Chapter Eleven

Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat

POV: Tamara

Ada aturan tidak tertulis untuk pertanyaan semacam itu.

Kamu tidak boleh menjawab iya, karena kamu bukan siapa-siapa dan janji semacam itu adalah barang paling kejam yang bisa dititipkan ke anak sepuluh tahun. Kamu juga tidak boleh menjawab tidak, karena anak itu baru saja membuka sesuatu di depanmu dan tidak boleh dibiarkan menyesal sudah membukanya.

Delapan tahun jadi guru mengajariku jalan tengahnya, dan jalan tengahnya adalah bertanya balik.

“Kirana.”

“Iya, Bu.”

“Kenapa nanya itu?”

Anak itu berdiri di depan mejaku, dua tangan memegang ujung roknya, dan menjawab tanpa ragu sedikit pun.

“Karena Ayah ketawa empat kali hari itu.”

Aku meletakkan pulpen.

“Biasanya berapa?”

“Satu.” Dia mengangkat bahu. “Kadang nol.”

Di luar, anak-anak berteriak di lapangan. Bel masih tujuh menit lagi.

“Duduk,” kataku.

Dia duduk. Kakinya tidak sampai lantai, seperti biasa.

“Ibu jawab jujur, ya. Boleh?”

“Boleh.”

“Ibu nggak tahu.”

Dia mengerutkan kening. “Kok nggak tahu?”

“Karena yang begituan bukan Ibu sendiri yang mutusin.” Aku menutup map. “Dan yang paling penting, itu bukan tugas kamu buat mikirin.”

“Kenapa bukan tugas Kira?”

“Karena kamu anak-anak.”

“Kira kelas empat.”

“Iya, dan kelas empat itu anak-anak.” Aku mencondongkan badan sedikit. “Kirana, dengar. Kamu boleh kepikiran. Semua anak kepikiran. Tapi kamu nggak boleh ngerasa itu jadi tanggung jawab kamu. Ayah kamu orang dewasa. Ibu juga. Yang beginian urusan orang dewasa.”

Dia diam. Lalu bertanya lagi, dan pertanyaannya kali ini bukan pertanyaan anak-anak, dan itu yang membuatku bermasalah selama tiga hari sesudahnya.

“Kalau Bu Tamara nggak mau, bilang aja sekarang. Biar Kira nggak usah berharap.”


Aku memikirkan kalimat itu waktu mengoreksi. Waktu makan. Waktu berdiri di depan kelas menerangkan pecahan senilai.

Biar Kira nggak usah berharap.

Anak umur sepuluh tahun yang sudah tahu bahwa berharap itu ada biayanya, dan sudah tahu bahwa lebih hemat kalau tagihannya dibatalkan sejak awal.

Aku tahu dari mana dia belajar itu. Aku sudah membacanya di empat halaman folio.

Dan aku tahu satu hal lagi, yang lebih tidak enak: aku tidak menjawab tidak.

Aku punya seluruh perangkatnya. Aku guru, aku terlatih, aku bisa menutup percakapan itu dengan halus dalam dua kalimat dan anak itu akan pulang tanpa luka.

Aku memilih menjawab “Ibu nggak tahu.”

Yang artinya, di dalam diriku sendiri, jawabannya juga belum tidak.


Pak Har memanggilku Rabu sore.

“Bu Tamara, duduk.”

Ruangannya dingin sekarang. Salah satu AC yang dicuci laki-laki itu ada di sini juga.

“Ini bukan teguran, ya,” katanya, yang di seluruh sejarah dunia kerja selalu berarti ini teguran. “Saya cuma mau ngobrol.”

“Iya, Pak.”

“Soal Pak Adam.”

Aku menunggu.

“Bapak itu wali murid. Bu Tamara wali kelasnya.” Pak Har memutar pulpennya. “Kemarin di ruang guru Ibu... membela dia. Di depan semua orang.”

“Saya nggak membela dia, Pak. Saya membela sekolah supaya nggak keliatan pelit.”

“Ibu tahu maksud saya.”

Aku tahu maksud dia.

“Pak Har,” kataku. “Saya boleh tanya?”

“Boleh.”

“Kalau yang datang kemarin itu vendor beneran, terus dia nawarin harga tiga ratus, terus saya bilang itu terlalu murah dan sekolah harus bayar wajar — Bapak akan panggil saya ke sini?”

