Chapter Four
Ayahku
POV: Tamara
Aku sudah dua puluh menit mengoreksi ulangan Matematika yang sama, dan angka-angkanya tidak juga jadi angka.
Ruang guru sudah kosong sejak jam dua. Bu Yanti pulang duluan karena antre BPJS. Pak Har mengunci ruang kepala sekolah dan menitipkan kuncinya padaku seperti biasa, karena aku yang selalu terakhir, karena aku tidak pernah punya alasan untuk cepat pulang.
Laci kedua meja ini tidak kubuka sejak Senin.
Aku membukanya.
Namanya ditulis di pojok kanan atas dengan huruf yang terlalu rapi untuk anak kelas empat. Kirana Prayoga. 4B. Absen 14.
Judulnya cuma satu kata.
AYAHKU
Ayahku namanya Adam. Kerjanya betulin barang rusak. Kipas, kulkas, mesin cuci, dispenser, sama TV yang jadul banget yang biasanya udah nggak ada yang mau betulin lagi.
Ayahku pinter banget. Ayah bisa tau barang rusaknya dimana cuma dari dengerin bunyinya. Aku pernah lihat Ayah nempelin kuping ke kulkas orang, terus bilang ini bukan kompresornya bu, terus ternyata bener. Ibunya kaget. Aku nggak, karena Ayah emang selalu bener.
Tangan Ayah item. Bukan kotor ya. Aku mau jelasin ini karena dulu ada temen aku yang bilang ayah aku jorok. Itu bukan kotor. Itu namanya gemuk mesin, masuk ke garis-garis tangan, terus nggak bisa ilang walaupun dicuci pake sabun colek. Aku udah coba gosokin sendiri pake sikat gigi bekas. Nggak bisa. Ayah bilang biarin aja Ra, nanti juga ilang sendiri. Udah delapan tahun belum ilang.
Aku berhenti di situ dan meletakkan kertasnya di meja. Menghela napas. Mengambilnya lagi.
Ayahku suka bohong. Tapi bohongnya baik.
Contohnya, kalau Ayah belum makan, Ayah bilang udah makan di jalan. Aku tau Ayah bohong karena kalau Ayah beneran makan di warung, bajunya bau warung. Kalo enggak, bajunya cuma bau timah sama keringet. Aku nggak pernah bilang aku tau. Soalnya kalo aku bilang, Ayah nanti nyari bohongan yang lebih susah ditebak, terus aku nggak bisa jagain Ayah lagi.
Contoh kedua, Ayah suka bilang ayah nggak apa-apa. Itu bohong nomor satu yang paling sering.
Di luar, tukang kebun menyalakan mesin potong rumput. Bunyinya masuk ke ruangan ini dan aku bersyukur ada bunyi lain selain suaraku sendiri membaca di dalam kepala.
Rumah kami kecil. Ada bocor di atap, di tempat yang sama terus, udah ditambal tiga kali. Aku hafal tempatnya jadi kalo ujan aku langsung taruh ember disitu sebelum Ayah pulang, biar Ayah nggak usah ngerjain apa-apa lagi. Aku alasin embernya pake lap biar bunyi tetesnya nggak keras. Soalnya kalo bunyinya keras Ayah nggak bisa tidur, terus besoknya Ayah kerja sambil ngantuk, terus nanti kesetrum.
Ayah pernah kesetrum dua kali. Yang kedua sampe jatuh. Aku nggak mau cerita bagian itu.
Ayahku juga lucu. Kalo pura-pura tidur, jempol kakinya gerak. Setiap hari gitu. Ayah nggak tau kalo aku tau.
Aku tertawa. Sendirian, di ruang guru kosong, dengan suara yang keluar terlalu keras, dan tawa itu berbelok jadi sesuatu yang lain di tengah jalan dan aku harus menaruh kertasnya lagi.
Kata Bu Guru, karangan harus ada cita-citanya. Cita-citaku pengen cepet gede.
Bukan pengen jadi dokter atau guru atau polisi. Pengen gede aja dulu. Soalnya kalo udah gede aku boleh kerja, terus aku bisa bayarin semuanya.
Aku punya buku. Isinya semua yang Ayah beliin buat aku dari kelas satu. Harganya aku tulis semua. Sepatu, tas, obat, SPP. Ada yang aku nggak tau harganya, kayak waktu Ayah nggak makan siang hari Selasa, itu aku tulis aja Ayah nggak makan siang, harganya nanti aku cari tau kalo udah gede.
Nanti kalo aku udah gede, semuanya aku ganti. Semuanya. Aku udah itung, kayaknya nggak sampe sepuluh juta.
Bukunya rahasia. Ayah nggak boleh tau. Kalo Ayah tau nanti Ayah sedih, terus Ayah beliin aku sesuatu lagi buat ngilangin sedihnya, terus bukunya nambah lagi.
