dan gelap karena aku tidak bisa memotret.
Ruangan kecil di belakang kios. Dua kali dua. Dulu tempat menaruh kertas fotokopi.
Di dalamnya ada meja kecil, kayu, dicat ulang. Ada kursi. Ada lampu belajar yang sudah dipasang di dinding.
Tidak ada apa-apa lagi.
“Itu apa, Ayah?”
“Gudang belakang kios.”
“Kok ada mejanya?”
“Ayah bikin bulan Maret.”
Dia menatap layar itu.
“Buat apa?”
“Buat kamu ngerjain PR,” kataku. “Kalau nanti kamu pulang sekolah terus Ayah masih kerja.”
“Ayah—“
“Kiosnya dua ratus meter dari sekolah kamu.” Aku menaruh ponselnya di lantai. “Ayah pilih yang itu bukan karena murah. Yang di Jalan Merdeka lebih murah dua ratus ribu.”
Anak itu menutup mulutnya dengan tangan.
“Delapan bulan meja itu di situ, Ra. Nggak ada yang pakai. Sarno pernah mau naruh kardus di atasnya dan Ayah marah.”
Dia menangis akhirnya.
Bukan yang ditahan. Yang beneran, yang bunyinya keluar, yang bahunya naik turun, dan aku menariknya ke pangkuanku dan dia tidak protes soal terlalu besar.
“Ayah— “
“Iya.”
“Kira nggak bermaksud— “ Dia tersedak. “Yang di telepon itu— Kira nggak bermaksud bilang Ayah gagal—“
“Ayah tahu.”
“Kira sayang Bu Tam.”
“Ayah tahu.”
“Kira sayang Bu Tam banget, Ayah, itu yang bikin Kira— “ Dia berhenti.
“Itu yang bikin susah,” kataku.
Dia mengangguk ke bajuku.
“Iya.”
“Ayah tahu, Ra.” Aku menaruh tanganku di belakang kepalanya. “Kalau dia orang jahat, gampang. Kamu tinggal benci.”
“Iya.”
“Ini nggak bisa.”
“Iya.”
Kami duduk di lantai kamar nomor dua dari tangga selama mungkin dua puluh menit.
Kertas itu masih terbuka di antara kami.
“Ayah.”
“Hm.”
“Kamar Kira di gambar ini.” Dia mengusap ingusnya dengan lengan. “Itu bukan buat Kira nginep sebulan sekali, kan?”
Aku menatap anak itu.
“Bukan.”
“Itu buat— “
“Iya.”
“Kapan?”
Dan itu pertanyaan yang paling kutakutkan, dan aku sudah memutuskan sejak di motor bahwa aku tidak akan berbohong satu kali pun hari ini.
“Ayah nggak tahu, Ra.”
Wajahnya turun.
“Ayah nggak akan janji,” kataku. “Ayah sudah kebanyakan janji sama kamu. Yang Ayah bisa bilang cuma ini: kamarnya bakal ada. Kamarnya bakal jadi, dan kasurnya seratus dua puluh kali dua ratus, dan kalau kamu nggak pernah tidur di situ pun kamarnya tetap bakal ada.”
“Kenapa tetap ada kalau Kira nggak tidur di situ?”
“Supaya kalau suatu hari kamu mau pulang,” kataku, “nggak ada satu pun alasan yang tersisa buat bilang nggak bisa.”
Aku pulang jam dua.
Di teras dia memegang tanganku dengan dua tangan seperti biasa, dan seperti biasa dia tidak melepas, dan seperti biasa aku harus bilang lepas dulu.
Tapi kali ini dia tidak langsung masuk.
“Ayah.”
“Hm.”
“Kira mau minta satu.”
“Minta apa?”
Anak itu berdiri di teras rumah orang lain dengan mata masih bengkak dan berkata sesuatu yang membuatku harus berhenti di pinggir jalan tiga kilometer kemudian untuk mengatur napas.
“Kira mau ketemu Bu Tam,” katanya. “Berdua aja. Nggak ada Ayah.”
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan reading
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis