Chapter Twenty Nine
Kamu S1
POV: Tamara
Telepon hari Sabtu itu isinya satu kalimat.
“Minggu depan pulang.”
“Ada apa, Bu?”
“Pulang aja.”
Delapan menit jadi empat puluh detik. Itu sendiri sudah cukup untuk memberitahuku bahwa seseorang sudah bercerita kepada seseorang.
Yang bercerita ternyata adikku.
Namanya Wisnu, umurnya dua puluh empat, kerja di Bekasi, dan tiga minggu lalu dia lewat kota ini untuk urusan kantor dan mampir tanpa bilang dan melihat kakaknya duduk di kursi plastik di dalam kios servis elektronik sambil menghitung nota.
Dia tidak masuk. Dia memotret dari seberang jalan.
Aku tahu itu karena foto itu ada di ponsel ibuku, dan ibuku menunjukkannya kepadaku di ruang tamu rumah kami, hari Minggu, jam sebelas siang, seperti orang menyerahkan barang bukti.
Rumah orang tuaku ada di kompleks yang jalannya lebar dan pohonnya seragam.
Ruang tamunya ada dua set kursi. Ada foto keluarga besar di dinding, yang diambil tahun 2011, di studio, semua orang pakai batik warna sama.
Aku ada di foto itu, berdiri di barisan belakang, di sebelah paman yang sudah meninggal.
“Ini apa, Tam?”
Aku melihat fotonya.
“Kios.”
“Ibu tahu itu kios.” Ibuku menaruh ponselnya di meja. “Ibu nanya kamu ngapain di situ.”
“Bantu pembukuan.”
“Pembukuan siapa?”
“Temen.”
“Temen.” Ibuku mengulanginya dengan cara yang sudah kukenal sejak umur delapan tahun. “Temen apa?”
Ayahku duduk di kursi satunya dan belum berkata apa-apa sejak aku masuk. Beliau membaca koran. Beliau selalu membaca koran; itu satu-satunya hal yang kuingat konsisten tentang beliau sejak kecil.
“Bu,” kataku. “Kalau Ibu sudah tahu, nggak usah dipancing.”
“Ibu mau denger dari kamu.”
Aku menaruh gelas.
“Namanya Adam Prayoga. Umur tiga puluh tiga. Tukang servis elektronik. Punya kios sendiri sejak dua minggu lalu. Punya anak perempuan kelas empat, murid saya.”
“Istrinya?”
“Cerai. Delapan tahun lalu. Istrinya yang pergi, dan sekarang sudah menikah lagi.”
“Anaknya ikut siapa?”
“Ikut ibunya. Sejak tiga bulan lalu.”
Ibuku menutup matanya sebentar.
“Ya Allah, Tam.”
“Ibu nggak akan muter-muter,” katanya. “Ibu nggak setuju.”
“Iya, saya sudah tahu dari nada telepon Sabtu kemarin.”
“Kamu S1.”
Ada tiga kata di dunia ini yang paling sering kudengar sepanjang hidupku, dan itu adalah tiga kata itu.
Kamu S1.
Dipakai waktu aku memilih jadi guru SD dan bukan mendaftar BUMN. Dipakai waktu aku menolak dijodohkan dengan anak teman ayahku yang kerja di bank. Dipakai waktu aku memutuskan tinggal di kos dan bukan pulang tiap hari.
“Iya, Bu. Saya S1.”
“Jangan gitu nadanya.”
“Saya nggak—“
“Tamara.” Ibuku mencondongkan badan. “Kamu tahu Ibu nyekolahin kamu pakai apa?”
“Tahu.”
“Ibu jual—“
“Ibu jual gelang, sama Ibu ngutang ke Om Har, dan Ibu bayarnya lima tahun.” Aku menatap meja. “Saya hafal, Bu. Saya sudah dengar itu tiga puluh empat kali. Saya hitung.”
Ruangan itu sunyi.
Koran di kursi sebelah berhenti berbunyi.
“Bu, saya mau tanya satu hal.”
“Tanya.”
“Yang bikin Ibu nggak setuju itu karena dia miskin, atau karena orang lain bakal ngomong?”
“Dua-duanya.”
Aku terkejut dia menjawab sejujur itu.
“Ibu nggak akan pura-pura, Tam. Ibu nggak setuju karena hidup kamu bakal susah, dan Ibu juga nggak setuju karena Ibu nggak tahu mau jawab apa kalau ditanya di arisan.”
“Yang mana yang lebih besar?”
“Ibu nggak tahu.” Ibuku menggeleng. “Dan Ibu nggak mau tahu, karena kalau ternyata yang kedua, Ibu jadi ibu yang jelek.”
Untuk pertama kali sepanjang siang itu, aku merasa sedikit sayang kepada perempuan ini.
“Bu.”
“Apa.”
“Dia bukan orang yang nggak punya apa-apa,” kataku. “Dia orang yang nggak punya uang. Itu beda.”
“Sama aja, Tam.”
“Nggak sama, Bu.”