Bu Guru juga jangan bilang-bilang ya.
Sekian karangan dari saya. Terima kasih.
Kertasnya ada di mejaku dan aku tidak menyentuhnya lagi selama beberapa menit.
Di kolom nilai, aku sudah menulis angka Senin lalu. Sembilan puluh lima. Aku ingat menulisnya dengan tangan yang tidak stabil, dan sekarang angkanya kelihatan konyol, karena tidak ada angka yang pantas untuk itu, dan sembilan puluh lima adalah cara paling pengecut untuk membalas anak yang menitipkan seluruh isi rumahnya ke kertas folio dan menyerahkannya kepadaku seolah itu tugas biasa.
Bu Guru juga jangan bilang-bilang ya.
Anak itu menulis satu kalimat untukku. Satu kalimat, dilempar begitu saja di antara delapan puluh kalimat lain, dan kalimat itu memindahkan sesuatu ke tanganku yang tidak bisa kukembalikan.
Aku bisa membacanya sebagai basa-basi. Anak-anak sering menulis begitu.
Atau aku bisa membacanya sebagai apa adanya: satu-satunya orang dewasa yang tahu adalah aku, dan itu bukan kebetulan, karena tidak ada anak yang menulis rahasia sebesar itu di tugas sekolah kecuali dia ingin ada yang tahu.
Bukan ingin ditolong. Kirana tidak minta tolong sekali pun di empat halaman ini.
Ingin ada yang tahu. Itu saja. Karena memikul sesuatu sendirian di umur sepuluh tahun itu berat, dan yang bikin ringan bukan bantuan, tapi kenyataan bahwa ada satu orang lagi di dunia yang tahu kamu sedang memikul.
Aku mengambil ponselku dan membuka daftar wali murid.
ADAM PRAYOGA — 0812…
Jariku berhenti di atas layar.
Mau bilang apa?
Pak, anak Bapak nyatet semua pengeluaran Bapak sejak kelas satu.
Aku bisa membayangkan wajahnya waktu mendengar itu. Aku sudah melihat wajah itu tadi pagi, waktu aku bilang anaknya tidak pernah jajan. Laki-laki itu tidak berubah ekspresi sama sekali — dan justru karena tidak berubah sama sekali, aku tahu sesuatu barusan patah di dalam sana.
Kalau kukirim ini, dia akan pulang malam ini dan membuka sarung bantal atau ke mana pun buku itu disembunyikan, dan Kirana akan pulang besok tahu bahwa satu-satunya orang dewasa yang dia titipi rahasia langsung menjualnya dalam dua puluh empat jam.
Aku mengunci ponselku.
Bu Guru juga jangan bilang-bilang ya.
“Ya sudah,” kataku ke ruangan kosong. “Nggak Ibu bilang.”
Tapi tidak bilang bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Itu dua hal yang berbeda, dan aku sudah cukup lama jadi guru untuk tahu bahwa orang dewasa suka sekali menukar yang satu dengan yang lain lalu menyebutnya menghormati privasi.
Aku membuka buku catatan kunjungan.
Kolomnya sudah lama kosong. Kepala sekolah menganjurkan home visit dua kali setahun untuk murid yang bermasalah, dan Kirana Prayoga bukan murid bermasalah. Rangking empat. Tidak pernah absen. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah menyusahkan siapa pun seumur hidupnya, dan itu, kalau kupikir-pikir, justru masalahnya.
Aku menulis namanya.
Lalu kolom alasan kunjungan, dan aku menatap kolom itu lebih lama dari yang seharusnya, karena aku tidak bisa menulis saya penasaran dan tidak bisa menulis saya tidak bisa tidur kalau tidak lihat sendiri dan jelas tidak bisa menulis alasan yang sebenarnya, yang bahkan belum sanggup kuucapkan dalam kepalaku sendiri.
Aku menulis: Koordinasi pembayaran SPP.
Bohong. Tapi bohong yang baik.
Rupanya itu menular.
Aku mengunci laci, mengunci ruangan, menyerahkan kunci ke satpam, dan di parkiran aku baru sadar aku bahkan tidak tahu rumahnya sebelah mana. Yang kupunya cuma alamat di berkas, tulisan tangan laki-laki itu sendiri, huruf-huruf besar yang tegak dan agak dipaksakan seperti orang yang jarang menulis.
Gang Melati III. Nomor tujuh.
Aku menyalakan motor dan berdiri diam di atasnya beberapa saat, dan mengakui satu hal kepada diriku sendiri sebelum berangkat, karena aku benci berbohong kepada diri sendiri lebih dari apa pun.
Aku tidak ke sana hanya karena anak itu.
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku reading
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis