Chapter Nineteen

Dua, Pak?

POV: Adam

Hari pertama aku bekerja penuh.

Enam panggilan. Aku ambil semuanya, termasuk yang di Cikaret yang biasanya kutolak karena terlalu jauh untuk ongkos yang ditawarkan. Aku pulang jam sembilan malam dengan punggung yang sudah tidak terasa dan itu bagus.

Hari kedua lima panggilan.

Hari ketiga tiga, dan aku menyervis dispenser yang orangnya tidak akan pernah datang itu sampai selesai, dan aku membersihkan seluruh kotak peralatanku, dan aku menata ulang laci sparepart menurut ukuran, dan jam sembilan malam sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa dikerjakan.

Hari keempat aku ke warung Bu Nur.

“Bakwan, Bu.”

“Berapa, Pak?”

“Dua.”

Dia mengambil dua dan membungkusnya dan menyerahkannya padaku, dan aku membayar, dan aku berjalan pulang, dan aku duduk di lantai ruang depan dengan bungkusan itu di pangkuanku.

Aku memakan yang pertama.

Yang kedua tetap di dalam plastik.

Aku memandanginya lama sekali. Lalu aku bungkus lagi. Lalu aku taruh di bawah tudung saji, di tempat yang sama, seolah masih ada yang akan pulang dan membukanya.

Besok paginya aku membuangnya.

Sejak itu aku bilang satu.


Kampung ini tahu.

Tidak ada yang bertanya. Tapi mulai hari kelima, barang-barang mulai datang sendiri.

Bu Sri membawa kipas angin yang, setelah kubuka, sama sekali tidak rusak.

“Ini nggak apa-apa, Bu.”

“Lho, kemarin bunyi.”

“Bunyi apa?”

“Bunyi... gitu.”

“Bunyinya gimana, Bu?”

“Ya gitu, Dam. Bunyi.” Dia mengibaskan tangan. “Ya sudah, kamu simpen aja dulu seminggu. Diperhatiin. Nanti kalau bunyi lagi kamu tahu.”

Pak Haji Tarmiji membawa radio yang sudah mati sejak zaman Soeharto dan tidak pernah dia dengarkan sekali pun.

“Ini bisa nggak, Dam?”

“Bisa, Pak Haji. Tapi ini nggak kepakai.”

“Siapa bilang nggak kepakai.”

“Pak Haji punya TV.”

“TV sama radio itu beda.” Dia duduk di kursi plastik tanpa diundang. “Radio itu buat nemenin. TV itu buat ditonton. Kamu ngerti bedanya nggak?”

Aku mengerti bedanya.

Bu Ningrum yang paling tidak halus. Dia datang hari ketujuh, membawa panci, dan menaruhnya di lantai.

“Bu, ini panci.”

“Iya.”

“Panci nggak pakai listrik.”

“Ya makanya.” Dia melipat tangan. “Isinya buka.”

Isinya sayur asem.

“Bu Ningrum—“

“Saya nggak lagi ngasih kamu makan, Dam. Saya lagi nitip panci.” Dia sudah berbalik ke pintu. “Kamu kembalikan pancinya kalau sudah kosong. Kalau seminggu lagi masih penuh, saya lapor Pak RW.”

“Lapor apa?”

“Ada laki-laki tiga puluh tiga tahun mati kelaparan di kontrakan Pak Haji, dan itu bikin harga sewa turun.”


Yang tidak kuduga adalah rumahnya jadi terlalu besar.

Rumah petak satu kamar. Empat kali enam meter, ditambah kamar mandi yang pintunya harus diangkat sedikit.

Selama delapan tahun aku merasa rumah ini sempit. Aku pernah, berkali-kali, berdiri di ruang depan dan berpikir kalau saja ada satu kamar lagi.

Sekarang aku bangun jam setengah lima dan ruangan ini luas sekali.

Nasi tetap kutanak dua takar selama tiga hari sebelum aku sadar dan menguranginya. Kaus kaki di jemuran cuma sepasang. Sabun mandi bertahan dua kali lebih lama, dan aku tahu itu karena aku menghitungnya, karena ternyata aku juga sudah lama menghitung dan tidak pernah mengakuinya.

Yang paling buruk jam sembilan malam.

Jam sembilan malam adalah jam anak itu tidur. Selama delapan tahun, jam sembilan malam artinya aku boleh mulai bekerja tanpa harus mengecilkan suara solder.

Sekarang jam sembilan malam tidak berarti apa-apa, dan setiap malam aku tetap mengecilkan suara.


Tamara datang hari Minggu sore.

Dia tidak mengirim pesan dulu. Dia cuma ada di depan pintu, dengan tas kain di tangan, memakai baju biasa, rambut diikat.

“Bu Tamara.”

“Bapak sudah makan?”

“Sudah.”

“Makan apa?”

“Nasi.”

“Nasi doang?”

Aku membuka mulut dan menyadari bahwa aku sedang mengulang percakapan yang persis sama, kata per kata, dengan percakapan yang pernah kudengar setengahnya lewat telepon yang tidak sengaja kudengar suaranya di teras sekolah.

“Bu—“

Dia sudah masuk.


Dia tidak bertanya apa-apa selama satu setengah jam.

Dia melihat piring di bak. Empat hari. Aku tahu empat hari karena aku juga tahu, dan aku memilih tidak.

Dia menggulung lengan dan mulai mencuci.

“Bu Tamara, jangan.”

“Diam.”

“Itu—“

“Pak Adam.” Dia tidak menoleh. “Kalau Bapak bilang satu kalimat lagi soal harga diri, saya siram.”

Aku berdiri di ambang dapur.

Bunyi air. Bunyi piring beradu. Bunyi sikat.

“Saya nggak lagi ngasihanin Bapak,” katanya, masih tanpa menoleh. “Saya bilang mau, dua minggu lalu, di ruangan ini. Bapak yang tanya, saya yang jawab.”

“Iya.”

“Nah, ini bentuknya.” Dia membilas gelas. “Ini yang saya maksud waktu bilang mau. Bukan yang bunga-bunga. Ini.”

Aku tidak menjawab.

Aku menonton punggung perempuan itu di depan bak cuci di rumah petak nomor tujuh, dan menyadari bahwa selama delapan tahun, satu-satunya orang lain yang pernah berdiri di posisi itu tingginya cuma sepinggangku dan harus naik kursi plastik.


Dia selesai jam enam.

Dia mengelap tangan, berbalik, dan melihat sesuatu di sudut yang tidak kuduga akan dia lihat.

Ember.

Masih di sana. Di bawah noda cokelat selebar piring. Dengan lap di dasarnya.

Tidak hujan sejak Selasa.

“Pak Adam.”

“Hm.”

“Itu embernya kenapa masih di situ?”

“Nanti kalau hujan.”

“Ini sudah lima hari nggak hujan.”

“Nanti pasti hujan.”

Dia menatap ember itu, lalu menatapku, dan aku melihat wajahnya berubah — dan aku benci itu, aku benci bahwa aku bisa dibaca sejelas itu oleh orang yang baru mengenalku empat bulan.

“Bapak nggak angkat ember itu karena dia yang naruh.”

“Bu.”

“Iya, kan?”

“Bu Tamara, saya capek.”

Dan itu keluar salah.

Aku bermaksud mengatakannya sebagai penolakan sopan. Yang keluar bukan itu. Yang keluar adalah suara yang tidak kukenali, yang pecah di tengah kata terakhir, dan begitu bunyinya keluar dari mulutku aku langsung memalingkan wajah ke dinding.

Sunyi.

Aku berdiri menghadap dinding dapur rumah petak itu dan tidak bisa berbalik, dan aku tidak bisa mengatur napasku, dan sesuatu di dadaku yang sudah kutahan sejak mobil itu belok di ujung gang delapan hari lalu akhirnya lepas semua sekaligus.

Aku tidak mendengar dia mendekat.

Yang kurasakan cuma dua tangan melingkar di depan dadaku dari belakang, dan satu kening menempel di punggungku, tepat di antara tulang belikat.

“Bu—“

“Diam, Pak.”

“Saya—“

“Diam.”


Aku tidak tahu berapa lama.

Aku ingat bunyi ember di ruang depan, yang kosong, yang tidak berbunyi apa-apa.

Aku ingat kipas di kamar. Ngik. Satu, dua, tiga.

Aku ingat bahwa aku menangis dengan cara yang paling memalukan yang bisa dilakukan laki-laki berumur tiga puluh tiga tahun, yaitu tanpa suara sama sekali, dengan bahu yang bergetar, sambil berdiri menghadap dinding karena tidak sanggup berbalik.

Delapan tahun.

Aku tidak menangis waktu dia pergi. Aku tidak menangis waktu anakku demam empat puluh satu. Aku tidak menangis waktu Kira umur empat dan bertanya kenapa dia tidak punya ibu dan aku menjawabnya dengan kalimat yang sudah kusiapkan selama dua tahun.

Aku menangis di dapur, hari Minggu sore, karena seseorang menyuruhku diam.

Dan perempuan itu tidak melepas.

Tidak sekali pun tangannya kendur. Tidak sekali pun dia bilang sudah, cukup, sabar, yang sabar ya. Dia tidak mengucapkan satu kalimat penghiburan pun, dan itu satu-satunya alasan aku sanggup.

Waktu akhirnya berhenti, dia masih di situ.

“Bu Tamara.”

“Hm.”

“Ibu belum lepas.”

“Iya.”

“Sudah lama.”

“Iya.” Aku merasakan dia menghela napas di punggungku. “Nanti kalau saya lepas, Bapak langsung berdiri tegak lagi, terus bilang nggak apa-apa. Saya tahu Bapak.”

Aku tidak menjawab.

“Jadi saya tahan dulu,” katanya. “Sebentar lagi.”


Dia pulang jam delapan.

Di ambang pintu dia berhenti dan menunjuk sudut ruangan.

“Embernya.”

“Bu—“

“Saya nggak nyuruh Bapak buang.” Dia memakai helmnya. “Saya cuma mau bilang: kalau nanti Bapak siap ngangkat itu, angkat. Kalau belum, ya sudah. Nggak ada jadwalnya.”

“Iya.”

“Dan satu lagi.”

“Iya, Bu.”

“Bapak nggak makan tiga hari terakhir.”

“Saya—“

“Saya lihat isi tempat sampah, Pak.” Kaca helmnya turun. “Nggak ada bungkus apa-apa. Cuma ada plastik bakwan satu, hari Kamis.”

Motornya menyala.

“Perjanjian kita: saya tanya dulu sebelum ngeluarin uang,” katanya. “Sekarang saya tanya. Besok saya bawain makan siang ke sini, boleh?”

Aku berdiri di ambang pintu rumah petak nomor tujuh dengan mata yang jelas-jelas masih bengkak dan tidak bisa disembunyikan dari siapa pun.

“Boleh,” kataku.

Itu pertama kalinya aku bilang boleh, kepada siapa pun, dalam delapan tahun.