Chapter Two

Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa

POV: Kira

Harga telur hari ini dua puluh sembilan ribu sekilo.

Aku tahu karena kemarin sore aku lewat depan warung Bu Nur dan tulisannya masih dua puluh tujuh, dan pagi tadi sudah diganti. Bu Nur menulis harga pakai spidol di karton bekas. Kalau angkanya naik, dia tulis ulang seluruh kartonnya, tidak cuma angkanya. Aku tidak tahu kenapa.

Kalau sekilo isinya enam belas butir, berarti satu butir seribu delapan ratus. Kalau Ayah makan dua, tiga ribu enam ratus. Kalau aku makan satu, seribu delapan ratus.

Aku pintar Matematika. Bu Tamara bilang begitu di rapor.

Yang Bu Tamara tidak tahu, aku jadi pintar Matematika bukan dari buku.


Jam istirahat, Dimas datang ke mejaku sambil membawa dua bungkus cilok.

“Nih.”

“Nggak usah.”

“Ini gratis.” Dia menaruhnya di mejaku dengan gaya seperti orang menaruh piala. “Aku dibeliin dua sama mama aku. Aku nggak bisa habis.”

Aku melihat bungkusnya. Yang satu sudah dibuka sedikit ujungnya.

“Kamu udah makan yang itu.”

“Belum!”

“Ada bekas gigit.”

Dimas melihat ke bungkusan itu, lalu ke aku, lalu ke bungkusan itu lagi. Mukanya berubah-ubah seperti orang yang sedang menghitung kebohongan mana yang masih bisa dipakai.

“Itu... itu digigit tikus.”

“Tikus yang bisa buka plastik.”

“Tikus zaman sekarang pinter, Ra.”

Anak-anak di meja sebelah tertawa. Aku tidak. Bukan karena tidak lucu — itu lucu, aku menahannya di dalam — tapi kalau aku tertawa, Dimas akan berpikir dia boleh membelikanku sesuatu besok.

“Makasih. Aku udah makan dari rumah.”

Itu bohong. Tapi bohong yang sopan, jadi tidak apa-apa.

Dimas berdiri di situ agak lama sebelum pergi sambil menendang-nendang lantai. Cilok-nya ditinggal di mejaku. Waktu bel berbunyi, aku pindahkan ke mejanya diam-diam, dan aku tidak bilang apa-apa, dan dia juga tidak.


Di kantin, harga-harganya begini.

Es teh dua ribu. Cilok tiga ribu. Batagor lima ribu. Roti isi cokelat empat ribu, tapi kalau beli sebelum jam sepuluh masih hangat dan rasanya jadi seperti enam ribu.

Aku hafal semuanya walaupun tidak pernah beli. Sebenarnya justru karena tidak pernah beli. Kalau kamu sering beli sesuatu, kamu berhenti melihat harganya.

Ayah kasih aku uang jajan lima ribu tiap hari.

Aku tahu dari mana lima ribu itu. Sekali servis kipas, Ayah dapat empat puluh sampai lima puluh ribu, dan kadang sehari cuma satu, dan kadang sehari tidak ada. Kalau tidak ada, Ayah tetap kasih lima ribu, dan malamnya Ayah bilang sudah makan di jalan.

Ayah tidak tahu aku bisa mencium bau. Kalau Ayah benar-benar makan di luar, bajunya bau warung. Kalau tidak, bajunya cuma bau timah sama keringat.

Jadi lima ribu itu aku simpan.

Bukan buat jajan besok. Buat dikembalikan. Nanti.


Bukunya buku tulis biasa, empat puluh lembar, yang sampulnya sudah aku lapis kertas kado bekas kado ulang tahun Nabila kelas tiga dulu. Motifnya bintang-bintang. Sebenarnya jelek, tapi kalau dilapis, orang tidak tahu itu buku apa.

Aku menulis di halaman paling depan, pakai spidol, huruf besar semua, waktu kelas tiga:

NANTI KALAU KIRA BESAR, KIRA LUNASIN.

Habis itu halaman-halaman berikutnya isinya daftar.

Sepatu 85.000Tas sekolah 60.000 (bekas, kata Ayah baru)Obat batuk 12.000SPP Januari — Ayah bilang udah, tapi belumBuku LKS 4 x 15.000Ayah nggak makan siang hari Selasa. Kira nggak tau berapa.

Yang terakhir itu yang paling susah. Karena aku tidak tahu harga Ayah tidak makan siang itu berapa. Aku sudah coba hitung. Kalau nasi padang lima belas ribu, berarti lima belas ribu. Tapi rasanya bukan segitu. Rasanya lebih.

Jadi aku tulis saja begitu. Nanti kalau aku besar dan sudah tahu harganya, aku ganti.

Bukunya aku simpan di dalam sarung bantal. Bukan di bawah kasur, karena Ayah yang menjemur kasur. Bukan di tas, karena Ayah yang membereskan tas.

