Chapter Thirty

Yang Saya Punya

POV: Adam

Aku datang membawa rantang karena tidak tahu harus membawa apa.

Aku sudah bertanya ke Bu Ningrum tiga hari sebelumnya, dan Bu Ningrum bilang bawa buah, dan aku bilang buah apa, dan Bu Ningrum bilang ya buah, dan aku bilang di rumah itu pasti sudah ada buah.

Akhirnya aku masak.

Aku bisa masak empat hal dan tiga di antaranya tidak pantas dibawa ke rumah orang. Yang keempat rendang, karena delapan tahun lalu ada ibu-ibu di kampung yang mengajariku setelah melihat anakku umur tiga tahun makan mi instan tiga hari berturut-turut.

Aku memasaknya semalaman.

Tamara tidak tahu aku datang. Aku tidak memberitahunya, karena kalau kuberitahu dia akan melarang, dan kalau dia melarang aku akan menurut, dan aku sudah cukup lama menurut pada hal-hal yang membuatku aman.

Alamatnya kudapat dari berkas kepegawaian.

Aku tahu itu tidak benar. Aku minta ke Bu Yanti, dan Bu Yanti memberikannya dalam empat detik tanpa satu pun pertanyaan, dan dari kecepatan itu aku tahu perempuan itu sudah menunggu ada yang bertanya sejak lama.


Yang membukakan pintu anak muda, dua puluhan, yang wajahnya langsung berubah putih waktu aku menyebut nama kakaknya.

“Oh. Oh, iya. Bapak— “ Dia menoleh ke dalam. “Bapak mau ketemu Mbak Tamara?”

“Iya.”

“Mbak Tamara lagi— “ Dia menelan. “Lagi ada urusan.”

“Saya tunggu.”

“Bapak siapa ya?”

“Adam.”

Anak itu memandangiku, lalu memandangi rantang di tanganku, dan sesuatu di wajahnya runtuh sedikit.

“Masuk aja, Pak.”


Aku duduk di ruang makan selama sepuluh menit sendirian.

Rumahnya rapi dengan cara yang membuat aku takut menggeser kursi. Lantainya keramik besar. Di dinding ruang tamu ada foto keluarga, tahun lama, semua orang pakai batik warna sama.

Aku melihat foto itu dari kejauhan dan menemukannya di barisan belakang, jauh lebih muda, dengan wajah orang yang sedang disuruh berdiri di situ.

Lalu ada bunyi kursi.

Laki-laki tua masuk. Umurnya enam puluhan. Sarung, kemeja lengan pendek, kacamata baca yang masih tergantung di leher.

Aku berdiri.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk.

Beliau menarik kursi di seberangku, menaruh koran yang sudah terlipat di meja, dan menatapku selama beberapa detik dengan cara yang tidak bisa kubaca sama sekali.

“Bapak duduk aja. Saya mau tanya beberapa hal.”

“Silakan, Pak.”


Beliau tidak menaikkan suaranya sekali pun, dan itu yang membuat percakapan itu jauh lebih berat dari kalau beliau berteriak.

“Kerja apa?”

“Servis elektronik, Pak.”

“Punya toko?”

“Kios. Dua minggu.”

“Sewa atau milik?”

“Sewa.”

“Berapa sebulan?”

“Satu juta dua.”

“Modalnya dari mana?”

“Pinjam. Satu juta dari pemilik toko sparepart, empat ratus dari pemilik kontrakan saya.”

Beliau mengangguk pelan.

“Kontrakan.”

“Iya, Pak.”

“Berapa kamarnya?”

“Satu.”

“Anak?”

“Satu. Perempuan. Kelas empat.”

“Sekarang di mana?”

Dan di situ aku berhenti selama satu setengah detik, karena inilah bagian yang sudah kutakutkan sejak semalam waktu mengaduk rendang.

“Di rumah ibunya, Pak.”

Beliau tidak berkedip.

“Kamu yang kasih?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena saya nggak sanggup.”

Ruangan itu sunyi. Di luar, ada suara motor lewat. Di dapur, ada bunyi gelas.

“Bapak jujur,” kata beliau.

“Saya nggak punya yang lain buat dipakai, Pak.”


Beliau bertanya sembilan pertanyaan lagi dan aku menjawab semuanya, dan tidak satu pun jawabanku membaik.

Tabungan: tidak ada.

Asuransi: tidak ada.

Rumah: kontrak.

Kendaraan: motor tahun 2003.

Orang tua: sudah tidak ada, dua-duanya, sejak aku dua puluh empat.

Saudara: tidak ada.

Pendidikan: STM.

“Kamu sadar nggak,” kata beliau akhirnya, “dari semua yang kamu sebut barusan, nggak ada satu pun yang bisa saya pakai buat meyakinkan istri saya?”

“Sadar, Pak.”

“Terus kenapa datang?”

“Karena kalau saya nggak datang, saya jadi orang yang nggak datang.”

Beliau menatapku.

“Apa maksudnya itu?”

“Saya nggak punya apa-apa buat ditawarkan ke Bapak,” kataku. “Saya sudah hitung semalaman dan hasilnya nol. Yang bisa saya lakuin cuma satu, dan cuma itu yang saya bisa seumur hidup saya.”

“Apa?”

“Datang.”


Beliau tidak menjawab lama sekali.

Lalu beliau melepas kacamata bacanya dari leher, menaruhnya di atas koran, dan bersandar.

“Anak saya bakal susah kalau sama kamu.”

“Iya, Pak.”

“Kamu setuju?”

“Saya setuju.”

“Terus kenapa kamu masih di sini?”

Dan itu pertanyaannya. Itu yang sebenarnya beliau tanyakan sejak menit pertama, dan sembilan belas pertanyaan sebelumnya cuma jalan menuju ke situ.

Aku menaruh kedua tanganku di atas meja. Garis-garis hitam itu masih ada. Selalu ada. Aku sudah berhenti berusaha.

“Pak, saya nggak punya apa-apa,” kataku. “Saya nggak punya tabungan, saya nggak punya rumah, saya nggak punya ijazah yang bisa dipamerkan, dan sekarang saya bahkan nggak punya anak saya sendiri di rumah saya.”

Beliau mendengarkan.

“Yang saya punya cuma cinta sama anak Bapak,” kataku. “Dan saya tahu itu nggak cukup. Saya tahu banget itu nggak cukup, Pak, karena saya sudah pernah kehilangan satu keluarga dan waktu itu yang saya punya juga cuma itu.”

Aku menelan.

“Tapi saya nggak bohong,” kataku. “Itu satu-satunya yang bisa saya jamin ke Bapak. Bukan bahwa saya bakal berhasil. Saya nggak berani janji itu. Cuma bahwa saya nggak bohong.”

Ruang makan itu sunyi.

Dan di sunyi itu, dari arah lorong, ada bunyi.

Bunyi kecil. Bunyi seseorang menarik napas terlalu cepat lewat hidung.

Aku tidak menoleh.

Ayah Tamara menoleh.

Beliau melihat ke pintu yang setengah terbuka itu selama beberapa saat, lalu kembali ke aku, dan sesuatu di wajah beliau berubah — bukan melunak, tapi bergeser.

“Sudah berapa lama dia di situ?” tanya beliau.

“Saya nggak tahu, Pak.”

“Kamu tahu.”

“...Dari ‘saya nggak punya tabungan’.”

Beliau mendengus sekali lewat hidung. Bukan tawa. Sesuatu yang lebih tua dari tawa.

“Kamu bisa dengar orang berdiri di balik pintu.”

“Pekerjaan saya dengerin bunyi, Pak.”


Beliau berdiri jam satu.

“Saya nggak bilang iya,” kata beliau.

“Iya, Pak.”

“Istri saya nggak akan setuju. Mungkin lama. Mungkin nggak pernah.”

“Iya, Pak.”

