Chapter Sixteen

Yang Tidak Bisa Saya Bantah

POV: Adam

Pintu mobil itu terbuka waktu aku keluar membawa motor.

Yang turun duluan laki-laki. Umur empat puluhan, badannya besar, kemejanya dimasukkan, dan dia berdiri di samping mobil dengan tangan setengah terangkat seperti orang yang sudah menyiapkan salam dan tidak yakin kapan boleh dipakai.

Lalu pintu satunya.

Aku sudah memikirkan momen ini ribuan kali dan tidak satu pun versi yang kubayangkan terjadi. Dalam bayanganku aku selalu punya sesuatu untuk dikatakan.

Yang terjadi: aku berdiri memegang setang motor dan tidak melakukan apa-apa selama enam detik.

Dia lebih kurus. Rambutnya lebih pendek. Kulitnya lebih terang dari yang kuingat, dengan cara yang cuma bisa datang dari tidak pernah lagi berdiri di bawah matahari jam dua siang.

“Mas.”

“Jangan di sini,” kataku.

“Mas, aku cuma—“

“Anak saya lagi mandi.” Aku mendorong motor keluar. “Di warung Bu Nur. Ujung gang, kanan. Saya nyusul.”


Warung Bu Nur jam setengah tujuh pagi sudah ada empat orang. Waktu kami masuk bertiga, jadi tujuh, lalu dalam tiga menit jadi tiga, karena orang di kampung ini punya insting.

Bu Nur sendiri masuk ke dapur dan tidak keluar-keluar.

Laki-laki itu yang bicara duluan.

“Pak Adam, ya? Saya Bram.” Dia mengulurkan tangan. “Maaf ini nggak sopan, datang pagi-pagi tanpa kabar. Ini ide saya, bukan Vanya. Dia sudah bilang jangan.”

Aku menyalaminya.

Tangannya halus. Aku tidak berpikir apa-apa tentang itu; aku cuma mencatatnya, seperti orang mencatat merek dan tahun produksi.

“Duduk,” kataku.

Kami duduk. Vanya belum bicara sejak di gang.

“Saya nggak akan lama-lama basa-basi,” kata Bram. “Kami mau bicara soal Kirana.”

“Nggak ada yang mau dibicarakan.”

“Pak—“

“Anak saya baik,” kataku. “Rangking empat. Nggak pernah absen. Gurunya sayang sama dia. Nggak ada yang mau dibicarakan.”

Bram melihat ke Vanya.

Vanya akhirnya mengangkat wajah, dan aku melihat matanya untuk pertama kali sejak delapan tahun, dan aku langsung tahu percakapan ini tidak akan berjalan seperti yang kurencanakan.

Dia tidak datang untuk memohon.

Dia datang dengan pekerjaan rumah.


“SPP dia nunggak empat bulan,” katanya.

“Sudah dicicil.”

“Dua ratus dari enam ratus, dicicil minggu lalu.”

Aku tidak menjawab.

“Aku nggak nanya ke sekolah, Mas. Aku nggak berani. Aku tanya ke ibu-ibu di depan pagar.” Suaranya rata. “Tiga menit ngobrol, aku dapat semuanya.”

“Terus?”

“Terus aku tanya yang lain.” Dia menaruh tangannya di meja. “Dia belum pernah ke dokter gigi. Sekali pun.”

“Anak-anak—“

“Dia belum pernah ke dokter sama sekali sejak umur lima, kecuali puskesmas sama satu kali klinik bulan lalu waktu panasnya empat puluh satu.”

Aku menatapnya.

“Dari mana kamu tahu itu.”

“Dari kliniknya.”

“Kamu—“

“Aku ibunya, Mas. Namaku ada di akta.” Untuk pertama kalinya nadanya bergetar sedikit. “Aku nggak perlu izin siapa-siapa buat nanya.”


Aku sudah menyiapkan pertahanan untuk hal-hal seperti ini.

Aku sudah menyiapkannya selama delapan tahun, kalimat demi kalimat, dan semuanya kupakai pagi itu, dan tidak satu pun yang bertahan.

Aku bilang anak itu sehat. Vanya bilang sehat bukan berarti terawat.

Aku bilang aku bekerja setiap hari. Vanya bilang dia tahu, dia sudah lihat, dan itu justru masalahnya — aku bekerja setiap hari dan hasilnya tetap segini.