Pak Har membuka mulut.

“Nggak, kan.”

“Bu Tamara—“

“Yang bikin ini jadi masalah bukan yang saya omongin, Pak. Yang bikin jadi masalah, orangnya laki-laki, umurnya nggak jauh dari saya, dan istrinya nggak ada.” Aku menatapnya. “Itu bukan pelanggaran kode etik. Itu bahan omongan.”

Kepala sekolah itu menghela napas panjang sekali dan menyandarkan punggungnya.

“Saya nggak bilang Ibu salah.”

“Terus?”

“Saya bilang hati-hati.” Nadanya berubah, dan untuk pertama kalinya dia terdengar seperti orang, bukan seperti jabatan. “Sekolah ini kecil, Bu. Wali muridnya saling kenal semua. Dan yang paling cepat rusak di sini bukan AC. Nama guru.”

Aku tidak menjawab.

“Bu Yanti sudah kirim foto Bapak itu lagi manjat tangga ke grup,” lanjutnya. “Grupnya isi dua puluh delapan orang. Delapan di antaranya wali murid.”

Aku memejamkan mata.

“Saya bunuh dia.”

“Jangan di lingkungan sekolah.”


Malamnya di kos, aku melakukan hal yang paling bodoh yang bisa dilakukan perempuan dewasa berumur dua puluh delapan tahun.

Aku membuka berkas Kirana Prayoga di aplikasi data siswa.

Kolom ibu kandung ada isinya. Nama lengkap. Tempat tanggal lahir. Pekerjaan: ibu rumah tangga. Alamat: sama dengan alamat ayah.

Datanya tidak pernah diperbarui sejak pendaftaran kelas satu.

Berarti selama enam tahun, setiap kali laki-laki itu mengisi formulir, dia menulis nama perempuan itu, alamat rumahnya sendiri, dan tidak mengubah apa pun.

Aku menutup laptop.

Lalu membukanya lagi.

Lalu menutupnya lagi, dan meletakkannya di lantai, dan berbaring menatap langit-langit kos yang catnya mengelupas di sudut.

Ada perempuan di dunia ini yang tidak pernah kulihat wajahnya. Yang tidur di kamar yang sama dengan kipas berbunyi ngik itu. Yang pernah menggendong anak yang sekarang duduk di absen empat belas di kelasku.

Dan aku, di kos berukuran tiga kali empat, dengan cucian yang belum dilipat sejak Minggu, sedang merasakan sesuatu yang kalau ada nama sopannya aku akan pakai nama sopannya, dan tidak ada.

Cemburu.

Pada perempuan yang belum pernah kulihat, yang sudah pergi delapan tahun, yang bahkan tidak sedang bersaing denganku.

Itu memalukan sekali sampai aku tertawa sendiri di dalam kamar.


Ibuku menelepon jam sembilan, seperti setiap Rabu.

“Halo, Tam.”

“Iya, Bu.”

“Sudah makan?”

“Sudah.”

“Makan apa?”

“Nasi.”

“Nasi doang?”

“Nasi sama lauk, Bu.”

Percakapan kami selalu delapan menit. Aku sudah pernah menghitungnya dengan stopwatch, dulu, waktu masih cukup marah untuk melakukan hal semacam itu. Delapan menit, isinya: sudah makan, jangan pulang malam, adikmu sudah dapat kerja di Bekasi, kapan kamu nikah, ya sudah, assalamualaikum.

Malam itu di menit keenam aku memotong.

“Bu.”

“Kenapa?”

“Ibu inget nggak, waktu aku kelas lima ada pentas drama di sekolah?”

Ada jeda.

“Yang mana ya?”

“Aku jadi pohon.”

“Pohon?”

“Iya. Aku minta Ibu datang. Ibu bilang nanti kalau nggak sibuk.”

“Terus Ibu datang?”

Aku menatap langit-langit.

“Nggak, Bu.”

“Ya ampun.” Ibuku tertawa. “Kamu masih inget yang begituan? Itu kan sudah dua puluh tahun. Lagian pohon, Tam. Nggak ada dialognya juga.”

“Iya,” kataku. “Nggak ada dialognya.”

Kami tutup telepon di menit kedelapan, seperti biasa.


Aku sudah lama tahu apa yang salah dengan diriku dan aku sudah lama memilih tidak menamainya.

Rumahku lengkap. Ayah ada, ibu ada, adik ada, rumahnya bagus, tidak ada yang bocor di mana pun. Tidak ada yang pergi, tidak ada yang meninggalkan siapa-siapa, tidak ada cerita sedih yang bisa kuceritakan ke siapa pun tanpa terdengar manja.

Cuma tidak ada yang pernah datang.

Itu saja. Sesederhana dan sekecil itu, dan tidak ada dalam kategori luka mana pun, dan tidak ada yang mau mendengarkannya karena semua orang akan bilang kamu beruntung, banyak yang lebih parah.

Dan sekarang ada laki-laki yang tidak punya apa-apa, yang bahkan tidak punya kancing lengkap, yang setiap hari Selasa dan Kamis berdiri di gerbang sekolah lima menit lebih lambat dari yang dijanjikan, tapi berdiri di sana.

Delapan tahun berturut-turut.

Itu yang membuatku tidak bisa tidur. Bukan wajahnya. Bukan tangannya. Bukan cara dia menjelaskan kumparan kipas seperti orang menjelaskan sesuatu yang dicintainya.

Kehadiran. Cuma itu.

Ternyata cuma itu harganya, dan aku tidak pernah punya.


Aku mengirim pesan jam sebelas kurang, dan kuhapus, lalu kutulis lagi, lalu kukirim sebelum sempat kuhapus lagi.

Pak Adam, hari Sabtu Kirana ada les tambahan gratis di sekolah jam 8. Antar ya.

Tidak ada les tambahan hari Sabtu.

Aku akan mengurusnya besok. Aku akan bikin les tambahan itu ada. Aku bisa; aku wali kelasnya; aku tinggal menempel pengumuman.

Balasannya masuk enam menit kemudian.

Baik, Bu. Saya antar.

Aku menatap layar itu terlalu lama, seperti perempuan bodoh berumur dua puluh delapan tahun, dan aku sudah hampir mengetik sesuatu lagi ketika titik-titik “sedang mengetik” muncul di bawah namanya.

Lalu hilang.

Lalu muncul lagi.

Lalu hilang lagi.

Lalu tidak muncul lagi selama sepuluh menit, dan aku sudah menaruh ponsel di dada dan hampir tertidur ketika benda itu bergetar sekali di atas tulang selangkaku.

Bukan dari dia.

Nomor tidak dikenal. Foto profilnya perempuan, diambil dari jauh, di pantai, tidak jelas wajahnya.

Assalamualaikum. Maaf mengganggu malam-malam.Betul ini Ibu Tamara, wali kelas 4B SD Melati 2? Saya dapat nomor Ibu dari admin Instagram sekolah.

Aku duduk.

Waalaikumsalam. Betul, Bu. Dengan siapa ya?

Titik-titiknya muncul lama sekali untuk balasan sependek itu.

Saya ibunya Kirana Prayoga.Nama saya Vanya.

Aku membaca dua baris itu tiga kali.

Lampu kamar sudah kunyalakan tanpa sadar kapan aku bangun untuk menyalakannya.

Saya cuma mau tanya kabar anak saya, Bu. Nggak ada maksud apa-apa.Kalau boleh, saya juga mau minta nomor ayahnya. Nomor lama sudah tidak aktif.

Aku menatap layar itu dengan ponsel di kedua tangan dan jantung yang berdetak jauh lebih cepat daripada yang pantas untuk seorang guru yang sedang membaca pesan dari seorang wali murid.

Di atas pesan itu, masih terlihat di daftar percakapan, ada balasan enam kata yang masuk dua puluh menit lalu.

Baik, Bu. Saya antar.

Aku mengetik.

Aku menghapus.

Aku mengetik lagi, dan menghapus lagi, dan pada akhirnya aku menaruh ponsel itu menelungkup di lantai, mematikan lampu, dan berbaring memunggunginya.

Tidak menjawab bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Aku sendiri yang berkata begitu di ruang guru kosong tiga minggu lalu.

Malam itu aku memutuskan untuk tidak peduli pada kalimatku sendiri, setidaknya sampai besok pagi.

Ternyata besok pagi tidak pernah datang tepat waktu untuk hal semacam ini.