“Dan yang saya bilang ke anak saya tadi soal dia bakal jadi nomor dua — saya nggak tarik. Itu tetap benar.”

Aku berdiri juga.

“Itu benar, Pak,” kataku. “Dan saya nggak bisa janji akan berubah. Saya cuma bisa janji satu: dia nggak akan pernah nggak tahu posisinya. Saya nggak akan pura-pura ke dia.”

Beliau menatapku beberapa saat lagi.

“Rendangnya kamu yang masak?”

“Iya, Pak.”

“Kenapa nggak beli aja?”

“Kalau beli, itu uang. Kalau masak, itu waktu.” Aku mengangkat rantangnya sedikit. “Yang saya punya lebih banyak waktu, Pak.”

Dan untuk pertama kali sejak aku masuk rumah itu, laki-laki tua itu tersenyum — sangat kecil, cuma di satu sudut, dan cepat sekali hilang.

“Kamu itu ngomongnya susah dibantah,” katanya. “Itu bakal jadi masalah kamu sendiri nanti.”

Beliau mengambil korannya dan keluar.


Tamara ada di teras waktu aku keluar.

Berdiri, tangan dilipat, mata merah, dan wajah yang sedang berusaha keras kelihatan seperti wajah orang yang tidak baru saja berdiri di balik pintu selama sepuluh menit.

“Mas.”

“Iya.”

“Kamu nggak bilang mau ke sini.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Karena kamu bakal larang.”

“Iya, aku bakal larang.”

“Nah.”

Dia memukul lenganku. Keras. Sungguhan.

“Aduh.”

“Kamu tahu Bapak aku ngomong apa ke aku tadi pagi?”

“Tahu.”

Dia berhenti.

“Kamu dengar?”

“Nggak. Tapi saya bisa nebak, karena kalau saya jadi bapak kamu, saya ngomong hal yang sama.”

Tamara menatapku di teras rumah orang tuanya, jam satu siang, dengan pagar yang terbuka dan tetangga yang jelas-jelas sedang menyiram tanaman lebih lama dari yang diperlukan.

“Mas.”

“Hm.”

“Yang barusan kamu bilang ke Bapak.” Suaranya bergetar. “Yang bagian— “

“Iya.”

“Kamu belum pernah bilang itu ke aku.”

“Belum.”

“Kamu bilangnya ke Bapak aku duluan.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memandanginya.

“Karena kalau saya bilang ke kamu duluan, kamu bakal seneng,” kataku. “Kalau saya bilang ke bapak kamu duluan, saya nggak bisa narik lagi.”

Dia menutup mulutnya dengan tangan.

Dan aku, di teras rumah yang lantainya keramik besar, di depan tetangga yang menyiram tanaman, mengambil tangan perempuan itu yang satu lagi dan menciumnya di punggung tangan — pelan, sekali, dan lama.

Bukan sembunyi-sembunyi.

Kalau ada yang mau melihat, silakan lihat.


Aku sudah di motor waktu dia berteriak dari teras.

“Mas!”

Aku menoleh.

“Rendangnya asin nggak?”

“Enggak.”

“Kok tahu?”

“Saya cicip empat kali.”

“Empat kali?”

“Dari jam sebelas malam sampai jam dua.” Aku memakai helm. “Tiga kali pertama asin.”

Tamara berdiri di teras itu dan tertawa dengan cara yang sama sekali tidak pantas untuk seseorang yang matanya masih merah.

“Mas Adam!”

“Apa?”

“Kamu telat lima menit lagi.”

“Telat ke mana? Saya mau pulang.”

“Ya makanya!” Dia mengangkat dua tangan. “Kamu dari jam setengah dua belas di dalam! Aku dari jam dua belas lewat sepuluh berdiri di balik pintu kayak orang gila! Kamu tahu nggak sepuluh menit itu berapa lama kalau sambil nahan napas?!”

“Sepuluh menit.”

“MAS ADAM.”

Aku menyalakan motor sebelum dia sempat mengambil sesuatu untuk dilempar.