“Nanti kalau kamu sakit—“
“Dia nungguin anaknya di klinik jam satu pagi dengan uang kurang empat puluh ribu, Bu, dan dia nggak pergi.” Suaraku naik. “Ibu mau tahu apa yang dia lakukan waktu saya bayarin diam-diam? Dia libur kerja satu hari, dia nunggu tiga jam di klinik itu buat nyari tahu siapa yang bayar, terus dia datang ke ruang guru pakai kemeja yang dia setrika sendiri, dan dia balikin uangnya di depan lima guru.”
Ibuku diam.
“Ibu bilang nanti kalau saya sakit. Saya sudah tahu jawabannya, Bu. Saya sudah lihat orangnya dites.”
Yang menghancurkan bukan ibuku.
Ayahku menutup korannya jam dua belas kurang, melipatnya dua kali seperti biasa, dan bicara untuk pertama kalinya.
“Tamara.”
“Iya, Pak.”
“Anaknya kelas empat.”
“Iya.”
“Ikut ibunya.”
“Iya, Pak.”
Beliau menaruh koran itu di meja.
“Berarti dia belum selesai.”
Aku tidak mengerti maksudnya selama dua detik penuh.
“Maksud Bapak?”
“Laki-laki yang anaknya di rumah orang lain itu belum selesai urusannya, Tam.” Suaranya tenang. Beliau tidak pernah meninggikan suara seumur hidupku; itu juga satu-satunya hal lain yang kuingat konsisten. “Dia bakal ngejar itu terus. Sampai berhasil, atau sampai dia mati. Itu bukan salah dia. Itu memang begitu bapak-bapak.”
“Saya tahu, Pak.”
“Kamu nggak tahu.”
“Saya—“
“Kamu bakal nomor dua, Tam.”
Ruang tamu itu jadi sangat sunyi.
“Bukan karena dia jahat,” kata ayahku. “Justru karena dia baik. Kalau dia jahat, kamu bisa marah. Ini kamu nggak bisa marah, karena yang di depan kamu itu anaknya sendiri.”
Aku memegang gelas di pangkuanku dengan dua tangan.
“Bapak nggak usah ngomong yang begitu.”
“Bapak ngomong karena nggak ada yang mau ngomong.”
“Bapak nggak pernah ngomong apa-apa dua puluh delapan tahun.”
Kalimat itu keluar sebelum aku sempat menahannya.
Ayahku tidak marah. Beliau cuma diam sebentar, dan mengangguk pelan, dan berkata:
“Iya.”
Aku ke kamar mandi setelah itu.
Aku menyalakan keran dan berdiri di depan cermin dan tidak mencuci apa-apa selama empat menit.
Karena beliau benar.
Itu yang paling tidak bisa kuterima. Bukan soal S1, bukan soal arisan, bukan soal gaji. Semua itu bisa kulawan; aku punya jawabannya, aku sudah menyiapkan jawabannya sejak Oktober.
Yang tidak punya jawaban cuma satu.
Aku sudah tahu sejak lama. Aku sudah tahu dari malam di gerbang sekolah waktu dia berkata dia yang pertama, dia yang selalu pertama, sampai kapan pun, sama siapa pun.
Aku bilang aku tahu. Aku bilang itu di depan orangnya, dengan yakin, seperti orang yang sedang bermurah hati.
Yang tidak kuhitung: aku tumbuh di rumah yang lengkap dengan orang tua yang tidak pernah datang ke pentas drama, dan seumur hidup aku cuma ingin satu hal, yaitu jadi hal yang paling penting bagi seseorang, sekali saja, satu kali.
Dan aku memilih jatuh cinta pada satu-satunya laki-laki di kota ini yang tempat pertamanya sudah terisi sejak delapan tahun lalu oleh anak perempuan yang aku sendiri sayangi.
Aku menatap perempuan di cermin itu.
“Kamu jahat,” kataku pelan.
Karena aku baru saja, di dalam kepalaku sendiri, selama sepersekian detik, merasa cemburu kepada anak umur sepuluh tahun.
Aku keluar dari kamar mandi jam dua belas lewat sepuluh.
Ibuku sudah tidak di ruang tamu. Ayahku juga tidak.
Yang ada di ruang tamu adalah adikku, Wisnu, berdiri dengan wajah orang yang tahu dia dalam masalah besar.
“Mbak.”
“Kamu.”
“Mbak, aku—“
“Nanti.”
“Mbak, ada tamu.”
Aku berhenti.
“Tamu apa?”
“Dari tadi.” Wisnu menunjuk dengan dagu ke arah ruang makan. “Dari jam setengah dua belas. Aku yang bukain.”
“Siapa?”
“Nggak tahu. Bapak-bapak.” Adikku menelan. “Bawa rantang.”
Aku menoleh ke arah ruang makan.
Pintunya setengah terbuka.
Dan dari dalam, terdengar suara ayahku — pelan, tenang, dengan nada yang beliau pakai untuk membaca koran dan untuk menghancurkan orang.
“Bapak duduk aja. Saya mau tanya beberapa hal.”
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1 reading
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis