Chapter Fifty Two

Buku yang Belum Habis

POV: Kira

Aku menemukannya waktu beres-beres lemari, dua tahun kemudian.

Bukan sengaja mencari. Aku sedang mengeluarkan seragam SD yang sudah tidak muat untuk dikasih ke anak tetangga, dan di bawah tumpukan itu ada ransel lama, dan di dalam ransel ada buku sampul kertas kado.

Motif bintang-bintang. Sudah pudar sebelah. Selotipnya sudah menguning sampai cokelat.

Aku duduk di lantai kamar dan membukanya.

Halaman terakhir yang ada tulisannya bertanggal—

Aku tidak menulis tanggal. Aku tidak pernah menulis tanggal.

Tapi aku bisa menebak dari isinya.

Sabun cuci muka 22.000. Bunda yang beli, tapi Ayah yang kasih uangnya, jadi masuk sini.

Itu tulisan kelas enam.

Aku menghitung ke belakang.

Empat belas bulan.


Aku duduk di lantai itu lama sekali sambil memegang buku itu.

Empat belas bulan aku tidak menulis apa-apa.

Aku mencoba mengingat kapan aku berhenti dan kenapa, dan aku tidak bisa. Tidak ada hari di mana aku memutuskan berhenti. Tidak ada halaman terakhir yang sengaja.

Aku cuma lupa.

Itu yang paling aneh. Aku, yang menulis kecil-kecil di margin supaya bukunya tidak habis. Yang menghitung sisa halaman tiap bulan. Yang bilang ke Ibu di lantai kamar nomor dua dari tangga bahwa aku tidak mau ada yang selesai.

Aku lupa.

Sisa halamannya masih tiga.

Tiga halaman itu masih kosong sampai sekarang, dan aku sudah tiga belas tahun, dan aku sudah kelas satu SMP.


Aku bawa turun.

Ayah di teras, membersihkan kipas orang. Bunda di dalam, menyusui adik.

Adikku namanya Nura. Umurnya enam bulan. Aku yang memilih namanya, karena Ayah dan Bunda bertengkar tiga minggu dan akhirnya menyerah dan menyuruh aku saja.

“Ayah.”

“Hm.”

Aku menaruh buku itu di lantai teras di sebelahnya.

Ayah menoleh.

Dan aku melihat wajah Ayah waktu melihat sampul kertas kado itu, dan aku langsung tahu bahwa Ayah sudah tahu, dan sudah lama tahu.

“Ibu yang cerita?”

“Iya,” kata Ayah. “Tiga tahun lalu. Di kios.”

“Ayah nggak pernah bilang.”

“Nggak.”

“Kenapa?”

Ayah menaruh obengnya.

“Karena itu buku kamu.”


Aku duduk di sebelahnya di anak tangga teras.

“Ayah mau baca?”

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Ayah nggak berani.”

Aku tertawa. Ayah tidak.

“Ayah beneran nggak berani, Ra.”

“Ini cuma harga-harga.”

“Ayah tahu isinya apa.” Ayah menatap kipas yang setengah terbuka di pangkuannya. “Ibumu ceritain sebagian. Ayah minta berhenti di tengah.”

Aku membuka halaman depan.

Spidol. Huruf besar semua. Miring ke kanan. Tulisan anak kelas tiga.

NANTI KALAU KIRA BESAR, KIRA LUNASIN.

Aku memutarnya ke arah Ayah.

Ayah melihatnya.

Ayah melihatnya lama sekali, dan aku melihat rahang Ayah bergerak sekali, dan Ayah tidak mengangkat wajah waktu bicara.

“Udah lunas dari dulu, Ra.”

“Ayah—“

“Kamu yang nggak tahu.”


“Berapa totalnya?” tanya Ayah.

“Enam juta delapan ratus tiga puluh dua.”

“Kamu hitung?”