Aku bilang dia bahagia.

Dan di situ Vanya berhenti.

“Boleh aku tanya satu, Mas?”

“Tanya.”

“Kalau kamu pulang malam, dia sudah masak?”

“...Kadang.”

“Kalau kamu belum makan, dia tahu?”

“Van—“

“Kalau kamu sedih, dia tahu?” Suaranya naik setengah tingkat, lalu ditariknya kembali. “Aku nggak lagi nuduh kamu, Mas. Aku serius nanya.”

Aku tidak menjawab, dan tidak menjawab adalah jawabannya, dan kami berdua tahu itu.

“Umurnya sepuluh,” katanya pelan. “Dan dia yang ngurusin kamu. Bukan kamu yang ngurusin dia.”

Ada bunyi wajan dari dapur Bu Nur. Ada motor lewat di gang. Ada anak-anak berangkat sekolah, berteriak, satu di antaranya memanggil nama anakku dari kejauhan.

Aku menatap permukaan meja kayu itu dan tidak bisa menemukan satu kalimat pun.

Karena itu benar.

Karena itu benar sejak dia kelas dua, dan aku tahu, dan aku sudah tahu setiap pagi selama tiga tahun waktu tangan kecil itu menepuk pipiku jam setengah lima untuk memberi tahu bahwa airnya sudah nyala.


“Aku bukan mau ngambil dia dari kamu,” kata Vanya.

“Itu persis yang kamu lakukan.”

“Aku mau dia sekolah yang bener. Aku mau dia punya kamar. Aku mau giginya diurus sebelum rusak semua.” Dia menyeka wajahnya dengan cepat. “Kalau kamu bisa kasih itu, aku pulang sekarang juga, Mas. Sumpah. Aku nggak akan ganggu lagi.”

Aku diam.

“Kamu bisa?”

Aku diam.

“Mas.”

“Kapan,” kataku.

“Apa?”

“Kapan kamu mulai nyari.”

Vanya menunduk.

“Dua bulan lalu.”

“Dua bulan.”

“Aku hubungi sekolahnya duluan.” Dia bicara ke mejanya sendiri. “Aku nggak berani telepon kamu. Aku cari nomor wali kelasnya dari Instagram sekolah, terus aku chat malam-malam, terus aku tanya kabar Kirana sama nomor kamu.”

Aku merasakan sesuatu di dalam dadaku turun dari satu tempat ke tempat lain.

“Dibalas?”

“Nggak.” Vanya mengangkat bahu kecil. “Sampai sekarang nggak dibalas. Aku bisa ngerti. Dia guru, aku orang asing.”

“Kapan kamu chat dia?”

“Malam Minggu. Yang tiga minggu lalu.”

Aku mengangguk pelan.

Tiga minggu lalu. Malam Minggu.

Dua hari sebelum aku duduk di teras sekolah selama dua jam menunggu les tambahan yang tidak ada.


“Pak Adam.” Bram bicara lagi, dan aku hampir lupa dia masih di situ. “Boleh saya ngomong sedikit?”

“Silakan.”

“Saya nggak punya anak.” Dia memutar gelasnya. “Empat puluh tahun, nggak punya anak, dan saya nggak akan sok jadi ayah di depan Bapak. Saya nggak berhak.”

Aku menunggu.

“Yang mau saya bilang cuma ini,” katanya. “Kalau nanti Kirana ikut kami — dan saya tahu itu belum diputuskan, dan saya tahu itu bukan keputusan saya — dia bukan anak saya. Dia anak Bapak. Nggak akan saya ubah nama belakangnya, nggak akan saya suruh manggil saya ayah, dan Bapak boleh datang kapan saja.”

Aku menatapnya.

Aku sudah menyiapkan diri untuk membenci orang ini sejak melihat sepatunya di gang tadi.

“Bapak orang baik,” kataku akhirnya.

“Saya bukan orang baik, Pak. Saya cuma bukan orang jahat.” Bram menghela napas. “Bedanya jauh, dan saya sudah cukup tua buat tahu itu.”


Mereka berdiri jam delapan kurang.

Aku ikut berdiri, dan aku sudah mengangkat tangan untuk bersalaman, dan aku sudah menyusun kalimat penutupnya — nggak, Van, jawaban saya tetap nggak — dan kalimat itu sudah ada di lidahku.