Sarung bantal aman. Ayah tidak pernah mencuci sarung bantal. Ayah pikir aku tidak tahu.

Aku tahu.


Pulang sekolah, waktu anak-anak sudah keluar semua, Bu Tamara memanggil namaku.

“Kirana. Sini sebentar.”

Bu Tamara itu wali kelasku. Umurnya aku tidak tahu, tapi masih muda, dan kalau marah suaranya tidak naik, malah turun, dan itu lebih menakutkan. Tangannya wangi. Wangi hand cream yang botolnya kecil, yang selalu ada di laci mejanya, yang selalu dipakai setiap habis mengoreksi.

Aku duduk di kursi depan mejanya. Kakiku tidak sampai lantai.

“Ibu mau tanya,” katanya. “Surat yang Ibu titip Senin kemarin sudah dikasih ke ayahmu?”

Ada beberapa jawaban yang bisa aku pakai.

Yang pertama: sudah. Ini paling cepat, tapi kalau nanti Ayah tidak datang, ketahuan.

Yang kedua: hilang. Ini juga cepat, tapi nanti Bu Tamara bikin surat baru.

Yang ketiga yang benar.

Aku memilih yang ketiga karena kalau berbohong ke Bu Tamara, matanya tidak berkedip lama sekali, dan aku tidak kuat.

“Belum, Bu.”

“Kenapa?”

Aku melihat mejanya. Ada tumpukan buku, ada tempat pensil yang isinya pulpen merah semua, ada permen di toples kecil.

“Belum ada waktunya.”

Bu Tamara tidak langsung menjawab. Dia menyandarkan punggungnya ke kursi, dan suaranya turun sedikit, dan aku bersiap-siap.

“Kirana.”

“Iya, Bu.”

“Kamu takut ayahmu marah?”

“Nggak.” Itu jawabnya cepat sekali sampai aku sendiri kaget. “Ayah nggak pernah marah.”

“Terus?”

Aku memikirkan bagaimana cara menjelaskannya supaya kedengarannya tidak aneh.

Suratnya begitu dibuka bunyinya seperti tagihan. Tulisannya rapi, ada tanda tangan, ada cap. Ayah kalau menerima kertas yang ada capnya selalu diam dulu tiga detik sebelum membuka. Aku sudah lihat itu berkali-kali. Tiga detik. Selalu tiga detik.

Aku tidak mau Ayah punya tiga detik itu lagi minggu ini. Minggu ini sudah ada dispenser rusak yang tidak diambil-ambil orangnya, dan atap yang bocor lagi hari Kamis.

“Ayah lagi banyak kerjaan,” kataku.

Bu Tamara menatapku, dan aku menahan supaya tidak melihat ke bawah, karena kalau melihat ke bawah itu artinya bohong.

Lalu dia melakukan sesuatu yang aku tidak siap.

Dia menghela napas, dan waktu bicara lagi, suaranya bukan suara guru.

“Kamu itu umur berapa, sih.”

“Sepuluh, Bu.”

“Hm.”

“Kenapa?”

“Nggak apa-apa.” Dia mengambil permen dari toples dan menaruhnya di depanku. “Ambil. Ini bukan hadiah, ini perintah.”

Aku ambil. Kalau perintah, tidak masuk hitungan.

“Rabu, jam sepuluh,” katanya. “Bilang ke ayahmu. Nggak lama, nggak serem, dan Ibu nggak akan marahin dia.”

“Bu Tamara mau ngomongin apa?”

“Itu urusan Ibu sama ayahmu.”

“Tentang Kira?”

Bu Tamara diam.

“Tentang kamu,” katanya akhirnya. “Tapi bukan hal jelek. Sudah, pulang. Sudah ditunggu.”


Yang aku pikirkan sepanjang jalan pulang cuma satu: bagaimana cara memberikan surat itu supaya Ayah tidak punya tiga detiknya.

Aku sudah menyusun kalimatnya. Ayah, ini dari sekolah, bukan tagihan, cuma disuruh datang. Kalau aku bilang bukan tagihan duluan, mungkin tiga detiknya jadi satu detik.

Aku latihan di dalam hati sampai gang, sampai depan pintu, sampai aku menaruh sepatu.

Ayah sudah pergi kerja. Rumah kosong.

Di atas meja, di samping bangkai dispenser yang belum juga diambil orangnya, ada kertas.

Terbuka. Sudah tidak terlipat empat.

Ada gelas di atas ujungnya supaya tidak tertiup kipas.

Aku berdiri di situ agak lama, dengan tas masih di punggung, dan permen dari Bu Tamara masih di genggaman sampai plastiknya basah.

Ayah menemukannya sendiri.

Berarti Ayah sudah punya tiga detiknya, dan aku tidak ada di sana waktu itu terjadi.