“Ibu yang hitung. Tiga tahun lalu.” Aku menutup bukunya. “Kira cek ulang bulan lalu waktu belajar Excel di sekolah. Ibu salah dua ribu.”

Ayah tertawa. Pendek, lewat hidung.

“Ra.”

“Hm.”

“Kamu tahu Ayah dapat berapa sekarang sebulan?”

“Nggak tahu.”

“Kamu nggak pernah nanya.”

Aku memikirkan itu.

“Iya ya,” kataku.

“Sejak kapan kamu berhenti nanya?”

“Nggak tahu, Ayah.”

Dan aku benar-benar tidak tahu, dan itu bagian yang tidak bisa aku jelaskan ke siapa pun sampai sekarang.

Aku tidak berhenti karena aku memutuskan berhenti.

Aku berhenti karena suatu hari uang tidak lagi jadi hal yang harus dijaga setiap saat, dan aku tidak menyadari hari itu waktu terjadi, dan sekarang aku tidak bisa menemukannya lagi di dalam ingatan.


Yang berubah bukan cuma itu.

Ulang tahunku yang kedua belas lewat begitu saja.

Aku baru sadar setahun kemudian, waktu Pak Haji Tarmiji bercerita ke tetangga baru soal “hukum yang saya riset dulu, umur dua belas anak boleh milih”, dan aku berdiri di situ memegang gelas dan menghitung.

Ulang tahunku yang kedua belas jatuh delapan bulan setelah aku pulang.

Kami makan di rumah. Bunda bikin mi goreng karena aku minta mi goreng. Ibu datang membawa kue dan pulang jam sembilan. Om Bram tidak ikut karena dia di luar kota dan dia menelepon dan menyanyi sumbang selama empat puluh detik.

Tidak ada satu orang pun yang menyebut apa-apa.

Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menatap aku dengan cara tertentu. Tidak ada yang menunggu aku bicara.

Ayah, Ibu, Bunda, Om Bram — empat orang dewasa — semuanya tahu tanggal itu artinya apa, dan tidak ada satu pun yang membukanya.

Aku baru mengerti apa yang mereka lakukan waktu umurku tiga belas.

Dan waktu aku mengerti, aku masuk kamar dan menangis dua puluh menit dan tidak bilang ke siapa-siapa sampai sekarang.


Kiosnya sekarang punya plang baru.

SERVIS ELEKTRONIK A. PRAYOGAAuthorized Service Partner

Prosesnya delapan bulan. Ayah harus mengumpulkan catatan tiga tahun ke belakang — semua nota, semua nomor seri, semua garansi.

Yang mengurus berkasnya Bunda, karena kalau Ayah yang mengurus berkas, berkasnya jadi tanda tanya tiga.

Orang yang datang memverifikasi bertanya kenapa nomor serinya mulai dari 1047.

Bunda menjawab, “Biar kelihatan jujur.”

Orang itu tertawa selama satu menit penuh dan menulis sesuatu di formulirnya.

Sekarang ada dua teknisi. Sarno yang satu — sekarang digaji bulanan, bukan per unit, setelah tiga tahun bernegosiasi menggunakan istilah-istilah yang tidak ada di dunia nyata. Yang satu lagi namanya Riko, umur dua puluh, lulusan STM, yang datang melamar dengan membawa radio yang dia perbaiki sendiri sebagai lamaran.

Ayah menerimanya di tempat.


Sabtu pagi kiosnya tidak buka untuk umum.

Sabtu pagi ada tujuh anak duduk di lantai kios itu dengan solder dan papan bekas dan obeng yang gagangnya dililit isolasi warna-warni.

Gratis. Delapan sampai sebelas. Umur sepuluh sampai lima belas.

Yang mengajar Ayah dan Bunda.

Ayah mengajar yang teknis. Bunda mengajar yang lain — cara mencatat, cara menghitung ongkos, cara bilang ke orang bahwa rusaknya kecil.

Aku asisten.

Tugasku memegang senter.

“Ke kiri.”

