Chapter Forty Six
Yang Rusak
POV: Adam
Aku sedang memasang kembali penutup belakang mesin cuci waktu ada bayangan di pintu.
“Sebentar ya, Bu, saya— “
Aku mengangkat kepala.
Obeng di tanganku berhenti di udara.
“Van.”
Dia berdiri di ambang rolling door dengan tas di dada, dipeluk dengan dua tangan seperti orang yang butuh memegang sesuatu.
“Boleh masuk?”
Aku menyuruh Sarno pulang lebih cepat.
Sarno melihat perempuan itu, lalu aku, lalu perempuan itu lagi, dan untuk pertama kali sepanjang dua tahun dia bekerja denganku, dia tidak bertanya apa-apa dan langsung mengambil tasnya.
“Duduk, Van.”
Kursi plastik biru itu ada di sisi kanan meja. Aku hampir menawarkannya.
Lalu aku tidak.
Aku mengambil jerigen dari sudut, membaliknya, dan menaruhnya di depan meja.
“Maaf, cuma ada ini.”
Dia duduk di jerigen itu tanpa berkata apa-apa.
Dia diam lama sekali.
Aku tidak memburunya. Aku membereskan meja — memindahkan obeng ke kotaknya, mengelap permukaan, mengumpulkan sekrup ke dalam tutup gelas — karena tanganku perlu melakukan sesuatu dan karena diam berdua itu lebih ringan kalau salah satunya sibuk.
“Mas.”
“Hm.”
“Aku sudah di seberang jalan dari jam sebelas.”
Aku berhenti mengelap.
“Aku tahu.”
Dia mengangkat wajah.
“Kamu tahu?”
“Mobil hitam parkir tiga toko dari sini, mesin mati, nggak ada yang turun.” Aku menaruh lap. “Bu Ningrum yang bilang jam setengah dua belas. Dia pikir kamu debt collector.”
Perempuan itu tertawa satu kali, pendek, dan tawanya langsung berbelok jadi sesuatu yang lain, dan dia menutup wajahnya dengan tangan.
“Aku nemu buku.”
Dia bicara ke lantai.
“Di bawah kasurnya. Kaki kasurnya longgar, aku angkat buat lihat.”
Aku duduk di kursi kerjaku.
“Buku apa?”
“Buku tulis. Sampulnya kertas kado bintang-bintang.”
Ada bunyi di kepalaku, seperti benda jatuh di ruangan lain.
“Isinya?”
“Semua yang kamu beliin dia,” katanya. “Dari kelas satu.”
Aku tidak bergerak.
“Sepatu delapan puluh lima ribu,” katanya pelan. “Tas enam puluh, ditulis ‘bekas, kata Ayah baru’. Obat batuk dua belas ribu. LKS empat kali lima belas.”
“Van—“
“Ada satu yang tulisannya: ‘Ayah nggak makan siang hari Selasa. Kira nggak tau berapa’.”
Kios itu sunyi sekali.
Aku bisa mendengar kipas gantung. Aku bisa mendengar motor di jalan. Aku bisa mendengar bunyi darahku sendiri di telinga.
“Halaman depannya ditulis pakai spidol,” katanya. “Huruf besar semua.”
“Apa isinya?”
Dia mengangkat wajah dan menatapku, dan aku bisa melihat dia sudah menangis sebelum masuk ke sini dan sekarang sedang mengulanginya.
“Nanti kalau Kira besar, Kira lunasin.“
Aku berdiri.
Aku tidak tahu untuk apa. Aku cuma berdiri, dan berjalan tiga langkah ke rak, dan berdiri di depan rak itu membelakanginya, dan memegang pinggiran rak dengan dua tangan.
Aku berdiri begitu mungkin satu menit.
“Mas.”
“Sebentar.”
“Mas, aku—“
“Sebentar, Van.”
Dia diam.
Aku menghitung sampai enam puluh di dalam kepalaku, dua kali, seperti yang selalu kulakukan sejak umur dua puluh empat setiap kali ada yang harus ditahan.
Lalu aku berbalik.
“Totalnya berapa?”
Dia mengerutkan kening. “Apa?”
“Totalnya berapa, Van.”
“Mas, jangan—“
“Kamu sudah hitung.” Aku menatapnya. “Aku kenal kamu. Kamu pasti sudah hitung.”
Dia menunduk.
“Enam juta delapan ratus tiga puluh dua ribu.”
Aku mengangguk pelan.
Empat tahun. Enam juta delapan ratus tiga puluh dua ribu.
“Sepeda yang dibeliin suamimu berapa?”
“Mas.”
“Berapa, Van.”
“Dua juta empat.”
Aku duduk kembali di kursi kerja dan menaruh kedua tanganku di meja dan memandanginya.
Garis-garis hitam itu. Selalu ada.
Anak itu pernah menulis di karangannya bahwa dia sudah mencoba menggosoknya dengan sikat gigi bekas.
“Mas, aku mau ngomong sesuatu dan aku mau ngomong sekaligus, karena kalau aku berhenti aku nggak akan bisa lanjut.”
“Ngomong.”
“Aku salah.”
Aku diam.
“Bukan salah ngambil dia,” katanya cepat. “Itu aku nggak akan bilang salah, karena giginya bolong dua dan SPP-nya nunggak empat bulan dan itu semua benar dan aku nggak akan pura-pura itu nggak benar.”
“Iya.”
“Aku salah karena aku pikir sesudah itu selesai.” Suaranya pecah. “Aku pikir yang rusak itu daftar. Gigi, sepatu, SPP, dokter. Aku beresin semua daftarnya dalam tiga bulan dan aku pikir sudah.”
Dia menyeka wajahnya dengan punggung tangan.
“Setahun setengah, Mas. Dia di rumahku setahun setengah dan dia nggak nambahin satu baris pun ke halaman yang judulnya JANGAN LUPA.”
“Van.”
“Nggak ada apa-apa yang dia takut lupa dari aku.” Dia menggeleng. “Karena nggak ada apa-apa.”
Aku mengambil dua gelas dan menuang air dari galon di sudut dan menaruh satu di depannya.
Dia memegangnya dan tidak minum.
“Van, boleh aku ngomong sekarang?”
“Boleh.”
“Kamu bukan ibu yang jahat.”
“Mas—“
“Aku belum selesai.” Aku menatapnya. “Anak itu ke dokter gigi karena kamu. Dia sekolah tanpa nunggak karena kamu. Dia punya kamar sendiri, dia punya kasur yang bener, dan waktu dia demam ada yang bawa dia ke dokter dalam dua puluh menit, bukan yang mikir dulu uangnya cukup apa nggak.”
Dia menutup matanya.
“Yang itu aku nggak bisa kasih ke dia selama delapan tahun,” kataku. “Aku sudah coba. Aku coba tiap hari. Aku nggak bisa.”
“Tapi kamu ngasih yang lain.”
“Iya,” kataku. “Dan yang aku kasih itu bukan cuma yang bagus, Van.”
Dia mengangkat wajah.
“Buku itu bukan bukti aku ayah yang baik,” kataku. “Buku itu bukti aku gagal. Anak umur tujuh tahun nggak nyatet harga sepatunya sendiri kalau bapaknya cukup.”
Dia menangis lama sekali dan aku tidak menyentuhnya dan tidak menyuruhnya berhenti.
Aku sudah belajar dari perempuan lain bahwa menyuruh orang berhenti menangis itu bentuk menyuruh mereka mengurus perasaanmu.
Waktu akhirnya selesai, dia bicara tanpa mengangkat wajah.
“Aku mau balikin dia.”
Kios itu berhenti.
“Van.”
“Aku sudah mikir tiga hari,” katanya. “Aku sudah ngomong sama Bram. Dia setuju. Dia bilang dia sudah setuju dari sepuluh bulan lalu.”
“Van—“
“Aku bisa urus administrasinya. Sekolahnya sudah di sini, nggak usah pindah. Kamu tinggal— “
“Van.”
“Kamu tinggal ambil dia, Mas.”
Aku menatap perempuan itu di kios enam kali empat meter, duduk di atas jerigen terbalik, dengan gelas air yang tidak diminum di tangannya.
Dan aku mengatakan hal yang paling tidak masuk akal yang pernah kukatakan seumur hidupku.
“Belum.”
Dia mengangkat wajah.
“Apa?”
“Belum, Van.”
“Mas, aku— “ Dia terbata. “Aku ngasih. Aku ngasih dia balik. Kamu nunggu ini dua tahun.”
“Iya.”
“Terus kenapa belum?”
Aku mengambil sesuatu dari laci.
Ponselku. Aku membuka galeri, mencari foto yang diambil Tamara di ambang pintu kamar tiga kali empat meter itu, dan memutar layarnya ke arahnya.
“Ini kamarnya,” kataku. “Sudah jadi sejak dua bulan lalu.”
Dia melihatnya.
“Kasurnya seratus dua puluh kali dua ratus,” kataku. “Aku ukur buat dia umur enam belas. Meja belajarnya aku bikin dari kayu kusen bekas. Lampunya baru, itu satu-satunya yang aku beli baru.”
“Mas—“
“Yang di atas meja itu obeng.”
Dia menyipitkan mata ke layar.
“Kenapa warnanya pink?”
“Karena warna hitam habis di toko Bu Ningrum tiga tahun lalu.”
Perempuan itu menutup mulutnya dengan tangan.
“Van, aku nggak nolak,” kataku. “Aku mau. Aku mau sampai aku nggak bisa tidur dan itu sudah dua tahun.”
“Terus?”
“Tapi kalau aku bilang iya sekarang, di kios ini, jam tiga sore, sambil kamu nangis di atas jerigen— “ Aku menggeleng. “Itu bukan keputusan, Van. Itu reaksi.”
“Aku nggak lagi bereaksi. Aku sudah tiga hari—“
“Tiga hari,” ulangku. “Kamu nemu buku itu tiga hari lalu.”
Dia diam.
“Dan aku nggak mau anakku dibalikin ke aku karena kamu baru saja patah,” kataku. “Karena kalau begitu, satu tahun lagi, waktu kamu sudah nggak sepatah ini, kamu bakal mikir kamu ngambil keputusan waktu lagi nggak waras. Terus kamu bakal minta lagi. Terus dia dioper lagi.”
“Aku nggak akan—“
“Kamu nggak tahu, Van.” Aku menatapnya. “Aku juga nggak tahu. Nggak ada yang tahu.”
“Terus aku harus gimana?” Suaranya sudah habis. “Mas, aku nggak bisa tidur di rumah itu. Tiap malam aku berdiri di depan pintunya dan aku nggak berani masuk. Sudah setahun setengah.”
“Aku tahu.”
“Kamu nggak tahu—“
“Anak itu hitung sampai dua ratus dua puluh delapan,” kataku.
Dia berhenti.
“Apa?”
“Dia hitung tiap kali kamu berdiri di situ,” kataku. “Dia bilang ke Tamara, dan Tamara nggak cerita ke aku, dan aku baru tahu dua hari lalu waktu aku maksa.”
Perempuan itu menatapku dengan mata yang terbuka lebar.
“Dia tahu?”
“Dia tahu, Van. Dia tahu setiap malam.” Aku menaruh ponselku di meja. “Dan dia nggak pernah buka pintunya, karena dia takut kalau dia buka, kamu bakal berhenti.”
Dia menangis lagi, dan kali ini bunyinya keluar, dan aku mengambil kain lap bersih dari laci dan menaruhnya di meja karena aku tidak punya tisu di kios ini dan tidak pernah terpikir untuk membeli.
Dia mengambilnya. Kain lap servis. Aku hampir tertawa dan tidak jadi.
“Mas.”
“Hm.”
“Kalau bukan sekarang, kapan?”
Dan aku memberikan jawaban yang sudah kususun sejak malam aku menimpa enam coretan di kalender pemandangan Bali itu sampai jadi kotak hitam.
“Kamu tunggu satu bulan,” kataku. “Jangan ngomong apa-apa ke Kirana. Jangan janji apa pun ke dia.”
“Terus?”
“Terus kamu jalanin bulan itu kayak biasa. Antar sekolah, makan malam, semuanya. Dan tiap malam kamu tetap berdiri di depan pintu itu.”
“Mas, aku—“
“Dan satu malam,” kataku, “kamu buka.”
Dia menatapku.
“Kamu masuk, kamu duduk di kasurnya, dan kamu ngomong sama anak kamu sendiri.” Aku menahan pandanganku. “Bukan soal pindah. Bukan soal aku. Ngomong aja. Apa aja. Tentang topi kuning itu kalau kamu berani.”
“Kamu tahu soal topi itu?”
“Aku yang beliin benangnya, Van.”
Kios itu sunyi.
“Dan kalau sesudah sebulan kamu masih mau balikin dia,” kataku, “aku ambil. Detik itu juga. Tanpa nanya lagi.”
“Kenapa harus sebulan?”
“Karena keputusan yang dibikin waktu hancur itu nggak bisa dipegang,” kataku. “Dan aku butuh yang ini bisa dipegang, Van. Dia sudah dipindah sekali. Nggak boleh ada yang kedua kali kecuali yang terakhir.”
Dia berdiri jam empat.
Di ambang rolling door dia berhenti dan berbalik.
“Mas.”
“Hm.”
“Waktu di rumah petak dulu,” katanya. “Aku pernah teriak sama kamu gara-gara kamu nggak mau nagih orang. Kamu inget?”
“Inget.”
“Aku bilang kamu mau ngasih makan anakmu pakai terima kasih.”
“Iya.”
“Kamu jawab apa waktu itu?” Suaranya bergetar. “Aku nggak dengerin, Mas. Aku nggak dengerin sama sekali. Sembilan tahun aku nyoba inget dan aku nggak bisa.”
Aku berdiri di belakang meja kerjaku.
Di dinding, di sebelah tempelan aturan tulisan tangan Tamara, kalender pemandangan Bali itu masih tergantung, dengan satu lingkaran kecil enam bulan di depan yang tidak pernah kucoret.
“Aku bilang,” kataku, “yang rusak masih bisa diperbaiki, Van. Cuma butuh waktu, sama tangan yang mau.”
Dia menutup matanya.
“Aku bilang itu soal setrikanya,” kataku. “Setrika Bu Marni yang aku benerin gratis. Itu yang lagi kita ributin.”
“Iya.”
“Ternyata aku salah alamat sembilan tahun.”
Dia berdiri di ambang pintu itu dengan punggung membelakangi jalan, dan cahaya sore masuk dari belakangnya sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya sama sekali.
“Satu bulan,” katanya.
“Satu bulan.”
- 1 Dua Potong Bakwan
- 2 Buku yang Tidak Boleh Dibaca Siapa-siapa
- 3 Telat Lima Menit
- 4 Ayahku
- 5 Gang Melati III Nomor Tujuh
- 6 Obeng Warna Pink
- 7 Empat Puluh Ribu
- 8 Kancing yang Kurang Satu
- 9 Satu Juta Lima Ratus
- 10 Penelitian
- 11 Perempuan yang Belum Pernah Saya Lihat
- 12 Delapan Tahun
- 13 Sepuluh Senti
- 14 Surat dari Sekolah
- 15 Bukan di Sini
- 16 Yang Tidak Bisa Saya Bantah
- 17 Perempuan di Rumah Makan
- 18 Malam Terakhir
- 19 Dua, Pak?
- 20 Kamar Nomor Dua dari Tangga
- 21 Bu Tam
- 22 Sembilan Belas Menit
- 23 Sepeda dengan Dua Belas Gigi
- 24 Tangan yang Mau
- 25 Rapat Umum Pemegang Saham
- 26 Pembukuan
- 27 Kolom Tanpa Judul
- 28 Sebulan Sekali
- 29 Kamu S1
- 30 Yang Saya Punya
- 31 Kolom Wali
- 32 Permintaan yang Masuk Akal
- 33 Tiga Hari
- 34 Dua Belas
- 35 Tanpa Cincin
- 36 Kira Jadi Siapa
- 37 Kertas yang Dilipat Delapan
- 38 Kelas Lima
- 39 Yang Kira Lupa
- 40 Rumah yang Tidak Bocor
- 41 Sampul Kertas Kado
- 42 Yang Sudah Lama Dia Tahu
- 43 Satu Hari
- 44 Hrrm-hrrm-hrrm
- 45 Dua Ratus Meter dari Sekolah
- 46 Yang Rusak reading
- 47 Empat Orang Dewasa
- 48 Dua Ratus Dua Puluh Sembilan
- 49 Tiga Potong
- 50 Ngik
- 51 Kancing Ketiga
- 52 Buku yang Belum Habis