Chapter Twenty Seven

Kolom Tanpa Judul

POV: Kira

Kantor Om Bram ada di lantai sebelas.

Aku belum pernah di lantai sebelas. Aku pernah di lantai tiga, di mal, itu yang paling tinggi.

Di lift, Om Bram bilang, “Nanti kalau ada yang nanya kamu siapa, bilang aja anaknya Pak Bram.”

Aku diam.

Om Bram langsung sadar, dan mukanya berubah, dan dia buru-buru bilang, “Eh, maksudnya— bilang aja kamu tamu Om. Ya. Tamu.”

“Iya, Om.”

“Maaf ya.”

“Nggak apa-apa, Om.”

Kami sampai lantai sebelas dan dua-duanya tidak ngomong lagi sampai pintu lift kebuka.


AC ruang meetingnya menetes ke meja.

Sudah tiga minggu, kata orang di sana, namanya Mas Rio, pakai kemeja yang lengannya digulung.

“Sudah dipanggilin vendor, Pak. Katanya freonnya harus diisi ulang. Nunggu jadwal.”

“Ini bocor air, bukan bocor freon,” kataku.

Semua orang di ruangan itu menoleh.

Ada enam orang. Semuanya dewasa. Semuanya pakai baju kantor. Dan semuanya melihat anak kelas empat yang bajunya kaos.

Aku hampir mundur.

Terus aku ingat Ayah waktu di ruang guru dulu, Ayah masuk ke ruangan penuh guru dan tangannya hitam dan Ayah tetap naik tangga.

Jadi aku lanjut.

“Kalau freon habis, dia nggak dingin. Ini dingin, kan?”

“Dingin sih,” kata Mas Rio.

“Ya berarti freonnya nggak habis.” Aku menunjuk ke atas. “Yang bocor itu air embun. Di dalam ada talang kecil, terus ada selang buat ngalirin keluar. Kalau selangnya mampet, airnya nggak bisa keluar, terus tumpah ke dalam.”

“Mampet kenapa?”

“Lumut. Sama debu.”

Mas Rio melihat ke Om Bram.

Om Bram cuma mengangkat bahu sedikit, dan mukanya— aku tidak bisa jelaskan mukanya. Kayak orang yang lagi menahan sesuatu di dalam mulut.

“Terus benerinnya gimana, Dik?”

“Ditiup.”

“Ditiup?”

“Selangnya. Yang ujung luar. Ditiup keras atau disedot.” Aku menunjuk lagi. “Ujungnya biasanya di luar tembok, di bawah unit yang gede.”

Ruangan itu diam beberapa detik.

Terus Mas Rio berkata, pelan sekali, “Ya Allah. Tiga minggu.”


Yang meniupnya bukan aku, karena aku tidak sampai dan karena mereka tidak mengizinkan.

Yang meniup Mas Rio, di luar, sambil dipegangi dua orang lain, dan sekali tiup langsung keluar air hitam banyak sekali sampai celananya kena.

Orang-orang di kantor itu tepuk tangan.

Beneran tepuk tangan. Delapan orang. Di lantai sebelas.

Terus salah satu ibu-ibu yang pakai kacamata bilang, “Ini anak siapa sih pinter banget?”

Dan Om Bram, dari sudut ruangan, dengan suara yang aku dengar jelas walaupun dia bilangnya pelan:

“Anaknya tukang servis.”

Bukan “anak saya”.

Bukan “keponakan”.

Aku menoleh ke dia.

Om Bram sedang melihat ke jendela, bukan ke aku, dan tangannya di saku, dan dia tidak bilang apa-apa lagi setelah itu.


Di mobil pulang aku bilang makasih.

“Buat apa?”

“Buat yang tadi Om bilang.”

Om Bram tidak pura-pura tidak mengerti. Itu yang aku suka dari Om Bram. Dia canggung tapi dia tidak pura-pura.

“Itu bener, kan?”

“Iya, Om. Bener.”

Kami diam sampai lampu merah ketiga.

Terus Om Bram bilang, “Kirana.”

“Iya, Om.”

“Ayah kamu buka usaha.”

Aku langsung menoleh.

“Kios servis. Sudah dua minggu.” Dia masih lihat ke depan. “Om tahu dari orang yang jual sparepart. Bukan dari ibumu.”

Dadaku berdetak keras sekali sampai aku takut kedengaran.

“Kios di mana, Om?”

“Om nggak tahu persis.” Dia berhenti sebentar. “Om cuma mau kamu tahu.”

“Kenapa Om kasih tahu Kira?”

Om Bram menyalakan sein.

“Karena kamu berhak tahu bapak kamu lagi apa,” katanya. “Dan kalau semua orang di rumah itu diam terus, nanti kamu pikir bapak kamu diam aja di sana nunggu kamu.”

Aku menoleh ke jendela supaya dia tidak lihat mukaku.


Malamnya aku ambil bukuku dari bawah kasur.

Aku sudah lama mau melakukan ini dan aku selalu berhenti di bagian yang sama.

Masalahnya begini.

Sejak aku di sini, sudah banyak yang dibeli untuk aku. Aku sudah hitung semuanya, karena aku tidak bisa berhenti menghitung, karena itu sudah jadi kayak nafas.

Dokter gigi 2x — 1.400.000 (Kira lihat struknya di meja)Seragam baru 3 stel — kira-kira 600.000Sepatu — 450.000Tas — nggak tahu, ada mereknyaSepeda — 2.400.000Kasur, lemari, meja, lampu — nggak tahuMakan tiap hari 3x — nggak tahu

Kalau ditotal, itu lebih banyak dari seluruh isi bukuku dari kelas satu sampai kelas empat.

Empat tahun catatan tentang Ayah, kalah sama tiga bulan di sini.

Itu yang bikin aku duduk di karpet lama sekali.

Bukan karena angkanya. Karena artinya.


Aku ambil pulpen dan aku buka halaman kosong yang baru.

Di buku ini semua halaman ada judulnya. Aku selalu kasih judul. Halaman pertama judulnya besar-besar pakai spidol. Halaman belakang judulnya PENELITIAN.

Halaman ini juga harus ada judulnya.

Aku tulis: HUTANG KIRA KE

Terus aku berhenti.

Kalau aku tulis “IBU”, artinya dia ibuku.

Dia memang ibuku. Ada di akta. Ada di kartu keluarga. Aku sudah lihat sendiri waktu Ayah buka map plastik malam itu.

Tapi kalau aku tulis “IBU” di buku ini, di buku yang sama dengan yang ada tulisan Ayah nggak makan siang hari Selasa, rasanya seperti—

Aku tidak tahu seperti apa.

Rasanya seperti dua orang itu jadi jenis yang sama. Dan mereka bukan jenis yang sama.

Hutang ke Ayah itu hutang yang aku mau bayar.

Yang ini bukan hutang yang aku mau bayar. Yang ini hutang yang aku mau kembalikan barangnya saja, semuanya, biar impas, biar tidak usah ada urusan lagi.

Tapi kalau aku tulis begitu, aku jahat.

Dan dia tidak jahat sama aku. Dia belum pernah jahat sama aku satu kali pun.

Jadi aku coret HUTANG KIRA KE, aku coret sampai tidak kelihatan, sampai kertasnya agak sobek.

Terus aku tulis lagi di bawahnya, lebih kecil:

DAFTAR YANG BELUM KIRA TAU MASUK MANA

Terus aku tulis semuanya di situ.

Tanpa judul yang benar. Tanpa nama siapa-siapa.


Aku tidak tahu jam berapa.

Aku masih di karpet. Bukunya masih terbuka. Aku sedang menulis yang terakhir — kasur, lemari, meja, lampu — nggak tahu — waktu aku sadar ada bunyi.

Bunyi lantai.

Di rumah ini lantainya kayu di lantai dua, dan kalau ada yang jalan, bunyinya pelan tapi ada.

Aku sudah hafal bunyi itu.

Karena bunyi itu ada setiap malam.

Setiap malam, antara jam sebelas dan jam dua belas, ada langkah yang naik tangga, terus jalan di lorong, terus berhenti di depan pintu kamarku.

Terus diam.

Kadang setengah menit. Kadang lama sekali, sampai aku hitung sampai dua ratus.

Terus balik lagi.

Tidak pernah masuk. Tidak sekali pun dalam tiga bulan.

Aku tidak pernah cerita ke siapa-siapa. Aku juga tidak pernah bangun untuk membuka pintunya, karena kalau aku buka, nanti dia tahu aku tahu, terus nanti dia berhenti.

Dan aku—

Aku tidak mau dia berhenti.

Aku tidak tahu kenapa aku tidak mau dia berhenti. Itu juga masuk daftar yang belum tahu masuk mana.


Malam itu langkahnya berhenti di depan pintu seperti biasa.

Terus tidak diam.

Terus gagang pintunya turun.

Aku tidak sempat apa-apa. Aku masih duduk di karpet dengan buku terbuka di pangkuan dan pulpen di tangan dan lampu meja menyala.

Pintunya terbuka sedikit.

Dan di celahnya ada wajah perempuan itu, dan matanya melihat aku, dan turun ke bukuku, dan berhenti di situ.

Kami berdua tidak bergerak.

“Kirana,” katanya. “Belum tidur?”

Aku menutup bukunya dengan dua tangan, cepat sekali, sampai bunyinya keras.

“Belum, Bu.”

“Itu— “ Dia melihat ke bukuku. “Itu PR?”

Aku menatap matanya.

“Iya, Bu.”

Bohong. Tapi bohong yang sopan.

Perempuan itu berdiri di celah pintu itu beberapa detik lagi.

Terus dia bilang, “Ya sudah. Jangan malam-malam.”

Terus pintunya ditutup pelan sekali.

Dan aku duduk di karpet dengan buku ditekan ke dada, dan aku dengar langkahnya di lorong, dan langkah itu tidak langsung turun tangga.

Langkahnya berhenti lagi, tiga langkah dari pintuku, dan berdiri di situ lama sekali.

Aku hitung sampai dua ratus dua puluh delapan.