“Sudah kiri, Ayah.”

“Kiri Ayah, bukan kiri kamu.”

“YA BILANG DONG.”

Dan Bunda, dari kursi plastik biru di sudut, setiap kali, tanpa gagal, selama dua tahun:

“Sabar ya, Kira. Bunda juga dulu gitu.”


Ibu datang hari Minggu.

Tidak selalu. Kadang dua minggu sekali, kadang tiga. Tidak ada jadwal, tidak ada janji, dan sudah dua tahun tidak ada satu orang pun yang menghitung.

Kadang dia bawa Nura ke halaman dan menggendongnya sampai anak itu tidur, dan Bunda membiarkannya, dan mereka berdua bicara soal hal-hal membosankan seperti harga popok.

Minggu lalu Ibu datang membawa kardus.

“Ini apa, Bu?”

“Barang kamu. Yang di kamar.”

Aku membukanya di teras.

Baju-baju yang tidak muat lagi. Buku-buku SD. Sepatu. Dan boneka beruang besar yang tidak pernah pindah dari kursi itu selama tiga setengah tahun.

“Bu, ini—“

“Kamarnya Ibu jadikan kamar tamu,” katanya cepat, dan aku bisa mendengar dia sudah melatih kalimat itu di mobil. “Bukan dibongkar. Cuma— sayang kosong.”

Aku menatapnya.

Tiga setengah tahun.

“Bu.”

“Iya?”

“Nggak apa-apa, Bu.”

Dan Ibu tersenyum, dan matanya merah, dan dia bilang “iya” dan duduk di kursi plastik teras dan tidak bicara selama beberapa menit.

Terus dia melihat Ayah di ujung teras, yang sedang membuka mesin cuci orang, dengan Nura tidur di kain gendong di dadanya karena Bunda sedang ada rapat wali murid.

“Mas.”

“Hm?”

“Itu bayi jangan dibawa deket obeng.”

“Ini bukan obeng, ini kunci ring.”

“Sama aja!”

“Beda, Van.”

“MAS.”

Aku duduk di anak tangga teras dan menonton dua orang itu bertengkar soal alat perkakas dan bayi yang bukan anak dua-duanya, dan aku memikirkan sesuatu yang tidak aku bilang ke siapa-siapa.

Ibu tidak pernah minta maaf lagi setelah hari itu di ujung gang.

Dan aku tidak pernah memintanya.

Ada hal-hal yang tidak selesai dengan diselesaikan. Ada hal-hal yang cuma bisa dipakai terus sampai halus, seperti gagang obeng, seperti sampul buku yang selotipnya menguning.


Ibu mau pulang jam lima.

Aku antar sampai mobil.

Lima puluh tiga langkah. Aku masih hafal, dan aku masih menghitungnya, dan itu satu-satunya hitungan yang belum berhenti.

“Bu.”

“Iya, Nak.”

Aku menyerahkan buku itu.

Ibu melihatnya dan langsung mundur setengah langkah.

“Kirana—“

“Bukan buat dibaca,” kataku. “Ibu udah baca.”

“Terus?”

“Buat disimpan.”

“Nak, ini—“

“Sisanya tiga halaman, Bu.” Aku menaruhnya di tangan Ibu dan menutupnya dengan dua tanganku. “Kira nggak akan nulis lagi. Kira sudah coba dua kali dan nggak ada yang bisa ditulis.”

Ibu memegangnya seperti orang memegang sesuatu yang panas.

“Kenapa dikasih ke Ibu?”

Aku memikirkan jawabannya sepanjang sore itu dan yang keluar adalah yang paling sederhana.

“Karena Ibu yang nemuin,” kataku. “Semua yang di rumah ini terjadi gara-gara Ibu buka pintu itu.”

“Kirana—“

“Ibu bilang Ibu nggak tahu cara minta maaf soal yang besar.” Aku menatapnya. “Ibu udah minta maaf, Bu. Waktu Ibu nyetir dua belas kilometer sendirian.”

