Chapter One
Dua Potong Bakwan
POV: Adam
Kipas di sudut kamar berbunyi ngik setiap tiga putaran.
Aku sudah tahu bunyi itu seperti orang tahu detak jam di rumahnya sendiri. Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik. Bushing-nya aus, tinggal diberi pelumas sedikit saja beres, dan sudah delapan tahun aku belum juga melakukannya. Bukan karena tidak bisa. Karena kalau kipas itu berhenti berbunyi, aku tidak akan tahu lagi apakah dia masih hidup atau tidak tanpa membuka mata.
Pukul setengah lima, ada tangan kecil menepuk pipiku.
“Ayah.”
Aku pura-pura tidur.
“Ayaaah.” Tepukan kedua, lebih keras, dengan telapak tangan yang masih hangat oleh selimut. “Ayah, air udah nyala. Nanti mati lagi jam lima.”
Aku membuka satu mata. Di atasku, wajah anak itu menggantung terbalik, rambutnya jatuh menutupi sebelah keningku, dan alisnya sudah dinaikkan seperti orang berumur empat puluh yang lelah pada dunia.
“Kira bangunin dari tadi. Ayah pura-pura.”
“Nggak.”
“Iya.” Ia menyingkir, turun dari kasur dengan bunyi berdebum yang tidak perlu. “Ayah kalau pura-pura tidur, jempol kakinya gerak.”
Aku melihat ke bawah. Jempol kakiku memang bergerak.
Anak umur sepuluh tahun tidak seharusnya tahu hal semacam itu tentang ayahnya. Tapi anak umur sepuluh tahun juga tidak seharusnya bangun duluan untuk mengecek air, dan itu sudah terjadi sejak dia kelas dua.
Rumah kami satu petak. Satu kamar, satu ruang yang merangkap dapur dan tempat makan dan bengkel, satu kamar mandi yang pintunya harus diangkat sedikit kalau mau ditutup. Di langit-langit ruang depan ada noda cokelat selebar piring, tepat di atas tempat aku biasa menaruh solder. Bocor di titik yang sama selama delapan tahun. Sudah tiga kali kutambal dan tiga kali dia kembali, seperti orang yang tahu jalan pulang.
Kira sudah di depan kompor waktu aku keluar kamar, berdiri di atas kursi plastik, mengaduk nasi kemarin di wajan.
“Turun.”
“Bentar.”
“Ra.”
“Bentar, Ayah. Nanti gosong.” Ia mengangkat wajan dengan dua tangan, lidahnya keluar sedikit karena berat, dan aku menahan diri untuk tidak membantu karena tahu apa yang akan terjadi kalau aku membantu. Anak itu akan diam sepanjang pagi.
Nasi goreng jadi. Di piring kami masing-masing, dia menaruh satu potong bakwan.
Aku melihat plastik di atas meja. Isinya kosong.
“Ra.”
“Kenapa?”
“Kemarin Ayah beli tiga.”
“Kira makan satu semalam.” Ia duduk, kakinya tidak sampai lantai, dan menyendok nasi dengan wajah paling polos yang pernah diciptakan Tuhan. “Kenapa? Nggak boleh?”
“Boleh.”
Dia tidak makan satu pun semalam. Aku tahu karena aku yang membungkusnya, dan aku yang menemukan plastik itu masih diikat rapi jam sebelas malam. Tapi kalau kukatakan, dia akan bilang lupa, lalu besok dia akan berbohong lebih rapi. Anak itu belajar cepat. Itu masalahnya.
Jadi aku makan bakwan-ku, dan dia makan bakwan-nya, dan di antara kami tidak ada bakwan ketiga, dan kami berdua pura-pura itu memang jumlah yang wajar untuk dua orang.
Sekolahnya empat ratus meter dari rumah. Bisa jalan kaki. Tapi kalau motor sudah kupanaskan pagi-pagi, dia selalu ikut, dan aku selalu memanaskan motor pagi-pagi.
Motorku keluaran 2003. Knalpotnya bunyi khas, agak berat di putaran bawah, seperti orang tua yang berdehem sebelum bicara. Kira bilang bunyinya seperti “hrrm-hrrm-hrrm”. Dia hafal betul. Kalau aku pulang dan berhenti di ujung gang, dia sudah membuka pintu sebelum aku sampai.