Lalu Vanya berhenti di ambang warung dan berkata sesuatu tanpa menoleh.

“Mas.”

“Hm.”

“Geraham kanan bawah dia bolong dua.”

Aku berhenti.

“Yang satu sudah item pinggirnya.” Dia menoleh sedikit, cukup untuk aku melihat setengah wajahnya. “Aku lihat tadi pagi. Waktu kamu keluar bawa motor, dia lagi ketawa di dalam sama siapa gitu di telepon. Mulutnya kebuka.”

“Van—“

“Aku ngelihat itu dari empat meter, Mas. Dari dalam mobil.”

Dia memakai kacamata hitamnya.

“Kamu tiap hari sama dia,” katanya. “Delapan tahun.”


Aku duduk lagi setelah mobil itu pergi.

Bu Nur keluar dari dapur, menaruh teh yang tidak kupesan di depanku, dan masuk lagi tanpa berkata apa-apa. Aku tidak menyentuhnya.

Aku mengambil ponsel.

Diangkat pada dering kedua.

“Pak Adam!” Suaranya cerah. Terlalu cerah. Aku bisa mendengar bunyi koridor sekolah di belakangnya, dan bel, dan anak-anak. “Bapak nggak nganter Kirana ya tadi? Saya nunggu dari jendela dari jam setengah tujuh—“

“Bu Tamara.”

Dia berhenti.

“Kenapa?”

“Tiga minggu lalu, malam Minggu, ada yang chat Ibu.”

Sunyi.

Sunyi yang panjang sekali, dan sunyi itu adalah jawabannya, dan itu adalah kedua kalinya pagi ini aku mendapat jawaban dari orang yang tidak mengatakan apa-apa.

“Pak Adam, saya bisa jelasin.”

“Ibu tahu dari tiga minggu lalu.”

“Saya—“

“Waktu di gang kos itu Ibu tahu.”

“Iya.”

“Waktu saya bilang saya nggak sanggup selamat yang kedua kalinya, Ibu tahu.”

“Iya, Pak.”

Aku memejamkan mata.

“Pak Adam, dengar. Saya nggak balas karena saya nggak tahu itu beneran dia atau bukan. Terus saya mau kasih tahu Bapak hari Senin, terus hari Jumat itu kejadian di parkiran, terus—“

“Bu.”

“Terus saya jadi orang yang nyimpen. Saya tahu. Saya sudah nyalahin diri saya sendiri tiap malam sejak—“

“Bu Tamara.”

Dia berhenti.

“Saya nggak lagi marah,” kataku, dan aku sendiri terkejut betapa benarnya itu. “Saya cuma lagi capek sekali, dan pagi ini panjang, dan sekarang jam delapan lewat.”

“Pak—“

“Nanti aja, ya, Bu.” Aku menatap gelas teh yang tidak kupesan itu. “Sekarang saya nggak sanggup.”

Aku menutup telepon dan mematikan ponsel, dan itu pertama kalinya dalam delapan tahun aku mematikan ponsel di jam kerja.


Aku pulang jalan kaki.

Motorku ditinggal di depan warung dan aku baru sadar itu setengah jalan dan aku tidak berbalik.

Kira sudah berseragam waktu aku masuk. Duduk di lantai, memakai kaus kaki, dan begitu melihatku dia mengangkat wajah dan tersenyum dengan seluruh wajahnya seperti yang selalu dia lakukan setiap pagi selama delapan tahun.

“Ayah! Ayah dari mana? Kira udah siap dari tadi—“

Aku melihat mulutnya.

Terbuka lebar karena tertawa, seperti anak-anak, dengan cara yang tidak dijaga.

Geraham kanan bawah.

Yang satu sudah hitam di pinggirnya.

Aku sudah melihat wajah itu ribuan kali. Aku menyuapinya waktu umur dua. Aku menghitung giginya waktu tanggal satu-satu dan menyimpan dua di kaleng bekas obat. Aku tahu setiap tahi lalat di wajah anak itu, setiap bekas cacar, setiap jahitan.

Delapan tahun.

Dan aku harus diberi tahu oleh perempuan yang melihatnya dari dalam mobil, dari jarak empat meter, selama tiga detik.