Ibu menangis di ujung gang itu, dan aku tidak menghentikannya, dan aku tidak bilang tidak apa-apa.


Terus Ibu bilang, sambil memegang buku itu di dadanya:

“Ibu nggak akan pernah bisa benerin yang sembilan tahun itu, Nak.”

Dan aku menjawabnya tanpa berpikir sama sekali, karena kalimatnya sudah ada di dalam kepalaku sejak umur sepuluh, karena aku sudah pernah menuliskannya di karangan Bahasa Indonesia yang sampai hari ini masih disimpan Bunda di lacinya.

“Yang rusak masih bisa diperbaiki, Bu,” kataku. “Cuma butuh waktu, sama tangan yang mau.”

Ibu menutup matanya.

“Kata ayahmu?”

“Kata Ayah.”

“Sembilan tahun lalu dia bilang itu ke Ibu,” katanya, “dan Ibu nggak dengerin.”

“Ibu dengerin sekarang.”


Malamnya kipas itu masih berputar di sudut kamarku.

Ngik. Satu, dua, tiga. Ngik.

Bunyinya sudah lebih parah. Sekarang kadang ngik-nya dua kali berturut-turut, dan putarannya melambat sedikit di akhir seolah kelelahan.

Ayah tahu. Ayah mengecek as-nya tiap enam bulan dan tiap kali dia mengangkat obeng dan tiap kali aku bilang jangan dan tiap kali dia menaruhnya lagi.

Aku dengar Ayah dan Bunda di ruang depan.

“Mas.”

“Hm.”

“Nura tidur.”

“Iya.”

“Kamu belum makan.”

“Nanti.”

“Sekarang.”

“Tam—“

“Aku ambil obengnya.”

“Tam, itu lagi—“

“AKU AMBIL OBENGNYA.”

Dan aku mendengar Ayah tertawa, dan aku mendengar kursi digeser, dan aku mendengar Bunda bilang sesuatu yang tidak aku tangkap, dan aku mendengar Ayah menjawab dengan suara yang lebih pelan, dan yang itu aku tangkap.

“Aku cinta sama kamu, Tam.”

“Aku tahu.”

“Kamu nggak jawab?”

“Aku lagi ngitung berapa suapan lagi sebelum aku boleh jawab.”

Aku menarik selimut sampai dagu dan menutup mata dan tersenyum di kamar tiga kali empat meter yang dicat sendiri oleh laki-laki yang tidak tahu anak umur sepuluh tahun suka warna apa, jadi dia pilih putih supaya tidak salah.


Aku masih bangun jam setengah lima kadang-kadang.

Kebiasaan lama tidak hilang begitu saja; itu juga sesuatu yang aku pelajari.

Aku bangun, dan aku duduk sebentar, dan aku dengar.

Dulu yang aku dengarkan air. Apakah sudah nyala atau belum, karena kalau lewat jam lima nanti mati sampai malam.

Sekarang airnya selalu nyala.

Jadi yang aku dengarkan yang lain.

Aku dengar kipas di sudut kamarku. Aku dengar napas adikku di kamar sebelah, yang tembok pemisahnya tipis. Aku dengar Ayah bangun jam lima kurang seperempat dan menyalakan kompor.

Dan kadang, kalau aku diam sekali dan tidak bergerak, aku dengar Ayah dan Bunda bicara pelan-pelan di dapur soal hal-hal yang tidak penting.

Aku berbaring lagi.

Aku tidak bangun.

Karena tidak ada yang harus aku cek, dan tidak ada yang harus aku tutupi, dan tidak ada yang harus aku catat.

Dan itu — bukan rumah yang tidak bocor, bukan kamar sendiri, bukan gigi yang sudah ditambal — itu yang paling lama aku tunggu tanpa pernah tahu namanya.

Ngik.

Satu, dua, tiga.

Ngik.