“Ayah,” katanya dari belakang, tangannya melingkar di perutku. “Hari ini servis apa?”
“Kulkas Bu Haji.”
“Yang kemarin itu lagi?”
“Iya.”
“Berarti Ayah salah dong benerinnya.”
“Nggak salah.” Aku menepikan motor di depan gerbang. “Yang kemarin pintunya. Yang sekarang lain.”
“Kok tahu?”
“Bunyinya beda.”
Dia turun, membetulkan tasnya, lalu berdiri di samping motor sambil menatapku dengan mata menyipit. “Ayah tuh kayak dokter, tapi buat barang.”
“Dokter dibayar mahal.”
“Ya makanya.” Dia mengangkat bahu dan berbalik. “Ayah naikin harga.”
Dia sudah lima langkah masuk gerbang waktu aku sadar sepatunya menghadap keluar sedikit di bagian jempol kanan. Kutandai dalam kepala. Nanti kalau ada rezeki lebih. Nanti.
Rumah Bu Haji ada di blok yang tembok pagarnya lebih tinggi dari atap rumahku. Kulkasnya dua pintu, keluaran lama tapi bagus, jenis yang dibuat waktu orang masih membuat barang untuk dipakai dua puluh tahun.
“Sudah tiga hari, Pak Adam,” katanya sambil melipat tangan. “Bunyinya kayak ada yang ngerem di dalam. Anak saya bilang itu tandanya sudah waktunya ganti.”
Aku membuka pintu kulkas, menutupnya, membukanya lagi. Menempelkan telinga ke sisi kanan.
Klik. Diam sepuluh detik. Dengung. Klik lagi.
“Bukan kompresornya, Bu.”
“Lho, tahu dari mana? Belum dibuka.”
“Kalau kompresor, dengungnya nggak sampai selesai. Ini selesai.” Aku mencabut steker, menarik kulkas dari dinding, dan mulai membuka penutup belakang. “Bu Haji punya obeng plus?”
“Punya, tapi entah di mana.”
“Nggak apa-apa.”
Relay-nya yang mati. Benda sebesar kotak korek, harganya lima belas ribu di toko Bu Ningrum. Kutunjukkan padanya, kutunjukkan kaki-kakinya yang sudah menghitam, kujelaskan bahwa ini yang menyalakan kompresor dan kalau dia telat menyala, kompresor mencoba jalan berkali-kali, dan bunyi ngerem yang dia dengar itu adalah kulkasnya mencoba hidup.
Bu Haji diam agak lama.
“Jadi nggak usah ganti kulkas?”
“Nggak.”
“Nggak usah ganti sama sekali?”
“Nggak, Bu.”
Wajahnya berubah, dan butuh beberapa detik untukku mengenali ekspresi itu. Kecewa.
“Padahal saya sudah lihat-lihat yang empat pintu,” katanya pelan. “Yang ada tempat esnya di luar.”
“Oh.”
“Ya sudah.” Ia menghela napas dan masuk ke dalam. “Berapa, Pak?”
Aku menghitung. Sparepart lima belas. Ongkos jalan. Waktu.
“Tujuh puluh lima.”
“Segitu doang?”
“Iya, Bu.”
Ia memberiku seratus dan bilang kembaliannya untuk anak saya. Aku bilang terima kasih, dan aku terima, karena menolak uang di depan orang yang lebih tua adalah cara paling cepat membuat mereka tersinggung, dan karena sepatu itu menghadap keluar sedikit di bagian jempol kanan.
Toko Bu Ningrum penuh dari lantai sampai langit-langit dan tidak ada satu pun yang punya label harga. Dia hafal semuanya di kepala, termasuk hutang-hutangku, termasuk tanggalnya.
“Relay satu,” kataku.
“Kulkas siapa?”
“Bu Haji.”
“Yang pagarnya tinggi itu?” Ia mengambil kotak dari rak atas tanpa melihat. “Berapa kamu tarik?”
“Tujuh puluh lima.”
Tangannya berhenti di udara.
“Tujuh puluh lima.”
“Iya.”
“Adam.” Ia meletakkan kotak itu di meja dengan bunyi keras. “Rumah orang itu pagarnya tinggi. Tinggi. Kamu masuk situ bawa tas, keluar bawa tujuh puluh lima ribu. Tukang AC kemarin masuk situ, keluar bawa enam ratus.”
