Chapter Thirty Four

Dua Belas

POV: Adam

Pak Haji Tarmiji datang ke kios hari Selasa dengan map plastik yang sama, yang isinya sekarang bertambah.

“Dam. Saya sudah riset.”

“Riset apa, Pak Haji?”

“Riset hukum.”

Aku menaruh obeng, karena aku sudah belajar bahwa percakapan dengan Pak Haji tidak bisa dilakukan sambil bekerja tanpa merusak salah satunya.

“Pak Haji, kita sudah pernah bahas ini.”

“Yang dulu itu salah.” Dia duduk di lantai, di tempat biasanya, dengan sarung. “Yang dulu saya bilang kamu bisa gugat. Sekarang saya sudah tahu, gugat itu ribet, mahal, dan lama.”

“Nah.”

“Tapi ada yang lain.”

Dia membuka mapnya dan mengeluarkan tiga lembar kertas hasil cetak dari warnet, hurufnya kecil-kecil, sebagian diberi garis pakai spidol kuning.

“Namanya mumayyiz.”


“Anak itu, kalau sudah umur dua belas,” katanya, “boleh milih sendiri mau ikut siapa.”

“Boleh milih?”

“Boleh. Kata hukumnya begitu.” Dia menunjuk barisan yang digaris kuning. “Di bawah dua belas ikut ibu. Di atas dua belas, dia yang milih.”

“Pak Haji dapat dari mana?”

“Warnet.”

“Ini artikel apa?”

“Artikel.” Dia mengibaskan tangan. “Ada nama pengacaranya di bawah. Ada fotonya. Pakai jas.”

Aku mengambil kertas itu dan membacanya.

Bahasanya berbelit dan sebagian tidak kupahami, tapi bagian intinya ada dan bagian intinya sederhana, dan aku membacanya tiga kali.

“Kirana sekarang sepuluh,” kata Pak Haji.

“Sepuluh lewat enam bulan.”

“Nah.” Dia mengangkat telunjuk. “Berarti tinggal satu tahun enam bulan.”


Aku memikirkannya sepanjang sisa hari itu.

Aku memikirkannya waktu membetulkan pompa air Bu Sri. Waktu makan. Waktu mengunci rolling door jam sembilan.

Satu tahun enam bulan.

Dan malam itu, sebelum pulang, aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.

Kalender gratis dari toko sparepart itu tergantung di dinding kios, di sebelah tempelan aturan tulisan tangan Tamara. Gambarnya pemandangan Bali. Bulannya sudah ketinggalan dua karena aku tidak pernah membaliknya.

Aku membaliknya sampai bulan yang benar.

Lalu aku mengambil pulpen dan menandai satu tanggal, delapan belas bulan lagi, dengan lingkaran kecil.

Ulang tahun anakku yang kedua belas.

Aku menatap lingkaran itu lama sekali.

Lalu aku mengambil pulpen lagi dan mulai mencoret tanggal-tanggal yang sudah lewat minggu ini, satu per satu, seperti orang yang sedang menghitung mundur.

Enam coretan.

Aku berhenti di coretan ketujuh.


Aku menaruh pulpen itu.

Aku duduk di kursi kerja dan memandangi kalender itu dari jarak dua meter, dan aku memaksa diriku memikirkan sampai selesai apa yang sebenarnya sedang kubangun di dinding itu.

Delapan belas bulan.

Dan di ujung delapan belas bulan itu ada apa?

Ada anak berumur dua belas tahun, duduk di suatu ruangan, dengan dua orang dewasa yang mencintainya di dua sisi, dan seseorang bertanya kepadanya kamu mau ikut siapa.

Aku memikirkan wajahnya waktu ditanya.

Aku memikirkan anak yang menulis di kertas ulangan bahwa telur yang pecah masih bisa dipakai kalau langsung digoreng jadi sebenarnya tidak rugi. Anak yang mendorong satu-satunya teman yang membelanya karena teman itu menyebut pekerjaan bapaknya terlalu keras. Anak yang menghitung sampai dua ratus sesuatu di dalam kamarnya sendiri tanpa ada yang tahu.

Anak itu, kalau ditanya, akan menjawab.

Dia akan menjawab dengan lantang, seperti di rumah makan itu, dan dia akan memilih aku.

Dan sesudah itu dia akan pulang ke rumahku, dan dia akan tidur di kasur yang sama, dan setiap malam selama sisa hidupnya dia akan tahu bahwa dia pernah berdiri di suatu ruangan dan menyakiti ibunya di depan orang banyak.

Dia akan menang, dan dia yang akan membayarnya.

Selamanya.


Aku mengambil kembali pulpen itu.

Aku tidak menghapus lingkarannya — tanggal itu tetap ulang tahunnya, dan aku tidak akan mencoret ulang tahun anakku dari kalender mana pun.

Yang kucoret enam coretan tadi.

Aku menimpanya sampai jadi kotak hitam pekat, semuanya, satu per satu, sampai tidak ada lagi yang kelihatan seperti hitungan mundur.

Lalu aku duduk lagi.

Delapan tahun aku hidup dengan satu aturan yang tidak pernah kutulis di mana pun: anak itu tidak boleh disuruh memilih apa pun yang bukan urusan anak-anak.

Aku sudah melanggarnya sekali. Malam terakhir di kasur itu, waktu aku bilang “Ayah nggak apa-apa” dan menunggu dia percaya, aku sedang menyuruhnya memilih antara mempercayaiku atau membongkarku.

Dia memilih mempercayaiku, dan aku membiarkannya membayar untuk itu.

Sekali sudah cukup.


Tamara datang jam delapan.

Dia melihat kalender itu sebelum melihat apa pun yang lain, karena perempuan itu punya kebiasaan memindai ruangan begitu masuk, dan karena kotak-kotak hitam di kalender pemandangan Bali itu memang mencolok.

“Itu apa?”

“Kalender.”

“Yang item-item itu.”

“Nggak ada.”

Dia menoleh ke aku.

Lalu berjalan ke kalender itu dan berdiri di depannya, dan aku melihat pundaknya berhenti bergerak waktu dia menemukan lingkaran kecil yang tidak kucoret, delapan belas bulan di depan.

“Ini ulang tahun Kirana.”

“Iya.”

“Yang kedua belas.”

“Iya.”

Dia tidak menoleh.

“Siapa yang kasih tahu kamu?”

“Pak Haji. Riset warnet.”

“Terus kamu coret enam hari.”

“Iya.”

“Terus kamu timpa lagi.”

“Iya.”

Dia berbalik.

“Kenapa?”


Aku menceritakan semuanya, karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri di lantai kios ini, di antara enam puluh sekrup ukuran campur, bahwa aku tidak akan menyimpan apa pun dari perempuan ini lagi.

Dia mendengarkan sampai selesai.

Lalu dia duduk di kursi plastiknya dan tidak bicara selama hampir satu menit.

“Mas.”

“Hm.”

“Kamu sadar nggak kamu barusan ngasih tahu aku satu-satunya jalan yang paling gampang buat dapetin anak kamu balik,” katanya, “terus kamu bilang kamu nggak mau pakai?”

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena itu bukan jalan buat aku dapetin dia,” kataku. “Itu jalan buat aku nyuruh dia ngerebut dirinya sendiri dari ibunya.”

Tamara memandangiku.

“Kamu bisa nunggu doang, terus di ulang tahunnya dia yang milih, terus kamu nggak salah apa-apa,” katanya pelan. “Nggak ada yang bakal nyalahin kamu, Mas. Nggak ada yang bakal tahu.”

“Dia yang bakal tahu.”

“Dia bakal seneng.”

“Iya.” Aku mengangguk. “Malam itu dia bakal seneng.”

Kios itu sunyi.

“Terus besoknya?” kataku. “Terus lima tahun lagi? Terus waktu dia dua puluh lima dan ibunya sakit dan dia berdiri di rumah sakit dan inget bahwa dia pernah milih?”

Tamara menutup matanya.

“Aku nggak bakal ngasih dia itu, Tam,” kataku. “Aku sudah ngasih dia banyak hal yang nggak seharusnya dipegang anak kecil. Aku ngasih dia hitungan harga sembako. Aku ngasih dia kebiasaan ngecek apa bapaknya udah makan. Aku ngasih dia kalimat ‘nggak apa-apa’.”

Aku menatap kalender itu.

“Yang satu ini nggak.”


Dia berdiri dan berjalan ke arahku dan berhenti di samping kursi kerja.

“Berarti kamu balik ke nol.”

“Iya.”

“Kamu nggak punya jalan sama sekali.”

“Punya satu.”

“Apa?”

Aku menunjuk ke sekeliling. Kios enam kali empat meter. Etalase. Meja kerja. Kotak biru berisi enam puluh sekrup ukuran campur yang sudah kembali ke tempatnya.

“Ini.”

“Kios?”

“Bukan kios.” Aku menoleh padanya. “Aku bikin tempat yang bikin nggak ada alasan lagi buat dia nggak pulang. Rumah yang nggak bocor. Kamar buat dia. Uang buat dokter tanpa mikir dua kali. Terus aku tunggu.”

“Nunggu apa?”

“Nunggu ibunya sendiri yang bilang.”

Tamara menatapku lama sekali.

“Mas, itu bisa nggak pernah kejadian.”

“Iya.”

“Kamu tahu itu bisa nggak pernah kejadian, dan kamu tetap milih itu.”

“Iya.”

“Itu bodoh sekali.”

“Iya.”

Dan perempuan itu menghela napas panjang sekali, dan mengambil kursi plastiknya, dan menariknya sampai bersebelahan dengan kursi kerjaku, dan duduk.

“Ya sudah,” katanya. “Berapa lama?”

“Aku nggak tahu.”

“Kalau kamu ngebut?”

Aku menghitung.

Sewa. Utang satu juta empat ratus. Modal barang. Kontrak. Rumah.

“Satu setengah tahun,” kataku. “Kalau semuanya lancar.”

“Delapan belas bulan.”

“Iya.”

Dia menoleh ke kalender itu, ke lingkaran kecil yang tidak dicoret, dan tertawa satu kali tanpa suara.

“Lucu ya,” katanya.

“Apanya.”

“Angkanya sama.”