Chapter Seven

Empat Puluh Ribu

POV: Adam

Empat puluh satu koma delapan.

Termometer itu sudah tujuh tahun umurnya dan kadang meleset, jadi aku ukur lagi. Empat puluh satu koma tujuh.

Aku mengukur ketiga kalinya karena tanganku belum percaya.

“Ra. Ra, bangun sebentar. Lihat Ayah.”

Matanya terbuka setengah. Tidak fokus. Bibirnya kering dan pecah di tengah, dan kulitnya panas dengan cara yang salah — bukan panas seperti orang berkeringat, tapi panas kering, seperti sesuatu yang dinyalakan dari dalam.

“Ayah,” katanya. “Kok bawa senter.”

Aku tidak bawa senter.

Aku menggendongnya dan membawanya ke depan, dan di ruang depan aku berdiri diam tiga detik penuh karena tidak tahu harus ke mana.

Puskesmas tutup jam dua siang. Rumah sakit di Kartini Timur, empat kilometer, dan aku tahu berapa yang mereka minta di depan sebelum orang boleh masuk. Bidan Ida di blok D biasanya mau dibangunkan, tapi Bidan Ida pulang kampung sejak Kamis, aku tahu karena aku yang membetulkan pompa airnya sebelum dia berangkat.

Punggung tangan kananku sudah dicuci empat kali sejak Rabu.

Angkanya masih ada. Pudar, tapi masih terbaca semua.


Telepon diangkat pada dering keempat.

“Halo.”

Suaranya serak. Jelas baru bangun. Aku melihat jam di ponsel: 00.47.

“Bu Tamara. Maaf. Ini Adam.”

Ada bunyi kain bergeser, lalu bunyi lampu diklik.

“Kirana?”

“Panas empat puluh satu.” Aku memindahkan ponsel ke bahu dan menaikkan Kira lebih tinggi di gendonganku. “Saya cuma mau tanya klinik yang di Kartini itu—“

“Namanya Klinik Sehat Bunda. Sebelum lampu merah, kanan jalan, plangnya ijo.”

“Baik. Terima kasih, Bu.”

“Pak Adam—“

Aku menutup telepon.

Bukan karena tidak sopan. Karena kalau aku tidak tutup sekarang, dia akan bilang sesuatu, dan aku akan harus menjawabnya, dan anakku sedang empat puluh satu koma tujuh di bahuku.


Aku pernah membawa Kira naik motor ribuan kali.

Tidak pernah seperti ini. Dia biasanya duduk di belakang dan memegang perutku dan bercerita ke punggungku sepanjang jalan. Malam itu aku ikatkan dia di depan, di antara tangan dan tangki, dengan jaket kubalik supaya kancingnya di belakang, dan aku bisa merasakan panasnya menembus dua lapis kain.

Jalanan kosong. Aku menghitung lampu merah bukan sebagai lampu merah tapi sebagai detik.

Plang hijau. Kanan jalan. Betul.

Perawatnya perempuan muda, mengantuk, tapi begitu melihat Kira dia langsung berdiri dan tidak jadi mengantuk.

“Sudah berapa lama panasnya, Pak?”

“Semalam.”

“Sebelumnya ada gejala?”

“Kehujanan hari Kamis. Sabtu pagi masih main.”

“Muntah?”

“Nggak.”

“Kejang?”

Aku berhenti. “Nggak.”

Perawat itu menuliskan sesuatu dan menyuruhku duduk, dan aku tidak duduk, dan dia tidak memaksa.

Dokternya datang delapan menit kemudian dengan rambut yang jelas baru ditepuk-tepuk sendiri. Dia memeriksa Kira lama sekali. Menekan perutnya. Melihat matanya. Menekan kulit lengannya dan menghitung.

“Dehidrasi. Infeksi virus, kemungkinan besar. Saya kasih obat penurun panas injeksi dulu supaya cepat turun, terus obat minum tiga hari.”

“Nggak perlu opname?”

“Kalau besok pagi panasnya turun, nggak perlu. Kalau nggak turun, bawa ke rumah sakit.” Dia melepas stetoskop. “Bapak jangan tidur, ya. Kompres tiap satu jam. Air biasa, jangan air es.”

“Baik, Dok.”

“Dan Pak—“ dokter itu menoleh sebentar ke Kira, lalu ke aku. “Anaknya nggak nangis sama sekali dari tadi. Disuntik juga diam.”

“Iya.”

“Itu bukan tanda anaknya kuat. Itu tanda anaknya capek. Perhatiin.”


Kasirnya di depan, meja kecil, kaca geser.

“Dua ratus tiga puluh, Pak.”

Aku sudah menghitung isinya di jalan tadi. Aku menghitungnya lagi sekarang di depan kaca itu, pelan-pelan, satu lembar satu lembar, dan hasilnya tetap sama seperti hasil hitunganku di jalan.

Seratus sembilan puluh.

“Bu.”

“Iya?”

“Bisa saya bayar seratus sembilan puluh sekarang, sisanya besok siang?”

Perempuan itu melihat layarnya. Lalu melihatku. Lalu ke pintu ruang periksa tempat anakku berbaring.

“Sebentar, ya, Pak. Saya tanya.”

Dia masuk ke belakang.

Aku berdiri di depan kaca itu dengan seratus sembilan puluh ribu di tangan.

Empat puluh ribu.

Aku sudah mengangkat mesin cuci sendirian naik tangga lantai tiga. Aku sudah membetulkan kulkas orang di bawah terik jam dua siang sampai bajuku bisa diperas. Aku pernah tidak makan dua hari waktu Kira umur empat tahun supaya susunya tidak putus, dan tidak sekali pun sepanjang delapan tahun itu aku merasa seperti yang kurasakan sambil berdiri di depan kaca geser itu.

Empat puluh ribu.

Harga dua rol isolasi dan sedikit lebih.

Aku memikirkan lima ribu sehari yang tidak pernah dipakai anakku. Kalau dikumpulkan sejak kelas tiga, jumlahnya jauh lebih dari empat puluh ribu. Anak itu punya uangnya. Anak itu punya uangnya di sarung bantal atau di mana pun dia menyembunyikannya, dan kalau aku pulang dan bertanya, dia akan memberikannya tanpa berpikir dua detik.

Dan itulah kenapa aku tidak akan pernah bertanya.

Pintu belakang terbuka.

“Pak,” kata perempuan itu. “Sudah lunas.”

“Apa?”

“Sudah dibayar.”

“Sama siapa?”

“Sudah dibayar semuanya, Pak. Ini kuitansinya.”

Aku menerima kertas itu. Di kolom nominal, dua ratus tiga puluh ribu. Di kolom pembayar, kosong.

“Bu, siapa yang—“

“Saya nggak boleh bilang.”


Kira tidur di ruang periksa sampai jam tiga.

Panasnya turun jadi tiga puluh delapan koma dua. Perawat itu mengizinkan kami pulang asal aku janji kompres tiap jam, dan aku janji, dan aku menggendongnya keluar melewati ruang tunggu yang lampunya cuma dinyalakan separuh.

Di kursi paling ujung, dekat pintu, ada seseorang yang sedang duduk dengan satu kaki terlipat dan kepala bersandar ke dinding.

Rambutnya diikat asal. Kerudung tidak ada. Pakai kaus abu-abu dan celana kain yang jelas-jelas diambil dari lantai kamar dan dipakai karena itu yang paling dekat.

Matanya terbuka waktu aku lewat.

Kami berdua tidak bicara selama beberapa detik.

Lalu Tamara berdiri, membetulkan letak jaketnya, dan bicara duluan dengan nada orang yang sudah menyiapkan kalimatnya selama dua jam.

“Saya di sini bukan buat Bapak.”

“Bu—“

“Saya wali kelasnya. Muridnya masuk klinik tengah malam.” Dia mengangkat dagu. “Guru datang. Itu biasa.”

“Jam satu pagi?”

“Guru yang bagus.”

Aku memandanginya.

Di belakangku, di ruang periksa, jam dinding berdetak. Di luar, ada motor lewat, lalu sepi lagi.

“Berapa?” tanyaku.

“Apanya.”

“Bu Tamara.”

“Saya nggak ngerti maksud Bapak.”

“Kuitansinya kosong di kolom pembayar.”

“Ya berarti nggak ada yang bayar.” Dia mengambil kunci motornya dari saku. “Mungkin klinik ini lagi ada promo.”

“Bu.”

“Pak Adam.” Dia berhenti, dan menoleh, dan untuk pertama kalinya nada bercandanya lepas. “Anak Bapak lagi Bapak gendong. Sekarang jam tiga pagi. Kita mau berdiri di sini berdebat soal empat puluh ribu sampai subuh?”

Aku diam.

“Bawa dia pulang,” katanya. “Besok Bapak boleh marah sama saya sepuasnya.”

Dia sudah setengah jalan ke pintu waktu Kira bergerak di bahuku dan bergumam, tidak jelas, cuma tiga kata yang keluar setengah.

“Ayah nggak apa-apa?”

Aku menggeser tanganku ke belakang kepalanya.

“Ayah nggak apa-apa.”

Waktu aku mengangkat wajah, Tamara sudah berhenti di ambang pintu. Punggungnya ke arahku. Dia tidak berbalik, dan dia tidak bergerak, dan dia berdiri di situ cukup lama sampai lampu sensor di luar mati sendiri.

Lalu dia keluar tanpa bilang apa-apa lagi.