“Kerjaannya beda.”
“Kerjaannya sama-sama bikin dingin!” Ia mengambil uangku, menghitung, dan mengembalikan dua lembar. “Nih. Kurang lima belas, besok-besok.”
“Bu—“
“Kamu itu tukang servis apa panitia amal, sih.” Dia sudah berbalik, punggungnya bicara lebih keras dari mulutnya. “Anak kamu kelas empat, Dam. Kelas empat itu mahal. Nanti kelas enam lebih mahal. Nanti SMP kamu nangis.”
Aku memasukkan relay ke tas.
“Bu Ningrum.”
“Apa.”
“Yang relay lama, saya bawa ya. Kaki-kakinya masih bisa dipakai buat yang lain.”
Dia menoleh, menatapku lama sekali, lalu mengibaskan tangan seperti mengusir lalat.
“Pergi kamu.”
Sore, hujan turun sebentar, cukup untuk membuat noda di langit-langit itu bekerja lagi. Aku pulang jam lima lewat, dan seperti biasa, pintu sudah terbuka sebelum motorku berhenti.
Di dalam, ember sudah ada di tempatnya. Persis di bawah titik yang sama. Anak itu bahkan sudah melapisi dasarnya dengan lap supaya bunyi tetesannya tidak keras.
“Ayah basah.”
“Sedikit.”
“Ganti baju.” Ia menarik tasku dan menaruhnya di sudut, di tempat yang sama seperti kemarin dan kemarinnya lagi. “Kira udah masak. Telur.”
“Telur apa?”
“Telur.”
Kami makan di lantai karena mejanya sedang dipakai bangkai dispenser orang. Dia bercerita tentang temannya bernama Dimas yang menaruh belalang di kotak pensil anak perempuan dan dipanggil ke depan kelas, dan dia menceritakannya dengan detail berlebihan, dengan suara yang ditirukan, dan aku tertawa dua kali, dan dua-duanya sungguhan.
Lalu dia berhenti.
Sendoknya diam di atas piring.
“Ayah.”
“Hm.”
“Ayah tadi makan siang?”
Ada jeda yang terlalu panjang sebelum aku menjawab, dan jeda itu adalah jawabannya, dan kami berdua tahu.
“Ayah nggak apa-apa.”
Dia tidak mendebat. Itu yang paling tidak enak. Anak lain akan mendebat, akan merengek, akan bilang tapi tapi tapi. Anak ini hanya mengangguk sekali, pelan, seperti orang yang sudah menduga dan sekadar mencocokkan.
Lalu dia mengambil piringnya, memindahkan setengah telurnya ke piringku, dan melanjutkan cerita tentang Dimas seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku memandangi setengah telur itu lebih lama dari yang seharusnya.
Ada hal-hal yang tidak diajarkan siapa pun kepada anak umur sepuluh tahun. Menghitung. Menakar. Menunggu sampai orang lain selesai baru mengambil bagian. Aku tidak pernah mengajarinya. Aku tidak pernah bilang kita miskin, tidak sekali pun, tidak dengan kata itu.
Dia belajar sendiri. Dari melihat.
Malam, waktu dia sudah tidur dan aku membereskan tasnya untuk besok, ada sesuatu di kantong depan.
Kertas, dilipat empat, agak lecek di pinggirnya seperti sudah berkali-kali dibuka dan dilipat lagi.
Aku membukanya di bawah lampu.
Kepada Yth. Orang Tua/Wali dari: KIRANA PRAYOGA — Kelas 4B.
Sehubungan dengan hal yang perlu kami sampaikan mengenai ananda, dimohon kehadiran Bapak/Ibu di ruang guru pada hari Rabu, pukul 10.00 WIB.
Hormat kami,Wali Kelas 4BTamara Ayuningtyas, S.Pd.
Aku membalik kertasnya. Tidak ada keterangan lain. Tidak ada nilai, tidak ada tunggakan, tidak ada apa pun yang bisa kupakai untuk menebak.
Tanggalnya empat hari yang lalu.
Aku menoleh ke kamar. Di dalam, di bawah kipas yang berbunyi ngik setiap tiga putaran, anak itu tidur dengan tangan terkepal di dekat dagunya, seperti orang yang sedang memegang sesuatu.
Empat hari.
Anak itu menyimpannya empat hari.
- 1 Dua Potong Bakwan reading
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis